Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Agroteksos

POPULASI DAN INTENSITAS SERANGAN HAMA TUNGAU MERAH (Tetranychus urticae Koch) PADA TANAMAN KENTANG YANG DITUMPANGSARIKAN DENGAN TANAMAN AROMATIK Kusuma Wardani, Intan Siwi; Thei, Ruth Stella Petrunela; Fauzi, M. Taufik
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 34 No 2 (2024): Jurnal Agroteksos Agustus 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agroteksos.v34i2.1081

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Populasi dan Intensitas Serangan Hama Tungau Merah (Tetranyhus urticae Koch) pada Tanaman Kentang yang Ditumpangsarikan dengan Tanaman Aromatik. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sembalun, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 5 ulangan. Perlakuan pada penelitian ini antara lain P1= Monokultur kentang (kontrol); P2 = Kentang ditumpangsarikan dengan tanaman kemangi; P3 = Kentang ditumpangsarikan dengan tanaman seledri; dan P4 = Kentang ditumpangsarikan dengan tanaman bawang daun. Hasil penelitian menunjukkan tumpangsari tanaman kentang dengan tanaman aromatik tidak dapat mempengaruhi populasi dan intensitas serangan hama tungau merah (Tetranychus urticae Koch) Kata Kunci: Kentang, Tungau merah, Aromatik
POPULASI DAN INTENSITAS SERANGAN HAMA KUTU KEBUL (Bemisia spp.) PADA TANAMAN KENTANG YANG DITUMPANGSARIKAN DENGAN BEBERAPA TANAMAN AROMATIK Husni, Ika Rauhul; Thei, Ruth Stella Petrunela; Fauzi, M. Taufik
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 34 No 2 (2024): Jurnal Agroteksos Agustus 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agroteksos.v34i2.1076

Abstract

Kutu kebul merupakan hama penting pada tanaman kentang yang menurunkan produksi hingga 80%. Petani mengendalikan kutu kebul menggunakan pestisida kimia yang memiliki banyak dampak negatif. Teknik pengendalian secara kultur teknis merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengendalikan kutu kebul. Teknik pengendalian tersebut dapat dilakukan dengan cara tumpangsari menggunakan tanaman aromatik yang mampu menjadi penolak bagi hama. Tanaman aromatik yang digunakan berupa kemangi, seledri dan bawang daun. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-September 2023 di Desa Sembalun, Lombok Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi dan intensitas serangan hama kutu kebul pada tanaman kentang yang ditumpangsarikan dengan tanaman aromatik. Metode yang digunakan yaitu eksperimental dengan percobaan lapangan. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 5 ulangan yaitu perlakuan kentang monokultur (P1), kentang tumpangsari kemangi (P2), kentang tumpangsari seledri (P3), dan kentang tumpangsari bawang daun (P4). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata populasi hama kutu kebul terendah diperoleh pada perlakuan kentang tumpangsari seledri berjumlah 22,27 individu/tanaman. dan populasi tertinggi diperoleh pada perlakuan kentang tumpangsari bawang daun berjumlah 30,72 individu/tanaman. Intensitas serangan yang cenderung terendah diperoleh pada kentang tumpangsari seledri yaitu 2,60%, dan intensitas serangan yang cenderung tertinggi diperoleh pada kentang tumpangsari bawang daun yaitu 3,91%.
POTENSI DAN PERAN TANAMAN PEPPERMINT (MENTHA SP.) SEBAGAI COVER CROP DALAM MENINGKATKAN HASIL TANAMAN DI LAHAN KERING Aeni, Zahratul; WANGIYANA, Wayan; Fauzi, M. Taufik; Suwardji, Suwardji; Sudharmawan, A.A. Ketut
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 35 No 2 (2025): Jurnal Agroteksos Agustus 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agroteksos.v35i2.1396

Abstract

Abstract. Dryland areas hold considerable potential to be developed as alternative sites for production of food crops, including upland rice. However, the productivity of dryland is generally low due to its limited water availability, low nutrient content, and high risks of erosion and pest problems for the crops, especially weed problem. To address these challenges, the use of cover crops is a relevant strategy. Peppermint (Mentha sp.) is a promising candidate as a cover crop due to its spreading growth habit, dense root system, and their active aromatic compounds contents. This literature review aims to explore the potential of peppermint in improving crop growth and yield in dryland farming systems, especially as cover crops. Findings indicate that peppermint can improve soil structure, increase soil moisture retention and water infiltration, and contribute organic matter through biomass they produce. Moreover, its allelopathic properties help suppress weeds, while its essential oils—particularly menthol—act as repellents against insect pests and rodents. Integrating peppermint as a living mulch also offers economic value if cultivated as an aromatic or medicinal crop. Therefore, peppermint shows a great potential to support more productive, and environmentally friendly dryland agriculture systems in a sustainable manner. Abstrak. Lahan kering memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai alternatif lahan budidaya tanaman pangan seperti padi gogo. Namun, produktivitas lahan kering cenderung rendah akibat keterbatasan air, hara, serta tingginya risiko erosi dan gangguan organisme pengganggu, terutama gulma. Untuk mengatasi hal ini, penggunaan tanaman penutup tanah (cover crop) dapat menjadi strategi yang relevan. Peppermint (Mentha sp.) merupakan salah satu jenis tanaman yang berpotensi digunakan sebagai penutup tanah (cover crop) karena memiliki pertumbuhan merambat, sistem perakaran padat, dan kandungan senyawa aromatik aktif. Telaah pustaka ini bertujuan mengkaji potensi peppermint dalam meningkatkan hasil tanaman di lahan kering. Hasil kajian menunjukkan bahwa peppermint dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kelembaban dan infiltrasi air, serta menambah bahan organik melalui biomassa. Selain itu, peppermint bersifat alelopatik sehingga dapat menekan persaingan gulma, serta mengandung minyak atsiri seperti menthol yang efektif menolak serangga hama dan tikus. Penggunaan peppermint sebagai mulsa hidup di sela-sela tanaman utama juga berpotensi memberikan nilai ekonomi tambahan jika dibudidayakan sebagai tanaman aromatik. Oleh karena itu, peppermint dinilai potensial untuk mendukung pertanian lahan kering yang produktif dan berkelanjutan.