Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

ALGORITMA, ECHO CHAMBER, POLARISASI, DAN VIRALITAS DI TIKTOK PADA PEMILIHAN PRESIDEN 2024 Tri Wahyuti; Fitri Sarasati; Riski Mohamad Baskoro; Herman Paninggiran; Sudarmanto, Bagus
Konvergensi Vol 6 No 2 (2025): Konvergensi: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/5f442c71

Abstract

This research critically analyzes the role of TikTok's algorithm in forming echo chambers, strengthening political polarization, and driving the virality of political content during Indonesia's 2024 Presidential Election. As a social media platform with over 112 million active users in Indonesia, predominantly aged 18-24, TikTok has become a strategic arena for digital political discourse competition. Using an interdisciplinary approach combining media studies, political science, and digital technology, this research reveals how TikTok's machine learning-based algorithm compiles individual user timelines based on engagement patterns rather than source credibility or chronology, thereby creating echo chambers that limit the diversity of political information. Findings indicate that political content with emotional elements, dramatization, and entertainment (politainment) has a higher probability of virality compared to factual content, posing serious implications for the quality of public deliberation and digital democracy in Indonesia. Based on the analysis of virality dynamics and digital polarization, this research proposes an Algorithm Democratization Model that combines aspects of transparency, regulation, literacy, platform architecture, and research to create a healthier digital ecosystem that supports democratic discourse.Keywords: TikTok algorithm, echo chamber, political polarization, virality, digital democracy
FENOMENA DIPLOMASI PUBLIK DI ERA POST-TRUTH: DARI KESEPAHAMAN BERSAMA MENUJU MANIPULASI PESAN PROPAGANDA Baskoro, Riski M; Sarasati, Fitri; Wahyuti, Tri; Paninggiran, Herman NK; Santoso, Prasetya Yoga
Konvergensi Vol 6 No 2 (2025): Konvergensi: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/p7mbxa80

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membongkar secara kritis bagaimana praktik diplomasi publik di zaman Post-Truth telah mendistorsi "wujud asli" dari diplomasi publik itu sendiri yang memiliki tatanan nilai-nilai, makna dan juga karakter dialogisnya menuju ke arah praktik propaganda yang manipulatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang fokus pada pemaknaan dan representasi dari pada praktik-praktik diplomasi publik, serta menggunakan analisis wacana atau menampilkan beberapa studi kasus dan mengkaji fenomena dalam konteks era Post-Truth dengan cara yang kritis. Penelitian ini menggunakan teori diplomasi publik serta pengembangan dari teori diplomasi publik hingga kini, lalu teori diplomasi publik pada akhirnya disejajarkan dengan teori propaganda, karena dalam kerangka teorinya, tulisan ini membahas bagaimana diplomasi publik bertansformasi menjadi propaganda. Temuan dari penelitian ini sesuai dengan penjelasan teori sebelumnya, yakni praktik diplomasi publik di era post-truth tidak lagi berfokus pada dialog dua arah untuk menciptakan kesepahaman bersama, melainkan fokus kepada persuasi satu arah, melakukan seleksi terhadap fakta dan melakukan secara sadar melakukan rekayasa terhadap persepsi, hasilnya adalah diplomasi publik masa kini telah terjebak dalam propaganda, strategi komunikasi yang dilakoni oleh pemerintah merupakan kendaraan utama untuk menghegemoni, terlihat nampak halus nan etis dalam praktiknya tetapi nyatanya diselipi propaganda. Artinya, diplomasi publik di era post-truth semakin sulit dibedakan dari kegiatan propaganda atau bahkan dapat dikatakan diplomasi publik adalah terminologi lain dari propaganda.
Gerindra’s ‘Gemoy’ Digital Democracy: Fragmenting the Public Sphere in Election 2024 Fitri Sarasati; Tri Wahyuti; Andi Faisal Bakti; Rashmi Ranjan Panigrahi
Jurnal Mamangan Vol 13, No 2 (2024): Special Issue: Jurnal Ilmu Sosial Mamangan, Accredited 2 (SK Dirjen Ristek Dikt
Publisher : LPPM Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/mamangan.v13i2.10076

