Claim Missing Document
Check
Articles

Karakterisasi Tepung Jagung Termodifikasi Heat Moisture Treatment (HMT) dan Pengaruhnya Terhadap Mutu Pemasakan dan Sensori Mi Jagung Kering Feri Kusnandar; Nurheni Sri Palupi; Oke Anandika Lestari; Sri Widowati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v6n2.2009.76-84

Abstract

Tepung jagung merupakan sumber bahan pangan yang potensial untuk diolah menjadi mi jagung kering. Permasalahan yang masih dihadapi dari penggunaan tepung jagung dalam mi jagung, terutama yang menggunakan 100% tepung jagung alami, adalah sifat kehilangan pemasakan (cooking loss) yang tinggi dan mutu tekstur (elastisitas, kekerasan dan kelengketan) yang masih kurang diterima. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memodifikasi tepung jagung secara fisik dengan teknik heat moisture treatment (HMT) sehingga tepung jagung dapat digunakan dalam formulasi mi jagung. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi proses modifikasi tepung jagung dengan HMT, yaitu suhu (100, 110 dan 120oC), waktu pemanasan (3, 6 dan 9 jam), dan tingkat substitusi (0, 5, 10, 15 dan 20%) tepung jagung HMT untuk menghasilkan mi jagung. Data viskogram yang diukur dengan Rapid Visco Analyzer (RVA) menunjukkan bahwa tepung jagung yang dimodifikasi HMT pada 110oC selama 6 jam dengan kadar air 24% mengalami perubahan profil gelatinisasi dari tipe B menjadi tipe C, dimana profil gelatinisasi memiliki puncak viskositas yang lebih rendah (mengembang secara terbatas), viskositas breakdown yang minimal, ketahanan panas yang lebih tinggi, dan viskositas setback yang lebih rendah dibandingkan tepung jagung alami. Penggunaan tepung jagung HMT 10% dalam formulasi mi jagung menghasilkan mi dengan persen kehilangan akibat pemanasan yang lebih rendah, serta tekstur mi masak dengan kekerasan yang lebih rendah, lebih elastis, dan kelengketan yang lebih rendah dibandingkan mi jagung yang dibuat dari 100% tepung jagung alami, serta lebih disukai. Characterization Of Heat Moisture Treatment (HMT) Corn Flour And Its Effects On Cooking And Sensory Qualities Of Dried Corn Noodles Corn flour is potential to be used as a food ingredient for corn noodle. However, cooked corn noodle made of 100% native corn flour had high cooking loss and unacceptable texture qualities in term of elasticity, firmness and stickiness. One of the method to overcome these problems was by modifying its physical characteristics with a heat moisture treatment (HMT) technique. The objective of this research was to determine a suitable heating temperature (100, 110 and 120°C), time (3, 6 and 9 hours) during HMT modification process of corn flour, and to determine level of substitution (0, 5, 10, 15 and 20%) of HMT corn flour in dried noodle formulation. The Rapid Visco Analysis profile of corn flour modified at a heating temperature of (10°C for 6 hours with a controlled 24% moisture content bad a C-type gelatinization profile compared to B-type for native corn flour. The HMT corn flour had a lower peak viscosity, lower viscosity breakdown, more heat stable, and lower viscosity setback than that of native corn flour. Substitution of native corn flour with 10% HMT corn flour produced a corn noodle with a lower cooking loss, less firm, more elastic, less sticky and more acceptable sensorically compared to that of corn noodle made of 100% native corn flour.
FORMULASI, KARAKTERISASI, DAN OPTIMASI WAKTU REHIDRASI PRODUK NASI KUNING INSTAN Sri Widowati; Nur Asni; Farida Nuraeni
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v17n2.2020.95-107

