Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pengembangan biskuit tinggi serat dengan substitusi tepung alpukat sebagai makanan selingan pada balita yang mengalami konstipasi Hervidea, Radella; Gladisia, Aura Dita; Astuti , Dewi Woro
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1416

Abstract

Background: Constipation, commonly referred to as constipation, is a symptom characterized by hard stools that are difficult to pass. The high fiber content in avocados provides benefits for digestive health because their insoluble fiber and healthy fats aid bowel movements and form a soft gel to facilitate bowel movements and help maintain good stool consistency. Purpose: To determine the formulation and nutritional content of biscuits with avocado flour substitution. Method: The study used a Completely Randomized Design (CRD) with four treatment levels: 0%, 25%, 50%, and 75%, among 25 participants. Results: The nutritional content of biscuits with avocado flour substitution with the best formulation (F3) after proximate testing was 8.69% protein, 9.62% fat, 74.43% carbohydrate, 3.13% fiber, 3.91% water, and 3.34% ash. Conclusion: The best biscuit formulation with avocado flour substitute is F3, with a formulation of 50% teru flour + 50% avocado flour. Suggestion: When processing with avocados, it is recommended to use fruit with a lower water content, firm flesh, and perfect ripeness.   Keywords: Avocado Flour; Biscuits; Fiber.   Pendahuluan: Konstipasi atau biasa disebut sembelit merupakan suatu gejala yang ditandai dengan feses yang keras sehingga sulit dikeluarkan. Kandungan serat yang tinggi pada alpukat memberikan manfaat bagi kesehatan pencernaan karena seratnya yang tidak larut dan lemak baik membantu pergerakan usus serta membentuk gel yang lembut untuk memperlancar buang air besar dan membantu menjaga konsistensi feses yang baik. Tujuan: Untuk mengetahui formulasi dan kandungan gizi biskuit dengan substitusi tepung alpukat. Metode: Penelitian menggunakan metode percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan yaitu 0%, 25%, 50%, dan 75% kepada 25 partisipan. Hasil: Kandungan gizi pada biskuit dengan substitusi tepung alpukat dengan formulasi terbaik (F3) setelah dilakukan uji proksimat diperoleh hasil protein 8.69%, lemak 9.62%, karbohidrat 74,43%, serat 3.13%, kadar air 3.91%, dan kadar abu 3.34%. Simpulan: Formulasi biskuit dengan substitusi tepung alpukat yang terbaik adalah F3 dengan formulasi 50% tepung terigu + 50% tepung alpukat. Saran: pengolahan menggunakan alpukat, disarankan menggunakan buah yang kadar airnya lebih rendah, daging buahnya padat, dan tingkat kematangannya sempurna.   Kata Kunci: Biskuit; Tepung Alpukat; Serat.
Edukasi Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Penerapan Pola Makan Gizi Seimbang Pada Balita Untuk Mengatasi Gizi Kurang di Dusun Sumber Jaya Desa Tanjung Rejo Kabupaten Pesawaran Astuti, Dewi Woro; Hervidea, Radella; Puteri, Hidayatusy Syukrina
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v6i1.534

Abstract

Gizi kurang pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dan mendesak di seluruh dunia antara lain Burundi, Yaman, Sudan Nigeria termasuk di Indonesia 31,6 %. Di Kabupaten Pesawaran, terdapat 14 balita dari 169 balita yang mengalami gizi kurang. Rendahnya pengetahuan dan sikap ibu berkontribusi terhadap masalah gizi ini, yang berdampak langsung pada status gizi balita. Pengetahuan ibu yang rendah tentang gizi seimbang pada balita menyebabkan pemberian makan yang salah dan berpengaruh terhadap status gizi balita. Melalui Pendampingan yang dilakukan kepada orang tua Balita bisa membantu untuk meningkatkan pengetahuan dan perhatian orang tua kepada balitanya. Kegiatan PKM ini bertujuan meningkatkan status gizi balita kurang gizi dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang pada balita serta meningkatkan motivasi ibu. Setelah kegiatan pengabdian ini dilakukan, diharapkan ibu memiliki motivasi kuat dalam memenuhi gizi balita yang masih kurang serta memperbaiki sikap dan tindakan ibu dalam memberikan gizi seimbang kepada balita. Kegitan ini dapat memberikan kontribusi positif dalam mengurangi masalah gizi kurang pada 14 balita di dusu Sumber Jaya Desa Tanjung Rejo.
Asi Eksklusif sebagai Determinan Stunting pada Balita Usia 13- 24 Bulan di Kelurahan Keteguhan Kecamatan Teluk Betung Timur Bandar Lampung Astuti, Dewi Woro; Hervidea, Radella; Erwin, Tubagus
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11078

