Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

VISUAL HALLUCINATION POST CORONARY ARTERY BYPASS GRAFTING : A CASE REPORT Dharmawan, IGB Adi; Parami, Pontisomaya; Sinardja, Cynthia Dewi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.45518

Abstract

Halusinasi visual merupakan komplikasi neuropsikiatri yang jarang namun penting setelah tindakan Coronary Artery Bypass Grafting (CABG). Halusinasi ini sering dikaitkan dengan delirium, namun beberapa pasien mengalaminya secara mandiri, sehingga menimbulkan tantangan dalam diagnosis dan penanganan. Kami melaporkan kasus seorang pria berusia 63 tahun dengan penyakit arteri koroner multipembuluh dan syok kardiogenik yang menjalani CABG mendesak tanpa penggunaan mesin jantung-paru (off-pump). Setelah operasi, dalam kondisi hemodinamik stabil dan tanpa gangguan metabolik, pasien mengalami halusinasi visual kompleks yang muncul hanya saat mata tertutup. Halusinasi yang dialaminya berupa bayangan seekor anjing, bayangan hitam besar, dan pemandangan kampung halaman yang familiar. Tidak ditemukan tanda-tanda delirium berdasarkan penilaian menggunakan Delirium Symptom Interview (DSI) dan Confusion Assessment Method (CAM). Penanganan suportif serta pemberian haloperidol dosis rendah berhasil meredakan gejala dalam waktu 24 jam tanpa kekambuhan. Kasus ini menyoroti bentuk halusinasi visual yang jarang, yakni halusinasi saat mata tertutup, setelah CABG off-pump, yang berbeda dari halusinasi dengan mata terbuka yang lebih umum dilaporkan. Tinjauan literatur menunjukkan bahwa insiden halusinasi visual pascaoperasi jantung berkisar antara 11% hingga 58%, dengan sirkulasi ekstrakorporeal (penggunaan mesin jantung-paru) diduga sebagai faktor risiko. Namun, kasus ini menantang anggapan tersebut. Fenomena ini memiliki kemiripan dengan Charles Bonnet Syndrome, yaitu kondisi di mana deprivasi visual memicu munculnya halusinasi spontan di korteks asosiasi visual. Halusinasi visual ternyata dapat terjadi bahkan pada pasien CABG off-pump tanpa delirium atau defisit neurologis. Mengenali fenomena ini sangat penting untuk mencegah misdiagnosis dan intervensi yang tidak perlu. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami patofisiologi dan faktor risiko yang mendasarinya.
PENGARUH MANAJEMEN NYERI AKUT TERHADAP INTENSITAS NYERI 72 JAM, SKOR MPQ DAN EFEK SAMPING PASCAOPERASI ORTOPEDI DI RSUP PROF. DR. I.G.N.G NGOERAH DENPASAR Johanes, Kevin Paul; Sinardja, Cynthia Dewi; Widnyana, I Made Gede; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.46773

Abstract

Latar belakang : Nyeri pascaoperasi merupakan risiko yang harus dihadapi pasien yang akan menjalani operasi ortopedi.Upaya untuk menangani nyeri dilakukan dengan manajemen nyeri dengan pendekatan multimodal baik dengan agenopioid serta anestesi lokal, tetapi efek dari terapi multimodal ini masih belum dievaluasi kembali pada pasien ortopedi. Untuk menilai efektivitas dari terapi multimodal yang dijalankan untuk menurunkan nyeri, efek samping, dan skor nyeri McGill, maka evaluasi akan dilakukan evaluasi melalui penelitian ini. Metode : Studi ini merupakan sebuah studi Observational Cohort. Dua ratus pasien dewasa berusia 18 tahun keatas yang memenuhi kriteria eligibilitas yang menjalani operasi ortopedi dengan anestesi di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Denpasar selama periode penelitian (November – Desember 2024), direkrut ke dalam penelitian. Setelah data pasien dicatat, pasien akan diikuti sampai 3 hari setelah operasi selesai untuk pengumpulan data. Subjek akan dibagi menjadi kelompok dengan terapi multimodal analgesia regional-based (MMR) atau kelompok dengan terapi multimodal analgesia opioid-based (MMO). Uji statistik perbandingan kategorik dan numerik, serta analisis kovariat dilakukandengan software SPSS. Hasil : Terdapat 200 subjek yang datanya dapat digunakan untuk Analisa. Uji statistik menunjukkan skor VAS yang lebih rendah pada kelompok MMR dibandingkan kelompok MMO. Terdapat insiden mual yang rendah (5%) pada kelompokkedua kelompok. Subjek yang menerima multimodal analgesia pascaoperasi menunjukkan skor MPQ yang rendahterutama pada pada kelompok MMR. Kesimpulan : Manajemen nyeri akut multimodal analgesia menunjukkan intensitas nyeri yang lebih rendah secara statistik pada subjek dengan terapi regional analgesia dengan anestesi lokal tetapi secara klinis kedua kelompok menunjukkan nilai nyeri yang rendah. Multimodal analgesia baik dengan terapi opioid atau regional analgesia menunjukkan tingkat mual yang rendah. Multimodal analgesia dengan terapi regional analgesia menunjukkan skor MPQyang lebih rendah.
Anestesi Bebas Opioid Untuk Total Abdominal Histerektomi Dengan Bisalfingoovorektomi: Optimalisasi Manajemen Nyeri dan Stabilitas Hemodinamik Pamudji, Ivan Sebastian; Aryasa, Tjahya; Sinardja, Cynthia Dewi; Hartawan, IGAG Utara
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v5i1.3336