Abstract

Nasi kuning instan menjadi salah satu alternatif menu sarapan pagi karena memiliki waktu penyajian yang singkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan formula terbaik produk nasi kuning instan dengan waktu rehidrasi yang optimum dan menentukan karakteristik fisikokimia produk nasi kuning instan. Faktor yang diuji adalah formulasi bumbu (kontrol dengan menggunakan bumbu instan, formula A menggunakan 1 paket bumbu nasi kuning, formula B menggunakan 1,25 paket bumbu nasi kuning dan formula C menggunakan 1,50 paket bumbu nasi kuning) dan kadar amilosa beras (rendah, sedang dan tinggi). Hasil uji analisis one way anova menunjukkan bahwa antara formulasi dan kadar amilosa beras berbeda secara nyata dari karakteristik fisikokimia nasi kuning instan (p<0,05). Formula dan nasi kuning instan yang terpilih adalah formula 1,25 paket bumbu nasi kuning dari beras Sintanur dengan kadar amilosa rendah adalah waktu rehidrasi 4,59 menit, rendemen 90,23%, volume pengembangan 30,89%, daya serap air 49,68%, densitas kamba 0,62 g/mL, nilai °Hue diatas 90%, dan nilai kekerasan 74,03%. Produk ini mengandung kadar air 8,07%, abu 3,35%, protein 9,19%, lemak 2,08%, karbohidrat 76,32%, dan kadar pati 64,11 %. Formulation, Characterization, and Optimization of the Rehydration of Yellow Rice Instant.Instant yellow rice is an alternative to breakfast because it has a short testing time. The purpose of this study was to produce the best formula for instant yellow rice products with optimum rehydration time and determine the physicochemical characteristics of instant yellow rice products. Factors tested were seasoning formulations (control using instant seasoning, formula A using 1 package of yellow rice seasoning, formula B using 1,25 package of yellow rice seasoning and formula C using 1,50 packages of yellow rice seasoning) and amylose content of rice (low, medium and high). One way ANOVA analysis results showed that between the formulation and amylose content of rice was significantly different from the physicochemical characteristics of instant yellow rice (p <0,05). The formula and instant yellow rice selected were formula 1,25 package of yellow rice seasoning from Sintanur rice with low amylose content, rehydration time 4,59 minutes, yield 90,23%, development volume 30,89%, water absorption 49,68%, kamba density 0,62 g/mL , the ° Hue value is above 90%, and the hardness value is 74,03%. This product contains 8,07% water content, 3,35% ash, 9,19% protein, 2,08% fat, 76,32% carbohydrate, and 64,11% starch content.
STUDI SIFAT FISIKOKIMIA DAN FUNGSIONAL PADI LOKAL (MAYANG PANDAN) PADA BERBAGAI TINGKAT DERAJAT SOSOH Erico Febriandi; Sri Widowati; Rizal Sjarief
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v14n2.2017.79-87

Abstract

Mayang Pandan adalah padi merah lokal Bangka Belitung yang banyak dikonsumsi warga lokal, baik dalam bentuk pecah kulit ataupun disosoh. Namun hingga saat ini belum ada penelitian yang mengkaji sifat fisikokimia tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisikokimia, sifat fungsional dan organoleptik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan derajat sosoh (DS) (0% sebagai kontrol, 80, 90, dan 100%). Dari hasil penelitian diketahui bahwa DS 0 % memiliki nilai kadar lemak, protein, karbohidrat, antosianin, Vitamin B1, dan daya cerna pati secara berturut-turut yaitu 3,69 %, 9,84 %, 84,87%, 364,20 ppm, 0,40 mg/100g, dan 45,05%. Untuk DS yang memiliki nilai gizi yang paling mendekati DS 0% adalah DS 80 %, dengan nilai kadar lemak, protein, karbohidrat, antosianin, Vitamin B1, dan daya cerna pati secara berturut-turut yaitu 1,99%, 9,48 %, 87,64%, 102,19 ppm, 0,20 mg/100g, dan 47,50%. Hasil uji organoleptik Mayang Pandan dengan derajat sosoh 80 % memiliki rasa yang paling disukai panelis. Hal ini menunjukkan Mayang Pandan berpotensi sebagai padi lokal unggul bila dibandingkan dengan Aek Sibundong.
Pengaruh Komposisi Tepung Sukun Komposit Terhadap Kualitas Biskuit nFN Suyanti; Sri Widowati; Dwi Amiarsi
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v8n1.2011.19-23

