Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pemberdayaan Remaja SMA dalam Pemantauan Status Gizi melalui Edukasi dan Demonstrasi Gizi Seimbang sebagai Upaya Pencegahan Dini Stunting Zukhra, Ririn Muthia; Putri, Syeptri Agiani; Putri, Fachriani; Khairiyah, Putri Adila; Rendi, Gusti; Alamsyah, Qodri; Ananda, Shalsabila Aulia; Aprianto, Azat; Putri, Abel Aprilia; Adesyahpuri, Diva
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 12 (2024): Volume 7 No 12 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i12.18029

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan masalah gizi yang timbul akibat asupan gizi yang tidak mencukupi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Kekurangan gizi ini dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti tinggi badan yang lebih rendah atau pendek dibandingkan standar usia, serta keterlambatan dalam kemampuan motorik. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) prevalensi stunting di Indonesia tahun 2022 menurun dari 24,4% menjadi 21,6% dan di Provinsi Riau 17%. Remaja putri memiliki peran penting dalam pencegahan stunting karena mereka adalah calon ibu yang akan berkontribusi langsung terhadap status gizi anak-anak mereka di masa depan. Jika status gizi remaja putri tidak segera diperbaiki, maka di masa depan akan semakin banyak ibu hamil yang memiliki postur tubuh pendek atau menderita KEK, yang pada gilirannya akan meningkatkan prevalensi stunting di Indonesia. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam pengukuran dan pemantauan status gizi remaja sebagai upaya pencegahan dini stunting. Kegiatan pengabdian Masyarakat ini dilakukan di SMAN 3 Pekanbaru. Kegiatan ini dengan melakukan pelatihan kepada 43 Siswa anggota PMR melalui pemberian edukasi kesehatan dan demonstrasi gizi seimbang. Pelatihan dilakukan sebanyak sekali seminggu selama 3 minggu. Setiap kali pemberian edukasi kesehatan terdiri dari ceramah, pemutaran video, dan demonstrasi. Evaluasi keberhasilan dinilai dengan posttest yang diberikan kepada kelompok remaja sehat yang sudah mengikuti pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan siswa pada kategori baik yaitu sebanyak 30 orang atau 69,7%, kategori cukup sebanyak 10 orang atau 23,2% dan kategori kurang sebanyak 3 orang atau 6,9%.Kesimpulan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini didapatkan peningkatan keterampilan siswa kelompok remaja sehat mengenai cara pengukuran dan pemantauan status gizi remaja sebagai upaya pencegahan dini stunting. Kata Kunci: Demonstrasi, Pemberdayaan, Pendidikan Kesehatan, Remaja, Stunting ABSTRACT Stunting is a nutritional problem that arises due to inadequate nutritional intake continuously over a long period of time. This nutritional deficiency can result in impaired growth and development in children, such as a height that is lower or shorter than age standards, as well as delays in motor skills. Based on data from the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI), the prevalence of stunting in Indonesia in 2022 will decrease from 24.4% to 21.6% and in Riau Province 17%. Adolescent girls have an important role in preventing stunting because they are prospective mothers who will contribute directly to the nutritional status of their children in the future. If the nutritional status of adolescent girls is not immediately improved, then in the future more and more pregnant women will have short stature or suffer from CED, which in turn will increase the prevalence of stunting in Indonesia. The aim of this community service is to increase students' knowledge and skills in measuring and monitoring the nutritional status of adolescents as an effort to prevent early stunting. This community service activity was carried out at SMAN 3 Pekanbaru. This activity involved training 43 PMR student members through providing health education and demonstrations of balanced nutrition. Training is carried out once a week for 3 weeks. Each time the health education is provided consists of lectures, video screenings and demonstrations.Evaluation of success was assessed by a posttest given to a group of healthy teenagers who had taken part in the training. The results of the activity showed an increase in students' skills in the good category, namely 30 people or 69.7%, in the sufficient category 10 people or 23.2% and in the poor category 3 people or 6.9%. The conclusion from this community service activity was that it was found that the skills of students in the healthy adolescent group had increased regarding how to measure and monitor the nutritional status of adolescents as an effort to prevent early stunting. Keywords: Adolescent, Demonstrations, Empowerment, Health Education, Stunting
Gambaran Perilaku Remaja terhadap Pencegahan HIV/AIDS di SMAN 4 Kandis Simanjuntak, Artawati Br; Putri, Syeptri Agiani; Indriati, Ganis
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.4046

