Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Overview of Bacterial Patterns in Diabetic Ulcer Patients at Gatot Soebroto Army Hospital and Fatmawati General Hospital and The Review According to Islamic Perspective Achya, Vioni Alvida; Eliana, Fatimah; Gunawan, Andri
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by hyperglycemia resulting from defects in insulin secretion, insulin action or both. Complications of this disease are diabetic foot ulcers. Diabetic foot ulcer is an ulcer that occurs on the leg of a DM patient. One of the risk factors for diabetic foot ulcers is infection. Many diabetic foot ulcers are caused by Staphylococcus aureus and Pseudomonas spp. Method: This study used secondary data from medical records of bacterial culture of diabetic ulcer patients at the Gatot Soebroto Army Hospital and Fatmawati General Hospital from January 2018 to December 2021. Results: There are 10 most common types of bacteria at Gatot Soebroto Army Hospital, namely Escherichia Coli, Klebsiella Pneumoniae, Citrobacter Koseri, Enterobacter Aerogenes, Staphylococcus Aureus, Enterococcus Faecalis, Proteus Mirabilis, Proteus Hauseri, Streptococcus Agalactiae and Cupriavidus Pauculus. At Fatmawati General Hospital, the highest number of 10 types of bacteria were found, namely Escherichia Coli, Klebsiella Pneumoniae, Acinetobacter baumannii, Pseudomonas Aeruginosa, Enterococcus Faecalis, Proteus Mirabilis, Staphylococcus Haemolyticus, Serratia Liquefaciens, Proteus Pennerii, and Providencia Rettgeri.Conclusion: The most common bacteria found in the two hospitals are Escherichia Coli and Klebsiella Pneumoniae. In the view of Islam, Rasulullah shallallahu alaihi wa salam gives an example of a person who is healthy in body and soul as the owner of the whole world and its contents.
Perubahan Gaya Hidup pada Pasien Diabetes Melitus Sebelum dan Saat Pandemi COVID-19 dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Alyka Sheila Masah; Fatimah Eliana; Amir Mahmud
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 10 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v2i10.4249

Abstract

Pandemi COVID-19 merupakan suatu outbreak yang menimbulkan gejala gangguan pernapasan akut yang disebabkan oleh novel coronavirus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Pada masa pandemi, masyarakat terpaksa untuk lebih sering berdiam di rumah dan membatasi pergerakan luar rumah. Hal ini dapat merubah gaya hidup masyarakat. Penyandang diabetes melitus mempunyai risiko lebih tinggi terhadap COVID-19 karena dapat memperburuk kondisi bahkan menyebabkan kematian. Pandemi COVID-19 mengakibatkan sebagian besar orang terpaksa untuk merubah gaya hidup mereka terutama pada pasien diabetes melitus. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross-sectional. Cara pengambilan sampel menggunakan kuesioner dengan teknik wawancara. Sampel pada penelitian ini adalah pasien diabetes melitus di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati. Analisis secara statistik menggunakan uji marginal homogeneity ditemukan tidak ada perubahan pada variabel pola makan (p=0,439) dan kebiasaan (p=0,248). Variabel aktivitas fisik (p=0,000), pola tidur (p=0,008), dan tingkat stres (p=0,000) menunjukkan adanya perubahan bermakna sebelum dan saat pandemi COVID-19. Secara keseluruhan tidak ditemukan perubahan gaya hidup karena p-value 0,3465 (p>0,05). Pada penelitian ditemukan perubahan aktivitas fisik, pola tidur, dan tingkat stress pada pasien diabetes melitus sebelum dan saat pandemi COVID-19. Dalam pandangan Islam, ketika sedang menderita suatu penyakit seperti diabetes melitus, maka seorang pasien diabetes melitus yang beragama Islam harus menghadapi keadaan ini dengan sifat-sifat yang telah di ajarkan dalam Islam seperti sabar, tawakal, ridha, dan ikhtiyar.
Profil Respons Glukosa Darah dan Tingkat Rasa Kenyang setelah Pemberian Diabetasol® Dibandingkan Makanan Padat Gizi Terkontrol pada Pasien Diabetes Melitus tipe 2 Fatimah Eliana; Iwan Surjadi Handoko; Fransisca Diah Ambarwati; Arini Setiawati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 7 (2018): Onkologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i7.749