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi terbaik tepung komposit berbasis tepung sukun pada pembuatan biskuit. Tepung komposit sebagai bahan baku biskuit terdiri atas tepung sukun, tepung sorgum dan tepung gandum lokal. Enam formula biskuit dibuat dengan persentase perbandingan tepung sukun : tepung sorgum : tepung gandum lokal, yaitu 100:0:0; 60:40:0; 60:30:10; 60:20:20; 60:10:30; dan 60:0:40. Keenam formula tepung selanjutnya dibuat biskuit dengan penambahan mentega, gula halus, telur kuning, baking powder dan maizena. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan ulangan tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan biskuit terbaik dengan formula tepung sukun: tepung sorgum: tepung gandum lokal = 60:30:10. Biskuit tersebut mempunyai kadar air 4,7%, abu 1,7%, lemak 28,39%, protein 7,91%, dan karbohidrat 57,20%, serta energi 660 kkal/100g, warna, rasa dan kerenyahan disukai dan rendemen 91,01%. The Effect Of Composition Of Breadfruit Flour Composite On Quality Of Biscuits.The aim of this study was to obtain the best composition of breadfruit flour composite for making biscuits. The composite flour consisted of breadfruit flour, sorghum flour and local wheat flour. Six formulas of the composite flour were prepared based on breadfruit flour:sorghum flour:local wheat flour ratio. The six formulas tested were 100:0:0, 60:40:0, 60:30:10, 60:20:20, 60:10:30; and 60:0:40. Butter, powdered sugar, egg yolks, baking powder and cornstarch were added to each formula and the dough was then baked The experiment was arranged in a completely randomized design with three replications. The result showed that the formula consisting of breadfruit flour:sorghum flour:local wheat flour = 60:30: 10 produced biscuits with the best characteristics and acceptability. The biscuits contained 4.7% moisture, 1.7% ash, 28.39% fat, 7.91% protein, 57.20% carbohydrate, 660 kkal/100g energy and the biscuits' yield was 91.01%. The sensory characteristics of biscuits (color, taste and crispness) were generally acceptable.
Karakterisasi Sifat Fisikokimia, Sensori, Dan Fungsional Nasi Instan Dari Beras Amilosa Rendah kirana sanggrami sasmitaloka; Sri Widowati; Ermi Sukasih
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v17n1.2020.1-14

Abstract

Gaya hidup masyarakat di zaman modern dituntut untuk bergerak cepat termasuk dalam menyiapkan makanan. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif proses untuk mempercepat pengolahan beras dengan tetap mempertahankan nilai gizinya. Beras amilosa rendah memerlukan waktu pemasakan yang cepat dengan tekstur yang pulen sehingga cocok digunakan sebagai bahan baku nasi instan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik fisikokimia, sensori, dan fungsionalnya nasi instan dari beras amilosa rendah. Bahan baku yang digunakan adalah beras Sintanur. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan perlakuan suhu pembekuan (-4oC dan -20oC) dan waktu pembekuan (12, 18, dan 24 jam), diulang empat kali. Proses produksi nasi instan menggunakan beras kadar amilosa rendah terdiri dari perendaman dalam larutan natrium sitrat 5% (1:2), pencucian, pengaronan, pemasakan menggunakan rice cooker, pendinginan pada suhu -20oC selama 24 jam, thawing, dan pengeringan. Hasil analisa ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa suhu pembekuan, waktu pembekuan, dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap karakteristik fisikokimia dan fungsional. Nasi instan memiliki karakteristik waktu rehidrasi 3,19 menit, densitas kamba 0,50 g/ml, rendemen 96,80%, daya serap air 48,73% dan volume pengembangan 154,99%. Nasi instan mengandung kadar air 12,39%, kadar abu 0,67% (bk), kadar lemak 0,18% (bk), kadar protein 0,88% (bk), kadar karbohidrat 90,28% (bk), kadar amilosa 17,28%, dan daya cerna pati 62,37%. Hasil uji sensori menunjukkan bahwa berdasarkan uji kruskal-wallis (p>5%) panelis menyukai warna, rasa, tekstur, aroma, dan penampakan nasi instan pada perlakuan pembekuan suhu -20oC selama 24 jam.Characterization of Physicochemical, sensory, and fungtional Properties of instant rice from low amylose rice.In the modern lifestyle people are required to move quickly, including in preparing food. Therefore, alternative processes should be sought to accelerate rice processing while maintaining its nutritional value. This research aimed to produce instant rice using low amylose content with their physicochemical, sensory, and functional characteristics. Raw material used was Sintanur rice. The experiment was conducted in complete randomized design of factorial with treatments of freezing temperature (-20 and -4oC) and duration (12, 18, and 24 hour), with four replications. The results of analysis of variance (ANOVA) showed that between freezing temperature and duration were significantly different of their physicochemical and functional characteristics (p<0.05). Instant rice production process using low amylose rice consist of soaking in 5% sodium citrate solution (1: 2), washing, staining, cooking using a rice cooker, freezing at -20oC for 24 hours, thawing, and drying. Characteristics of instant rice produced were rehydration time of 3.19 minutes, bulk density of 0,50 g/ml, yield of 96,80%, water absorption of 48,73%, and volume expansion of 154,99%. This product contained of 12,39% moisture, 0,67% ash (db), 0,18% fat (db), 0,88% protein (db), 90,28% carbohydrate (db), 17,28 amylose, and 62,37% starch digestibility.  Sensory test results showed that the panelists liked the color, taste, texture, aroma, and appearance of instant rice.
Stabilisasi Bekatul Dengan Ekstruder Ulir Ganda Menggunakan Response Surface Methodology Ineke Kusumawaty; Dedi Fardiaz; Nuri Andarwulan; Sri Widowati; Slamet Budijanto
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v10n1.2013.27-38