Abstract

Total abdominal histerektomi dan bilateral salpingo-ooforektomi (TAH-BSO) merupakan prosedur bedah mayor dengan kebutuhan analgesia yang kompleks. Anestesi bebas opioid (opioid-free anesthesia/OFA) semakin banyak digunakan untuk menghindari efek samping opioid seperti mual, muntah, depresi pernapasan, dan risiko ketergantungan. Laporan ini membahas penerapan teknik OFA pada pasien yang menjalani TAH-BSO dengan fokus pada manajemen nyeri, stabilitas hemodinamik, serta hasil klinis pascaoperasi. Seorang wanita 43 tahun dengan obesitas (BMI 38,28 kg/m2), hipertensi terkontrol, dan riwayat alergi opioid menjalani TAH-BSO. Pasien diklasifikasikan sebagai ASA III dengan risiko tinggi Obstructive Sleep Apnea (OSA). Induksi anestesi dilakukan dengan dexmedetomidine, propofol, dan atracurium. Teknik analgesia multimodal meliputi anestesi epidural dengan bupivakain 0,25% serta pemeliharaan anestesi menggunakan sevofluran <1 MAC, propofol, dan dexmedetomidine. Pasien mendapatkan analgesia pascaoperasi melalui infus epidural bupivakain 0,1% dan paracetamol oral. OFA menggunakan kombinasi agen anestesi multimodal untuk menggantikan opioid dalam manajemen nyeri perioperatif. Teknik ini terbukti mengurangi risiko PONV, meningkatkan stabilitas hemodinamik, serta menurunkan konsumsi analgesik pascaoperasi. Studi menunjukkan bahwa pasien yang menjalani OFA memiliki tingkat nyeri lebih rendah dan pemulihan lebih cepat dibandingkan dengan anestesi berbasis opioid. Pada kasus ini, pemilihan OFA dikarenakan adanya dugaan riwayat alergi opioid, serta untuk mengurangi risiko komplikasi pernapasan yang terkait dengan OSA. Teknik OFA efektif dalam manajemen anestesi pada pasien yang menjalani TAH-BSO, terutama pada individu dengan kontraindikasi opioid. Pendekatan ini memberikan kontrol nyeri yang optimal, mengurangi efek samping opioid, serta menjaga stabilitas hemodinamik intra dan pascaoperasi.
Hubungan MAP dan CVP terhadap PEEP dan Perubahan Stroke Volume pada Pasien Ventilasi Mekanik Invasif: Studi Observasional Analitik Win Muliadi; Sinardja, Cynthia Dewi; I Made Subargiartha
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p02