Abstract

This study investigates the transformation of political communication in Indonesia’s 2024 Presidential Election through Gerindra’s viral ‘Gemoy’ campaign, which employed emotionally resonant digital content to construct a relatable image of candidate Prabowo Subianto. Grounded in the frameworks of Viral Democracy Syndrome, Normalization and Illusion of Participation, and Fragmented Public Sphere theory, the research examines how algorithmic curation, affective aesthetics, and symbolic engagement contribute to democratic disillusionment and discursive fragmentation. Using a positivist-quantitative approach, data were collected via structured questionnaires from 200 purposively selected respondents Indonesian voters exposed to ‘Gemoy’ content. Statistical analyses, including regression and ANOVA, reveal three key findings. First, audience expectations for digital democracy significantly predict digital normalization experiences (R² = .438), indicating an “expectation-disillusionment paradox” wherein higher democratic hopes lead to increased recognition of symbolic manipulation. Second, a dual-pathway effect shows that while digital democracy initially reduces perceived fragmentation, normalization experiences strongly increase it (R² = .499), highlighting how algorithmic logic fosters echo chambers, polarization, and discourse trivialization. Third, initial exposure modality to ‘Gemoy’ content explains 87.5% of the variance in digital democracy expectations, validating the “platform determinism” hypothesis and illustrating how algorithmic architectures precondition political perceptions. The study concludes that while the ‘Gemoy’ strategy achieved short-term viral success, it also triggered long-term democratic deficits by programming audience consciousness and degrading deliberative engagement. This research contributes to the digital political communication literature by demonstrating the psychological and structural consequences of symbolic campaigns in Southeast Asia. It recommends policy interventions on algorithmic transparency, critical digital literacy beyond fact-checking, and the creation of deliberative digital spaces. Future research should explore longitudinal effects of viral political strategies and develop interdisciplinary models of technologically mediated political cognition.
Komunikasi Lingkungan dalam Pemberitaan Media Online tentang Krisis Air Bersih di Indonesia Tri Wahyuti
Jurnal Riset Komunikasi Vol 17, No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jrk.v17i1.38408

Abstract

Krisis air bersih merupakan salah satu persoalan lingkungan yang semakin mendesak di Indonesia, terutama akibat perubahan iklim dan degradasi sumber daya alam. Isu ini kerap diberitakan media, namun cara media membingkai (framing) isu krisis air bersih dapat memengaruhi cara publik memahami masalah maupun solusi yang ditawarkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana komunikasi lingkungan terkait krisis air bersih dikonstruksikan dalam pemberitaan media nasional dan media lokal. Studi ini menggunakan metode analisis framing model Entman dengan fokus pada identifikasi problem definition, causal interpretation, moral evaluation, dan treatment recommendation. Data penelitian diambil dari pemberitaan CNN Indonesia sebagai representasi media nasional dan Radar Banten sebagai representasi media lokal, yang menyoroti isu krisis air bersih pada periode 2023–2025. Hasil penelitian diharapkan dapat menunjukkan perbedaan cara media nasional dan lokal membingkai krisis air, misalnya apakah lebih menekankan aspek bencana, kesulitan warga, atau solusi pemerintah dan masyarakat. Penelitian ini berkontribusi pada kajian komunikasi lingkungan dengan memberikan gambaran bagaimana media berperan dalam membangun wacana publik mengenai isu krisis air bersih di Indonesia.
Transformasi Spiritual Menjadi Komoditas Digital: Analisis Ekonomi Politik Konten Mualaf di Podcast YouTube Tri Wahyuti; Udi Rusadi
Jurnal Public Relations (J-PR) Vol. 7 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jpr.v7i1.9259

Abstract

Penelitian ini menganalisis representasi artis mualaf dalam podcast YouTube sebagai wujud komodifikasi konten spiritual melalui kerangka ekonomi politik komunikasi Vincent Mosco. Dengan menggunakan analisis konten kualitatif terhadap tiga konten podcast YouTube dari Dr. Richard Lee, Ruben Onsu, dan Celine Evangelista, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pengalaman spiritual yang secara tradisional bersifat personal dan sakral diubah menjadi produk komersial dalam ekosistem digital. Temuan menunjukkan bahwa ketiga dimensi komodifikasi Mosco—konten, audiens, dan tenaga kerja—beroperasi secara bersamaan dalam pembuatan konten spiritual. Komodifikasi konten terwujud melalui strategi pengemasan konten spiritual sebagai konten hiburan dan edukasi yang menjangkau pasar luas dengan menggunakan judul yang menarik perhatian dan visualisasi simbol-simbol keagamaan. Komodifikasi audiens terlihat dalam pembentukan pencari spiritualitas sebagai demografi yang berharga bagi pengiklan melalui penargetan multi-demografi dan pembangunan komunitas untuk keterlibatan berkelanjutan. Komodifikasi tenaga kerja menunjukkan transformasi artis menjadi kreator konten spiritual profesional yang proses kerjanya meliputi konsepsi, eksekusi, dan distribusi dalam ketergantungan platform. Platform YouTube memfasilitasi transformasi nilai spiritual menjadi nilai ekonomi melalui sistem monetisasi yang memberikan imbalan atas keterlibatan dan promosi algoritma. Penelitian ini berkontribusi dalam mengembangkan kerangka analitis untuk memahami komodifikasi konversi keagamaan dalam media digital dan memperkaya teori ekonomi politik komunikasi dalam konteks spiritualitas Islam dan kapitalisme platform.