Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PROSES KREATIF PENCIPTAAN KARYA TARI SAPA RAH Yanti, Ni Kadek Ayu Devy; Trisnawati, Ida Ayu; Gunarta, I Wayan Adi; Dewi, Ida Ayu Chandra
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 14 No. 1 (2025): Gesture: Jurnal Seni Tari (April)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v14i1.65052

Abstract

Penciptaan karya tari Sapa Rah mengangkat ide kisah Sumpah Drupadi dalam epos Mahabharata. Kisah ini menarik untuk diangkat karena erat kaitannya dengan isu pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan yang terjadi saat ini, sehingga nilai pemuliaan terhadap sesama khususnya perempuan penting untuk disuarakan. Proses kreatif penciptaan karya ini berlandaskan pada metode dan tahapan penciptaan tari yang disebut angripta sasolahan oleh I Ketut Suteja. Proses kreatif ini terbagi atas lima prinsip atau tahapan utama diawali dengan tahap perencanaan hingga tahap pementasan karya secara utuh. Secara terstruktur tahapan proses kreatif angripta sasolahan terdiri atas: ngarencana, nuasen, makalin, nelesin, dan ngebah. Melalui proses kreatif yang dilakukan maka terciptalah tari Sapa Rah yang merupakan tari kontemporer dengan tema pemuliaan terhadap sesama melalui pengendalian api dalam diri, berbentuk duet dengan satu orang penari perempuan dan satu orang penari laki-laki. Sapa Rah dimaknai sebagai kutukan darah seorang wanita terhadap orang dengan etika negatif yang berujung pada kesadaran diri terhadap pengendalian emosi. Ciri khas yang identik dengan karya tari Sapa Rah ini yang jarang ditemukan pada bentuk karya tari duet lainnya adalah pemilihan tema pemuliaan terhadap sesama melalui pengendalian api dalam diri, saat tari duet lainnya justru berfokus pada tema romansa percintaan maupun tema heroik kepahlawanan.
TARI AMERTA SRI BUMI: REPRESENTASI UPACARA PERANG TIPAT DALAM MERDEKA BELAJAR-KAMPUS MERDEKA BERSAMA SANGGAR SENI PANCER LANGIIT Apriyani, Ni Kadek Ary; Trisnawati, Ida Ayu; Adnyana, A.A Ketut Oka
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 2 No 1 (2022): Terbitan Pertama Bulan Juni tahun 2022
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.847 KB) | DOI: 10.59997/journalofdance.v2i1.1603

Abstract

This article is the result of research from the Amerta Sri Bumi Dance: Representation of the Tipat War Ceremony as a new dance creation symbolized as Purusa and Pradana as well as the depiction of Dewi Sri as the Goddess of fertility.This research focuses on the creative process and the form of the Amerta Sri Bumi Dance presentation. This research was structured based on postmodern theory, creativetheoryand the theory of group choreography elements by using qualitative research methods through interview techniques, literature study techniques and documentation techniques.Data analysis has shown that Amerta Sri Bumi Dance is either a welcome dance or an inspired creation of cultural attractions which are the hay hairier and more commonly known as the tipat wars and pillows that are in the Kapal village, Badung distric. By means of the concept of interpreting tipat and the pillows that lifted the essence by bringing together the two symbolic elements of the source of affluence, Purusa and Pradana, fertility, described as goddess Sri.The method employed in the creation of Amerta Sri Bumi dance is the langon method stemming from lontar Purwadigama that states that there are three concepts such as (1) concepts control called ungon, (2) concepts reinforcement called ingon, (3) concepts the mastery called angon.The Amerta Sri Bumi dance uses seven dancers, namely three women symbolized as Pradana, three men symbolized as Purusa. Then one woman as the character of Dewi Sri who wears a magnificent sling.
Estetika Tari Lango Dewi di Pura Beji Langon Yulianti, Ni Luh Putu Erika; Trisnawati, Ida Ayu; Sulistyani, Sulistyani
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 1 (2023): Terbitan Kesatu Bulan Juni tahun 2023
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/journalofdance.v3i1.2382