Abstract

Pendahuluan: Penggunaan parameter statis seperti mean arterial pressure (MAP) dan central venous pressure (CVP) sering kali tidak cukup akurat untuk memprediksi fluid responsiveness, sehingga diperlukan parameter dinamis yang lebih praktis dan dapat diandalkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi korelasi antara perubahan MAP dan CVP akibat perubahan positive end expiratory pressure (PEEP) dengan perubahan stroke volume (SV) sebagai prediktor kecukupan cairan pada pasien ICU dengan ventilasi mekanik. Pasien dan Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik. Subjek penelitian adalah pasien berusia 18–65 tahun yang menjalani ventilasi mekanik. Setelah mendapatkan persetujuan etik dan informed consent, dilakukan pengukuran MAP dan CVP pada PEEP 5 dan 15 cmH₂O. Selanjutnya, SV diukur menggunakan ekokardiografi transtorakal dan setelah manuver passive leg raising (PLR). Fluid responsiveness didefinisikan sebagai peningkatan SV ≥10% setelah PLR. Analisis korelasi dilakukan untuk menilai hubungan antara perubahan MAP dan CVP akibat PEEP dengan perubahan SV akibat PLR, serta analisis kurva ROC untuk menentukan nilai ambang diagnostik. Hasil: Sebanyak 28 pasien memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis dalam penelitian ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ditemukan korelasi yang signifikan antara perubahan MAP akibat PEEP dengan perubahan SV akibat PLR (r = -0,233; p = 0,232). Sebaliknya, ditemukan korelasi kuat antara perubahan CVP akibat PEEP dengan perubahan SV akibat PLR (r = 0,751; p < 0,001). Analisis kurva ROC memperlihatkan area under curve (AUC) sebesar 0,872 untuk perubahan CVP, dengan nilai ambang optimal 3,25 cmH₂O yang memberikan sensitivitas 71,4% dan spesifisitas 78,6% dalam memprediksi fluid responsiveness. Kesimpulan: Perubahan CVP akibat peningkatan PEEP memiliki korelasi kuat dengan fluid responsiveness dan dapat digunakan sebagai parameter dinamis untuk menilai kecukupan cairan pada pasien ICU dengan ventilasi mekanik.
Opioid-Free Anesthesia as a Part of Multimodal Anesthesia Approach in Modified Radical Mastectomy: A Case Report Togi Stanislaus Patrick; Sinardja, Cynthia Dewi; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Ra Ratumasa, Marilaeta Cindryani
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 43 No 3 (2025): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v43i3.445

Abstract

Introduction: The shift towards opioid-free anesthesia (OFA) reflects a growing effort to enhance patient safety and reduce opioid-related adverse effects, particularly in oncology surgeries such as modified radical mastectomy (MRM). Case Description: We describe the anesthetic management of a 51-year-old female with infiltrating ductal carcinoma of the left breast who underwent MRM under an opioid-free anesthetic protocol. Induction was performed with propofol via target-controlled infusion (TCI), followed by intraoperative dexmedetomidine infusion for sedation and analgesia. An ultrasound-guided erector spinae plane (ESP) block at the T5 level was performed with 0.375% ropivacaine and dexamethasone to provide regional analgesia. Intraoperative hemodynamics remained stable, no rescue opioids were required, and blood loss was minimal. Postoperative pain control was achieved with a low-dose dexmedetomidine infusion, intravenous ketorolac, and oral paracetamol. The patient reported minimal pain (NRS 0–1/10), had no nausea, vomiting, or respiratory depression, and recovered uneventfully. Conclusion: OFA offers oncological advantages by preserving immune function and reducing tumor- promoting factors, making it a promising alternative in cancer surgery. This report supports the feasibility and benefits of OFA in major breast cancer procedures, underscoring its role in enhancing recovery and potentially improving long-term oncologic outcomes.
THE EFFECTIVENESS OF GREATER AURICULAR NERVE (GAN) BLOCK USING ISOBARIC ROPIVACAINE AS AN ANALGESIC ADJUVANT AS COMPARED TO INTRAVENOUS OPIOID AS ANALGESIA FOR MIDDLE EAR SURGERY Tirta, Ian; Widnyana, I Made Gede; Sinardja, Cynthia Dewi; Putra, Kadek Agus Heryana; Parami, Pontisomaya; Suarjaya, I Putu Pramana; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas Blok Saraf Aurikular Besar menggunakan ropivakain isobarik terhadap jumlah penggunaan opioid selama dan setelah operasi, penilaian hemodinamik, intensitas nyeri, dan penilaian respons mual dan muntah post-operatif. Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni (eksperimental sejati). Desain penelitian yang digunakan adalah uji acak terkontrol buta tunggal (RCT). Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 48 pasien berusia di atas 18 tahun hingga 65 tahun yang menjalani operasi telinga bagian tengah-bagian dalam di Rumah Sakit Prof IGNG Ngoerah, Denpasar. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 26 untuk uji t-tidak tergantung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fentanyl P1 adalah 77,08 ± 32,90 mg dan P0 adalah 97,92 ± 37,53 mg, p = 0,003. Kebutuhan morfin ditemukan dalam 3 jam, P1 adalah 0,58 ± 0,77 mg dan P0 ditemukan menjadi 1,04 ± 0,69 mg, p < 0,001. Kebutuhan morfin 6 P1 adalah 0,79 ± 0,72 mg dan P0 ditemukan menjadi 2,63 ± 1,27 mg, p < 0,001. Kebutuhan morfin selama 24 jam P1 adalah 1,50 ± 1,14 mg dan P0 ditemukan menjadi 3,92 ± 1,66 mg, p < 0,001. Intensitas nyeri ditemukan lebih rendah pada 3, 6, 12, 18, dan 24 jam pada P1 (p <0,05). Perbaikan hemodinamik > 20% pada P0 ditemukan pada 15, 30, 60, dan 120 menit, sedangkan kelompok P1 ditemukan stabil (p <0,001). Skor mual dan muntah selama 24 jam P1 adalah 1,92 ± 1,01 dan P0 adalah 2,75 ± 1,03, p = 0,007.
The Role of Invasive Hemodynamic Monitoring in Patients with Severe Mitral Regurgitation Undergoing Herniorrhaphy Operation Kapitan, Titin Agustin; Adinda Putra Pradhana; Cynthia Dewi Sinardja
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 8 No. 2 (2024): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v8i2.920

