Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS PENGETAHUAN, PERILAKU, DAN KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ANALGESIK DALAM SWAMEDIKASI DI SALAH SATU APOTEK DI KOTA BANDUNG Anggriani, Ani; Fitriani, Dinda Amelia; Lisni, Ida
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Vol 15 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Farmako Bahari
Publisher : Faculty of Mathematic and Natural Science, Garut University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jifb.v15i2.1376

Abstract

Swamedikasi merupakan upaya masyarakat untuk mengobati dan memelihara kesehatan diri sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis. Salah satu obat yang paling banyak digunakan dalam swamedikasi yaitu analgesik untuk mengatasi nyeri. Tingkat pengetahuan mengenai obat analgesik diperlukan dalam kegiatan swamedikasi untuk menghindari penggunaan obat yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku pasien serta ketepatan penggunaan obat pada swamedikasi analgesik di salah satu apotek di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional analitik dengan metode cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 30% responden, pengetahuan cukup 46%, dan pengetahuan baik 24%, untuk perilaku responden terdapat  86%  baik dan 14% tergolong cukup. Analisis statistik korelasi menggunakan rank spearman didapat nilai signifikansi sebesar 0,000 dan koefisien korelasi 0,703 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan arah yang positif antara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi obat analgesik. Sebanyak 100% responden sudah tepat dalam pemilihan obat analgesik dan 96% responden sudah tepat dosis.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Kesediaan Diri Vaksinasi COVID-19 RW 01 Kecamatan Cineam Anggriani, Ani; Sutrisno, Entris; Saskia, Puti Bela
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.995 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v14i2.95

Abstract

Abstract: The spread of the COVID-19 virus is rapidly expanding so that it becomes a big problem due to the increasing number of positive patient cases and cases of patients dying. Various efforts have been made, one of which is implementing a vaccination program with the aim of being able to work effectively by producing specific antibodies in the body so that it can reduce the incidence and break the chain of transmission. The attitude of the community towards their willingness to carry out the vaccination program still raises pros and cons. On November 4, 2021, it was recorded that Tasikmalaya Regency was ranked first as the region with the lowest vaccination rate in West Java. This study aims to analyze whether there is a significant relationship between the level of public knowledge on self- availability for the COVID-19 vaccine in the RW 01 area, Cineam District, Tasikmalaya Regency. This research is included in the type of quantitative research with analytical observational method with a cross sectional approach. Data were collected by distributing questionnaires and obtained a sample of 338 respondents. Data were analyzed using SPSS for frequency test and correlation test with Spearman Rank. The results obtained for the level of community knowledge of 88.9% and self-willingness of 67.8%, and the correlation test obtained is a significance value of 0.000 (0.000 <0.05) indicating a significant relationship between the level of knowledge and the presence of the community for implement a vaccination program.
Evaluation of Antibiotic Use in Inpatient and Outpatient Diabetic Ulcer Patients at a Government Hospital in Bandung Sutrisno, Entris; Anggriani, Ani; Sodik, Jajang Japar
Sciences of Pharmacy Volume 4 Issue 2
Publisher : ETFLIN Publishing House

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58920/sciphar0402318

Abstract

Diabetic foot ulcers are caused by neuropathy and/or peripheral arterial disease in patients with type 2 diabetes mellitus. These infections are commonly treated with empirical antibiotics. However, excessive or inappropriate antibiotic use may lead to resistance and poor treatment outcomes. This study aimed to evaluate antibiotic prescribing patterns, rationality, and potential drug interactions in diabetic ulcer patients at a government hospital in Bandung from January to December 2023. A retrospective observational design was used to analyze medical records of 63 patients. The most frequently used single antibiotics were ceftriaxone (51%), cefixime (20%), and ceftizoxime (17%), while the most common combination therapy was ceftizoxime + metronidazole (24%). Evaluation of antibiotic rationality showed 100% appropriate indication, 90.48% appropriate drug selection, and 98.41% appropriate dosage. Despite this, 33.33% of prescriptions had potential drug interactions with commonly co-prescribed medications. These findings indicate generally rational antibiotic use with areas for improvement in drug selection and interaction management. The study highlights the importance of continuous monitoring and rational prescribing to prevent antimicrobial resistance and ensure patient safety.
Pemanfaatan Singkong Dalam Pembuatan Sushi Untuk Panganan Penderita Diabetes Emawati, Emma; Rachmawati, Winasih; Nurfitria, Rizki Siti; Zein, Fauzan; Anggriani, Ani
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/xg4jz225

