Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : SAINSTEK

Oli Sisa Sebagai Bahan Peremajaan Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) Pada Lapisan Asphalt Concrete Binder Course (AC-BC) Jalan Atthaariq Muhammad Yandes; Rismanto Rismanto; Julianto Julianto; Ulfa Jusi
Sainstek (e-Journal) Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Material Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) yang terbuang dan menjadi limbah diharapkan dapat digunakan kembali sebagai material campuran aspal. Recycling (daur ulang) adalah salah satu alternatif yang bisa digunakan. Penggunaan bahan peremaja dari limbah RAP ini diperlukan apabila material RAP tidak dapat memenuhi spesifikasi Bina Marga. Persyaratan mengenai spesifikasi material RAP dan pengujian material mengacu pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 Revisi 3 dan Spesifikasi Khusus Interim Bina Marga 2011 Seksi 6.3. Penelitian ini menggunakan oli bekas sebagai bahan peremaja pada campuran Asphalt Concrete Binder Course (AC-BC) dengan variasi 0%, 10%, 20% dan 30%. Dengan 10 buah benda uji, masing-masing 3 buah benda uji ditambah 1 benda uji dalam kondisi original (0%). Dari hasil pemeriksaan Marshall Test didapat hasil pada 10% campuran oli bekas nilai stability adalah 711 kg, kelelehan (flow) 3,5%, Marshall Quotient (MQ) 205 kg/mm, rongga terisi pori (VMA) 14,8%. Pada 20% campuran oli bekas nilai stabiitynya 526 kg, kelelehan (flow) 3,5%, Marshall Quotient (MQ) 152 kg/mm, rongga terisi pori (VMA) 14,9%. Sedangkan pada campuran 30% oli bekas didapat nilai stability 394 kg, kelelehan (flow) 3,5%, Marshall Quotient (MQ) 114 kg/mm, rongga terisi pori (VMA) 15,1%. Dari hasil diatas yang mendekati standar spesifikasi Bina Marga 2010 untuk stability adalah oli bekas 10% (711 kg), flow pada setiap campuran sama (3,5 mm), Marshall Quotient (MQ) semakin menurun dari standar sedangakan untuk nilai VMA mengalami kenaikan.
Perbandingan Kebutuhan Biaya-Waktu Alat-Alat Berat antara Hitungan Kontraktor dan Permen PUPR No. 28/PRT/M/ 2016 Yulia Setiani; A.Nishar Zulmi; Ulfa Jusi
Sainstek (e-Journal) Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan sumur baru untuk perusahaan minyak membutuhkan berbagai macam alat-alat berat. Pekerjaannya menimbun dan memadatkan tanah. Tujuan penggunaan alat berat untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan, menghemat tenaga kerja, bekerja lebih ekonomis, dan hasil kerja yang lebih optimal. Permasalahan pada proyek yang menjadi studi kasus adalah kontraktor tidak optimal menentukan jumlah alat berat dan biaya keseluruhan proyek. Karena itu perlu suatu studi perbandingan perhitungan kebutuhan alat-alat berat, antara perhitungan kontraktor dan perhitungan mengacu pada Permen PU No. 28/ 2016 tentang analisis harga satuan pekerjaan bidang Sumber Daya Air (SDA) Bagian 2. Hasil perhitungan kontraktor tidak efisien dibandingan dengan metode perhitungan SDA. Kontraktor menggunakan 2 unit excavator, 8 unit dump truck, 2 unit bulldozer, 2 unit compactor dan biaya operasi alat berat Rp 343.340.000,00. Sedangkan hasil perhitungan dengan menggunakan metode SDA menggunakan 1 unit excavator, 4 unit dump truck, 1 unit bulldozer, 1 unit compactor dan biaya alat berat sebesar Rp 307.676.863,00
Pengaruh Variasi Pemasangan Lembaran Geotekstil Non Woven Terhadap Kuat Dukung Tanah Pasir Pada Fondasi Menerus Ulfa Jusi
