Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

SKRINING POTENSI EKSTRAK KULIT JANTUNG PISANG KEPOK (Musa paradisiaca Linn.) SEBAGAI ZAT ANTIBAKTERI Vindi Annisa Rahmah; Agung Kurniawan; Widya Twiny Rizki; Siti Marwah Lestari; Chindiana Khutami
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 7 No. 2 (2025): Literasi Artikel Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v7i2.6086

Abstract

Abstract Indonesian Food and Drug Authority or BPOM no longer recommends the use of synthetic preservatives due to their toxic properties and potential carcinogenic risks. One of the natural ingredients that is potential as a natural preservative is the peel of kepok banana blossom (Musa paradisiaca Linn.), which is known to contain secondary metabolites with microbial activity, including steroids, terpenoids, saponins, tanning, alkaloid, flavonoids, and phenols. This study aim to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) in Staphylococcus aureus bacteria. The peel extract of kepok banana blossom (Musa paradisiaca Linn.) was obtained by maceration with a mixture of 96% ethanol: 3% Citric Acid (85:15) solvent. Concentration of extract varied from 12.5%; 25%; 50%; until 100%, it is used for antibacterial activity test in which aquadest as a negative control and Chloramphenicol as a positive control. The Minimum Inhibitory Concentration (MIC) test was conducted using the liquid macrodilution method and the Minimum Bactericidal Concentration (MBC) test was conducted using the spread method. The Minimum Inhibitory Concentration (MIC) value was obtained at a concentration of 50% and the Minimum Bactericidal Concentration (MBC) value was obtained at a concentration of 100%. The peel extract of Kepok banana blossom (Musa paradisiaca Linn.) with a concentration of 50% was able to inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria and with a concentration of 100% was able to kill Staphylococcus aureus bacteria. Keywords: kepok banana blossom peel extract, natural preservatives, antibacterial acitivity test Abstrak Badan Obat dan Makanan atau BPOM telah menyarankan untuk menghindari penggunaan bahan pengawet sintesis karena cenderung toksi dan karsinogenik. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai pengawet alami yaitu kulit jantung pisang kepok (Musa paradisiaca Linn.), yang diketahui mengandung metabolit sekunder yang berfungsi sebagai senyawa antimikroba diantaranya steroid, terpenoid, saponin, tanin, alkaloid, flavonoid dan fenol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) pada bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak kulit jantung pisang (Musa paradisiaca Linn.) diperoleh dengan cara maserasi dengan pelarut yang terdiri dari campuran etanol 96% : Asam Sitrat 3% (85:15). Variasi konsentrasi ekstrak dibuat untuk pengujian aktivitas antibakteri dari 12,5%; 25%; 50%; hingga 100%, aquades sebagai kontrol negatif dan Kloramfenikol sebagai kontrol positif. Uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dilakukan dengan metode makrodilusi cair dan uji Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dilakukan dengan metode sebar (spread). Nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) didapatkan pada konsentrasi 50% dan nilai Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) didapatkan pada konsentrasi 100%. Berdasarkan hasil penelitian ini, ekstrak kulit jantung pisang (Musa paradisiaca Linn.) dengan konsentrasi 50% diketahui mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan dengan konsentrasi 100% mampu membunuh bakteri Staphylococcus aureus. Keywords: ekstrak kulit jantung pisang, pengawet alami, uji aktivitas antibakteri
PENGARUH EDUKASI RASIONALISASI ANTIBIOTIK TERHADAP PENGETAHUAN MASYARAKAT DI DESA SUNGAI LANANG armayanti, dini; Khutami, Chindiana; Pratama, Septa
Jurnal Penelitian Farmasi Dan Herbal Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Penelitian Farmasi dan Herbal
Publisher : Fakultas Farmasi Institut Kesehatan DELI HUSADA Deli Tua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Irrational use of antibiotics contributes to the increasing incidence of antimicrobial resistance (AMR). Limited public knowledge regarding the indications and proper use of antibiotics leads to inappropriate usage. This study aimed to determine the level of community knowledge before and after educational intervention and to analyze the effect of education on improving knowledge among residents of Dusun III, Sungai Lanang Village. This study employed a pre-experimental one group pretest–posttest design involving 71 respondents selected through purposive sampling from a population of 245 individuals. Data were collected using a questionnaire that had been tested for validity and reliability. Statistical analysis was performed using the Wilcoxon Signed Ranks Test because the data were not normally distributed (p < 0.05). The results showed that prior to the educational intervention, the majority of respondents had poor knowledge (59%), whereas after the intervention, most respondents were categorized as having good knowledge (70%). The Wilcoxon test result showed p = 0.000 (p < 0.05), indicating a significant effect of education on improving knowledge. In conclusion, antibiotic rationalization education is effective in increasing community knowledge and should be implemented continuously to prevent antibiotic misuse.
EDUKASI BIJAK PENGGUNAAN OBAT SAAT PUASA PADA MASYARAKAT TUGU KERIS SIGINJAI KOTA JAMBI Hidayat, Rahmat; Amelia, Amraini; Putri, Kristy Mellya; Fitrianto, Rahmad; Menrisal, Menrisal; Khutami, Chindiana; Anggraini, Putri Dewi; Rahmawati, Dwi; Azzahra, Talitha Salshabilla; Karimah, Sa'adatul; Monica, Egis
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026): Inpress Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i3.57352

Abstract

Mayoritas penduduk di Indonesia beragama Islam dan menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Selama menjalankan puasa terjadi perubahan pola makan dari tiga kali sehari menjadi dua kali, yaitu saat berbuka puasa dan sahur. Perubahan pola makan ini juga berpengaruh terhadap waktu dan aturan penggunaan obat bagi masyarakat yang sedang menjalani terapi pengobatan. Kurangnya pemahaman mengenai cara penggunaan obat yang tepat selama berpuasa dapat menyebabkan penggunaan obat yang tidak sesuai sehingga berpotensi menurunkan efektivitas terapi. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan obat yang bijak dan tepat selama menjalankan ibadah puasa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di kawasan Tugu Keris Siginjai Kota Jambi dengan metode sosialisasi langsung kepada masyarakat menggunakan media leaflet sebagai sarana edukasi. Selain itu, kegiatan ini juga disertai dengan pembagian takjil kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat memberikan respon yang positif terhadap kegiatan edukasi yang dilaksanakan. Hal ini terlihat dari antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan, partisipasi aktif dalam sesi diskusi, serta adanya interaksi antara tim pelaksana dan masyarakat. Secara umum kegiatan pengabdian masyarakat ini berjalan dengan baik dan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan obat yang tepat dan aman selama menjalankan ibadah puasa.