Abstract

Dabetes Militus (DM) disebut sebagai penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Hal ini karena gula tidak dapat dipakai oleh tubuh. Juga karenna pola hidup masyarakat yang tidak sehat mulai dari pola konsumsi yang serba instan, kurang aktivitas fisik dan life style yang buruk. Pada prinsipnya penderita DM harus melakukan pengaturan pada pola makannya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan jumlah kalori dan zat gizi yang dibutuhkan, jenis bahan makanan serta keteraturan jadwal makan. Penatalaksanaan diabetes melitus selain dengan menggunakan obat dapat dilakukan dengan cara diet makanan, edukasi dan olahraga. Sebagai upaya untuk mencegah peningkatan prevalensi diabetes melitus pengaturan diet menjadi salah satu cara yang efektif untuk mencegah kenaikan kadar glukosa darah dan menurunkan kadar glukosa darah. Salah satu makanan yang mengandung kadar karbohidrat rendah adalah makanan berbahan dasar singkong. Melalui ketua PKK Karini di RW 05 Kelurahan Cicaheum diinformasikan bahwa cukup banyak penduduk yang mengidap penyakit Diabetes sehingga wilayah tersebut memerlukan beberapa pencerahan terkait penyakit diabetes apa penyebab dan bagaimana pencegahannya. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan pengetahuan dan keterampilan Kader dan masyarakat terkait Pemanfaatan singkong dalam pembuatan sushi untuk penderita DM. Post test dan pretest sebelum dan sesudah kegiatan kemudian diberi pelatihan membuat makanan cemilan berupa shushi berbahan dasar singkong. Hasil pengukuran Tingkat pengetahuan masyarakat terekait penyakit DM sebelum dilakukan penyuluhan sebesar 4,16% dan sesudah penyuluhan meningkat menjadi 62,50%, Hal ini menunjukan adanya perubahan yang signifikan. Dan Masyarakat terampil dalam membuat shushi singkong.  
Analisis Hubungan Polifarmasi Dengan Potensi Interaksi Obat Pada Peresepan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Mulyani, Yani; Siti Balqis, Salwa; Sutrisno, Entris; Anggriani, Ani
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 11 No 2 (2024): Jurnal Farmasi Galenika Vol 11 No 2
Publisher : Universitas Bhakti Kencana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70410/jfg.v11i2.332

Abstract

The IDF estimates that the prevalence of diabetes mellitus based on age will continue to increase from 2021 to 2045 (24.0% vs 24.7%). Patients with diabetes mellitus have comorbidities that result from elevated blood glucose levels, leading to polypharmacy and potential drug interactions. This study aims to determine the percentage of drug interactions and the relationship between polypharmacy and the potential for drug interactions in patients with type 2 diabetes mellitus at RSU Rama Hadi Purwakarta. The study was conducted using a cross-sectional, retrospective method, analyzing prescriptions of patients with type 2 diabetes mellitus at RSU Rama Hadi from September 1 to 30, 2022. Prescriptions were identified for interaction types and severity using drugs.com, Medscape, and Stockley's Drug Interaction Handbook, 9th edition, with results analyzed using Fisher's exact test. The study found that patients aged 56-65 years (40.1%) were more likely to suffer from type 2 diabetes mellitus, with females having a higher incidence compared to males (70.7% vs 29.3%). Among 147 prescriptions, 97% had drug interactions, with moderate severity predominating (97.8%), and pharmacodynamic interactions being the most common (76%). Fisher's exact test revealed a p-value of 0.001 (p < 0.005). Thus, it can be concluded that there is a significant relationship between polypharmacy and the potential for drug interactions in the prescriptions of type 2 diabetes mellitus patients at the pharmacy department of RSU Rama Hadi Purwakarta.