Hiperurisemia merupakan kondisi peningkatan kadar asam urat dalam darah yang dapat menimbulkan berbagai dampak klinis, termasuk penyakit gout. Di Indonesia, prevalensi penyakit asam urat mencapai 7,3% pada penduduk usia 15 tahun ke atas. Stres psikososial diketahui memiliki kaitan dengan kadar asam urat melalui mekanisme inflamasi dan aktivasi jalur neuroendokrin. Profesi guru menjadi salah satu kelompok rentan terhadap stres akibat tuntutan pekerjaan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat stres dan depresi dengan kadar asam urat pada guru SMPN 2 Sukaraja. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 46 guru sebagai responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner DASS-21 (Depression, Anxiety, and Stress Scale-21) untuk mengukur tingkat stres dan depresi, serta pemeriksaan kadar asam urat menggunakan metode Point of Care Test (POCT). Analisis data menggunakan uji Spearman's Rho untuk menguji korelasi antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 41-50 tahun (45,7%), berjenis kelamin perempuan (67,4%), dan memiliki masa kerja 11-20 tahun (39,1%). Tingkat stres responden mayoritas kategori normal (63%), sedangkan tingkat depresi mayoritas kategori normal (84,8%). Kadar asam urat mayoritas berada dalam kategori normal (65,2%). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kadar asam urat (p=0,836; r=0,032) maupun antara tingkat depresi dengan kadar asam urat (p=0,499; r=-0,104). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat stres dan depresi dengan kadar asam urat pada guru SMPN 2 Sukaraja, kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti pola diet, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan yang tidak dikendalikan dalam penelitian ini.