Abstract

ABSTRACT Lango Dewi dance, inspired by a group of nymphs who came to Beji Langon to take Toya Amertha. Beji Langon, also known as Pancoran Dedari, is located in Kapal Village, Mengwi, Badung. Beji Langon Temple is a temple that serves as the location of Ida Bhatara's purification which is located at the Kahyangan Temple in the Three Traditional Ship Villages, namely Pura Desa, Pura Puseh and Pura Dalem. The manifestation of Ida Sang Hyang Widhi who is worshiped at Beji Langon Temple is Dewi Gangga, as the Goddess of water who is in charge of purifying this universe. Goddess Gangga is worshiped at Beji Langon Temple because at this temple a statue of the goddess was found sitting in the middle of the main pool of Beji Langon Temple. Thus, this Beji temple functions as a place of purification and cleansing on a scale and no basis). Beji Langon Temple is one of the relics of an old site in Badung that has recorded traces of water civilization in the Badung area. On this occasion the researcher took the MBKM policy for the Research or Research program with the object of research being the Lango Dewi Dance. The purpose of this study was to analyze the aesthetics contained in the Lango Dewi Dance. The method used in this research is qualitative method. The research method includes observation, interviews, literature study, and documentation. The function and meaning can be seen, the primary and secondary functions of the Lango Dewi Dance and the meaning to society and the Lango Dewi Dance studio. Keywords: Lango Dewi, Beji Langon Temple, Form, Aesthetics, Meaning and Function.
Tari Teruna Goak, dari Tradisi Permainan Magoak-goakan ke Tari Kontemporer Nyoman Arya Baratha; Ida Ayu Trisnawati; I Wayan Sutirtha
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tari Teruna Goak adalah sebuah karya ciptaan baru dengan wujud kontemporer yang terinspirasi dari cerita tradisi permainan megoak-goakan. Karya tari ini berbentuk tari kelompok ditarikan oleh tujuh orang penari putra yang menginterpretasikan karakter pasukan Teruna Goak. Tujuan penciptaan karya tari ini adalah ingin menyampaikan pesan agar mampu mempertahankan serta melestarikan tradisi yang sudah ada sejak dulu dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat dijadikan tolak ukur untuk berbuat lebih baik. Tari Teruna Goak tercipta melalui proses penciptaan dengan menggunakan metode penciptaan Alma M. Hawkins yaitu eksplorasi, improvisasi, dan forming. Sumber informasi yang digunakan sebagai acuan adalah berupa sumber pustaka, diskografi, wawancara, dan pengamatan langsung. Adapun teori yang digunakan yaitu teori imajinasi, teori simbol, teori penciptaan, dan teori estetika. Hasil penciptaan karya tari ini adalah tari dengan wujud kontemporer berjudul Teruna Goak yang strukturnya terdiri dari bagian ; awal, isi, dan akhir. Beberapa gerak yang digunakan yaitu gerak peniruan dari burung gagak dan ketangkasan teruna tidak terlepas dari tari tradisi yaitu tetap mendapatkan inspirasi dari agem, tandang, tangkep, dan tangkis yang dieksplorasi kembali menjadi wujud baru. Penata menggunakan aplikasi software FL Studio 2020 sebagai media pengiring musik tari. Tata rias yang digunakan yaitu tata rias fantasi untuk mempertegas karakter yang dibawakan, sedangkan busana yang digunakan lebih dominan berwarna hitam yang dipadukan dengan warna merah dan putih. Kata Kunci: Teruna Goak, pasukan, kontemporer, penciptaan.
Tari Sesandaran Di Griya Delod Pasar Desa Adat Intaran; Kajian Bentuk, Fungsi Dan Makna. Sidhi, I Putu Gede Serana Asta; Trisnawati, Ida Ayu; Widnyana, Kompiang Gede
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 1 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 1 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i1.4196

