Claim Missing Document
Check
Articles

UPAYA MENINGKATKAN PERCAYA DIRI ANAK USIA 4-5 TAHUN DENGAN METODE MENGGAMBAR BEBAS DI RA HIDAYAT KOTA PROBOLINGGO: THE EFFORTS TO INCREASE SELF-CONFIDENCE OF CHILDREN AGED 4-5 YEARS WITH FREE DRAWING METHOD IN RA HIDAYAT PROBOLINGGO Siti Agustini Setia Ningsih; Aries Dirgayunita
incrementapedia Vol 5 No 1 (2023): Incrementapedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini
Publisher : Program Studi PG-PAUD Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/incrementapedia.vol5.no1.a8142

Abstract

This study aims to increase the self-confidence of children aged 4-5 years by drawing freely at RA HIDAYAT for the 2022/2023 Academic Year. The subjects of this study were 12 children in group A. The type of this research was Classroom Action Research (PTK) which was carried out in two cycles where each cycle consisted of four stages, namely action planning, action implementation, evaluation/observation and reflection. Collecting data in this study using observation sheets. Based on the results of improving learning in cycle I to cycle II, where children who were confident at the beginning of the study were 8%, after the action was carried out cycle I showed an increase in children's self-confidence by 42% and finally, the results of implementing cycle II action showed an increase in confidence self in children by 83%. In the results of cycle I and cycle II there was an increase, so using free drawing to increase self-confidence in children was effectively implemented in RA Hidayat, Probolinggo city.
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN PENANGANANNYA MENURUT ISLAM Aries Dirgayunita; Robiatul Adawiyah
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 2 No. 2 (2018): September
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v2i2.16

Abstract

Human being is a unique creature. This uniqueness can be source of sustainability, peace, and happiness if managed properly. In fact, the are a lot of gaps of ideal realm and its reality as reflected in abundance of domestic violence whether it is physically, verbally, sexually, or ecomically. This kind of violence continuously happens despite PKDRT (Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga) Law. This is because the implementation of the Law has not yet been widespreading. This article aims at exploring the causes of domestic violence, the forms, the implications, and how to avoid and handle it from individual sphere until the wider sphere like society and government from psychological and Islamic perspective
KESEHATAN MENTAL DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN ISLAM Aries Dirgayunita
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 1 No. 1 (2017): Maret
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v1i1.39

Abstract

Kesehatan mental atau Mental Health dalam perspesktif psikologi adalah suatu keadaan psikologis seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap permasalahan-permasalahan baik yang ada dalam dirinya maupun yang berada diluar lingkungan dirinya dengan menunjukkan kemampuan maupun potensi yang dimilikinya. Sedangkan dalam perspektif Islam, kesehatan mental adalah suatu kemampuan diri manusia dalam mengelola fungsi-fungsi kejiwaan sehingga tercipta penyesuaian diri yang baik antara dirinya sendiri baik dengan manusia lain, makhluk hidup lain, lingkungan, alam semesta maupun dengan Allah secara dinamis yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadist yang merupakan pedoman hidup dalam menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka dengan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan mental dapat teratasi. Kesehatan mental manusia dikatakan baik dapat ditandai dengan kemampuan atau potensi yang dimilikinya dapat secara dinamis dikelola dengan baik dalam penyesuaian diri dengan dirinya sendiri, lingkungan, alam semesta maupun dengan Allah serta dengan mengembangkan seluruh aspek yang dimilikinya seperti kecerdasan, emosi maupun kesehatan dan spiritual. Sehingga Allah melimpahkan ketenangan jiwa dalam diri manusia, sesuai dalam Q.S. Al-fath : 4 yaitu Allah-lah yang telah menurunkan ketenangan jiwa kedalam hati orang-orang mukmin, supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang sudah ada. Yang tersebut menjelaskan bahwa Allah mensifati diriNya Yang Maha Mengetahui dan bijaksana yang dapat memberikan ketenangan jiwa ke dalam hati orang yang beriman
PENDIDIKAN KELUARGA SAKINAH DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN PSIKOLOGI Aries Dirgayunita; Reza Hilmy Luayyin
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 4 No. 2 (2020): September
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v4i2.96

