Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PENAMBAHAN TEPUNG DAUN KROKOT (Portulaca oleraca l) DALAM RANSUM PUYUH (Cotumix cortunix japonica) TERHADAP PRODUKSI TELUR DAN BERAT TELUR Aditya Tawakkal, Syahrul; Semaun, Rahmawati; Rasbawati, Rasbawati
Journal Gallus Gallus Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Gallus Gallus (2024)
Publisher : Jurusan Peternakan, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/gallusgallus.v2i3.365

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun krokot (Portulaca Oleraca L) terhadap produksi dan berat telur pada puyuh dengan menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. P0: Tanpa perlakuan kontrol 0%. P1: Tepung daun krokot (Portulaca Oleraca L) 3% dari jumlah pakan. P2: Tepung daun krokot (Portulaca Oleraca L) 6% dari jumlah pakan. P3: Tepung daun krokot (Portulaca Oleraca L) 9% dari jumlah pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung daun krokot pada level yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap produksi telur sedangkan pada berat telur tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Rata-rata produksi telur P0 (42%), P1 (46,3%), P2 (49,3%), P3 (43,3%). Berat telur P0 (8,64gr), P1 (9,05gr), P2 (9,24gr), P3 (9,03gr). Adapun perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan P2 dengan penambahan tepung daun krokot sebanyak 6%.
MORBIDITAS DAN MORTALITAS PUYUH(Coturnix Coturnix Japonica)YANG DIBERI PAKAN LIMBAH KULIT KENTANG (Solanum tuberosum) DENGAN LEVEL YANG BERBEDA Hamzah, Fahril; Semaun, Rahmawati; Rasbawati, Rasbawati
Journal Gallus Gallus Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Gallus Gallus (2023)
Publisher : Jurusan Peternakan, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/gallusgallus.v2i1.373

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung Kulit Kentang (Solanum tuberosum)pada pakan terhadap morbiditas dan mortalitas burung puyuh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 4 perlakuan. Perlakuan P0 (sebagai kontrol), P1, P2 dan P3. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga terdapat 20 unit pengamatan. Adapun perlakuan yang diterapkan yaitu, P0 : Tanpa Perlakuan Kontrol 0%, P1 : Tepung kulit kentang3% dari jumlah pakan, P2 : Tepung kulit kentang6% dari jumlah pakan, P3 : Tepung kulit kentang9% dari jumlah pakan. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung kulit kentang pada pakan puyuh. Adapun perlakuan terbaik pada morbiditas puyuh adalah sebagai berikut. Perlakuan terbaik untuk morbiditas burung puyuh terdapat pada perlakuan P2 dengan penambahan tepung kulit kentang sebanyak 6% dengan persentase 1%. Perlakuan terbaik untuk mortalitas terdapat pada perlakuan P1 dengan penambahan tepung kulit kentang sebanyak 3% dengan persentase 1%.
PEMBERIAN TEPUNG USUS AYAM BROILER PADA PAKAN TERNAK ITIK PEDAGING (Ana plathyrynchos) TERHADAP TINGKAT KONSUMSI PAKAN DAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN Rusjayadi, Rusjayadi; Semaun, Rahmawati; Rasbawati, Rasbawati
Journal Gallus Gallus Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Gallus Gallus (2023)
Publisher : Jurusan Peternakan, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/gallusgallus.v2i1.379

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung usus ayam pada pakan ternak itik pedaging (Anas plathyrynchos) terhadap tingkat konsumsi pakan dan pertambahan berat badan. Dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan serta ulangan 3 kali, antara lain dengan level pemberian P0 = (tanpa perlakuan control) P1 = penambahan tepung usus ayam 1%, P2= penambahan tepung usus ayam 3%, P3= penambahan tepung usus ayam 5%. Hasil penelitian dan pembahasan tepung usus ayam dapat mempengaruhi terhadap tingkat konsumsi pakan. Adapun perlakuan yang terbaik adalah P3 (5%) dengan nilai (1315 gram/ekor) dan dan pertambahan berat badan terbaik dengan perlakuan P3 (5%) dengan nilai rata-rata (77,4 gram/ekor ). Adapun perlakuan terbaik pada penelitian ini terhadap tingkat konsumsi pakan dan pertambahan berat badan adalah perlakuan P3 (penambahan tepung usus ayam 5%).
PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR SILASE KOMBINASI RUMPUT GAJAH (Pennisetum Purpureum) DENGAN PENAMBAHAN AMPAS TAHU SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA Basri, Muh. Hairul; Munir, Munir; Semaun, Rahmawati
Journal Gallus Gallus Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Gallus Gallus (2024)
Publisher : Jurusan Peternakan, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/gallusgallus.v2i2.479

