Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Persepsi Anak Muda Kristen terhadap Ibadah Minggu Melalui Media Sosial YouTube Live Streaming di Masa Pandemi Covid-19 Herman, Wynne Margaretha; Oktavianti, Roswita
Koneksi Vol. 6 No. 2 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i2.15693

Abstract

Online service has been implemented since the issuance of a goverment to reduce various activities from outside the home. Online service forms a different perception for each congregation, especially Christian’s youth. Perception can be interpreted as a process of giving meaning or cognitive processes from a person that used to interpret and understand the world around him. This study raises the issue of the perception of young Christians congregations towards online worship carried out through YouTube live streaming social media during the Covid-19 pandemic. This research uses a qualitative approach with a case study method. This research case study was conducted at the Indonesian Bethel Church (GBI), Tanjung Duren, West Jakarta. The subject of this research is the young congregation of GBI Tanjung Duren, West Jakarta, and the object of the research is the perception of young people about online service through YouTube live streaming during the Covid-19 pandemic. This research used interview technique to collect data. The results show that the perception of young Christians congregations during the pandemic has been going well, online service also have advantages in terms of flexibility, this service has been running as expected by the young Christians. However, the young Christians, hopes that online service can be improvised, especially in terms of interaction. Ibadah secara daring mulai diberlakukan semenjak dikeluarkannya kebijakan untuk mengurangi berbagai aktivitas dari luar rumah. Ibadah daring kemudian membentuk persepsi yang berbeda bagi setiap jemaat, khususnya anak muda Kristen. Persepsi dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian arti atau proses kognitif dari seseorang yang dipergunakan untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya. Penelitian ini mengangkat persoalan mengenai persepsi jemaat muda Kristen terhadap ibadah daring yang dilakukan melalui media sosial YouTube live streaming selama pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Gereja Bethel Indonesia (GBI), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Adapun subyek dari penelitian ini adalah jemaat muda GBI Tanjung Duren, Jakarta Barat, dan objek dari penelitian ini adalah persepsi anak muda mengenai ibadah daring melalui YouTube live streaming selama pandemi Covid-19. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi jemaat muda Kristen selama menjalani ibadah daring saat pandemi Covid-19 adalah bahwa ibadah daring sudah berjalan dengan baik, terlebih ibadah daring memiliki kelebihan dari segi fleksibilitas sehingga dapat dikatakan sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh jemaat. Kendati demikian, jemaat khususnya anak muda berharap agar ibadah yang dilakukan secara daring mengalami improvisasi terutama dari segi interaksi.
Personal Branding Influencer pada Media Sosial Tiktok (Studi Kasus pada Akun @veliaveve) Octavianus, Abraham; Oktavianti, Roswita
Koneksi Vol. 6 No. 2 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i2.15779

