Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

ANALISIS KADAR GLUKOSA DARAH PUASA MENGGUNAKAN SERUM DAN PLASMA NATRIUM FLUORIDA Asrori, Asrori; Fandianta, Fandianta; Edyansyah, Erwin; Permata, Resti Dora; Handayani, Handayani
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 3 No 1 (2023): Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/medlabscience.v3i1.1600

Abstract

Latar Belakang: Pemeriksaaan glukosa darah merupakan pemeriksaan yang sering dilakukan di laboratorium dengan parameter pemeriksaan glukosa darah sewaktu, glukosa darah puasa dan glukosa darah 2 jam PP. WHO telah merekomendasikan untuk menggunakan sampel plasma pada pemeriksaan glukosa darah, antikoagulan yang telah direkomendasikan pada pemeriksaan glukosa darah ini adalah Natrium Fluorida (NaF). Namun, saat ini pemeriksaan glukosa darah dengan menggunakan serum juga masih banyak dipakai dalam pemeriksaan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa menggunakan serum dan plasma Natrium Fluorida (NaF). Metode: Penelitian ini bersifat analitik observasional, dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2022 dan dilakukan di Laboratorium Kimia Klinik Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Palembang. Sampel pada penelitian ini sebanyak 36 sampel. Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling. Hasil: Pada penelitian ini rata-rata kadar glukosa darah puasa pada serum adalah 73,31 mg/dL, sedangkan rata-rata glukosa darah pada plasma NaF adalah 76,03 mg/dL. Dari uji statistic t-dependent didapatkan p < α (0,05) yaitu value = 0,000, yang berarti ada perbedaan. Kesimpulan: Adanya perbedaan rata-rata kadar glukosa darah puasa menggunakan serum dan plasma NaF.
Determination of Caesarean Section (SC) Delivery Sumastri, Heni; Edyansyah, Erwin; Pastari, Marta
Jurnal Multidisiplin Madani Vol. 4 No. 4 (2024): April 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/mudima.v4i4.8948

Abstract

There is a trend of increasing SC procedures in a number of hospitals, both in private hospitals and goverment hospitals, even though the clinical risk to mothers who give birth through SC surgery is greater than the risk of normal (vaginal) birth. Psychological risks cannot be avoided because the pain after SC surgery is longer and there are risks to the baby. The risk of adverse post-SC consequences needs to be studied further from a health ethics perspective, starting from the doctor's decision-making process in carrying out SC surgery. This research method is analytical using a cross-sectional approach (V. Wiratna Sujarweni, 2020). Time and Place of Research: Research was conducted from June-August 2023. This research was conducted at the Palembang Muhammadiyah Hospital in 2023. The number of types of birth with SC was 70 respondents and normal delivery was 26 respondents. The results of statistical tests showed that there was a significant relationship between maternal age, PEB/eclampsia, premature rupture of membranes (KPD), and gravida status, with SC delivery. From the research results it can be concluded that the type of delivery, maternal age, PEB/eclampsia, premature rupture of membranes (KPD), and gravida status, are factors that cause respondents to undergo SC delivery
PERTUMBUHAN JAMUR Aspergillus sp. PADA MEDIA ALTERNATIF UBI JALAR (Ipomoea Batatas) Edyansyah, Erwin; Asrori, Asrori; Nurhayati, Nurhayati; Handayani, Handayani; Fandianta, Fandianta; Merlinski, Tarisa
Journal of Medical Laboratory and Science Vol 5 No 2 (2025): JMLS: Journal of Medical Laboratory and Science
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/medlabscience.v5i2.3591

Abstract

Latar Belakang: Perkembangan mikroba di dalam laboratorium membutuhkan medium yang mengandung nutrisi dan menyediakan lingkungan pertumbuhan yang cocok untuk mikroorganisme tersebut. Medium merupakan campuran suatu bahan zat makanan (nutrient) yang berfungsi untuk tepat tumbuhya suatu mikroba. Media dapat mempengaruhi morfologi dan warna dari koloni, terbentuknya struktur tertentu, dan dapat tumbuh atau tidak nya jamur. Semua jamur memerlukan elemen yang spesifik untuk melangsungkan pertumbuhannya.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui uji pertumbuhan jamur Aspergillus flavus pada media alternatif ubi jalar kuning. Metode penelitian: yang digunakan adalah metode eksperimental dengan desain penelitian statistic group comparison. Hasil penelitian: didapatkan hasil rerata pertumbuhan jamur Aspergillus flavus pada media ubi jalar kuning konsentrasi 10%, 20%, dan 30% yaitu sebesar 22,5 mm, 26,9 mm, 32,5 mm. Hasil uji statistic menunjukkan ada perbedaan antara rata-rata diameter koloni pertumbuhan Aspergillus flavus pada media media alternatif ubi jalar konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. Kesimpulan : dapat disimpulkan bahwa media alternatif ubi jalar konsentrasi 10%, 20%, dan 30% dapat digunakan untuk menggantikan media yang biasa digunakan untuk penanaman jamur Aspergillus flavus. Saran: Disarankan untuk menggunakan konsentrasi yang lebih tinggi ataupun menggunakan jamur dengan spesies yang berbeda.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemeriksaan Inspeksi Visual Asetat Pada Wanita Usia Subur M Kailani, Fitriani; Rohaya, Rohaya; Pastuty, Rosyati; Suprida, Suprida; Edyansyah, Erwin
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 20 No 2 (2025): JPP (Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jpp.v20i2.3500

Abstract

Background: Cervical cancer is a leading cause of cancer-related deaths among women in Indonesia. Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) is an effective, affordable, and simple screening method. However, VIA coverage remains low, including in Toman Baru Village, Babat Toman Subdistrict, where only 17.6% of women of reproductive age (WRA) have undergone VIA screening. The purpose of this research is to identify the factors associated with VIA screening among WRA in Toman Baru Village. Methods: This is a quantitative study with a cross-sectional design. The population consisted of 245 WRA, and a sample of 152 participants was selected using proportional stratified random sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed with the chi-square test. Results: Univariate analysis showed that 33.6% of WRA had undergone VIA screening. The majority of respondents were under 40 years old (63,2%), had 1–3 children (87,,5%), had low education (91,4%), were employed (52%), and had low knowledge (69.1%). Bivariate analysis showed significant associations between VIA screening and age (p=0,001), parity (p=0,005), education (p=0,034), occupation (p=0,001), and knowledge (p=0,001). Conclusion: Individual factors such as younger age, lower parity, higher education level, employment status, and good knowledge were significantly associated with VIA screening uptake.