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap penularan HIV/AIDS akibat rasa ingin tahu yang tinggi, kurangnya informasi, serta pengaruh lingkungan dan pergaulan. Pencegahan HIV/AIDS dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan, pembentukan sikap positif dan penerapan tindakan pencegahan pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS. Metode:  Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 136 siswa yang diambil dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) yang sudah uji valid dan reliabel. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dengan menggunakan uji statistik deskriptif. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa paling banyak remaja berada pada usia 16 tahun sebanyak 63 remaja (46,3%), 78 remaja berjenis kelamin perempuan (57,4%), 83 remaja kelas XI (61,0%), 67 remaja beragama Islam (49,3%), 80 remaja memiliki pengetahuan kurang (55,6%), 90 remaja memiliki sikap positif (62,5%), dan 85 siswa/i memiliki tindakan yang baik (59,0%) dalam pencegahan HIV/AIDS. Kesimpulan: Remaja, sebagian besar memiliki pengetahuan yang kurang dengan sikap dan tindakan yang cenderung baik. Pihak sekolah, diharapkan dapat mengadakan penyuluhan dan program edukasi yang lebih intensif terkait HIV/AIDS secara berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan remaja dalam pencegahan HIV/AIDS.
Efektivitas Aplikasi SafeTeens terhadap Peningkatan Literasi Kesehatan Mental Remaja: Studi Kuasi-Eksperimen Tesha Hestyana Sari; Jumaini Jumaini; Syeptri Agiani Putri; Novita Kusumarini
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.51680

Abstract

Mental health problems among adolescents continue to increase, coupled with low levels of mental health literacy, which can lead to delays in seeking professional help. Innovative technology-based efforts are needed to ensure wider access to mental health information and services. This study aims to develop and test the effectiveness of the SafeTeens app as an educational tool for improving adolescent mental health literacy. The study used a quasi-experimental design with an intervention and control group. A sample of 60 adolescents was selected based on inclusion criteria and divided proportionally into two groups. The research instrument was a mental health literacy questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using the Chi-Square test to determine differences in mental health literacy levels before and after the intervention. The results showed that the intervention group experienced a significant increase in mental health literacy levels after using the SafeTeens app (χ² = 19.14; p = 0.00007), whereas the control group showed no significant change (χ² = 0.66; p = 0.719). The SafeTeens app has proven effective in improving adolescents' understanding of mental health issues, distinguishing myths from facts, and how to seek appropriate help. This study recommends further development of the SafeTeens app with gamification features and periodic reminders to increase user engagement, as well as long-term testing to assess the sustainability of improvements in mental health literacy. Furthermore, cultural and local language adaptations need to be continuously refined to make the app more relevant to Indonesian adolescents.
Efektifitas Penggunaan Aplikasi Nutriteens Sebagai Program Berbasis Internet Untuk Pengontrolan Asupan Nutrisi Pada Remaja Obesitas: Studi Kuasi Eksperimen Syeptri Agiani Putri; Wice Purwani Suci; Ririn Muthia Zukhra; Fathra Annis Nauli; Radinal Dwiki Novendra
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52240

