Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Penerapan Model Co-Op Co-Op Untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran PPKn Lurdis Lopes; Septian Aji Permana
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7462

Abstract

This study aims to improve the learning outcomes of eighth-grade students in Civic Education (PPKn) at SMP PGRI Kasihan through the implementation of the Co-op Co-op learning model. This Classroom Action Research was conducted at SMP PGRI Kasihan, Bantul, Yogyakarta, from October to November 2025, involving 27 students of class VIII B. The Minimum Mastery Criterion (KKM) was set at 75. Data were collected through observation, evaluation tests, interviews, and documentation, and were analyzed quantitatively across two learning cycles. The findings show a significant improvement in student achievement. In the pre-cycle stage, only 3 students met the KKM (41.00% mastery). This increased to 9 students (67.00% mastery) in Cycle I, and further to 24 students (77.00% mastery) in Cycle II, surpassing the 75% success indicator. The study concludes that the Co-op Co-op learning model is effective in enhancing PPKn learning outcomes by making the learning process more engaging, increasing student participation and collaboration, and facilitating better understanding of the material.
Tradisi Etu ditinjau dari Perspektif Hukum dan Budaya (Studi Kasus: Nagekeo Nusa Tenggara Timur) Katarina De Ricci Bupu; Septian Aji Permana
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7471

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan tradisi Etu atau tinju adat masyarakat Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dari dua perspektif utama: budaya dan hukum nasional Indonesia, khususnya dikaitkan dengan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang kekerasan secara bersama-sama. Tradisi Etu tidak hanya dipahami sebagai pertarungan fisik, tetapi juga sebagai simbol solidaritas, sportivitas, dan penghormatan terhadap leluhur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dan studi kasus lapangan. Data diperoleh melalui analisis dokumen, wawancara dengan tokoh adat, serta kajian literatur ilmiah terkait tinju adat di Flores. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perspektif budaya, Etu berfungsi sebagai media pendidikan karakter dan penguatan identitas sosial. Sementara dari perspektif hukum, pelaksanaan Etu secara formal memang menyerupai tindakan kekerasan sebagaimana diatur dalam Pasal 170 KUHP, tetapi secara substantif, Etu berbeda karena dilakukan atas dasar kesepakatan adat, diatur oleh norma hukum adat, dan berorientasi pada rekonsiliasi sosial, bukan kekerasan kriminal. Dengan demikian, tradisi Etu dapat dipandang sebagai praktik hukum adat yang tetap relevan selama tidak melanggar prinsip kemanusiaan dan keselamatan individu.
Peran Ketua Adat Dalam Kasus Hiba Nalan di Adonara, Flores Timur Ditinjau dari Perspektif Budaya Batildis Palyama; Septian Aji Permana
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7481

Abstract

Hiba Nalan merupakan mekanisme penyelesaian adat masyarakat Lamaholot yang digunakan dalam kasus kecelakaan tidak disengaja. Dalam mekanisme ini, pelaku tidak diberikan sanksi adat maupun sanksi hukum formal karena peristiwa tersebut dipahami sebagai bentuk kesialan atau persoalan leluhur yang belum terselesaikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran ketua adat dalam penyelesaian Hiba Nalan melalui pendekatan kualitatif socio-legal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan thematic coding serta model Miles–Huberman–Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketua adat berperan sebagai mediator, otoritas budaya, dan penyangga moral yang memastikan proses rekonsiliasi berlangsung melalui langkah-langkah simbolik seperti pengakuan kesalahan, musyawarah adat, ritual Hode Limat, dan makan bersama. Mekanisme tersebut selaras dengan konsep keadilan restoratif (Zehr), reintegrative shaming (Braithwaite), transformasi konflik (Lederach), dan perdamaian positif (Galtung). Penelitian menyimpulkan bahwa Hiba Nalan merupakan praktik pluralisme hukum yang efektif dan sah secara sosial, serta melengkapi kerangka hukum nasional Indonesia.
Peti Gantung Sebagai Media Pembuktian Kebenaran pada Kasus Kematian Tidak Wajar: Studi Kasus Rechijnce Abigail Bofra; Septian Aji Permana
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7551

Abstract

This study aims to explore the meaning, function, and implementation process of the hanging coffin tradition practiced by the indigenous community of Kampung Ibe, Tambrauw Regency, Southwest Papua, particularly in cases of deaths considered unusual or suspicious. The hanging coffin ritual serves not only as a traditional burial practice but also as a spiritual medium through which the cause of death is interpreted based on signs believed to be conveyed by the deceased’s spirit. This research employs a naturalistic qualitative approach, utilizing observation, in-depth interviews, and documentation involving customary leaders, tribal chiefs, community elders, and families who have performed the ritual. The findings reveal that the community places greater trust in the spiritual signs manifested through the ritual than in medical results or formal legal explanations. The stages of the ritual provide progressively clearer interpretations for the community, ultimately leading to a culturally accepted conclusion regarding the cause of death. The hanging coffin tradition also strengthens social solidarity, maintains the balance between the living and ancestral spirits, and functions as a mechanism for resolving conflicts within the community. Thus, this tradition is not merely a burial practice but also a deeply rooted cultural and spiritual system for uncovering truth within the indigenous socio-cultural framework.
Training of Learning Strategy for Prospective Thai Teachers Septian Aji Permana; Bintang Wicaksono; Sukhemi
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v5i1.9005

Abstract

Tujuan dari Pengabdian Masyarakat ini meningkatkan keterampilan mengajar bagi calon guru guru Thailand yang sedang mengikuti program Profesi Pendidikan Guru (PPG) di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malysia. Hasil pengabdian ini memberikan dasar dasar startegi pembelajaran meliputi macam macam metode, model, dan media pembelajaran. Metode yang digunakan dalam pelatihan strategi pembelajaran untuk calon guru guru Thailand adalah dengan cara mempraktek secara langsung terkait dengan metode metode pembelaajaran, model model pembelajaran, dan media media pembelajaran yang akan mendukung ketika calon Guru akan mengajar dihadapan siswa. Hasil pelatihan strategi pembelajaran ini dirasakan sangat bermanfaat bagi para calon guru guru Thailand karena secara teori mereka memahami macam macam metode, model, dan media pembelajaran. Melalui pelatihan selama dua hari calon guru dapat berinovasi dalam mempraktekan metode, model, dan media pembelajaran. Calon guru juga dapat dengan mudah mendapatkan sertifikasi Profesi dan melalui pelatihan strategi pembelajaran ini, diharapkan menambah motivasi calon Guru dalam mengajar dan meningkatkan kinerja Guru.