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan stabilitas kadar glukosa darah harian, tingkat kenyang, dan keamanan setelah menggunakan Diabetasol® dibandingkan dengan makanan padat dengan gizi terkontrol. Diabetasol® adalah makanan indeks glikemik rendah mengandung isomaltulosa, resisten dekstrin, dan inulin. Penelitian ini merupakan studi awal, prospektif, acak, terbuka, dan melibatkan 30 subjek DM tipe 2 pria dan wanita. Pengukuran glukosa darah dengan continuous glucose monitoring selama 48 jam di setiap kunjungan. Tingkat rasa kenyang diukur dengan kuesioner satiety quotient dengan visual analog scale (VAS) pada interval 0, 15, 30, 60, dan 120 menit. Evaluasi efek samping didasarkan pada terjadinya hipoglikemia dan masalah pencernaan selama masa pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan respons glikemik Diabetasol® lebih rendah dibandingkan makanan padat gizi terkontrol kendati tidak bermakna, di lain pihak Diabetasol® memberikan rasa kenyang lebih lama tanpa efek samping serius.   The purpose of this study was to determine the stability of daily blood glucose level, satiety level, and safety after using Diabetasol® in comparison with controlled nutrition solid food. Diabetasol® is low glycemic index foods contained of isomaltulose, resistant dextrin, and inulin. This study is a preliminary, prospective, randomized, open-ended study, and involving 30 male and female type 2 DM subjects. Blood glucose was measured with continuous glucose monitoring within 48 hours after every visit. The satiety level was measured with satiety quotient questionnaire with visual analog scale (VAS) at interval of 0, 15, 30, 60, and 120 minutes. The evaluation of side effects was based on the occurrence of hypoglycemia and digestive problems during the treatment period. Eventhough not stastistically significant, Diabetasol® leads to decreased glycemic response and longer satiety compared to controlled nutrition solid foods, with no serious side effects.
Pengaruh Pemberian Beras Porang (Amorphophallus Oncophyllus) Terhadap Kadar Glukosa Darah dan Lingkar Pinggang pada Penderita Sindrom Metabolik di Universitas Yarsi Serta Tinjauannya dalam Islam. Legita Suci Luthfia; Eliana, Fatimah; Asiah, Nur; Arsyad, Muhammad
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 4 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i4.4913

Abstract

Latar Belakang: Sindrom Metabolik secara umum didefinisikan memenuhi tiga dari lima kriteria yang mencakup obesitas, hipertrigliserida, kadar kolesterol HDL (High-Density Lipoprotein) rendah, hipertensi dan hiperglikemia. Penderita sindrom metabolic membutuhkan sumber makanan dengan indeks glikemik rendah, seperti beras porang yang mengandung glukomanan 65%. Dalam Islam, menjaga kesehatan merupakan ibadah dan bagian dari tanggung jawab kepada Allah SWT. Metode: Studi eksperimental pada penderita sindrom metabolik di Universitas YARSI. Kadar glukosa darah dan lingkar pinggang diukur sebelum dan setelah konsumsi beras porang selama 28 hari. Hasil: Median kadar glukosa darah puasa sebelum intervensi adalah 98 mg/dl (SD 36,12) dan setelah intervensi 96 mg/dl (SD 29,14) dengan (p = 0,127). Glukosa darah 2 jam setelah makan menurun dari 127,04 ± 41,44 mg/dL menjadi 121,88 ± 41,91 mg/dL (p = 0,348). Lingkar pinggang menurun secara signifikan dari 99,85 ± 8,13 cm menjadi 95,43 ± 6,80 cm (p < 0,05). Tidak ditemukan hubungan signifikan antara kadar glukosa darah dan lingkar pinggang (p > 0,05). Kesimpulan: Pemberian beras porang selama 28 hari menurunkan rata-rata GDP sebesar 5 mg/dL dan GDPP sebesar 6 mg/dL tanpa signifikansi statistik. Penurunan lingkar pinggang rata-rata 4 cm signifikan secara statistik, menunjukkan efektivitas beras porang dalam mengurangi lemak visceral. Konsumsi beras porang sesuai prinsip halal, thayyib, dan moderasi dalam Islam.
Pengaruh Pemberian Beras Porang (Amorphophallus Oncophyllus) Terhadap Kadar HbA1c dan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada Penderita Sindrom Metabolik di Universitas YARSI serta Tinjauannya dalam Islam Maliki, Khaira; Eliana, Fatimah; Asiah, Nur; Arsyad, Muhammad
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 4 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i3.4950

