Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Nilai-nilai sosial tradisi Gusjigang sebagai sumber belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Falaq, Yusuf; Juhadi, Juhadi
JIPSINDO Vol. 10 No. 1 (2023): JIPSINDO (Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Indonesia)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jipsindo.v10i1.55284

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan materi pembelajaran IPS dengan mengintegrasikan nilai-nilai sosial kearifan lokal Gusjigang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa studi lapangan pada SMP dan MTs kemudian dianalisis data yang diperoleh secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang lebih mengutamakan orientasi lingkungan sosial penting. Nilai-nilai kearifan lokal "Gusjigang" dapat dimanfaatkan untuk memperkaya materi sebagai pengembangan topik atau tema. Pengembangan pembelajaran IPS yang berbasis nilai kearifan lokal, diantaranya; 1) proses penentuan topik atau tema; 2) menetapkan judul dari tema; 3) pemilihan serta analisis komponen silabus; 4) menyusun rancangan pembelajaran tematik dengan memadukan beberapa tema materi berdasarkan kompetensi dasar yang relevan.Social values of Gusjigang as Social Studies learning resourcesThis study aims to describe the preparation of Ethno pedagogy-based social studies learning materials by integrating social values of local wisdom "Gusjigang". The research method used is qualitative. Data collection techniques used in the form of field studies in SMP and MTs then analyzed the data obtained descriptively. The results show that learning that prioritizes social environment orientation is essential. The values of local wisdom, "Gusjigang", can enrich the material as a topic or theme development. Development of social studies learning based on local wisdom values, including 1) the process of determining the topic or theme; 2) setting the title of the theme; 3) selection and analysis of syllabus components; 4) developing thematic learning plans by combining several material themes based on relevant essential competencies.
MENGGALI KEARIFAN LOKAL DAN TOLERANSI UMAT BERAGAMA DUKUH PATIHAN TANJUNGREJO JEKULO KUDUS Latifah, Miftahulia; Falaq, Yusuf
SOCIETY Vol. 15 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/society.v15i2.11741

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap upaya masyarakat Dukuh Patihan, Tanjungrejo, Jekulo, Kudus dalam menjaga kerukunan umat beragama serta menggali peran kearifan lokal dalam membentuk toleransi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Dukuh Patihan telah berhasil menciptakan lingkungan yang harmonis dan toleran. Berbagai upaya telah dilakukan, seperti penerapan sikap disiplin, komunikasi yang baik, dan saling mendengarkan. Kearifan lokal yang terwujud dalam tradisi-tradisi seperti Maulid, Bari’an, perayaan Lebaran, dan upacara pemakaman telah menjadi perekat sosial dan memperkuat nilai-nilai toleransi. Simpulan dari penelitian ini adalah kearifan lokal memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk toleransi umat beragama di Dukuh Patihan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya kearifan lokal dalam membangun kerukunan umat beragama.Kata kunci: kearifan lokal, toleransi, umat beragama, Dukuh Patihan.
AKULTURASI BUDAYA HINDU DAN ISLAM DALAM HIASAN ORNAMEN MASJID ASTANA SULTAN HADLIRIN (MANTINGAN, JEPARA) Ilham Ainun Nijam, Muhammad; Falaq, Yusuf
SOCIETY Vol. 15 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/society.v15i2.12058

Abstract

Masjid Mantingan atau juga sering di kenal sebagai Masjid Astana Sultan Hadlirin yang terletak di Desa Mantingan, Kabupaten Jepara. Didirikan pada tahun 1559, masjid ini dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di pesisir utara Jawa. Berbeda dengan masjid yang lainnya, Masjid Astana Sultan Hadlirin sendiri menyimpan banyak Sejarah dan memiliki arsitektur yang mencerminkan akulturasi budaya Hindu Budha, Jawa (Islam) dan Tionghoa yang dapat dilihat dari arsitekturnya yang berbentuk atap tumpang dan banyak ukiran-ukiran yang berada pada dinding masjid. Selain sebagai tempat ibadah, kompleks masjid ini juga berfungsi sebagai makam Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat sendiri, yang menjadikannya sangat penting dalam Sejarah dan budaya local.Kata kunci: Masjid Mantingan, Akulturasi Budaya, Sejarah.
Jamasan Kendeng as a Religious Moderation Practice for Environmental Protection Falaq, Yusuf
Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme Vol. 6 No. 3 (2024): Geographical Coverage: Indonesia
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/scaffolding.v6i3.7095

