Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

The Value of Traditional Social Education "Bukak Luwur Sunan Kudus" Falaq, Yusuf
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol. 14 No. 2 (2022): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v14i2.1954

Abstract

This study examines the value of traditional social education "Bukak Luwur Sunan Kudus". In particular, this research is aimed at uncovering the meaning of the tradition of “Bukak Luwur Sunan Kudus”; the peculiarities of the tradition of “Bukak Luwur Sunan Kudus”; and the value of social education contained in the "Bukak Luwur Sunan Kudus" tradition. The qualitative approach was chosen as a way to reveal the tradition of “Bukak Luwur Sunan Kudus”. As for the results of this study, the meaning of the social tradition of "Bukak Luwur Sunan Kudus" starts from replacing the mosquito net in the area of ​​Sunan Kudus's tomb, the traditional social event "Bukak Luwur Sunan Kudus" an effort to pray for, respect, imitate the teachings and seek blessings from Sunan Holy. For the Kudus community, the implementation of Bukak Luwur” is considered an obligation. The peculiarity of the "Bukak Luwur Sunan Kudus" tradition is Ashura Porridge as a mandatory dish in the tradition. Meanwhile, the value of social education in the "Bukak Luwur Sunan Kudus" tradition includes: Social care values, responsibility values, mutual cooperation values, religious values, sharing values, gratitude values, values ​​of unity and integrity
Javanese Coastal Community Value System: Study of the Muria Raya Coastal Community Falaq, Yusuf; Wasino, Wasino; Utomo, Cahyo Budi; Brata, Nugroho Trisnu
Proceedings of International Conference on Science, Education, and Technology Vol. 10 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research discusses the value system of Javanese coastal communities, especially the Jepara community as one of the areas in Muria Raya. The value system in this article focuses on the knowledge value system, belief value system and arts value system. Coastal communities do not only refer to entities that live on the coast, but also entities that produce systems of knowledge, beliefs and arts that have certain patterns. This community collectivity then gave birth to the identity of coastal communities. The unique thing about the Muria Raya area was that it was previously an island on the spice trade route between the Middle East and Maluku before the 17th century under the leadership of Queen Kalinyamat, which then due to sedimentation in the Muria Strait became one unit with the mainland of Java Island. So the characteristics of the community's value system are different from other communities on the north coast of Java. A qualitative approach was chosen with ethnographic analysis as a sharpening knife in this research. The results show that the Jepara people as one of the coastal entities living in the Muria Raya area have a very diverse knowledge value system. They are very closely related to the history of the Kalinga Kingdom and the Kalinyamat Kingdom, so that topography, natural conditions, rituals and religious traditions as well as forms of art and culture cannot be separated from the influence of these two kingdoms.
DAYA TARIK KERATON SURAKARTA SEBAGAI IDENTITAS SUKU JAWA Khoirunisa, Nabila; Azizah, Nurul; Kusuma, Vian Anton; Falaq, Yusuf
Jurnal Ilmiah Arsitektur Vol 14 No 2 (2024): Desember
Publisher : Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/jiars.v14i2.7937

Abstract

Keraton kasunanan Surakarta menjadi salah satu tempat bersejarah yang berada di wilayah Jawa Tengah menjadikan suatu hal yang penting dalam proses persebaran akulturasi budaya dan persebaran Islam pada masa itu. Pada artikel ini menggambarkan akan adanya dimensi dimana terdapat dimensi estetika dan identitas budaya yang banyak terdapat pada bangunan Keraton Kasunanan Surakarta. Artikel ini menggunakan metode kualitatif yaitu dengan melakukan pendekatan pustaka, observasi atau wawancara, serta menggunakan sumber-sumber data yang ada. Melalui teori simbol serta identitas budaya banyak menghubungkan antara terminologi budaya Jawa dengan konsep kultural Belanda. Pertama pada Keraton Kasunanan Surakarta terdapat sebuah bangunan tinggi seperti menara yang bercat biru putih. Bangunan tinggi tersebut tidak menonjol pada sebuah ukiran, melainkan menonjol pada bentuk berupa jendela-jendela tinggi yang memiliki desain minimalis. Bangunan tinggi seperti menara tersebut memiliki lima lantai dengan ketinggian 36 m dan pada bagian atas bangunan tersebut berbentuk setengah lingkaran atau seperti tudung saji dengan puncak bangunan berwujud satu sosok dengan membawa busur. Kedua, Keraton Kasunanan Surakarta juga memiliki identitas tersendiri yang dapat menjadikan sebuah daya tarik oleh para wisatawan tersendiri. Keraton Surakarta sendiri terbagi menjadi beberapa bagian seperti di Alun-alun sebelah Utara, Alun-alun sebelah Selatan, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedaton, dan Kompleks Kamagangan.
MODERASI BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT SAMIN DI KABUPATEN BLORA Khoirunisa, Nabila; Falaq, Yusuf
Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sd.v12i1.42902

Abstract

Penelitian ini fokus untuk menentukan proses moderasi beragama yang diimplementasikan dalam rutinitas masyarakat Samin Blora. Studi ini melakukan wawancara dengan anggota masyarakat Samin tradisional untuk melacak kehidupan mereka. Hasil penelitian ini menjelaskan beberapa kearifan lokal dari masyarakat Samin Blora, seperti belajar ilmu, ponco soco, ngluruk tanpa rupo, nyawiji sepi ing pamrih, nyawiji ngluruk, ngganem sepi ing ngluruk, dan ngalembono. Dalam membangun dan mempertahankan moderasi beragama, budaya masyarakat Samin memainkan peran penting. Adat dan tradisi membangun toleransi dan kerukunan di antara berbagai agama. Penelitian ini diharapkan akan meningkatkan pemahaman kita mengenai moderasi beragama di lingkungan lokal, dengan perhatian khusus pada pengalaman khas komunitas Samin. Penelitian ini juga membangun pemahaman yang lebih meningkat mengenai moderasi beragama serta budaya budaya setempat saling berhubungan.