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk ampas tahu sebagai pakan ternak ruminansia. Penelitian silase menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Adapun formulasi pakan yang di terapkan pada penelitian ini adalah : S1= 50% Rumput Gajah+30% Ampas Tahu+19% Dedak Padi+1% Mineral Mix, S2= 50% Rumput Gajah+25% Ampas Tahu+24% Dedak Padi+1% Mineral Mix, S3= 50% Rumput Gajah+20% Ampas Tahu+29% Dedak Padi+1% Mineral Mix, S4= 50% Rumput Gajah+15% Ampas Tahu+34% Dedak Padi+1% Mineral Mix. Berdasarkan hasil yang didapat diketahui bahwa penambahan Ampas Tahu dapat mempengaruhi kandungan protein kasar dan serat kasar pakan. Adapun perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan S1 dengan penambahan Ampas tahu sebanyak 30%.
Utilization of Livestock Waste for Organic Production: An Environmentally Friendly and Sustainable Solution Nurhapsa, Nurhapsa; Rahmawati, Rahmawati; Semaun, Rahmawati; Nurhaedah, Nurhaedah; Mukhlis, Mukhlis
Unram Journal of Community Service Vol. 5 No. 4 (2024): December
Publisher : Pascasarjana Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/ujcs.v5i4.718

Abstract

Livestock waste is a source of environmental pollution if not managed properly. Its utilization for organic fertilizer production can be an environmentally friendly and sustainable solution. This community service activity began with location identification in Tallumae Village, Sidrap Regency. counseling and training on making organic fertilizer from cow feces. The training participants had high enthusiasm to gain knowledge about the technology of processing cow feces into environmentally friendly organic fertilizer. The results of the extension and training activities showed a very positive response from farmer groups and communities in Tallumae Village. The existence of farmer groups and community members in Tallumae Village who use organic fertilizer is able to provide a stimulus to the surrounding community to make organic fertilizer from livestock waste. There are even community members who have implemented the organic fertilizer on vegetable crops and the results are very satisfying. The utilization of livestock waste into organic fertilizer can reduce the use of chemical fertilizers
Analisis Pendapatan Usaha Peternakan Ayam Broiler di Desa Abbanuangnge Kecamatan Maniangpajo Kabupaten Wajo Irmayani, Irmayani; Semaun, Rahmawati; Asyasti, Andi Fikrihaekal
Jurnal Peternakan Lokal Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Peternakan Lokal
Publisher : Program Studi Peternakan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/peternakan.v7i1.2623

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan dan kelayakan usaha peternakan ayam broiler di Desa Abbanuangnge, Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo. Permasalahan utama dalam usaha ini adalah tingginya biaya produksi, terutama untuk kandang, pakan, dan bibit ayam (DOC), yang dapat menyebabkan peternak beralih ke usaha lain. Penelitian kualitatif ini melibatkan seluruh populasi peternak ayam broiler di desa tersebut, yaitu 5 peternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya produksi selama 3 periode adalah Rp. 7.542.608.201, dengan rata-rata biaya produksi setiap responden sebesar Rp. 1.508.521.640, sementara penerimaan mencapai Rp.8.473.682.345, dengan rata-rata penerimaan setiap responden sebesar Rp.1.694.736.469, sehingga pendapatan yang diperoleh responden selama tiga peride adalah Rp. 931.174.188, dengan rata-rata pendapatan setiap responden sebesar Rp. 186.234.838.  Analisis Break Event Point (BEP) dan R/C ratio menunjukkan bahwa usaha peternakan ayam broiler di Desa Abbanuangnge menguntungkan, efisien, dan layak untuk dikembangkan. Hasil penelitian ini memberikan informasi bagi peternak dan pihak terkait dalam upaya meningkatkan efisiensi dan berkelanjutan usaha peternakan ayam broiler.  Dengan memahami aspek biaya, produksi, penerimaan, dan pendapatan, peternak dapat merancang strategi yang lebih efektif untuk mengoptimalkan sumber daya dan meningkatkan profitabilitas.  Selain itu, hasil penelitian ini juga menjadi acuan bagi pemerintah dan lembaga terkait dalam merumuskan kebijakan yang mendukung perkembangan sektor peternakan ayam broiler, seperti penyediaan subsidi pakan, akses permodalan, serta pendampungan teknis bagi peternak.  Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan usaha peternakan yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.
KANDUNGAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR RANSUM TERNAK ITIK PEDAGING YANG DIBERIKAN BAHAN TAMBAHAN USUS AYAM Jekirikowenas, Jekirikowenas; Semaun, Rahmawati; Irmayani, Irmayani
Journal Gallus Gallus Vol 3 No 3 (2025): Edisi Juli, Jurnal Gallus Gallus (2025)
Publisher : Jurusan Peternakan, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/gallusgallus.v3i3.370