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan salah satu masalah gizi yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan, kecerdasan, lebih rentan penyakit, dan di masa depan dapat menurunnya produktifitas. Prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi yakni 27,67%. Studi pendahuluan di Kelurahan Keteguhan tahun 2022 tercatat 28,82% balita stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui determinan factor yang berhubungan dengan kejadian Stunting pada balita usia 13-24 bulan di Kelurahan Keteguhan, Kecamatan Telukbetung Timur, Kota Bandar Lampung Tahun 2021. Jenis penelitian observasional  analitik dengan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh balita usia 13-24 bulan sejumlah 318 dan sampel 195 balita. Analisis yang digunakan menggunakan SPSS versi 16.0 meliputi univariat dengan distribusi frekuensi, bivariat menggunakan uji chi square, dan multivariat dengan regresi logistik ganda.Penelitian dilakukan pada bulan April 2021. Hasil penelitian diketahui distribusi frekuensi stunting sebanyak 29,7%, Ibu hamil KEK 30,8%, BBLR 17,4%, status ASI Eksklusif sebanyak 40%, Pendidikan orang tua tinggi 55,4%, dan pendapatan keluarga tinggi sebanyak 54,9%.  Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan status gizi ibu hamil (OR=4,276), BBLR (OR=3,962), ASI Ekslusif (OR=4,608), dan pendapatan keluarga (OR=3,306) dengan stunting. Namun tidak ada hubungan antara pendidikan orang tua dengan stunting (p value=0,145). Hasil analisis multivariat didapatkan determinan stunting terdiri dari Status Gizi Ibu Hamil, ASI Ekslusif dan Pendapatan keluarga. Adapun faktor yang paling dominan adalah ASI Esklusif (OR=4,192).   Rekomendasi penelitian ini adalah perlu revitalisasi peran petugas kesehatan khususnya  bidan di berbagai tingkatan untuk meningkatkan cakupan ASI Ekslusif dan status gizi (KEK) ibu hamil dalam penurunan prevalensi stunting. Kata Kunci : BBLR, ASI Eksklusif, KEK, Pendidikan, Pendapatan, Stunting  ABSTRACT The incidence of stunting is a nutritional problem that has an impact on growth and development, intelligence, is more susceptible to disease, and in the future can decrease productivity. The prevalence of stunting in Indonesia is still high, namely 27.67%. A preliminary study in Kelurahan Keteguhanin 2022 recorded that 13.84% of children under five were stunted. The research objective was to determine factors the incidence of stunting in toddlers 13-24 months in Kelurahan Keteguhan, Kecamatan Telukbetung Timur, Kota Bandar Lampung in 2021.This type of research is analytic observational with a cross sectional design. The population in this study were all aged 13-24 months, namely 318 and a sample of 195 toddlers. The analysis used using SPSS version 16.0 includes univariate with frequency distribution, bivariate using chi square test, and multivariate with multiple logistic regression. The study was conducted in April 2021. The results of stunting was 29.7%, pregnant women with KEK 30.8%, LBW 17.4%, exclusive breastfeeding status was 40%, high parental education was 55.4%, and high parental income was 54, 9%. The results of the bivariate analysis showed that there was a correlation between the nutritional status of pregnant women (OR = 4.276), LBW (OR = 3,962), exclusive breastfeeding (OR = 4.608), and parental income (OR = 3.306) with stunting. However, there is no correlation between parental education and stunting (p value = 0.145). The results of the multivariate analysis showed the determinants of stunting consisted of the nutritional status of pregnant women, exclusive breastfeeding and parents' income. The most dominant factor is exclusive breastfeeding (OR = 4.192). The recommendation of this study isneed to revitalize the role of health workers, especially midwives at various levels, to increase the coverage of exclusive breastfeeding and nutritional status (KEK) of pregnant women in reducing the prevalence of stunting, besides that there is a need for a greater role in cross-sectoral involvement in preventing the incidence of stunting. Keywords: LBW, Exclusive Breastfeeding, KEK, Education, Income, Stunting