Abstract

Background: Mitral regurgitation (MR) indeed presents challenges during noncardiac surgeries, especially as the severity of MR tends to increase with age and poses a higher risk of perioperative complications. Accurate hemodynamic monitoring becomes crucial in these cases to manage potential complications effectively. However, the standard monitoring in MR conditions during operation, such as TEE, is not always available, but there are other options for invasive monitoring, such as arterial lines, which provide accurate hemodynamic monitoring. Case presentation: A 64-year-old, male, presented with Reponible Lateral Inguinal Hernia with comorbid of severe mitral and tricuspid regurgitation alongside congestive heart failure. The patient was premedicated with fentanyl 25 mcg intravenously, followed by oxygen supplementation with 3 lpm nasal cannula and insertion of the arterial line. Anaesthesia was performed using a lumbar epidural technique, with the insertion of an epidural catheter in the L1-L2 intervertebral space, Reponible Lateral Inguinal Hernia. The local anesthesia agent chosen was plain bupivacaine with a concentration of 0.5% and a volume of 8 ml. The onset of action of epidural anesthesia is achieved within 20 minutes as long as the operation reaches a total blockade as high as T8. The patient is monitored with standard monitors and an artery line during surgery. There were no complaints of shortness of breath, chest heaviness, or chest pain felt by the patient during the operation. Conclusion: Epidural anesthesia technique can provide stable hemodynamics in patients with severe mitral-tricuspid regurgitation and congestive heart failure and hemodynamic monitoring plays an important role postoperatively to prevent further deterioration and maintain stability.
The Role of Invasive Hemodynamic Monitoring in Patients with Severe Mitral Regurgitation Undergoing Herniorrhaphy Operation Kapitan, Titin Agustin; Adinda Putra Pradhana; Cynthia Dewi Sinardja
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 8 No. 2 (2024): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v8i2.920

Abstract

Background: Mitral regurgitation (MR) indeed presents challenges during noncardiac surgeries, especially as the severity of MR tends to increase with age and poses a higher risk of perioperative complications. Accurate hemodynamic monitoring becomes crucial in these cases to manage potential complications effectively. However, the standard monitoring in MR conditions during operation, such as TEE, is not always available, but there are other options for invasive monitoring, such as arterial lines, which provide accurate hemodynamic monitoring. Case presentation: A 64-year-old, male, presented with Reponible Lateral Inguinal Hernia with comorbid of severe mitral and tricuspid regurgitation alongside congestive heart failure. The patient was premedicated with fentanyl 25 mcg intravenously, followed by oxygen supplementation with 3 lpm nasal cannula and insertion of the arterial line. Anaesthesia was performed using a lumbar epidural technique, with the insertion of an epidural catheter in the L1-L2 intervertebral space, Reponible Lateral Inguinal Hernia. The local anesthesia agent chosen was plain bupivacaine with a concentration of 0.5% and a volume of 8 ml. The onset of action of epidural anesthesia is achieved within 20 minutes as long as the operation reaches a total blockade as high as T8. The patient is monitored with standard monitors and an artery line during surgery. There were no complaints of shortness of breath, chest heaviness, or chest pain felt by the patient during the operation. Conclusion: Epidural anesthesia technique can provide stable hemodynamics in patients with severe mitral-tricuspid regurgitation and congestive heart failure and hemodynamic monitoring plays an important role postoperatively to prevent further deterioration and maintain stability.
Anesthetic Management of a Severe Chronic Obstructive Pulmonary Disease Patient Undergoing Video-Assisted Thoracoscopic Surgery for Diaphragmatic Hernia Repair Arisadika, Putu Bagus; Sinardja, Cynthia Dewi
PROMOTOR Vol. 8 No. 6 (2025): DESEMBER
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/pro.v8i6.1551