Abstract

Latar Belakang: Sindrom metabolik adalah masalah kesehatan global yang meningkatkan penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus tipe 2. Prevalensi sindrom metabolik di Indonesia cukup tinggi, terutama dengan obesitas sentral, rendahnya kadar kolesterol HDL, hipertensi, dan tingginya kadar gula darah sebagai komponen utama. Manajemen sindrom metabolik melibatkan modifikasi pola makan, termasuk pengurangan konsumsi karbohidrat tinggi indeks glikemik. Beras porang dengan indeks glikemik rendah dan mengandung glukomanan dapat membantu menurunkan glukosa darah serta mengontrol HbA1c dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Dalam perspektif Islam, konsumsi makanan halal dan thayyib seperti beras porang serta upaya menjaga kesehatan melalui pola makan sehat dan pencegahan sindrom metabolik adalah bagian dari ibadah.Metode: Penelitian ini menggunakan metode pre-eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Sebanyak 27 responden penderita sindrom metabolik dipilih menggunakan teknik purposive sampling untuk mengevaluasi efek pemberian beras porang terhadap indeks massa tubuh (IMT) dan kadar HbA1c selama 28 hari.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan pada kadar HbA1c dari 5,9% menjadi 5,7% (p = 0,037) dan indeks massa tubuh dari 31,83 kg/m² menjadi 31,27 kg/m² (p < 0,001) setelah pemberian beras porang selama 28 hari. Simpulan: Pemberian beras porang selama 28 hari terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan kadar HbA1c sebesar 0,2% (p = 0,037) dan IMT sebesar 0,56 kg/m² (p < 0,001). Hasil ini menunjukkan efektivitas beras porang untuk mengendalikan HbA1c dan IMT. Pandangan Islam mendukung pemberian beras porang sebagai intervensi pola makan selaras dengan prinsip halal dan thayyib.
Prevalensi Sindrom Metabolik Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan Grogol Jakarta Barat dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Naya, Nur Afifah Inayah; Agustina, Citra Fitri; Anshar, Fazlurrahman; Eliana, Fatimah
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 4 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i4.5037