Abstract

Peningkatan prevalensi obesitas pada remaja memerlukan inovasi pengelolaan nutrisi yang mudah diakses dan efektif. Aplikasi mobile health (mHealth) seperti NutriTeens berpotensi mendukung pemantauan asupan kalori secara mandiri dan meningkatkan kepatuhan remaja terhadap pengaturan nutrisi harian. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penggunaan aplikasi NutriTeens dalam meningkatkan pengetahuan gizi dan mengontrol asupan nutrisi pada remaja obesitas. Desain penelitian menggunakan one group pretest–posttest dengan 30 remaja obesitas. Intervensi berlangsung selama empat minggu melalui edukasi langsung dan pengulangan materi menggunakan aplikasi NutriTeens. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan gizi dan food recall 24 jam. Analisis menggunakan uji Wilcoxon dan paired t-test. Hasil menunjukkan peningkatan rerata pengetahuan gizi (15,60 menjadi 16,23), namun tidak signifikan (p = 0,399). Terdapat perbedaan signifikan antara kebutuhan energi dan asupan aktual (p = 0,002), menandakan ketidaksesuaian asupan energi dengan kebutuhan fisiologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa NutriTeens efektif dalam memonitor asupan nutrisi, namun belum berdampak signifikan pada peningkatan pengetahuan. Optimalisasi fitur interaktif dan durasi intervensi diperlukan untuk memperoleh hasil yang lebih efektif.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Metode Mixed Media Education Intervention Program Terhadap Pengetahuan dan Sikap Anak Sekolah Dasar Tentang Karies Gigi Rahmadhani Sahara; Syeptri Agiani Putri; Masrina Munawarah Tampubolon
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.477

Abstract

Anak-anak sekolah dasar berisiko tinggi mengalami karies gigi akibat keterbatasan pengetahuan dan kurangnya sikap positif terhadap kesehatan gigi dan mulut. Angka kejadian karies gigi di Indonesia sendiri masih tergolong tinggi, termasuk di Kota Pekanbaru. Salah satu sekolah yang turut mengalami permasalahan ini adalah SDN 95 Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Mixed Media Education Intervention Program terhadap pengetahuan dan sikap anak terkait karies gigi. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan desain quasi eksperimental dengan pendekatan pretest – posttest with control group design. Sampel dalam penelitian sebanyak 54 responden yang terdiri atas kelompok intervensi dan kelompok kontrol masing-masing terdiri atas 27 responden dengan teknik proportionate stratified random sampling. Analisa bivariat yang digunakan adalah Uji wilcoxon signed test dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengetahuan dan sikap memiliki nilai p-value 0,000 (p < 0.05), Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan dari intervensi pendidikan kesehatan melalui gabungan tiga metode terhadap pengetahuan dan sikap anak sekolah dasar terkait karies gigi. Metode Mixed Media Education Intervention program terbukti dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa terhadap pencegahan karies gigi.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Anak Usia Sekolah Dengan Epilepsi Di Pekanbaru Nur Allima; Riri Novayelinda; Syeptri Agiani Putri
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.481

Abstract

Pendahuluan: Epilepsi merupakan gangguan neurologis kronis yang dapat menurunkan kualitas hidup anak pada aspek fisik, psikologis, sosial, dan pendidikan. Faktor klinis serta sosial keluarga berperan penting terhadap kualitas hidup anak dengan epilepsi. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hidup anak usia sekolah dengan epilepsi di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Metode: penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 60 anak usia 7–12 tahun yang dipilih menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner kualitas hidup dan karakteristik responden. Analisis yang digunakan yaitu univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman untuk variabel numerik dan uji Chi-Square untuk variabel kategorik. Karena sebagian tabel tidak memenuhi asumsi uji Chi-Square (expected count > 20%), maka digunakan uji alternatif Fisher’s Exact. Hasil: analisis univariat menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (65%) dengan kategori kualitas hidup terbanyak adalah sedang (71,7%), diikuti tinggi (16,7%) dan rendah (11,7%). Uji Spearman menunjukkan hubungan signifikan antara frekuensi kejang dengan kualitas hidup, sedangkan usia dan lama mengalami epilepsi tidak signifikan. Uji Fisher’s Exact menunjukkan hubungan signifikan antara kualitas hidup dengan pendapatan orang tua dan pendidikan orang tua, sedangkan jenis kelamin tidak signifikan. Kesimpulan: terdapat hubungan antara frekuensi kejang, pendapatan orang tua, dan pendidikan orang tua dengan kualitas hidup anak usia sekolah dengan epilepsi.
Pengaruh Edukasi Toilet Training Dengan Media Modul Terhadap Pengetahuan Ibu Pada Anak Usia Toddler Windy Lavenia Rahayu; Ganis Indriati; Syeptri Agiani Putri
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.483