Abstract

Tiktok is a social media platform where people can enjoy watching videos or content. People who work on making videos or this content are referred to as content creators or influencers. An influencer is not only always required to provide creative ideas in each content but also needs to build a good self-image in the eyes of the public, commonly called personal branding. It is the basis of this research, namely how an influencer creates personal branding. According to Peter Montoya, eight concepts make up personal branding: specialization, leadership, personality, difference, visibility, unity, constancy, and good name. Seeing the correlation between personal branding and influencers, the researcher chose Velia as the research subject. Velia herself manages the @veliaveve account, which is her account and now has 1.4 million followers on the Tiktok channel. The formulation of the problem in this study is how personal branding influencers on Tiktok social media are. Researchers tried to examine Velia's account using a qualitative case study method approach. The results of this study also state that it is essential to understand personal branding in terms of being an influencer. The exciting thing about these eight concepts is the concept of a good name. Influencers maintain a good name by building relationships with their followers by replying to comments or going live so they can communicate directly. Tiktok merupakan platform media sosial dimana pengguna menikmati tontonan berupa video. Orang yang bekerja membuat video atau konten ini disebut sebagai content creator atau influencer. Influencer dituntut memberikan ide-ide kreatif dalam tiap kontennya. Seorang influncer juga perlu membangun citra diri yang baik di mata masyarakat atau disebut personal branding. Hal ini yang menjadi dasar penelitian ini yaitu bagaimana cara seorang influencer menciptakan personal branding di media social Tiktok. Menurut Peter Montoya terdapat delapan konsep pembentuk personal branding yaitu, spesialisasi, kepemimpinan, kepribadian, perbedaan, terlihat, kesatuan, keteguhan, dan nama baik. Peneliti memilih Velia sebagai subjek penelitian. Velia sendiri mengelola akun @veliaveve di mana akun tersebut adalah akun pribadi miliknya yang sekarang memiliki 1,4 juta pengikut di kanal Tiktok. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa menjadi influencer perlu mengerti konsep personal branding. Hal yang menarik dari delapan konsep ini terdapat pada konsep nama baik. Cara influencer dalam menjaga nama baik yakni dengan membangun relasi dengan para pengikutnya seperti membalas komentar, dan melakukan live untuk berkomunikasi secara langsung dengan pengikut.
MENCEGAH DAMPAK NEGATIF DUNIA ONLINE PADA PENYANDANG DISABILITAS INTELEKTUAL Oktavianti, Roswita
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 1 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i1.24531

Abstract

Persons with intellectual disabilities are deemed prone to be a victim of violation and deviant behaviour on the digital platform. It causes their parents and family caregiver to give extraordinary protection towards them when using social media. Indonesian rule No.8/2016 has guaranteed their rights equally under the principle of protection and equality, including the usage of media. However, family and carers must consider how to share information on social media. Therefore, a community services member of the Faculty of Communication, Universitas Tarumanagara, along with Komunitas Peduli Down Syndrom in Indonesia, hold an online seminar on national children's day 2022, which aim to overcome the negative impacts of online media on intellectual disability. This online event is carried out by sharing and discussing, gaming and surveying. The questionnaire is distributed to identify social media usage among intellectual disabilities. The event is attended by intellectual disability, parents, and carers. Finding shown that intellectual disability in Indonesia actively engages on social media. They also open their account publicly. Interestingly, intellectual disability attending this event stated that they had never experienced bullying expressed directly on social media. In addition, the majority of them pointed to mothers as their trusted persons when using social media. Penyandang disabilitas intelektual dianggap rentan menjadi korban pelaku kejahatan dan perilaku menyimpang di dunia digital. Ini menyebabkan orangtua dan pengasuh memberikan perlindungan dan pengamanan ekstra bagi penyandang disabilitas intelektual saat menggunakan media sosial. Dengan prinsip perlindungan dan kesetaraan sesuai UU Nomor 8 Tahun 2016, penyandang disabilitas perlu dijamin haknya dan didukung dalam menggunakan media sosial termasuk disabilitas intelektual. Namun, keluarga dan pengasuh sebagai pendamping, perlu mempertimbangkan bagaimana memberikan informasi tentang dampak dari perilaku online yang berisiko. Oleh karena itu Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara bersama dengan Komunitas Peduli Down Syndrom menyelenggarakan kegiatan webinar dalam rangka Hari Anak Nasional 2022 yang bertujuan mencegah dampak negatif dunia online pada anak dengan disabilitas intelektual. Kegiatan daring dilakukan dengan pemberian materi, diskusi, kuis, hingga pengisian survei untuk mengidentifikasi penggunaan media sosial pada penyandang disabilitas intelektual. Kegiatan dihadiri oleh penyandang disabilitas intelektual, orangtua, dan pengasuh. Hasilnya, penyandang disabilitas intelektual di Indonesia aktif bermedia sosial dan membuka akun mereka untuk publik. Hal menarik yang ditemukan yaitu bahwa peserta acara tidak pernah mengalami perundungan yang ditujukan secara langsung di akun media sosial mereka. Selain itu, mayoritas mengatakan bahwa ibu adalah pendamping dalam bermedia sosial.