Abstract

Keterbatasan pemanfaatan bekatul dalam pangan disebabkan oleh sifatnya yang mudah tengik sehingga perlu dilakukan stabilisasi. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum stabilisasi bekatul dengan ekstruder ulir ganda tanpa die sebagai bahan bakuekstraksi protein. Optimasi kondisi stabilisasi bekatul dilakukan dengan menggunakan response surface methodology (RSM) dengan central composite design (CCD)dua faktor yaitu X1 (suhu/oC) dan X2 (kecepatan ulir/Hz).Pengolahan data menggunakan program Design Expert 7.0® yang memberikan model persamaan pengaruh suhu dan kecepatan ulir ekstruder terhadap respon kadar air, kadar protein terlarut, dan aktivitas lipoksigenase. Hasil optimasi memberikan kondisi suhu ekstrusi 130,96oC dan kecepatan ulir 26,65 Hz. Bekatul yang dihasilkan memiliki kadar air 7,02%, kadar protein terlarut 2,04%(bk), aktivitas lipoksigenase 0,007?mol/menit/ml, dan stabilitas oksidatif yanglebih tinggi yaitu 20,00 jam daripada bekatul yang tidak distabilisasi 13,50 jam.
Komposisi Kimia dan Kristalinitas Tepung Pisang Termodifikasi secara Fermentasi Spontan dan Siklus Pemanasan Bertekanan-Pendinginan Nurhayati Nurhayati; Betty Sri Laksmi Jenie; Sri Widowati; Harsi Dewantari Kusumaningrum
agriTECH Vol 34, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.404 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9504

Abstract

Studies on the chemical composition and crystallinity of the native banana flour and modified banana flour were carried out on “agung var semeru” banana (Musa paradisiaca formatypica). Native banana flour was produced by drying the banana slice, ground and passed through a 80 mesh screen. Modified banana flour were produced by spontaneous fermentation (room temperature, 24 h)and one or two cycles of  autoclaving (121 oC, 15 min) followed by cooling (4 oC, 24 h) of the slices before drying process. The results showed that spontaneous fermentation of banana slices increased amylose content. Two cycles of autoclaving-cooling significantly increased resistant starch content of banana flour (39.13 – 42.68% db) than the one cycle (29.34 – 35.93% db). Retrogradation process decreased the crystallinity from 18.74% -20.08% to 6.98% - 9.52%. X-ray diffraction showed that the starch granule was type C granule as a mixtureof A and B polymorphs.ABSTRAKKajian tentang komposisi kimia dan kristalinitas tepung pisang alami dan tepung pisang termodifikasi dilakukan pada pisang var agung semeru (Musa paradisiaca formatypica). Tepung pisang alami (kontrol) dihasilkan dengan mengeringkan irisan pisang, menghancurkan dan mengayak tepung dengan ayakan 80 mesh. Tepung pisang modifikasi dihasilkan dengan cara irisan pisang diberi perlakuan fermentasi spontan (suhu kamar, 24 jam) dilanjutkan dengan satu atau dua siklus pemanasan bertekanan (121 oC, 15 menit) yang diikuti dengan pendinginan (4 oC, 24 jam) sebelum dilakukan proses pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi spontan mampu meningkatkan kadar amilosa. Dua siklus pemanasan bertekanan-pendinginan meningkatkan pati resisten (RS) tepung pisang dengan nyata (39,13 – 42,68% bk) dibandingkan dengan yang satu siklus (29,34 – 35,93% bk). Proses pemanasan bertekananpendinginan menurunkan kristalinitas tepung pisang dari 18,74-20,08% menjadi 6,98-9,52%. Difraksi sinar X menunjukkan granula pati pisang adalah granula tipe C yang merupakan campuran dari granula tipe A dan tipe B.
Deteksi Residu Oksitetrasiklin pada Ikan Lele yang Dipasarkan di Kota Yogyakarta Nisa Hakimah; Wari Pawestri; Dewi Nurmalita Suseno; Sri Widowati Anjarsari
Jurnal Veteriner Vol 22 No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.474 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.4.499

