Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengaruh Geometri Jalan terhadap Produktivitas Batubara di Pit 2 Banko Shoffan Shofa Hamdan Nurullah; Dono Guntoro; Indra Karna Wijaksana
Jurnal Riset Teknik Pertambangan Volume 4, No. 1, Juli 2024, Jurnal Riset Teknik Pertambangan (JRTP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrtp.v4i1.3897

Abstract

Abstract. PT XYZ is a coal mining company that employs four mining stages in its operations: ripping, digging, loading, and hauling. The digging-loading equipment used is the Volvo 480D, and the hauling equipment is the Volvo FMX400. The hauling process significantly impacts the achievement of production targets. In January, the coal production from Pit 2 fleet 1 reached 93% of the production target. Several road geometry conditions can affect the speed of the hauling equipment, impacting the production targets. To address the issue of slowing hauling equipment, data such as the actual speed of the hauling equipment from each road segment, the weight of the hauling equipment, road geometry, and classification of resistance values are needed to determine the actual rimpull value. Reducing the rimpull value involves evaluating and improving the mining roads, considering factors such as road grade, cross slope, superelevation, and the surface material of the mining roads that affect the rolling resistance. Road grade changes were implemented in segments C-D and J-L. After evaluating and improving the roads, theoretically, the loaded travel time decreased to 3.1 minutes, and the empty travel time decreased to 1.8 minutes. Consequently, coal production increased from 91,826 BCM/month to 127,100 BCM/month, a production increase of 28.8%. Abstrak. PT XYZ adalah perusahaan pertambangan batubara yang dalam proses penambangannya meliputi empat tahapan: ripping, digging, loading, dan hauling. Alat gali-muat yang digunakan adalah Volvo 480D, sementara alat angkutnya adalah Volvo FMX400. Proses pengangkutan sangat mempengaruhi pencapaian target produksi. Pada bulan Januari, produksi batubara di Pit 2 fleet 1 mencapai 93% dari target produksi. Beberapa kondisi geometri jalan mempengaruhi kecepatan alat angkut saat hauling, yang berdampak pada pencapaian target produksi. Untuk mengatasi perlambatan laju alat angkut, diperlukan data seperti kecepatan alat angkut aktual dari setiap segmen jalan, berat alat angkut, geometri jalan, dan klasifikasi nilai ketahanan untuk mengetahui besaran nilai rimpull aktual. Pengurangan nilai rimpull dilakukan dengan mengevaluasi dan memperbaiki jalan tambang, baik dari geometri jalan seperti grade, cross slope, dan superelevasi, maupun dari material permukaan jalan tambang yang mempengaruhi nilai rolling resistance. Perubahan grade jalan dilakukan pada segmen C-D dan J-L. Setelah evaluasi dan perbaikan jalan, secara teoritis, waktu berangkat bermuatan menjadi 3,1 menit, sedangkan waktu berangkat kosong menjadi 1,8 menit. Produksi batubara pun meningkat dari 91.826 BCM/bulan menjadi 127.100 BCM/bulan, atau terjadi kenaikan produksi sebesar 28,8%.
Analisis Kestabilan Lereng Menggunakan Metode RMR dan Monitoring Real Time Slope Stability Radar (SSR605-XT) Aji Nur Fadhilah; Indra Karna Wijaksana; Yunus Ashari
Jurnal Riset Teknik Pertambangan Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Teknik Pertambangan (JRTP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrtp.v5i1.6563