Sainstek (e-Journal) Vol. 6 No. 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki dan mempelajari perilaku tanah pada saat pembebanan sampai mencapai keruntuhan, disertai dengan pola keruntuhannya yang dibebani dengan model fondasi kaku yang terletak pada kedalaman yang tidak lebih lebar dari fondasinya. Penambahan beban fondasi dilakukan berangsur-angsur. Percobaan ini menggunakan model 2 dimensi (peninjauan satu arah) berupa fondasi dangkal pada bak transparan yang berisitanah pasir (kolam pasir) yang telah disisipkan lembaran geotekstil tipe nonwoven. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh model geometrik pemasangan geotekstil terhadap penambahan daya dukung tanah pasir dan menentukan model geometrik pemasangan geotekstil yang paling efisien. Model keruntuhan adalah keruntuhan local shear dimana saat keruntuhan lembaran geotekstil yang dipasang mengalami tarikan sekeliling pada lokasi tepat di bawah tapak fondasi dan tidak terdapatnya penggelembungan pada permukaan tanah pasir disekitar fondasi. Dari hasil pengujian pembebanan dengan model geometrik pemasangan perkuatan lembaran geotekstil divariasikan untuk ukuran lebar lembaran geotekstil yang dipasang (LG) dengan jarak lapisan teratas, jarak antara (spasi) (z) = 0,3 dan jumlah lapisan (N) = 1, diperoleh hasil bahwa kontribusi geotekstil dalam meningkatkan daya dukung terbesar adalah pada LG = 3B (B = lebar fondasi). Hasil pengujian pembebanan dengan model pemasangan perkuatan lembaran geotekstil divariasikan untuk jarak antara (spasi) pemasangan lembaran geotekstil (s) dengan jarak lapisan teratas, ukuran dan jumlah lapisan tetap N = 1 dan LG = 3B. Sedangkan daya dukung terbesar pada penempatan lembaran geotekstil dengan jarak antara (s) sekitar 0,4B,Penambahan lembar lapisan geotekstil (N) dengan N = 1 sampai dengan 6 didapat penambahan daya dukung yang besar pada N = 1.
PENGARUH PENAMBAHAN SEMEN SEBAGAI BAHAN STABILISASI TANAH LEMPUNG Ulfa Jusi; Sjelly Haniza
Sainstek (e-Journal) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah Lempung mempunyai sifat yang kurang menguntungkan bagi konstruksi bangunan sipil khususnya konstruksi jalan raya, karena mempunyai kadar air yang tinggi, kemampuan dukung yang rendah dan sifat kembang susut yang tinggi serta memiliki penurunan yang besar. Metode perbaikan tanah dilakukan dengan cara stabilisasi agar tanah tersebut tetap dapat digunakan. Stabilisasi dilakukan dengan mencampur tanah lempung dengan semen. sedangkan variasi kadar semen yang digunakan adalah 1%, 3%, dan 5% untuk mengetahui kondisi masing-masing sampel dilakukan pengujian dengan California Bearing Ratio (CBR). Tujuan penelitian ini untuk membandingkan nilai CBR tanah lempung sebelum dan setelah distabilisasi dengan penambahan semen serta untuk perbaikan daya dukung pondasi jalan (sub base). Prosedur penelitian dibagi 3 tahap yaitu penelitian awal untuk menentukan indeks properties tanah. Tahap kedua yaitu pengujian mekanis tanah meliputi pemadatan dan California Bearing Ratio (CBR). Pengujian tahap ketiga yaitu menambah campuran Portland Cement Composite (PCC) dengan variasi 1%, 3% dan 5%. Setiap pengujian sifat fisik dan mekanik. Pengujian CBR tanah dilakukan pemeraman dan perendaman benda uji, dengan waktu 3 hari pemeraman dan 4 hari perendaman Hasil pengujian untuk Tanah Lempung dari Rumbai, Pekanbaru memiliki nilai CBR sebesar 3,2%. Sample tanah setelah di stabilisasi dengan variasi campuran semen, diperoleh nilai CBR 5% menjadi 56,10% dengan ?dry maksimum 1,507 gr/cm3 dan kadar air optimum 26,20;CBR 6% menjadi 61,61% dengan ?dry maksimum 1,514 gr/cm3 dan kadar air optimum 26,18%; dan nilai CBR7% menjadi 70,30% dengan ?dry maksimum 1,520 gr/cm3 dan kadar air optimum 25,90%.