Abstract

Tingkat konsumsi ikan di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring dengan kesadaran masyarakat terhadap pemenuhan gizi dan meningkatnya pengetahuan tentang manfaat makan ikan bagi tubuh. Kebutuhan ini harus diimbangi dengan peningkatan kuantitas dan kualitas produk ikan. Salah satu kontaminan yang dapat menimbulkan permasalahan adalah cemaran antibiotik. Oksitetrasiklin merupakan antibiotik yang banyak digunakan pada dunia perikanan. Penelitian bertujuan untuk melakukan validasi metode kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) untuk analisis residu oksitetrasiklin dalam daging ikan lele dan melakukan deteksi kejadian residu oksitetrasiklin pada daging ikan lele yang dipasarkan di wilayah Kota Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap validasi dan tahap penelitian lapangan. Validasi metode preparasi sampel daging ikan lele menggunakan alat KCKT dan meliputi parameter spesifisitas, presisi, akurasi,dan linearitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat KCKT yang digunakan dalam penelitian dapat digunakan untuk melakukan deteksi residu oksitetrasiklin dalam daging ikan lele dengan baik. Penelitian lapangan menggunakan 59 sampel ikan lele yang diambil dari penjual yang berbeda di 16 pasar tradisional wilayah Kota Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan adanya residu oksitetrasiklin, ditunjukkan dengan hasil positif (melampaui batas maksimum residu) pada 25% dari keseluruhan sampel.
Karakterisasi Nasi Instan yang Diproduksi dengan Metode Freeze Drying Imia Ribka Banurea; Kirana S Sasmitaloka; Ermi Sukasih; Sri Widowati
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i2.5998

Abstract

ABSTRAK: Nasi instan merupakan olahan beras yang telah dimasak kemudian dikeringkan agar bisa disimpan dalam waktu lebih lama, tetapi dapat disajikan dalam waktu yang lebih cepat. Tahapan proses pengolahan nasi instan meliputi pencucian dan perendaman, pemasakan hingga diperoleh nasi, pembekuan dan pengeringan. Pengeringan merupakan salah satu tahapan penting untuk menghilangkan kandungan air di dalam nasi sehingga menjadi produk kering. Penelitian pengolahan nasi instan yang telah banyak dilakukan adalah dengan menggunakan pengering konvensional. Untuk meningkatkan kualitas, maka pada penelitian ini digunakan metode pengeringan beku (freeze drying). Pengolahan nasi instan dengan metode pengeringan beku (freeze drying) dapat menghasilkan karakteristik nasi instan yang lebih baik dibandingkan dengan metode pengeringan konvensional, ditunjukkan dengan nilai densitas kamba dan waktu rehidrasi yang lebih kecil, rasio rehidrasi yang lebih tinggi, kadar air, abu, lemak dan protein yang lebih rendah, serta karbohidrat yang lebih tinggi.Kata kunci: densitas kamba, freeze drying, karakteristik, nasi instan, waktu rehidrasiABSTRACT: Instant rice is processed rice that has been cooked and then dried so that it can be stored for a longer time, but can be served in a shorter time. The stages of the instant rice processing include washing and soaking, cooking until the rice is obtained, freezing and drying. Drying is one of the important steps to remove water content in rice so that it becomes a dry product. The research of instant rice processing that has been done a lot is by using conventional dryers. To improve quality, this research uses freeze drying method. The processing of instant rice using the freeze drying method can produce instan rice better than conventional drying methods, indicated by the value of density and rehydration time is lower, higher rehydration ratio, lower moisture, ash, fat and protein content, higher carbohydrates.Keywords:  density, freeze drying, characteristics, instant rice, rehydration time
HYPOGLYCEMIC ACTIVITY OF SOME INDONESIAN RICE VARIETIES AND THEIR PHYSICOCHEMICAL PROPERTIES Sri Widowati; Made Astawan; Deddy Muchtadi; Tutik Wresdiyati
Indonesian Journal of Agricultural Science Vol 7, No 2 (2006): October 2006
Publisher : Indonesian Agency for Agricultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/ijas.v7n2.2006.p57-66