Abstract

Pendahuluan: Toilet training merupakan proses melatih anak agar mampu buang air secara mandiri serta membiasakan mereka menggunakan tempat yang tepat. Pengetahuan ibu menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan toilet training. Tujuan: Mengetahui pengaruh edukasi toilet training dengan media modul terhadap pengetahuan ibu pada anak usia toddler Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasy experiment dengan rancangan one group pretest–posttest design. Sampel terdiri dari 34 ibu yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji paired t-test. Hasil: Mayoritas responden berusia 26-35 tahun sebanyak 22 orang, berpendidikan terakhir SMA sebanyak 24 orang, 21 orang adalah Ibu Rumah Tangga, memiliki anak usia 25-36 bulan sebanyak 17 orang, dan jenis kelamin anak yaitu perempuan sebanyak 19 orang. Hasil uji paired t-test menunjukkan (p value 0,000 < α 0,05) terdapat pengaruh edukasi toilet training dengan media modul terhadap pengetahuan ibu pada anak usia toddler. Kesimpulan: Edukasi toilet training dengan media modul mempengaruhi pengetahuan ibu pada anak usia toddler. Saran: Ibu dengan anak toddler diharapkan dapat memanfaatkan edukasi toilet training dengan berbagai media khususnya modul dalam meningkatkan pengetahuannya. Tenaga kesehatan dapat memanfaatkan media modul untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang toilet training. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan sampel yang lebih luas guna menguji pengaruh modul dengan lebih optimal.
Hubungan Efek Samping Tablet Tambah Darah dengan Kepatuhan Ibu Hamil dalam Mengonsumsinya Pada Masa Kehamilan Desti Arnita Juandri; Erika Erika; Syeptri Agiani Putri
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i10.16328

Abstract

ABSTRACT Many factors can influence the compliance of pregnant womens in consuming blood supplement tablets, one of which is the side effects of blood supplement tablets. Various side effects experienced by pregnant women include nausea, vomiting, discomfort in the stomach, diarrhea, constipation, stomach ache, dizziness, and black stools. This study aims to determine the relationship between each side effect and the compliance of pregnant womens in consuming it during pregnancy in the Umban Sari Pekanbaru Health Center Area. This research was conducted in the Umban Sari Community Health Center Work Area from 01-16 June 2024. This research uses a correlational descriptive design with a cross-sectional approach. The sample for this research was 99 respondents who were taken based on inclusion criteria using purposive sampling techniques. The instrument used is a questionnaire. The analysis used is bivariate analysis using chi-square. The results of statistical tests show that there is a significant relationship between the side effects of nausea, vomiting, stomach discomfort, diarrhea, constipation, stomach ache, dizziness, and black stool with each p-value (nausea: 0.000, vomiting: 0.000, taste stomach discomfort: 0.000, diarrhea: 0.036, constipation/constipation: 0.001, stomach ache: 0.001, dizziness: 0.016, and black stools: 0.001) alpha (0.05) All side effects caused after consuming Blood supplement tablets have a significant relationship with pregnant women's compliance in consuming blood supplement tablets. Keywords: Side Effects, Blood Increasing Tablets, Maternal Compliance  ABSTRAK Banyak faktor yang dapat memengaruhi kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet tambah darah salah satunya adanya efek samping tablet tambah darah. Berbagai efek samping yang dirasakan ibu hamil seperti mual, muntah, rasa tidak enak di perut, diare, konstipasi/sembelit, sakit perut, pusing dan tinja berwarna hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing efek samping dengan kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsinya pada masa kehamilan di Wilayah Puskesmas Umban Sari Pekanbaru. Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Umban Sari pada tanggal 01-16 Juni 2024. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 99 responden yang diambil berdasarkan kriteria inklusi menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner. Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat menggunakan chi-square. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara efek samping mual, muntah, rasa tidak enak diperut, diare, konstipasi/sembelit, sakit perut, pusing dan tinja berwarna hitam dengan masing-masing p value (mual : 0,000, muntah : 0,000 , rasa tidak enak diperut : 0,000 , diare : 0,036 , konstipasi/sembelit : 0,001 , sakit perut : 0,001 , pusing : 0,016 , dan tinja berwarna hitam : 0,001) alpha (0,05). Semua efek samping yang ditimbulkan setelah mengonsumsi tablet tambah darah mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet tambah darah. Kata Kunci: Efek Samping, Tablet Tambah Darah, Kepatuhan Ibu
Survei Kejadian Growth Faltering Pada Anak Usia 6–12 Bulan di Kota Pekanbaru Syeptri Agiani Putri; Riri Novayelinda; Ririn Muthia Zukhra; Yesi Hasneli
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i6.20500