Abstract

This study examines the Jamasan Kendeng ritual in Central Java as a unique model of organic religious moderation emerging from local wisdom and environmental praxis. This research is qualitative with a type of ethnography. The research data is in the form of the Jamasan Kendeng ritual carried out by the community in the Kendeng Mountains. Data collection techniques were done through in-depth observation, interviews, and documentation. The data analysis technique uses with interactive model; 1) data reduction based on three theoretical frameworks (religious moderation – environmental conservation – cultural transmission); 2) a 3-dimensional integrative matrix (religious values – ecology – generation); verification with thematic and narrative analysis to construct meaning across generations. The research reveals how this ritual syncretizes Islamic values with indigenous Javanese traditions to foster interfaith tolerance (evidenced by 7.3% non-Muslim participation) and ecological conservation, demonstrated by a 46.7% increase in water discharge and successful resistance against extractive industries. While facing a crisis in traditional leadership succession, the ritual demonstrates remarkable adaptability through youth-driven digital hybridization, including e-sesaji (digital offerings) and environmental apps, with 86% of young respondents supporting its conservation ethos while reinterpreting its sacred meanings. The study concludes that Jamasan Kendeng embodies "ecological religious moderation", a grounded framework where moderation evolves from community-based environmental struggles rather than top-down doctrinal approaches, offering valuable insights for sustainable development and religious harmony in the Global South.
Sunan Prawoto: Makna Spiritual dan Nilai Budaya Dalam Kearifan Lokal Faza, Najwa Zakial; Falaq, Yusuf
Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol 8, No 1 (2025): Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni Dan Budaya
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/vh.v8i1.13899

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna spiritual dan nilai budaya dalam ajaran Sunan Prawoto yang telah mewarnai kehidupan masyarakat Jawa. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan kajian pustaka untuk mengungkap integrasi nilai keislaman dengan kearifan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran Sunan Prawoto tidak hanya memperkuat keimanan individu melalui nilai-nilai seperti keikhlasan, ketabahan, dan kesabaran. Akan tetapi juga membangun identitas budaya melalui penerapan prinsip gotong royong, musyawarah, dan toleransi. Temuan ini menegaskan bahwa harmoni antara nilai spiritual dan budaya menjadi pondasi penting bagi terwujudnya kehidupan sosial yang harmonis, terutama di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat mendukung upaya pelestarian warisan budaya serta penguatan karakter dan identitas masyarakat Jawa.
EXPLORING ECOPEDAGOGY THROUGH LOCAL WISDOM-BASED SOCIAL STUDIES LEARNING FOR JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS IN KUDUS Sulaswari, Misroh; Fatah, Ahmad; Fatmawati, Noor; Falaq, Yusuf
International Conference On Social Science Education Vol 1 (2023): 1st International Conference On Social Science Education
Publisher : Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/0h3cp360

Abstract

Ecopedagogy is an approach in education that emphasizes environmental awareness. True education must promote sustainable development through inculcating the character of students who care about the natural and social environment. This study aims to explore the existence of ecopedagogy in education through social studies learning based on local wisdom which has been taking place for junior high school students in Kudus. The method used in this study is descriptive qualitative through interviews with a number of social studies teachers and students at junior high schools in Kudus who were randomly selected. The results of the study found that social studies learning at junior high schools in Kudus taught several local wisdoms such as wiwit kopi, rebo wekasan, jenang tebokan, and sego jangkrik which are loaded with the meaning of environmental awareness according to the concept of ecopedagogy. Local traditions and culture in Kudus are not just ritualization, but the meaning contained in these traditions teaches students to respect the universe so that balance will continue. The concept of ecopedagogy in education needs to be raised, one of which is social studies learning based on local wisdom. So that sustainable development will continue to be inherited properly.
The Value of Traditional Social Education "Bukak Luwur Sunan Kudus" Falaq, Yusuf
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol. 14 No. 2 (2022): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v14i2.1954