Abstract

The Sesandaran dance at Griya Delod Pasar is a bebali dance that is sacred to the people and was born in the Intaran Traditional Village. This Sesandaran Dance is the same as the Telek Dance which uses a white tapel or mask and has a subtle character. Of course, the Sesandaran Dance which is located at Griya Delod Pasar is created with its own characteristics and identity. These characteristics exist at the beginning, the form of the dance. This Sesandaran Dance Research uses a qualitative research method with a descriptive qualitative approach. The research data was obtained through several stages, namely observation, structured and unstructured interviews, and indirectly through library research and documentation studies. The final task of the independent learning program in the dance study program this time the researcher chose the object of the Sesandaran Dance at Griya Delod Pasar as the object of research.ance, the function and meaning of the dance. The research results obtained that the Sesandaran Dance at Griya Delod Pasar is a group dance danced by ten dancers. The ten dancers are divided into four lean dancers, four jauk omang dancers, one telek dancer “Ni Swarni” and one jauk lingsir or Gore dancer. The Sesandaran dance at Griya Delod Pasar is built with eight dance structures, namely: Pepeson/Bebarisan, crewman, Pepeson Telek “Ni Swarni”, Pengecet, Pepeson Jauk Omang, Pepeson Gore/Jauk Lingsir, Pesiat and Pekaad. This dance has a function as an accompaniment to sacred performances or opening during the procession of mepajar or Ida Sesuhunan napak pertiwi. This Sesandaran dance contains four meanings, namely, religious meaning, creative meaning, aesthetic meaning and identity meaning
THE CONTRIBUTION OF DIGITAL TECHNOLOGY TO ART STUDIO BUSINESS IN JAKARTA Budiastomo, Denta Mandra Pradipta; Trisnawati, Ida Ayu; Arshiniwati, Ni Made; Sudarta, I Gusti Putu
Proceeding Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference Vol. 4 (2024): Proceedings Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/bbwp.v4i1.571

Abstract

By leveraging technology, empowering people, encouraging innovation, and strengthening organizations, art studios can increase competitiveness while maintaining the relevance of arts and culture in modern society. To develop a business, the combination of technology usually consists of knowledge and physical equipment. Technoware (T), Humanware (H), Infoware (I), and Orgaware (O) are four basic components of development that interact dynamically in the development process. The purpose of this study is to analyze the contribution of digital technology through various digital media to art studio businesses in Jakarta in arts and cultural activities. This research uses quantitative methods, data sources are determined through a purposive sampling technique. Data were collected by direct observation, interviews, Focus Group Discussions, document reviews, and literature studies. The results of this study show the coefficient value of the contribution of digital technology for each technological component of the art studio business for the welfare of artists.
Karya Tari : BHRANTACITTA Harischandra, Ida Bagus Yodhie; Trisnawati, Ida Ayu; Suteja, I Kt.
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 03 (2025): Volume 10 No. 03 September 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i03.31044

Abstract

Karya tari Bhrantacitta berangkat dari refleksi mendalam terhadap fase Grahasta Asrama dalam tradisi Hindu Bali, khususnya pengalaman seorang wanita yang berada di ambang perubahan status kehidupan. Inspirasi penciptaan muncul dari dua dimensi utama: (1) faktor internal, berupa gejolak rasa yang dialami wanita menjelang pernikahan; (2) faktor eksternal, berupa prosesi sakral Mekala-kalaan sebagai bagian dari prosesi pernikahan adat Bali. Karya ini hadir karena kebutuhan untuk mengungkap ulang makna spiritual dan kultural dari pernikahan yang berangkat dari urgensi untuk menghadirkan kembali kesadaran kolektif tentang nilai spiritual dan transformatif dari pernikahan adat Bali. Proses penciptaan karya ini menggunakan metode Urip Manga, yang terdiri dari lima tahapan: ngawit, ngekeb, madewasa ayu, mejauman, dan ngungkab lawang. Metode ini dikembangkan melalui pendekatan site specific berbasis realitas virtual. Konsep ini menghadirkan perpaduan antara ruang, tubuh, dan ilusi peristiwa, di mana unsur-unsur pertunjukan menggambarkan pengalaman-pengalaman spiritual yang berakar pada realitas budaya. Koreografi menempati dan berinteraksi dengan ruang, menciptakan dimensi visual yang merepresentasikan makna dari tiap tahapan ritual pernikahan. Hasil penciptaan karya ini menunjukkan proses kreativitas yang berkembang dari eksplorasi rasa dan pengalaman budaya, pembentukan wujud dan struktur tari yang berakar dari simbolisme ritual, serta penyampaian pesan bahwa pernikahan bukan semata perayaan sosial, tetapi sebuah laku hidup yang menuntut pemahaman, penghormatan, dan kesiapan batin. Melalui Bhrantacitta, karya ini menjadi pengingat bahwasannya pernikahan merupakan fase paling suci dalam kehidupan, yang menyatukan dua insan sekaligus menuntun mereka menapaki jalan spiritual melalui rangkaian prosesi penuh makna, seperti tahapan Mekala-kalaan.