PENGARUH TINGGI MUKA AIR TERHADAP STABILITAS BANGUNAN INLET Ulfa Jusi
Sainstek (e-Journal) Vol. 4 No. 1 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan Inlet merupakan salah satu bangunan pedukung dalam bidang perairan. Keberadaan bangunan pendukungperlu dilakukan pengamatan baik dari segi fungsi maupun dari segi keamanan. Langkah inspeksi lapangan secaraberkala dan mengamati permasalahan serta mengevaluasi stabilitas bangunan untuk perbaikan sehingga bangunan bisaberfungsi dengan baik demi keamanan struktur yang stabil.Penelitian ini menggunakan Metode Rankine untukmenghitung stabilitas geser dan stabilitas guling pada bangunan. Perhitungan kapasitas dukung menggunakan metodeTerzaghi dan metode Meyerhof. Dari hasil analisadisimpulkanbahwa semakin tinggi muka air semakin tidak amanstabilitas geser dan stabilitas guling bangunan inlet, dalam perhitungan yang dilakukan dari muka air maksimum yang direncanakan 3 m bangunan tersebut tidak aman terhadap stabilitas geser dan guling berdasarkan faktor aman (SF) =1.5, namun aman pada muka air 2.15 m yang merupakan tinggi muka air kritis atau muka air maksimum berdasarkanperhitungan yang dilakukan. Sedangkan kapasitas dukung tanah terhadap bangunan dan beban di atasnya berdasarkanhasil perhitungan masih aman dengan faktor aman (SF)= 3.
ANALISA TINGKAT KERUSAKAN PADA PERKERASAN JALAN (Studi Kasus Jalan Lingkar Barat Kecamatan Kerinci Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau) Ulfa Jusi
Sainstek (e-Journal) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan merupakan salah satu sarana untuk menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya. Seiring dengan peningkatan volume lalu lintas, kerusakan jalan merupakan salah satu permasalahan yang sering timbul. Dalam penilaiannya tingkat perkerasan yang ada tersebut apakah masih layak untuk digunakan oleh pengguna jalan dengan mengidentifikasi kerusakan jalan menggunakan Metode Aspalt Institute dan Metode Pavement Condition Index (PCI) dengan study kasus pada Jalan Lingkar Barat Kecamatan Kerinci Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Dari hasil identifikasi, kerusakan yang terjadi adalah retak kulit buaya, retak slip, retak diagonal, pengelupasan, retak berkelokkelok, sungkur kegemukan, ambles, lubang dan alur. Tingkat kerusakan berdasarkan hasil perhitungan menurut Metode Aspalt Institute adalah 96,324 % dan menurut Metode Pavement Condition Index (PCI) adalah 98,322%. Berdasarkan tingkat kerusakan jalan pada lokasi tersebut dapat dilakukan perbaikan jalan dengan cara pemeliharaan rutin.
ANALISA KADAR ASPAL TERHADAP HASIL CORE DRILL PADA PEKERJAAN LAPIS PERMUKAAN ASPHALT CONCRETE WEARING COURSE (AC-WC) Ulfa Jusi; Desi Yasri
Sainstek (e-Journal) Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lapisan permukaan dari konstruksi jalan memiliki komposisi dan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Bahan yang digunakan merupakan campuran antara batuan (agregat ) dengan aspal. Jenis campuran yang biasa digunakan antara lain campuran Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC ).Pada Berdasarkan volume kebutuhan campuran aspal di lapangan harus melalui proses ekstraksi (extraction), yaitu pemisahan bagian yang terlarut dengan bagian yang tidak terlarut. Dilakukan penelitian untuk menentukan kepadatan relatif dilapangan dengan cara membandingkan kepadatan lapangan terhadap kepadatan laboratorium serta menganalisa kadar aspal dalam campuran perkerasan dengan metode ekstraksi. Berdasarkan hasil penelitian didapat kepadatan lapangan relatif rata-rata adalah 99,37% dan memenuhi syarat yang ditetapkan AASTHO T-166 untuk asphalt concrete minimum 98,0%. Kadar aspal rata-rata dalam campuran metode ekstraksi adalah 6,26% dan 6,30%. Masih dalam batas toleransi campuran yang ditetapkan dalam spesifikasi teknik terhadap Job Mix Formula yang menyarankan kadar aspal 6,10%.