Abstract

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang diawali dengan perkawinan. yang merupakan kebutuhan fitrah manusia. Dalam ajaran Islam, ikatan perkawinan memiliki rasa saling mencintai dan menyayangi, saling mengisi dan melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing yang didasarkan pada agama sebagai fondasi utama dalam membina, dan mewujudkan keluarga sakinah. Ada perbedaan dalam  masyarakat modern saat ini yang cenderung bersikap pragmatis dan melihat pernikahan sebagai fungsi keduniawian   di antaranya seksual, reproduksi dan rekreasi, sehingga mengakibatkan masyarakat modern saat ini banyak yang mengalami polemik dalam keluarga seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, bunuh diri, dan pemerkosaan pada remaja akibat kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Karena dalam kehidupan sosial, keluarga menempati peran utama dan sangat penting dalam membentuk karakter dan kebahagiaan keluarga. Karena keluarga merupakan tempat atau lembaga pendidikan pertama sebelum anggota keluarga mendapatkan pendidikan secara formal dalam masyarakat. Jika keluarga, peran dan fungsinya tidak sesuai pada tempatnya dan tidak berpedoman pada al-qur’an dan Sunnah Rosul tentu akan muncul berbagai permasalan sosial yang akan berdampak pada keluarga itu sendiri dan juga masyarakat pada umunya. Sedangkan perkawinan dalam Agama Islam menjadi bagian penting dalam kehidupan karena merupakan Sunnah Rosul dan mempunyai bagian penting dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan perkawinan merupakan media dalam pemenuhan tujuan ilahi yang juga merupakan ibadah dalam ajaran agama Islam. Melalui perkawinan akan terlahir hubungan yang kompleks dan saling mengikat. Dalam kajian pustaka ini dijelaskan bahwa penelitian ini bertujuan menegetahui bagaimana konsep keluarga sakinah baik berdasarkan hukum Islam dan psikologi, tujuan dari pendidikan keluarga sakinah serta bagaimana menciptakan keluarga sakinah.
PERANAN TERAPI BERMAIN UNTUK MENGATASI HAMBATAN EMOSI PADA ANAK USIA DINI Aries Dirgayunita; Agustiarini Eka Dheasari
Al-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Anak Vol. 1 No. 2 (2020): Desember
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/al-athfal.v1i2.155

Abstract

Tidak ubahnya orang dewasa, anak-anak juga mengalami kejenuhan, kemarahan maupun ketidakstabilan emosi baik secara tiba-tiba maupun terpendam dalam kurun waktu tertentu. Yang membedakan adalah orang dewasa mampu secara verbal dan non verbal dalam mengungkapkan permasalahan yang dihadapinya. Sehingga dapat mencari dan menemukan pemecahan masalah yang dihadapinya tersebut. Sedangkan pada anak usia dini, mereka cenderung mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosinya yang dapat menimbulkan permasalahan bagi dirinya. Sehingga dengan bermain dapat digunakan sebagai media dan saran terapi yang tepat untuk mengekspresikan dan menyalurkan serta melampiaskan emosi, kemarahan, kecemasan maupun permasalahan yang dihadapinya tanpa menggunakan kata-kata secara verbal. Apa yang dirasakan anak baik yang berkaitan dengan emosi-emosi negatif dapat dikatarsiskan atau dikeluarkan melalui terapi bermain. Terapi bermain merupakan kegiatan atau aktivitas yang menggunakan permainan sebagai media terapi dengan menyenangkan, aman dan nyaman yang dilakukan anak dalam membentuk perilaku menjadi lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas terapi bermain dalam mengatasi hambatan emosi pada anak usia dini. Menggunakan pendekatan deskriptif. Rancangan terapi yang diganakan dalam penelitian ini dengan puzzle, merancang balok dan menggambar.
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BAHASA DAN SOSIAL ANAK MELALUI MENDONGENG SEBAGAI PENINGKATAN LITERASI PADA ANAK USIA DINI Ferra Lorettha; Aries Dirgayunita
Al-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Anak Vol. 1 No. 2 (2020): Desember
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/al-athfal.v1i2.157