Abstract

This study examines the value of traditional social education "Bukak Luwur Sunan Kudus". In particular, this research is aimed at uncovering the meaning of the tradition of “Bukak Luwur Sunan Kudus”; the peculiarities of the tradition of “Bukak Luwur Sunan Kudus”; and the value of social education contained in the "Bukak Luwur Sunan Kudus" tradition. The qualitative approach was chosen as a way to reveal the tradition of “Bukak Luwur Sunan Kudus”. As for the results of this study, the meaning of the social tradition of "Bukak Luwur Sunan Kudus" starts from replacing the mosquito net in the area of ​​Sunan Kudus's tomb, the traditional social event "Bukak Luwur Sunan Kudus" an effort to pray for, respect, imitate the teachings and seek blessings from Sunan Holy. For the Kudus community, the implementation of Bukak Luwur” is considered an obligation. The peculiarity of the "Bukak Luwur Sunan Kudus" tradition is Ashura Porridge as a mandatory dish in the tradition. Meanwhile, the value of social education in the "Bukak Luwur Sunan Kudus" tradition includes: Social care values, responsibility values, mutual cooperation values, religious values, sharing values, gratitude values, values ​​of unity and integrity
Javanese Coastal Community Value System: Study of the Muria Raya Coastal Community Falaq, Yusuf; Wasino, Wasino; Utomo, Cahyo Budi; Brata, Nugroho Trisnu
Proceedings of International Conference on Science, Education, and Technology Vol. 10 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research discusses the value system of Javanese coastal communities, especially the Jepara community as one of the areas in Muria Raya. The value system in this article focuses on the knowledge value system, belief value system and arts value system. Coastal communities do not only refer to entities that live on the coast, but also entities that produce systems of knowledge, beliefs and arts that have certain patterns. This community collectivity then gave birth to the identity of coastal communities. The unique thing about the Muria Raya area was that it was previously an island on the spice trade route between the Middle East and Maluku before the 17th century under the leadership of Queen Kalinyamat, which then due to sedimentation in the Muria Strait became one unit with the mainland of Java Island. So the characteristics of the community's value system are different from other communities on the north coast of Java. A qualitative approach was chosen with ethnographic analysis as a sharpening knife in this research. The results show that the Jepara people as one of the coastal entities living in the Muria Raya area have a very diverse knowledge value system. They are very closely related to the history of the Kalinga Kingdom and the Kalinyamat Kingdom, so that topography, natural conditions, rituals and religious traditions as well as forms of art and culture cannot be separated from the influence of these two kingdoms.
DAYA TARIK KERATON SURAKARTA SEBAGAI IDENTITAS SUKU JAWA Khoirunisa, Nabila; Azizah, Nurul; Kusuma, Vian Anton; Falaq, Yusuf
Jurnal Ilmiah Arsitektur Vol 14 No 2 (2024): Desember
Publisher : Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/jiars.v14i2.7937

Abstract

Keraton kasunanan Surakarta menjadi salah satu tempat bersejarah yang berada di wilayah Jawa Tengah menjadikan suatu hal yang penting dalam proses persebaran akulturasi budaya dan persebaran Islam pada masa itu. Pada artikel ini menggambarkan akan adanya dimensi dimana terdapat dimensi estetika dan identitas budaya yang banyak terdapat pada bangunan Keraton Kasunanan Surakarta. Artikel ini menggunakan metode kualitatif yaitu dengan melakukan pendekatan pustaka, observasi atau wawancara, serta menggunakan sumber-sumber data yang ada. Melalui teori simbol serta identitas budaya banyak menghubungkan antara terminologi budaya Jawa dengan konsep kultural Belanda. Pertama pada Keraton Kasunanan Surakarta terdapat sebuah bangunan tinggi seperti menara yang bercat biru putih. Bangunan tinggi tersebut tidak menonjol pada sebuah ukiran, melainkan menonjol pada bentuk berupa jendela-jendela tinggi yang memiliki desain minimalis. Bangunan tinggi seperti menara tersebut memiliki lima lantai dengan ketinggian 36 m dan pada bagian atas bangunan tersebut berbentuk setengah lingkaran atau seperti tudung saji dengan puncak bangunan berwujud satu sosok dengan membawa busur. Kedua, Keraton Kasunanan Surakarta juga memiliki identitas tersendiri yang dapat menjadikan sebuah daya tarik oleh para wisatawan tersendiri. Keraton Surakarta sendiri terbagi menjadi beberapa bagian seperti di Alun-alun sebelah Utara, Alun-alun sebelah Selatan, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedaton, dan Kompleks Kamagangan.
MODERASI BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT SAMIN DI KABUPATEN BLORA Khoirunisa, Nabila; Falaq, Yusuf
Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Educational Sciences, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sd.v12i1.42902

Abstract

Penelitian ini fokus untuk menentukan proses moderasi beragama yang diimplementasikan dalam rutinitas masyarakat Samin Blora. Studi ini melakukan wawancara dengan anggota masyarakat Samin tradisional untuk melacak kehidupan mereka. Hasil penelitian ini menjelaskan beberapa kearifan lokal dari masyarakat Samin Blora, seperti belajar ilmu, ponco soco, ngluruk tanpa rupo, nyawiji sepi ing pamrih, nyawiji ngluruk, ngganem sepi ing ngluruk, dan ngalembono. Dalam membangun dan mempertahankan moderasi beragama, budaya masyarakat Samin memainkan peran penting. Adat dan tradisi membangun toleransi dan kerukunan di antara berbagai agama. Penelitian ini diharapkan akan meningkatkan pemahaman kita mengenai moderasi beragama di lingkungan lokal, dengan perhatian khusus pada pengalaman khas komunitas Samin. Penelitian ini juga membangun pemahaman yang lebih meningkat mengenai moderasi beragama serta budaya budaya setempat saling berhubungan.