Abstract

Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is a progressive respiratory disorder that increases the risk of perioperative complications, particularly in thoracic surgery requiring one-lung ventilation (OLV). Patients with severe COPD are prone to respiratory failure, which make the anesthetic management challenging, escpecially to prevent acute exacerbation. A 58-year-old female with severe COPD and acute exacerbation underwent video-assisted thoracoscopic surgery (VATS) for diaphragmatic hernia repair. Preoperative optimization included nebulization therapy, glucose control, and respiratory muscle training. General anesthesia was maintained with sevoflurane. Lung isolation achieved with placement of double-lumen tube. Midway through surgery, the patient developed acute respiratory distress, requiring manual ventilation with 100 oxygen and PEEP 5 cmH₂O, deepened anesthesia with sevoflurane 4 MAC, rocuronium 10 mg IV, and methylprednisolone 125 mg IV. After stabilization, mechanical ventilation was resumed with down titration of oxygen fraction, and the procedure was completed successfully. This case highlights the importance of perioperative planning in severe COPD, particularly the need for preoperative pulmonary optimization and intraoperative vigilance. Rapid recognition and intervention in acute exacerbations are crucial to preventing hypoxemia and ventilatory failure. The use of tailored ventilation strategies and bronchodilator therapy contributed to the successful management of this high-risk patient. Anesthetic management in severe COPD requires a multidisciplinary approach, including preoperative pulmonary preparation, intraoperative lung-protective ventilation, and immediate intervention during exacerbations. This case underscores the importance of individualized anesthetic strategies to optimize surgical outcomes in patients with compromised respiratory function.
Hubungan MAP dan CVP terhadap PEEP dan Perubahan Stroke Volume pada Pasien Ventilasi Mekanik Invasif: Studi Observasional Analitik Win Muliadi; Sinardja, Cynthia Dewi; I Made Subargiartha
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p02

Abstract

Pendahuluan: Penggunaan parameter statis seperti mean arterial pressure (MAP) dan central venous pressure (CVP) sering kali tidak cukup akurat untuk memprediksi fluid responsiveness, sehingga diperlukan parameter dinamis yang lebih praktis dan dapat diandalkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi korelasi antara perubahan MAP dan CVP akibat perubahan positive end expiratory pressure (PEEP) dengan perubahan stroke volume (SV) sebagai prediktor kecukupan cairan pada pasien ICU dengan ventilasi mekanik. Pasien dan Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik. Subjek penelitian adalah pasien berusia 18–65 tahun yang menjalani ventilasi mekanik. Setelah mendapatkan persetujuan etik dan informed consent, dilakukan pengukuran MAP dan CVP pada PEEP 5 dan 15 cmH₂O. Selanjutnya, SV diukur menggunakan ekokardiografi transtorakal dan setelah manuver passive leg raising (PLR). Fluid responsiveness didefinisikan sebagai peningkatan SV ≥10% setelah PLR. Analisis korelasi dilakukan untuk menilai hubungan antara perubahan MAP dan CVP akibat PEEP dengan perubahan SV akibat PLR, serta analisis kurva ROC untuk menentukan nilai ambang diagnostik. Hasil: Sebanyak 28 pasien memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis dalam penelitian ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ditemukan korelasi yang signifikan antara perubahan MAP akibat PEEP dengan perubahan SV akibat PLR (r = -0,233; p = 0,232). Sebaliknya, ditemukan korelasi kuat antara perubahan CVP akibat PEEP dengan perubahan SV akibat PLR (r = 0,751; p < 0,001). Analisis kurva ROC memperlihatkan area under curve (AUC) sebesar 0,872 untuk perubahan CVP, dengan nilai ambang optimal 3,25 cmH₂O yang memberikan sensitivitas 71,4% dan spesifisitas 78,6% dalam memprediksi fluid responsiveness. Kesimpulan: Perubahan CVP akibat peningkatan PEEP memiliki korelasi kuat dengan fluid responsiveness dan dapat digunakan sebagai parameter dinamis untuk menilai kecukupan cairan pada pasien ICU dengan ventilasi mekanik.