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang menyebabkan delusi, halusinasi, dan gangguan dalam berpikir, persepsi, serta perilaku. Pengidap skizofrenia sering mengalami peningkatan risiko sindrom metabolik, yang terdiri dari obesitas sentral, dislipidemia, peningkatan kadar gula darah puasa, dan hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi sindrom metabolik pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, serta distribusinya berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia. Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasi deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dengan melakukan pengukuran fisik seperti lingkar pinggang, tekanan darah, dan kadar gula darah puasa. Analisis data menggunakan analisis univariat Hasil dan Simpulan: Sampel penelitian terdiri dari 58 pasien skizofrenia yang dirawat inap di rumah sakit di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa sindrom metabolik dialami oleh 22 orang (37,9%), sementara 36 orang (62,2%) tidak menderita sindrom metabolik. Sindrom metabolik lebih banyak terjadi pada pasien perempuan (51,7%) dibandingkan laki-laki (24,1%). Selain itu, prevalensi sindrom metabolik lebih tinggi pada pasien berusia >25 tahun (46,5%) dibandingkan pasien berusia <25 tahun (13,3%). ABSTRACT Introduction: Schizophrenia is a severe mental disorder characterized by delusions, hallucinations, and disruptions in thinking, perception, and behavior. Individuals with schizophrenia often face an increased risk of metabolic syndrome, which includes central obesity, dyslipidemia, elevated fasting blood glucose, and hypertension. This study aims to determine the prevalence of metabolic syndrome among schizophrenia patients at Soeharto Heerdjan Hospital and its distribution based on gender and age groups. Methodology: This study employed a quantitative approach with a descriptive observational design. Primary data were collected through physical measurements, including waist circumference, blood pressure, and fasting blood glucose levels. Data analysis was conducted using univariate analysis. Results and Conclusion: The study involved 58 schizophrenia patients hospitalized at Soeharto Heerdjan Hospital. The findings revealed that 22 patients (37.9%) were diagnosed with metabolic syndrome, while 36 patients (62.2%) did not have the condition. Metabolic syndrome was more prevalent among female patients (51.7%) compared to male patients (24.1%). Additionally, the prevalence of metabolic syndrome was higher in patients aged >25 years (46.5%) than those aged <25 years (13.3%).
Proliferation, Migration, and Expression of Tumor Necrosis Factor-α from Green Tea Leaf Extract (Camellia sinensis) on Keloid Fibroblast Cells: Proliferasi, Migrasi, dan Ekspresi Tumor Necrosis Factor-α Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia sinensis) pada Sel Fibroblas Keloid Dewi, Lia Sari Utami; Hadi, Restu Syamsul; Eliana, Fatimah; Hakim, Jasir
Medicra (Journal of Medical Laboratory Science/Technology) Vol. 8 No. 1 (2025): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/medicra.v8i1.1769

Abstract

Keloid is a fibroproliferative dermal disorder caused by abnormal wound healing, characterized by excessive collagen deposition that extends beyond the wound boundaries. Keloids can cause pruritus and even pain. In addition to these two issues, keloids also diminish a person's quality of life due to aesthetic problems, especially if they appear on the face or other visible areas of the skin. Combination treatments for keloids are usually more successful than single treatments. Green tea leaf extract contains epigallocatechin-3-gallate polyphenols as anti-inflammatory agents. The aim of this study is to determine the potential of green tea leaf extract by observing the proliferation, migration, and expression of TNF-α in keloid fibroblast cells. Keloid fibroblast cells were divided into five treatment groups (TH100, TH200, TH400, TH800, and DEX100) and one negative control (DS). Cell proliferation was tested using a cell counting kit-8, migration was assessed using a scratch assay, and TNF-α expression was measured using an ELISA kit. All data were analyzed using SPSS, performing One-Way ANOVA, followed by Kruskal Wallis and Mann Whitney tests. The results showed that green tea leaf extract at a dose of 800 μg/mL significantly reduced the proliferation and migration rate of keloid fibroblast cells (p < 0.05). Meanwhile, in the TNF-α expression test, no significant difference was found in reducing TNF-α expression levels in keloid fibroblast cells (p > 0.05). Green tea leaf extract has the potential to be used as an alternative treatment for keloids as it reduces the proliferation and migration of keloid fibroblast cells. 
Hubungan Karakteristik Demografis (Usia dan Jenis Kelamin) dan Kualitas Tidur dengan Risiko Terjadinya Gerd pada Masyarakat Perkotaan Rt 001/Rw 016 dan Rt 06/Rw 006 Kelurahan Cililitan, Jakarta Timur dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Shaffdika, Kyra Narumi Najwa; Eliana, Fatimah; Arsyad, Muhammad
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i1.63660

