Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

The Meaning of the Word "Commission" in the Perspective of Combating Corruption in Indonesia Zalzulifa, Zalzulifa; Hayati, Asfitri; Dwi Respati, Rella; Utami, Sri
Journal of World Science Vol. 2 No. 7 (2023): Journal of World Science
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jws.v2i7.389

Abstract

This study aimed to find out and analyze the meaning of the word commission in a Hizbul Wathan Banten Scout community. This research was conducted using a qualitative descriptive approach, with the target of the Hizbul Wathan scouting movement community in Tangerang, Banten. The data shows that using the word commission is well accepted in a business context, with the number of respondents who disagree as many as three people. While in political and bureaucratic activities, 35 people agreed, and eight said they did not agree. There appears to be vigorous resistance to activities related to social organizations; as many as 13 respondents agreed, and 30 people stated they did not agree. For educational activities, there is a balanced attitude between agreeing and disagreeing. This is evident from the slight difference where as many as 20 respondents agreed. In comparison, 23 respondents stated that they disagreed. The attitude of high rejection was seen in religious activities, with the number of respondents who refused as many as 39 people. Respondents' positive attitude towards using the word commission is generally based on the pragmatic fact that the word commission is also used in various countries. Meanwhile, the negative attitude of the respondents emerged due to the spirit of anti-corruption and cynicism towards the behavior of corruptors who appear in public as if they were innocent.
PELATIHAN DAN PEMELIHARAAN, PENGELOLAAN KAWASAN WISATA MAGROVE DESA KETAPANG KABUPATEN TANGERANG Immawati, Siti Asriah; Hayati, Asfitri; Dadang, Dadang; Angraeni, Reni
Jurnal Dinamika UMT Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/dinamika.v7i1.11951

Abstract

AbstrakKawasan wisata mangrove di Desa Ketapang, Kabupaten Tangerang, memiliki potensi besar sebagai destinasi ekowisata yang menarik dan edukatif. Namun, pengelolaan dan pemeliharaan yang efektif diperlukan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan daya tarik wisata. Pelatihan dan pemeliharaan yang baik menjadi kunci dalam pengelolaan kawasan ini. Program pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat setempat dalam mengelola dan memelihara kawasan mangrove, termasuk dalam aspek konservasi lingkungan, pelayanan wisata, dan pengelolaan sumber daya. Selain itu, pemeliharaan rutin dilakukan untuk memastikan kelestarian ekosistem mangrove dan kenyamanan wisatawan. Hasil dari program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran lingkungan, mengembangkan ekonomi lokal, serta menjadikan Desa Ketapang sebagai model pengelolaan wisata mangrove yang berkelanjutan.Kata kunci: Kawasan wisata, mangrove di Desa Ketapang
Eksplorasi Strategi Pengembangan Wisata Religi Dan Ekowisata Di Pulau Cangkir Kronjo Kabupaten Tangerang Dalam Perspektif Penggunaan Bahasa Hayati, Asfitri; Respati, Rella Dwi; Kartini, Raden Asri; Maulana, M. Ilham
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19353

Abstract

Wisata religi berkontribusi dalam menjaga keharmonisan sosial karena merupakan keterlibatkan pertukaran antar budaya dan antar agama. Ekowisat adalah bentuk pariwisata yang berfokus pada perlindungan lingkungan, pendidikan, dan penguatan komunitas lokal. Wisata religi merupakan jenis wisata yang menitikberatkan pada kegiatan spiritual atau keagamaan, seperti mengunjungi tempat ibadah atau situs bersejarah yang bernilai keagamaan. Bahasa memegang peran penting dalam pengembangan pariwisata, baik sebagai alat komunikasi antara pengelola pariwisata dengan wisatawan, maupun sebagai media periklanan yang efektif. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menggambarkan strategi pengembangan wisata religi dan ekowisata di Pulau Cangkir.lokasi penelitian di Pulau Cangkir Kronjo Kabupaten Tangerang. Penggunaan bahasa dalam mempromosikan pariwisata keagamaan di Pulau Cangkir didominasi oleh bahasa formal dan agama dan tetap tradisional. Analisis media periklanan seperti pamflet dan lembaga intelijen menunjukkan bahwa Bahasa yang digunakan dalam mempromosikan pariwisata keagamaan di pulau -pulau trofis memiliki nilai agama yang kuat dan memberi pengunjung kesan suci. Dalam penggunaan bahasa lebih cendrung bahasa Indonesia dalam bahasa promosi, dengan kata lain bahasa ayng digunakan menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh pengujung itu sendiri. Strategi pengembangan pariwisata masih menghadapi tantangan yang berbeda, terutama dengan penggunaan bahasa sebagai media periklanan dan komunikasi. pengelola wisata untuk melakukan atau seperti mengikuti pelatihan bahasa asing untuk mendapatkan informasi yang lebih efektif. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa strategi pengembangan wisata di Pulau Cangkir perlu memperhatikan inovasi dalam penggunaan bahasa, termasuk penggunaan narasi yang lebih menarik, peningkatan keterampilan komunikasi masyarakat lokal, serta optimalisasi media digital untuk promosi yang lebih efektif.
Promotion Language And Destination Image Sustainability: Implications For Socio-Economic Development In Tangerang City Hayati, Asfitri; Basit, Abdul; Lolita, Lulu Ayu
Jurnal Mamangan Vol 14, No 2 (2025): Jurnal Ilmu Sosial Mamangan Accredited 2 (SK Dirjen Ristek Dikti No. 0173/C3/DT
Publisher : LPPM Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/mamangan.v14i2.10411