Abstract

Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang paling sering digunakan oleh manusia dalam kehidupannya baik secara lisan maupun tulisan. Pemberian pembelajaran bahasa dapat diberikan mulai usia 0 tahun sampai masa akhir dalam kehidupan. Bahasa ibu adalah permulaan pembelajaran yang diperoleh anak yang biasa digunakan di rumah. Dengan bahasa anak dapat mengekspresikan emosi mereka. Kecerdasan setiap orang berbeda bergantung bagaimana mereka melatih dan sebanyak apa pengalaman yang mereka miliki. Kecerdasan pada anak dapat dilatih dengan cara dan metode yang sesuai dan dapat digunakan para orang tua. Orang tua akan bangga apabila memiliki anak yang memiliki kecerdasan lebih dibanding teman sebayanya. Tetapi orang tua juga tidak hanya memperhatikan kecerdasan yang melibatkan otak atau pikiran saja, para orang tua juga dituntut untuk mendidik dan melatih buah hati mereka mengenai aspek emosi, sehingga anak memiliki keseimbangan yang benar-benar diharapkan. Anak tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional.                       Pada usia sekitar 5-6 tahun anak-anak sering bermain dengan bahasa atau eksperimen dengan aturan-aturan dan pola-pola bahasa. Peran orang tua adalah memberikan fasilitas yang dibutuhkan sang anak. Sedangkan peran guru selain memberi fasilitas adalah mendidik dan melatih peserta didik. Orang tua harus peka dan mengetahu perkembangan fisik maupun mental anak. Namun, dalam kenyataannya orang tua mengalami kesulitan terhadap kendala yang dihadapi sang anak. Sehingga orang tua beranggapan bahwa “sekolah” adalah tempat yang sesuai untuk membentuk keterampilan anak.                       Penelitian yang akan peneliti lakukan berfokuspada ranah kognitif dan emotif anak. Penelitian ini difokuskan kepada keterampilan bercerita yang nantinya akan merangsang kecakapan kognitif dan emotif anak. Bercerita merupakan salah satu keterampilan berbahasa dan salah satu aspek literasi yang penting. Setiap anak memiliki cara dan metode berbeda dalam bercerita, bergantung dari beberapa faktor yang memengaruhi, baik faktor internal (diri anak) seperti kepercayaan diri maupun faktor eksternal (luar diri si anak) seperti lingkungan dan lain sebagainya. Dengan kemampuan bercerita yang dimiliki anak, diharapkan anak mampu mengelola emosi mereka terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap segala permasalahan, dan cerdas dalam mengambil keputusan.                       Dalam penelitian ini, hasil akhirnya adalah berupa metode yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk melatih anak ataupun peserta didik melalui bercerita yang kreatif dengan gerakan yang mendukung (dilengkapi dengan konteks) yang dapat direspon oleh orang sekitar sehingga terjadi interaksi yang interaktif dan membentuk kelas yang literat (jika di sekolah).
IDENTIFIKASI KESULITAN BELAJAR “DISLEKSIA” ANAK USIA DINI Aries Dirgayunita; Agustiarini Eka Dheasari; M. Masyhuri
Al-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Anak Vol. 3 No. 1 (2022): Juli
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/al-athfal.v3i1.426

Abstract

Dislekesia merupakan kesulitan belajar yang seringkali ditemukan oleh tenaga pendidik baik di tingkat Pendidikan taman kanak-kanan maupun Pendidikan dasar. Dimana banyak tenaga pendidik yang masih kesulitan dalam mengenali anak didiknya yang mengalami kesulitan belajar jenis disleksia. Disleksia adalah salah satu bentuk kesukaran dalam belajar yang berbentuk kesulitan dalam membaca atau melafalkan susunan kata, dimana ada kerusakan dalam otak ketika menerima proses pengolahan informasi, yang tidak ditimbulkan oleh kapasitas visual, auditori, intelegensi maupun keterampilan dalam berbicara. Dengan melakukan identifikasi pada anak merupakan upaya atau langkah penting dalam menentukan dan menemukan kesulitan belajar “Disleksia”. Sehingga tenaga pendidik dapat menentukan langkah selanjutnya dalam melakukan assessment dan rencana pembelajaran yang tepat bagi anak didiknya. Jika Disleksia dikenali lebih awal, maka tenaga pendidik dapat memberikan intervensi dari sejak awal. Sehingga dapat memperoleh hasil yang sangat baik atau sebaliknya ketika Disleksia ditemukan terlambat maka akan berdampak tidak baik pada sosial maupun emosional anak yang dapat menjadi gangguan. Metode yang dilakukan dalam mengenali anak yang mengalami kesukaran dan permasalahan dalam belajar Disleksia yaitu dengan melakukan pengamatan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, juga dengan menggunakan wawancara dan tes baik berupa tes yang diberikan oleh tenaga pendidik sesuai dengan standar Pendidikan yang berlaku maupun tes psikologi yang sudah baku. Ciri-ciri Disleksia pada anak usia dini : Biasanya lebih sering  mencampur   kata-kata atau frasa,  mengalami kesulitan dalam mengulang bunyi atau rima dan irama atau ritme, Kesulitan dalam mengingat   nama, Mengalami keterlambatan dalam perkembangan Bahasa, Senang ketika dibacakan buku, akan tetapi tidak tertarik dengan huruf maupun kata dalam kalimat, Terkadang mengalami kesulitan dalam memakai pakaian.  Kata kunci: Identifikasi, Kesulitan Belajar Disleksia, Anak Usia Dini.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN FISIK MOTORIK HALUS ANAK USIA 3- 4 TAHUN MELALUI MEDIA SEDERHANA ( PLASTISIN ) DI PAUD AL – FIRDAUS KECAMATAN WONOMERTO – KABUPATEN PROBOLINGGO Umi Kulsum; Robiatul Adawiyah; Aries Dirgayunita
Al-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Anak Vol. 4 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/alathfal.v4i2.787