ANALISIS PENGARUH PEMASANGAN LEMBARAN GEOTEKSTIL NON WOVEN (LG/B )TERHADAP KUAT DUKUNG TIMBUNAN TANAH PASIR PADA PONDASI MENERUS Ulfa Jusi
Sainstek (e-Journal) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memperbaiki kondisi tanah adalah merupakan salah satu penyelesaian masalah dan sudah banyak dilakukan dengan menggunakan berbagai metode, perbaikan tanah dapat dilakukan dengan memasang bahan sintetis seperti geotekstil. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model pondasi menerus yang diletakkan diatas kotak transparan yang diisi pasir dengan kondisi kepadatan relatif (Dr ) 20% - 40% yang diberi perkuatan geotekstil jenis non woven dan diberi beban tegak lurus menggunakan dongkrak hidrolik. Penelitian dilakukan dengan pemasangan lembaran geotektil (LG/B )terhadap dasar pondasi menunjukkan bahwa kontribusi penambahan kuat dukung terbesar diperoleh pada penempatan LG/B = 3 (B = lebar pondasi )
Pengaruh Kombinasi Pembebanan Terhadap Pemilihan Pondasi Borepile Pada Bangunan Gedung Ahmad Hamidi; Ulfa Jusi; Beny Setiawan
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.153

Abstract

Indonesia juga menjadi salah satu negara yang berada pada pertemuan 3 lempeng tektonik utama dunia yaitu Lempeng Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Peristiwa gempa yang terjadi memberikan pengaruh terhadap kondisi bangunan baik saat terjadi gempa maupun pasca terjadinya gempa. Gempa merupakan peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi dalam bumi secara tiba-tiba dan sering kali merusak bangunan-bangunan yang berada disekitar lokasi pusat gempa. Berdasarkan SNI 1726-2012 Indonesia memiliki beberapa kondisi tanah yang terdiri dari batuan, tanah keras, tanah sedang dan tanah lunak. Bangunan yang menjadi tinjauan dalam penelitian adalah bangunan 2 lantai yang difungsikan sebagai hunian. Dalam perencanaan struktur menggunakan pondasi borepile diameter 30 cm dengan membandingkan kombinasi pembebanan berdasarkan SNI 03-1726-2002 dengan hanya menggunakan kombinasi beban mati dan hidup saja menggunakan software elemen hingga. Berdasarkan perhitungan maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan kombinasi pembebanan sesuai SNI maka pembebanan massa menjadi lebih besar pada bagian tumpuan (pondasi) dibandingkan dengan hanya menggunakan kombinasi pembebenan berupa beban hidup dan mati hingga mencapai 43,62%. Dengan besarnya pembebanan pada tumpuan maka jumlah titik borepile yang dibutuhkan juga berbeda. Berdasarkan perhitungan bangunan yang menjadi tinjauan, untuk kombinasi pembebanan sesuai SNI dengan hasil daya dukung satuan pondasi (Qu) sebesar 31,27 ton maka diperlukan 12 titik borepile dan untuk kombinasi pembebanan dengan beban mati dan hidup dibutuhkan 7 titik borepile atau lebih kecil sebesar 41,67%.
Analisis Nilai Karakteristik Asphalt Concrete-Wearing Course Terhadap Variasi Lama Rendaman Pada Air Gambut Sjelly Haniza; Ulfa Jusi; Riski Majid
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.158

Abstract

Perkerasan lentur (fleksibel pavement) merupakan jenis lapis perkerasan yang banyak digunakan karena dianggap memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan jenis perkerasan lainnya. Jenis lapis perkerasan yang terletak pada bagian atas permukaan dikenal dengan asphalt concrete wearing course. Kerusakan pada jalan fleksibel pavement selain terjadi akibat beban berlebih dapat juga terjadi akibat tidak berfungsinya drinase, sehingga terjadi genangan dibadan jalan yang cukup lama. Genangan ini bukan saja berasal dari air hujan tetapi dapat pula akibat naiknya muka air tanah. Provinsi Riau merupakan daerah yang memiliki lahan gambut yang cukup luas, sehingga adakalanya struktur perkerasan berada diatas lahan tersebut. Tidak berfungsinya darinase pada jalan yang berada diatas lahan gambut akan menyebabkan genangan dan dikuatirkan akan mempegaruhi kinerja perkerasan aspal, karena air gambut bersifat asam dan memiliki pH 3,7-5,3. Untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh dari terendamnya struktur perkerasan jalan tersebut maka dilakukan penelitian menggunakan air gambut dengan pH 4,12. Penelitian dilakukan skala laboratorium menggunakan benda uji dari desain Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) dengan variasi waktu perendaman 30 menit, 720 menit dan 1440 menit. Aspal yang digunakan jenis pen 60/70. Nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) yang diperoleh dari penelitian ini 6,2%. Nilai karakteristik setelah direndam dalam air gambut berturut–turut untuk perendaman 30 menit, 720 menit dan 1440 menit terhadap stabilitas 1107 kg, 863 kg dan 696 kg, terhadap flow yaitu 3,22 mm, 4,03 mm dan 4,78 mm, sedangkan untuk VMA,VIM dan VFB nilai yang diperoleh semua memenuhi kriteria yang ditetapkan pada spesifikasi bina marga 2018. Berdasarkan data yang diperoleh dapat dikatakan bahwa Lapis permukaan AC-WC yang tergenang air gambut dengan ph 4,12 harus bebas dari genangan maksimum 12 jam.