Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : RELIGIA

AL-ADDAD: POLA UNIK BAHASA AL-QUR’AN Jaeni, Muhamad
RELIGIA Vol 13 No 1: April 2010
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.438 KB) | DOI: 10.28918/religia.v13i1.174

Abstract

Semantic system unique in Arabic language is very interesting to study, particularly in relational meaning, because there are some Arabic semantic system parts whose concept is different from others. The relationship among the meanings like in modern linguistic is called as synonymy, polisemi homonymy, and antonymy can be found in Arabic and Quranic linguistic. Therefore, semantic studies have been existed in the Quran since a long time ago before linguists formulated modern semantic  is not found in other language meaning fields, like al-addad. Concerned with the position of Arabic language as Quranic language, the existence of al-addad also influences its translation and exegesis. The existence of al-addad mode in the Quran is a proof that the Quran has superiority viewed from language side.
MUHAMMAD SEORANG PENUTUR YANG SANTUN (Sebuah Telaah Pragmatik) Jaeni, Muhamad
RELIGIA Vol 15 No 1: April 2012
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.645 KB) | DOI: 10.28918/religia.v15i1.121

Abstract

Muhammad, sebagai orang Arab dan juga manusia utusan Allah tidak lepas dari kapasitanya dia sebagai seorang penutur. Kemampuan bahasa beliau sudah tidak diragukan lagi. Beliau adalah seorang penyampai ajaran-ajaran Allah. Beliau sangat memperhatikan kepada pentingnya penguasaan bahasa yang fashih. Perkataannya selalu penuh kesantunan. Sejak kecil, Nabi sendiri sudah rajin berlatih untuk berbahasa dengan fashih. Beliau termasuk orang yang paling baik dalam berbahasa dibandingkan anak-anak di usianya. Oleh karena itu, Rasulullah pernah berkata; “Ana afshohul ‘Arab Baida annii min Quraisy wa nasya’tu  fi bani sa’di ibni Bakr”. Beliau selalu menggunakan sedikit kata, tetapi sarat  makna. Tuturannya penuh kesiapan dan tidak bersifat spontan dan selalu mengedepankan keindahan dan kasih sayang. Dalam kajian pragmatik terdapat prinsip-prinsip kesantunan, yakni maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan, maksim penerimaan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatian. Pertuturan Rasulullah senantiasa tidak lepas dari prinsip-prinsip kesantunan tersebut