Abstract

Abstrak. PT J Resources Bolaang Mongondow merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan emas, di mana pit Mainridge Utara merupakan area penambangan aktif. Lokasi tersebut memiliki permasalahan terkait karakteristik batuan pembentuk lereng, khususnya pada zona alterasi argillic yang mengalami kelongsoran dan mengganggu aktivitas penambangan. Maka, perlu dilakukan analisis kestabilan lereng melalui klasifikasi massa batuan menggunakan Rock Mass Rating (RMR) dan mengetahui potensi longsoran. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh nilai faktor keamanan yang optimal. Pengambilan data dilakukan melalui studi literatur, pemetaan geologi, penilaian kualitas massa batuan, serta pengujian sifat kesetimbangan batas dan metode material di laboratorium. Metode analisis yang digunakan adalah kinematik, dengan pendekatan menggunakan Rock Mass Rating dan Geological Strength Index (GSI), serta bantuan perangkat lunak untuk pemodelan dan rekomendasi lereng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas massa batuan pada segmen 1 zona alterasi argillic adalah 35 (kelas IV), segmen 2 zona alterasi silica advance argillic sebesar 50–58 (kelas III), dan segmen 3 zona alterasi argillic sebesar 43 (kelas IV). Kesimpulannya, kestabilan lereng di lokasi penelitian dipengaruhi oleh struktur geologi dan muka air tanah, dengan desain sudut lereng masing-masing 30° untuk argillic dan 45° untuk silica advance argillic. Abstract. PT J Resources Bolaang Mongondow is a gold mining company, where the North Mainridge Pit is an active mining area. However, problems have arisen related to the characteristics of slope-forming rocks, particularly in the argillic alteration zone, which has experienced landslides and disrupted mining activities. Therefore, a slope stability analysis is necessary using rock mass classification through the Rock Mass Rating (RMR) system, as well as identifying the potential for landslides. The purpose of this study is to obtain the optimal safety factor value. Data collection for this research involved literature studies, geological mapping, rock mass quality assessments, and laboratory testing of material properties. The analytical methods used include limit equilibrium and kinematic analysis through a rock mass rating approach to determine the safety factor, supported by software. The results show that in the argillic alteration zone, segment 1 has a rock mass rating of 35 (class IV), segment 2 in the advanced silica alteration zone has a rating of 50–58 (class III), and segment 3 in the argillic alteration zone has a rating of 43 (class IV). The study concludes that slope stability is influenced by geological structure and groundwater, with recommended slope angles of 30° for argillic and 45° for advanced silica alteration zones.
Implementasi Shotcrete pada Heading Terowongan Batuan Lemah di Underground Kencana Indra Karna Wijaksana; A, M Rahman; Faisal, M Irvan
Jurnal Riset Teknik Pertambangan Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Teknik Pertambangan (JRTP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrtp.v5i1.7215