Abstract

Gastro-esophageal reflux disease (GERD) is a digestive disorder characterized by the backflow of stomach acid into the esophagus, causing symptoms such as heartburn and acid regurgitation. The prevalence of GERD shows a significant upward trend. In Indonesia, the prevalence of GERD in urban populations is reported to reach 9,35%. Demographic characteristics, such as age and gender, are known to influence GERD risk. In addition, poor sleep quality, which is common in urban communities, is thought to contribute to GERD incidence. This study employed a quantitative cross-sectional design using primary data. Data were collected through questionnaires assessing respondents’ demographic characteristics, sleep quality, and GERD. Data analysis was conducted using the chi-square test to determine the relationships between variables. Sleep quality was the only variable significantly associated with the risk of GERD (p = 0,004). In contrast, age (p = 0,451) and gender (p = 0,627) showed no significant association. Poor sleep quality may increase esophageal sensitivity to gastric acid, thereby increasing the risk of GERD. This study shows a significant relationship between sleep quality and the risk of GERD in the urban communities of RT 001/RW 016 and RT 006/RW 006, Cililitan Subdistrict, East Jakarta. Meanwhile, age and gender do not have a significant association. From an Islamic perspective, maintaining health is the responsibility of every individual regardless of age or gender, which can be achieved through the implementation of regular eating and sleeping patterns as a preventive measure to reduce the incidence of GERD.
Dengue Fever and Graves’ Disease Complicated with Guillain-Barré Syndrome: A Case Report Fatimah Eliana Taufik; Juhan Khalila
‎ InaJEMD - Indonesian Journal of Endocrinology Metabolic and Diabetes Vol. 1 No. 2 (2024): InaJEMD Vol. 1, No. 2
Publisher : PP PERKENI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66266/inajemd.v1i2.20

Abstract

GBS is a rare neurological autoimmune disorder in which a person’s immune system mistakenly attacks part of peripheral nervous system and the network of nerves that carries signals from the brain and spinal cord to the rest of the body. GBS is not commonly found alongside Graves’ disease or dengue fever. 35-year-old woman who have been previously diagnosed with Graves’ disease with dengue fever and GBS. On the fifth day of treatment, she showed signs of poor respiratory function, weak neck muscle power, paralyzed and was indicated for intubation. The cerebrospinal fluid analysis showed a consistent finding of GBS of albumin cytological dissociation with an increased level of protein of 80 mg/dL, glucose 50 mg/dL, and a normal lymphocytes cell count of 4/cmm without polymorphs. She was ventilated for three days and began to receive the treatment of intravenous immunoglobulins (IVIG) of 0.4 g/kg/day for a total of five days and remarkable recovery and was extubated on day 3 of IVIG. The case study theorises those endogenous factors, such as gangliocytes and ICAM-1, as well as exogenous factors such as bacterial and viral infection, may play a part in the simultaneous presentation of GBS and Graves’ disease. Antibodies that formed from these factors have an affinity to GM1 and GT1A gangliosides which are typically exposed on the plasma membrane and can cause molecular mimicry as well as cytokine stimulation which is the main feature of GBS. Furthermore, it is thought that preceding infection of dengue virus may also lead to the development of GBS. Intravenous immunoglobulin therapy shows a promising result on treating a simultaneous case of GBS presenting in patient with Graves’ disease and dengue fever. 
Profil Penggunaan Antipsikotik pada Pasien Skizofrenia dengan Sindrom Metabolik di RS. Soeharto Heerdjan Grogol Jakarta 2024 dan Tinjauanya menurut Islam Syifa Aziza Syifa; Citra Fitri; Fatimah Eliana
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i6.5034