Abstract

Diabetes mellitus is a spectrum of inherited and acquired disorders characterized by elevating blood glucose levels. Diabetes is an abnormal carbohydrate metabolism, therefore, diet therapy for diabetics plays a key role in the management of the disease. Most Indonesian people consume rice as source of energy and protein. Generally, diabetics consume very limited rice because they believe that rice is the one of hyperglycemic food, even though different rice varieties have large range of glycemic index. The study aimed to evaluate hypoglycemic properties by using rat assay and chemical characteristics of 10 Indonesian rice varieties, i.e. Pandan Wangi, Rojolele, Bengawan Solo, Cenana Bali, Memberamo, Celebes, Ciherang, Batang Piaman, Cisokan, and Lusi. Taj Mahal, an herbal ponni imported rice, was used as a comparison. Male Sprague Dawley rats (150- 200 g body weight) were used for hypoglycemic assay. The rats were fasted overnight before the blood glucose was measured in the morning. The rats were then feed with 4.5 g rice per kg body weight by oral administration, followed by 1 ml of 10% glucose solution in the next 30 minutes. The blood glucose was measured for the next 30, 60, 90, and 120 minutes. Changes in blood glucose concentrations (mg dl-1) before and after the oral administrations were calculated for each rice variety tested. Results showed that Cisokan and Batang Piaman were categorized as low glycemic responses and Ciherang as high glycemic response, while the other varieties (Memberamo, Cenana Bali, Lusi, Bengawan Solo, Pandan Wangi, Celebes, and Rojo Lele) showed moderate glycemic responses. As the best hypoglycemic activity, Cisokan contained high amylose (27.6%), fat (0.87%), total dietary fiber (6.24%), resistant starch (2.02%), and lowest starch digestibility (52.2%), which are ideal for diabetic’s consumption. Ciherang as the worst hypoglycemic activity had low resistant starch (1.78%), low total dietary fiber (4.52%), and medium amylose (23.0%). This study implies that Cisokan variety is suitable for diabetic’s consumption.
Co-Authors aditya bayu prianto Aqila Fitri Alitu B.A. Susila Santosa B.A.S. Santosa Betty Sri Laksmi Jenie Betty Sri Laksmi Jenie Deddy Muchtadi Dedi Fardiaz Dewi Nurmalita Suseno Donni Richasdy Dwi Amiarsi Elvira Syamsir Erico Febriandi Ermi Sukasih Ermi Sukasih Ermi Sukasih Ermi Sukasih Fahma Yuliwardi Fanani, Muhammad Zainal Farida Nuraeni Feri Kusnandar H.A. Prasetia Harsi D. Kusumaningrum Hendra Adi Prasetia heti herawati Heti Herawati Hovely Wahyu Simatupang Husen, Jati H. Imia Ribka Banurea Imia Ribka Banurea Indira Saputra Indradewa, Rhian Ineke Kusumawaty Inneke Kusumawaty Insih Wilujeng Ira Mulyawanti Kirana S Sasmitaloka Kirana Sanggrami Sasmitaloka Kirana Sanggrami Sasmitaloka Kirana Sanggrami Sasmitaloka kirana sanggrami sasmitaloka MADE ASTAWAN Maesaroh, Mia Maryunia Siwi Utami Muhammad Ari Arifianto Muhammad Rosyidul Ibad N Nurhayati N.E. Suyatma Nadya Ichsani nFN Febriyezi Nfn Hernani nFN Sudaryono nFN Suismono nFN Suyanti Nisa Hakimah Nugraha Edhi Suyatma Nur Asni Nurhayati Nurhayati Nuri Andarwulan Oke Anandika Lestari Palupi, Nurheni Sri prima luna PURWASIH, DESY Purwiyatno Hariyadi Rahmawati Nurdjannah Ridwan Rachmat Rizal Sjarief Rizal Syarief Rizal Syarief Rosa Reska Riskiana Sabar Nurohman Sam Herodian Sarah Anita Apriliani Sarwo E. Wibowo Shinta Dewi Ardhiyanti Sidiq, Adity M. Silfi Nur Amalia Siti Harnina Bintari Slamet Budijanto Solly Aryza Sugiyono . Tutik Wresdiyati Usman Ahmad Verra Mellyana Wari Pawestri Widjayanti, Widjayanti Widowati, Susilowati Winda Haliza Wiwit Amrinola