Abstract

Abstrak. PT Nusa Halmahera Minerals merupakan salah satu perusahaan penambangan di wilayah Kabupaten Maluku Utara, yang melakukan penambangan bijih emas dengan metode underhand cut and fill dan sublevel stoping. Sistem penyangga menjadi sebuah komponen penting dalam metode penambangan tersebut agar proses penambangan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Shortcrete merupakan salah satu sistem penyangga yang sering digunakan pada penambangan bawah tanah. Penelitian membahas tentang analisis kebutuhan shortcrete yang diperlukan untuk menyangga massa batuan disekitar lubang bukaan bawah tanah dengan kategori lemah. Proses analisis dilakukan dengan menggunakan metode klasifikasi Q-System, Bieniawski dan juga pengukuran data deformasi aktual di lapangan. Melalui bantuan pemodelan software di dapatkan model kestabilan dari masing-masing klasifikasi. Setelah didapatkan model kestabilan selanjutnya di tentukan jenis-jenis kebutuhan penyangga yang akan digunakan. Berdasarkan rekomendasi Bieniawski (1989) dibutuhkan kombinasi shotcrete dan wire mesh yang diaplikasikan pada dinding dengan ketebalan 9cm di area Section 1 dan 3, 5cm pada Section 2, sedangkan menurut Q-System penggunaan shotcrete dengan ketebalan 9cm. Hasil rekomendasi pada area heading memiliki nilai aman, dengan faktor keamanan sebesar 1,9 untuk Bieniawski dan Q-System, serta 1,6 untuk kondisi aktual. Hasil validasi alat geotechnic monitoring lidar menunjukkan bahwa pergerakan pada area left Wall dan left shoulder yaitu 9,135 mm dan 10,845mm sehingga digolongkan ke dalam kriteria relatif stabil. Abstract. PT Nusa Halmahera Minerals is a mining company in North Maluku Regency that mines gold ore using underhand cut and fill and sublevel stoping methods. Support systems are a crucial component of these mining methods, ensuring the process runs according to plan. Shortcrete is one support system frequently used in underground mining. This study analyzes the need for shortcrete to support the rock mass around weak underground openings. The analysis was conducted using the Q-System classification method and Bieniawski's method, along with actual field deformation data measurements. Through software modeling, stability models were obtained for each classification. Once the stability models were obtained, the types of support required were determined. Based on Bieniawski's (1989) recommendations, a combination of shotcrete and wire mesh was applied to the Walls with a thickness of 9 cm in Sections 1 and 3, and 5 cm in Section 2. The Q-System recommended using shotcrete with a thickness of 9 cm. The recommended heading results are considered safe, with a safety factor of 1.9 for Bieniawski and Q-System, and 1.6 for the actual conditions. Validation of the lidar geotechnical monitoring tool shows that the movement in the left Wall and left shoulder areas is 9,135 mm and 10,845 mm, respectively, thus categorizing them as relatively stable.
Analisis Karakteristik Mekanik Cemented Paste Backfill Menggunakan Agregat Material Waste Kencana Qorrib, Fatkhul; Wijaksana, Indra Karna; Guntoro, Dono
Jurnal Riset Teknik Pertambangan Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Teknik Pertambangan (JRTP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrtp.v5i2.8482

Abstract

Abstract. This research is motivated by the need for alternative aggregate materials to replace tuff in the cemented paste backfill (CPB) mixture used in the underground mining operations of PT Nusa Halmahera Minerals, due to limited tuff availability. The study aims to analyze the mechanical characteristics of CPB using pure waste material and a waste-tuff mixture under varying cement contents and curing times. A quantitative experimental method was employed, with CPB specimens composed of Portland Type I cement, waste aggregate, and reclaimed water. Test samples were prepared with cement proportions ranging from 12.57% to 24.05%, and tested on curing days 3, 7, and 14. The specimens underwent uniaxial compressive strength (UCS) and indirect tensile strength (Brazilian test).  Data analysis utilized non-linear regression and correlation modeling. Results revealed that CPB made with pure waste exhibited higher compressive and tensile strength than CPB mixed with tuff, attributed to the more reactive physical and mineralogical properties of waste. The addition of tuff tended to reduce strength but may be considered a cost-effective alternative at lower cement ratios. Overall, CPB strength increased with higher cement content and longer curing time. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan alternatif agregat pengganti tuff dalam campuran cemented paste backfill (CPB) di tambang bawah tanah PT Nusa Halmahera Minerals, seiring dengan keterbatasan ketersediaan tuff. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik mekanik CPB menggunakan material waste murni dan campuran waste-tuff pada berbagai variasi kadar semen dan waktu pengeringan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif eksperimental, dengan objek berupa CPB yang dibuat dari semen Portland Tipe I, agregat waste, dan air reklamasi. Sampel uji dibuat dengan variasi kadar semen 12,57% hingga 24,05%, dan diuji pada hari ke-3, 7, dan 14. Pengujian dilakukan terhadap kuat tekan (UCS) dan kuat tarik tidak langsung (KTTL). Data dianalisis menggunakan regresi non-linear dan model korelasi. Hasil menunjukkan bahwa CPB berbasis waste murni memiliki kekuatan tekan dan tarik yang lebih tinggi dibandingkan campuran dengan tuff, disebabkan oleh sifat fisik dan mineralogi waste yang lebih reaktif. Penambahan tuff cenderung menurunkan kekuatan, tetapi pada komposisi rendah dapat menjadi alternatif ekonomis. Kekuatan CPB meningkat seiring waktu pengeringan dan kadar semen.