Abstract

This study aims to analyze the influence of language in digital promotions on the image of tourist destinations by highlighting four key indicators: message clarity, narrative appeal, language style, and cultural appropriateness. Destination image is measured through two main dimensions: cognitive perception, which relates to tourists' knowledge and rational understanding of the destination, and affective perception, which reflects the emotional bond and aesthetic impression formed. This study used a quantitative survey approach, collecting data from 110 respondents, residents of Tangerang City, using a purposive sampling technique. The results indicate that message clarity, narrative appeal, language style, and cultural appropriateness contribute significantly to shaping tourists' cognitive and affective perceptions. Among these variables, message clarity and narrative appeal proved more dominant in strengthening audiences' rational understanding of the destination, while language style and cultural appropriateness played a more significant role in building emotional closeness and trust in local values. These findings confirm that an effective digital promotion strategy relies not only on delivering factual information but also on packaging the message in a way that aligns with the cultural characteristics and linguistic preferences of the target audience. Theoretically, this research expands the study of tourism marketing communications by emphasizing the importance of linguistic and cultural dimensions in influencing destination image formation. Practically, the research findings provide strategic implications for tourism stakeholders in designing more persuasive digital promotional content, oriented toward local values, and supporting the sustainability of culture-based tourism. Thus, this research makes a significant contribution in bridging communication theory, destination branding strategies, and digital marketing practices rooted in local cultural wisdom.
Komunikasi Edukatif Menabung Sejak Dini untuk Mendukung Kebiasaan Wisata Pintar pada Siswa Sekolah Dasar(Studi Kasus Siswa SDN Sindangsari 2 Kabupaten Tangerang) Silfiana Dian Lestari; RD. Hera Merdeka Khazinatul Khaeriah; Asfitri Hayati; Rella Dwi Respati; Raden Aries Sofwan Zarkasih
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.5015

Abstract

Rendahnya literasi keuangan sejak usia dini masih menjadi tantangan dalam pembentukan perilaku anak, termasuk dalam konteks perencanaan aktivitas wisata yang bijak. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK tahun 2022, tingkat literasi keuangan nasional berada pada angka 49,68%, sementara literasi keuangan pada kelompok usia anak dan remaja masih relatif rendah. Di sisi lain, pariwisata sebagai aktivitas sosial dan budaya memerlukan kesiapan perilaku, termasuk kemampuan merencanakan pengeluaran secara sederhana. Oleh karena itu, edukasi menabung sejak dini menjadi penting sebagai fondasi pembentukan kebiasaan wisata pintar pada anak sekolah dasar.Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk menanamkan kebiasaan menabung sejak dini kepada siswa sekolah dasar melalui pendekatan komunikasi edukatif yang sesuai dengan karakteristik anak. Edukasi menabung diposisikan sebagai bagian dari pembentukan kebiasaan wisata pintar, yaitu sikap bijak, terencana, dan bertanggung jawab dalam mengenal aktivitas wisata. Kegiatan dilaksanakan pada siswa sekolah dasar dengan metode komunikasi partisipatif melalui storytelling, media visual, permainan edukatif, dan simulasi sederhana perencanaan wisata. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep menabung dan perencanaan sederhana. Sebelum kegiatan, hanya sekitar 32% siswa yang memahami tujuan menabung secara konsisten, sedangkan setelah pelaksanaan PkM persentase tersebut meningkat menjadi 71%. Selain itu, sebanyak 68% siswa mampu mengaitkan kegiatan menabung dengan tujuan wisata sederhana, seperti menabung untuk kunjungan edukatif atau rekreasi keluarga. Kegiatan ini membuktikan bahwa komunikasi edukatif yang dirancang secara tepat mampu membentuk kebiasaan positif berkelanjutan sejak dini. Edukasi menabung tidak hanya meningkatkan literasi keuangan dasar, tetapi juga berperan dalam menanamkan kesadaran wisata pintar pada siswa sekolah dasar sebagai bagian dari pendidikan karakter dan literasi pariwisata.
Hubungan Antara Motivasi Belajar Terhadap Kemampuan Belajar Mahasiswa Pada Mata Kuliah Sosiologi Antropologi Budaya Hayati, Asfitri
⁠⁠Jurnal Literasi Indonesia Vol. 1 No. 3 (2024): Jurnal Literasi Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara motivasi belajar dengan kemampuan belajar mahasiswa pada mata kuliah Sosiologi Antropologi Budaya. Motivasi belajar, yang terdiri dari motivasi intrinsik dan ekstrinsik, dianggap sebagai faktor penting yang mempengaruhi hasil belajar mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif kausal, di mana data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 40 mahasiswa semester 2 Prodi Pariwisata di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara motivasi belajar, baik intrinsik (r = 0,344, p < 0,05) maupun ekstrinsik (r = 0,414, p < 0,01), dengan kemampuan belajar. Analisis regresi berganda menunjukkan bahwa motivasi belajar, baik intrinsik maupun ekstrinsik, secara bersama-sama mempengaruhi kemampuan belajar dengan koefisien determinasi sebesar 19,9%. Temuan ini mengindikasikan bahwa motivasi belajar berperan penting dalam meningkatkan kemampuan belajar mahasiswa, sehingga pengembangan strategi pembelajaran yang mendukung peningkatan motivasi belajar sangat diperlukan