Abstract

ABSTRACT Growth faltering is a condition of growth failure characterized by a slowing growth rate. The main cause is malnutrition. Continuous growth faltering conditions can cause disturbances in growth, cognitive and psychomotor development, physical activity, behavior and learning abilities. The Purpose of this study is to see the incidence of growth faltering in children aged 6 – 12 month in Pekanbaru City. This study uses a quantitative descriptive method with cross sectional approach. The research sample was 386 children aged 6 - 12 months using the Lemeshow formula. The sampling technique used purposive sampling. The instruments used were demographic data questionnaires and anthropometric measuring instruments. The data analysis used was univariate analysis. The research results show that the incidence of growth faltering in children aged 6 - 12 months in Pekanbaru City is 42.7%. Characteristics of children with growth faltering occur in children aged 9 - 11 months (40.3%) and male (51.5%). The majority of respondents were born at full term (39.9%), not LBW (43%), had a history of receiving exclusive breastfeeding (44.7%) and had family income above the minimum wage (44.9%). Based on the research results, it is recommended that the Community Health Center add education regarding providing appropriate and healthy MPASI before giving MPASI to children. Suggestions for future researchers to be able to identify factors related to the incidence of growth faltering in children. Keywords: Growth Faltering, Malnutrition, Stunted  ABSTRAK Growth faltering merupakan suatu kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan melambatnya laju pertumbuhan. Penyebab utamanya adalah kekurangan gizi. Kondisi growth faltering yang terus menerus dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan, perkembangan kognitif dan psikomotorik, aktivitas fisik, perilaku dan kemampuan belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat kejadian growth faltering pada anak usia 6 – 12 bulan di Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 386 anak usia 6 – 12 bulan dengan menggunakan rumus Lemeshow. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner data demografi dan alat ukur antropometri. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian growth faltering pada anak usia 6 – 12 bulan di Kota Pekanbaru sebesar 42,7%. Karakteristik anak dengan growth faltering terjadi pada anak usia 9 – 11 bulan (40,3%) dan berjenis kelamin laki-laki (51,5%). Mayoritas responden lahir cukup bulan (39,9%), tidak BBLR (43%), memiliki riwayat mendapat ASI eksklusif (44,7%) dan memiliki pendapatan keluarga di atas UMR (44,9%). Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada Puskesmas untuk menambah edukasi mengenai pemberian MPASI yang tepat dan sehat sebelum memberikan MPASI pada anak. Saran bagi peneliti selanjutnya agar dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian growth faltering pada anak. Kata Kunci: Gizi Buruk, Growth Faltering, Stunting.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Upaya Pencegahan Diabetes Pada Remaja Awal Pratiwi, Niken Ayu; Putri, Syeptri Agiani; Tampubolon, Masrina Munawarah
JKM : Jurnal Keperawatan Merdeka Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Keperawatan Merdeka
Publisher : Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkm.v6i1.3275

Abstract

Background: The prevalence of type 2 diabetes mellitus among early adolescents has shown an increasing global trend, including in Indonesia. This condition is closely associated with unhealthy lifestyle changes and a lack of awareness regarding preventive efforts. A low level of knowledge has been identified as one of the barriers to developing effective preventive behaviors. Objective: This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge and diabetes prevention efforts among early adolescents. Methods: A quantitative approach with a cross-sectional design was employed, involving 376 respondents from three junior high schools in Pekanbaru City, selected through proportional purposive sampling. Bivariate analysis was performed using the chi-square test, Results: The majority of respondents demonstrated a moderate level of knowledge (56.6%) and a moderate level of preventive efforts (50.3%). The chi-square test results indicated a significant relationship between knowledge level and type 2 diabetes prevention efforts (p-value = 0.000). Conclusion: These findings suggest a significant association between adolescents' knowledge levels and their efforts to prevent type 2 diabetes.