Abstract

Tujuan penelitian ransum ternak itik pedaging ini untuk mengetahui kandungan protein kasar dan serat kasar pada ransum ternak itik yang diberikan bahan tambahan usus ayam. Penelitian ransum ternak itik ini menggunakan rangcangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan sehingga terdapat 12 unit sampel dan metode penlitian yang digunakan adalah metode eksperimental. P0 : (kontrol) tanpa usus ayam, P1 : 1% usus ayam, P2 : 3% usus ayam, P3 : 5% usus ayam. Berdasarkan hasil yang didapat maka diketahui bahwa perlakuan terbaik pada perlakuan P3 : 5% usus ayam, Hal ini dikarenakan pelakuan P3 mengandung protein kasar yang paling tinggi dari pada perlakuan lainnya, dimana kandungan protein kasar pada perlakuan P3 sebesar 16,54%. Kandungan serat kasar terendah ada pada perlakuan P3, dimana kandungan serat kasar pada perlakuan P3 sebesar 13,51% dan perlakuan P3 merupakan perlakuan terbaik, sebab kandungan serat kasar yang rendah akan meningkatkan kecernaan ternak, sebaliknya jika kandungan serat kasar tinggi akan menurunkan kecernaan ternak.
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG DAUN KROKOT (Portulaca oleacal L) SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF TERHADAP NILAI MORBIDITAS DAN MORTALILTAS PADA TERNAK PUYUH Umairoh, Ummu; Semaun, Rahmawati; Nurhaeda, Nurhaeda
Journal Gallus Gallus Vol 3 No 3 (2025): Edisi Juli, Jurnal Gallus Gallus (2025)
Publisher : Jurusan Peternakan, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/gallusgallus.v3i3.372

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nilai morbiditas dan mortalitas yang diberikan pakan daun krokot (portulaca oleraceal L) sebagai pakan alternative pada ransum puyuh. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan P0 (0%), P1 (3%), P2 (6%), dan P3 (9%) setiap peralkuan di ulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 12 unit pengamatan dimana pada masing-masing unit terdiri dari 10 ekor. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa perlakuan P1 (3%), dan P2 (6%) mendapatkan hasil nilai rata-rata yang baik dibandingkan dengan perlakuan P0(0%), dan P3 (9%).
Penambahan Tepung Daun Talas dalam Ransum Terhadap Kadar Air dan Susut Masak Daging Itik Mojosari Jumaidil; Semaun, Rahmawati; Rasbawati
Integrated and Sustainable Agriculture Vol 1 No 1 (2024): Integrated and Sustainable Agriculture
Publisher : Edupedia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dependence on expensive conventional feed ingredients encourages substitution with local feed ingredients, including taro leaves. This study examines the effect of adding taro leaf flour (Colocasia esculenta) to the ration on the water content and cooking loss of Mojosari duck meat. The method used was a completely randomized design with four treatments, namely 0% (control), 1%, 3%, and 5% taro leaf flour. Each treatment was repeated five times. The addition of taro leaf flour had a significant effect on the water content and cooking loss of duck meat. The water content of duck meat in the treatment was 0% (68.53%), 1% (69.82%), 3% (69.29%), and 5% (70.37%). The cooking loss of duck meat in the treatment was 0% (16.66%), 1% (20.00%), 3% (23.33%), and 5% (26.66%). From these results, it can be seen that the addition of 1% taro leaf flour did not provide a significant difference in water content and cooking loss compared to the control, while the addition of 3% and 5% gave significantly different results. The addition of 1% taro leaf flour to the ration is the best in maintaining meat quality significantly so it is worthy of being used as an alternative feed ingredient.
Integrated Ruminant Feeding Systems Utilizing Agro-Industrial By-Products Through Elephant Grass-Based Silage Azhary, Ahmad; Munir; Semaun, Rahmawati
Integrated and Sustainable Agriculture Vol 1 No 2 (2024): Integrated and Sustainable Agriculture
Publisher : Edupedia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integrated ruminant feeding systems utilizing agro-industrial by-products offer a sustainable solution to feed constraints in tropical livestock production. This study evaluated the physical quality and fermentation characteristics of elephant grass–based complete feed silage formulated with different proportions of tofu by-product and rice bran. A completely randomized design with four silage formulations was applied. Silage was anaerobically fermented for 21 days and assessed for organoleptic properties (aroma, color, texture, and fungal growth) and pH value. The results showed that silage formulation did not significantly affect aroma, texture, or pH (P>0.05), with all treatments exhibiting characteristics of good-quality silage, including a pleasant acidic aroma, compact texture, and acceptable pH values ranging from 3.93 to 4.50. In contrast, fungal growth and color were significantly influenced by treatment (P<0.01). Increasing the proportion of rice bran reduced fungal growth and improved silage color, indicating enhanced fermentation stability. The formulation with the highest rice bran proportion demonstrated the most favorable overall silage quality. In conclusion, elephant grass–based complete feed silage integrated with agro-industrial by-products can produce stable and high-quality silage. These findings support the development of integrated and sustainable ruminant feeding strategies that improve resource efficiency and promote circular agriculture.