Abstract

Eksplorasi ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan motorik halus anak melalui media plastisin di Paud Al – Firdaus. Strategi eksplorasi ini menggunakan Penelitian Tindak Kelas (PTK).  Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan pada masing-masing siklus dilakukan dengan dua kali pertemuan. Subyek penelitian ini yaitu 16 anak Paud Al – Firdaus yang terdiri dari 7 siswa dan 9 siswi. Strategi pengumpulan informasi dilakukan melalui persepsi dan dokumentasi. Strategi penyelidikan informasi dilakukan dengan cara subyektif. Hasil eksplorasimenyatakan bahwa media plastisin dapat bekerja pada peningkatan motorik halus anak. Sebelum penelitian ini dimulai, secara keseluruhan tidak ada anak yang tumbuh kembang dengan baik. Setelah dilakukan kegiatan pada siklus pertama, peningkatan kemampuan motorik halus anak bertambah sebanyak 4 anak dengan taraf 25%, dan pada siklus II bertambah menjadi 11 anak dengan taraf 69% dengan kaidah sangat maju (BSB). Dalam memanfaatkan media plastisin, guru mengenalkan bagaimana bentuk plastisin, kemudian anak dapat mencoba berlatih bersama teman-temannya.
MENCIPTAKAN LINGKUNGAN SEKOLAH AMAN TANPA PERUNDUNGAN DAN GROOMING Robiatul Adawiyah; Aries Dirgayunita; Ulil Hidayah; Imro Atus Soliha
DEVELOPMENT: Journal of Community Engagement Vol. 2 No. 1 (2023): Maret
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/djce.v2i1.758

Abstract

The social phenomenon that describes the many cases that occur in society, such as acts of bullying, is now increasingly felt and even results in fatalities. Ironically, this happens to many teenagers who are still in school. Bullying is any form of oppression or violence that is carried out intentionally by one person or group of people who are stronger or more powerful towards another person, with the aim of causing harm and is carried out continuously. Deepening material and socialization to teenagers on how to create a safe school environment without bullying or bullying and grooming. The reason for choosing the subject is Teenagers at the junior high school level are teenagers who are entering a period of transition between childhood and adulthood. At that age, cases of bullying that occur between friends are prone to occur. The impact of the changes that have occurred is that schools are able to create a safe school environment without bullying or bullying, both categories of mild, moderate and severe bullying cases.Keyword: School Environment, Bulliying, Grooming
PESANTREN DALAM MENUJU PENDIDIKAN IDEAL DI ERA POSTMODERN Khoiriyah Khoiriyah; Aries Dirgayunita
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 2 No. 1 (2018): Maret
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v2i1.5

Abstract

Pergeseran paradigma dari modernisme ke postmodernisme mengakibatkan perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan, terutama dalam menempatkan pelaku dan peserta pendidikan tidak lagi sebagai obyek, melainkan sebagai subyek. Situasi ini merupakan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan pesantren. Langkah penting untuk menuju pendidikan ideal dalam konteks postmodernisme ini adalah mengubah paradigma pendidikan, baik itu pendidikan secara umum maupun pendidikan pesantren secara khusus. Kajian ini berusaha memposisikan pesantren dalam konteks postmodernisme dan mengonsep beberapa perubahan yang dapat dilakukan baik pada tataran paradigmatis maupun langkah-langkah taktis yang dapat diambil.