Abstract

Pendahuluan: Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang sering mempengaruhi cara berpikir, persepsi, emosi, dan perilaku, yang dapat menyebabkan dampak sosial yang signifikan bagi penderitanya. Pengobatan utama untuk skizofrenia adalah penggunaan antipsikotik, baik tipikal maupun atipikal. Meskipun antipsikotik atipikal lebih sering digunakan karena efek samping yang lebih ringan, mereka tetap berisiko menyebabkan sindrom metabolik, yang merupakan kumpulan kondisi seperti obesitas, dislipidemia, hipertensi, dan diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil penggunaan antipsikotik dan keterkaitannya dengan sindrom metabolik pada pasien skizofrenia yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Herdjan Grogol Jakarta pada tahun 2024. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah observasional deskriptif dengan rancangan cross-sectional, yang mengumpulkan data dari rekam medis pasien. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan Software Statistical Package For Social Science (SPSS) versi 29.0., uji fisher exact. Hasil: Berdasarkan analisis deskriptif terhadap 58 responden pasien skizofrenia di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, umur rata-rata adalah 35.33 tahun dengan rentang 15-83 tahun. Sebanyak 50% responden adalah laki-laki dan 50% perempuan, sementara 79.3% tidak mengalami sindrom metabolik. Penggunaan antipsikotik didominasi oleh jenis atipikal (87.9%). Uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara jenis antipsikotik dan sindrom metabolik, dengan (p>0,05.) Hal ini menunjukkan bahwa profil antipsikotik tidak mempengaruhi kejadian sindrom metabolik pada pasien tersebut. Simpulan: Berdasarkan analisis pasien skizofrenia di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, dapat disimpulkan bahwa mayoritas efek samping antipsikotik terjadi pada pasien tanpa sindrom metabolik. Antipsikotik atipikal, terutama risperidone, adalah yang paling banyak digunakan, meskipun kombinasi dengan clozapine juga terlihat. Tidak ada hubungan signifikan antara jenis antipsikotik dengan sindrom metabolik. Saran meliputi pentingnya monitoring rutin untuk deteksi dini sindrom metabolik dan peran apoteker dalam edukasi pasien. Penelitian mendatang disarankan untuk melibatkan lebih banyak sampel dan mengkaji lebih dalam tentang sindrom metabolik pada pasien ini. Schizophrenia is a psychotic disorder that often affects thinking, perception, emotions, and behavior, causing significant social impacts on sufferers. The primary treatment for schizophrenia is the use of antipsychotics, both typical and atypical. While atypical antipsychotics are more commonly used due to milder side effects, they still carry the risk of causing metabolic syndrome, a collection of conditions such as obesity, dyslipidemia, hypertension, and diabetes. This study aims to analyze the profile of antipsychotic use and its correlation with metabolic syndrome in schizophrenia patients treated at Dr. Soeharto Herdjan Psychiatric Hospital in Grogol, Jakarta, in 2024. The research method employed is a descriptive observational study with a cross-sectional design, utilizing patient medical records for data collection. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses with the Statistical Package for Social Sciences (SPSS) version 29.0, employing the Fisher's exact test. Based on a descriptive analysis of 58 schizophrenia patients at Soeharto Heerdjan Hospital, the average age was 35.33 years, with a range of 15 to 83 years. Fifty percent of the respondents were male and 50% were female, while 79.3% did not experience metabolic syndrome. The use of antipsychotics was predominantly atypical, accounting for 87.9% of cases. Chi-Square testing revealed no significant relationship between the type of antipsychotic used and the occurrence of metabolic syndrome (p>0.05). This indicates that the antipsychotic profile does not influence the incidence of metabolic syndrome in these patients.Based on the analysis of schizophrenia patients at Soeharto Heerdjan Hospital, it can be concluded that the majority of antipsychotic side effects occur in patients without metabolic syndrome. Atypical antipsychotics, particularly risperidone, were the most commonly used, although combinations with clozapine were also observed. There was no significant relationship between the type of antipsychotic used and the presence of metabolic syndrome. Recommendations include the importance of routine monitoring for early detection of metabolic syndrome and the role of pharmacists in patient education. Future research is suggested to involve a larger sample size and to further investigate metabolic syndrome in these patients.