Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Historical and cultural similarities to sister city collaboration efforts between Tanjungpinang (Indonesia) and Johor Bahru (Malaysia) Swastiwi, Anastasia Wiwik; Rani, Marnia; Putri , Rizqi Apriani; Pratiwy, Devi; Zulha, Mimi Audia; Fadilla, Titik Nur
Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol. 37 No. 4 (2024): Masyarakat, Kebudayaan dan Politik
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkp.V37I42024.377-389

Abstract

Sister city cooperation based on common historical and cultural ties between Tanjungpinang, Indonesia and Johor Bahru, Malaysia provides a strategic opportunity to enhance socio-cultural interaction and encourage tourism. This research aims to find opportunities for sister city collaboration and the types of activities that are included in the scope of cooperation between the two cities. The method used in this research is descriptive with a qualitative approach by collecting various data, including official government documents, local demographic statistics, socio cultural characteristics, economic situation, development plans, and public and government views regarding social and development activities. To analyze the phenomena that occur, the theory of liberalism is used which states that a country can achieve political and economic goals through cooperation and promoting individual freedom and social justice. The results of this study indicate that the collaboration can be an effective platform for the exchange of knowledge, practices and resources between the two cities, and can also expand the network of partners involved in inclusive education. The study concluded that there are still several challenges such as limited resources, lack of public awareness and understanding, and structural barriers that can affect the effectiveness of implementing this collaborative effort. Thus, an active and collaborative role is needed from state and non-state actors to achieve sustainable economic and tourism goals.
PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP TINDAK PIDANA KEKERASAN SEKSUAL DI SMP DESA NUMBING Efritadewi, Ayu; Haryanti, Dewi; Endri, Endri; Syahputra, Irwandi; Nuraini, Lia; Hidayat, Muhammad Fajar; Rani, Marnia; Harmain, Irfan; Kaloko, Ilhamda Fattah; Hanum, Atiikah; Gulo, Septi Puspitaria; Sari, Nila Permata; Tammardhia, Rodhia; Situmeang, Nova; Nahusona, Erick Suprianto
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 6 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i6.2228

Abstract

Kekerasan seksual terhadap anak merupakan isu serius yang masih marak terjadi di lingkungan pendidikan, termasuk di Indonesia. Dampaknya mencakup kerusakan fisik, mental, dan sosial anak, serta menghambat tumbuh kembang mereka. Di SMP Desa Numbing, kurangnya pemahaman dan sosialisasi terkait perlindungan anak menjadi hambatan utama. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai kekerasan seksual melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi hukum. Kegiatan dilakukan melalui penyuluhan interaktif dua arah, meliputi koordinasi, pra-survei, pemaparan materi, pembagian buku saku, diskusi studi kasus, dan evaluasi melalui kuisioner online. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan pemahaman siswa SMP Desa Numbing terhadap kekerasan seksual. Kegiatan dilaksanakan pada 10–11 Juni 2024 dan diikuti oleh 46 siswa kelas VII dan VIII. Pra-survei menunjukkan bahwa 58,7% siswa menganggap sentuhan tanpa izin dapat dibenarkan jika hanya bercanda. Setelah pemaparan materi oleh dosen hukum pidana dan sesi diskusi, evaluasi pasca-kegiatan menunjukkan perubahan persepsi signifikan. Siswa menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk kekerasan seksual. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini berhasil mencapai tujuannya dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai pencegahan dan konsekuensi hukum kekerasan seksual terhadap anak. Kesimpulan kegiatan ini ialah meningkatnya pemahaman siswa SMP Desa Numbing terhadap kekerasan seksual setelah sosialisasi. Harapannya, pengetahuan yang diperoleh dapat berkontribusi dalam upaya pencegahan serta meminimalkan risiko terjadinya kekerasan seksual di lingkungan sekolah.
Legal Liability of E-Commerce Site Against Sales of Counterfeit Trademarks Products Rani, Marnia; Sibarani, Hos Arie Rhamadhan; Swastiwi, Anastasia Wiwik; Haryanti, Dewi
JURNAL MERCATORIA Vol. 18 No. 1 (2025): JURNAL MERCATORIA JUNI
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/mercatoria.v18i1.14193

Abstract

This article examines the legal liability of e-commerce platforms for selling counterfeit trademark products in Indonesia. The problem focuses on the extent of responsibility e-commerce platforms hold under Indonesian trademark law, particularly Law Number 20 of 2016 on Marks and Geographical Indications and Law Number 28 of 2014 on Copyrights. A statutory approach is used as a theoretical reference to approach this problem. The data is collected by qualitatively analyzing relevant legislation and policies. The study results show that the Trademark Law in Indonesia has not regulated the sale of products using counterfeit brands in e-commerce. The Copyright Law in Indonesia only regulates that the manager of a trading place can be held accountable if a sale of products violates copyright. In contrast, the Trademark Law does not restrict this. So that confusion arises: can the organizer of an electronic system in online buying and selling be held civilly liable if their e-commerce site provides products using counterfeit brands.
PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP TINDAK PIDANA BULLYING DI SMP DESA NUMBING Efritadewi, Ayu; Haryanti, Dewi; Endri; Syahputra, Irwandi; Nuraini, Lia; Hidayat, Muhammad Fajar; Rani, Marnia; Harmain, Irfan; Kaloko, Ilhamda Fattah; Hanum, Atiikah; Gulo, Septi Puspitaria; Sari, Nila Permata; Tammardhia, Rodhia; Situmeang, Nova; Nahusona, Erick Suprianto
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 1 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i1.2227

Abstract

Perlindungan anak adalah segala usaha agar setiap anak dapat mewujudkan hak dan tanggung jawabnya terhadap tumbuh kembang anak, baik secara alamiah, jasmani, rohani, dan sosial. Dalam melaksanakan kegiatan pengabdian dengan model siklus deming yang terdiri dari empat tahapan, yakni perencaraan, melakukan, pemeriksaan dan tindak lanjut. Diagram tersebut menunjukkan hasil pemahaman siswa SMP Numbing setelah menerima pemaparan materi terkait bullying. Berdasarkan diagram tersebut, mayoritas siswa, yaitu 66%, setuju bahwa mereka mengerti bullying dapat berupa fisik, verbal, dan sosial. Sebanyak 26% siswa sangat setuju dengan pernyataan tersebut, sementara 8% sisanya menyatakan tidak setuju. Ini menunjukkan bahwa setelah menerima materi, sebagian besar siswa mengalami peningkatan pengetahuan terkait bentuk-bentuk bullying, dan menunjukkan pemahaman yang cukup baik. Pengabdian perlindungan anak terhadap tindak pidana bullying dilaksanakan agar siswa-siswa di SMP Numbing mendapatkan pengetahuan dan bimbingan terkait segala jenis bullying, sehingga mereka dapat mencegah dan meminimalisir tindakan bullying yang kerap terjadi dilingkungan sekolah. Berdasarkan hasil dari kuesioner sebelum dan sesudah pemaparan, menunjukan bahwa siswa-siswa tersebut mengalami peningkatan.
Pelaksanaan Tanggung Jawab Nakhoda Kapal atas Kerusakan Kapal dalam Pengangkutan Penumpang Antar Wilayah Kabupaten Natuna di Pelabuhan Rakyat Midai Rezeki, Selpi Putri; Rani, Marnia; Syahputra, Irwandi
Jurnal Studi Ilmu Sosial dan Politik Vol. 3 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Penerbit Goodwood

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35912/jasispol.v3i2.2338

Abstract

Purpose: There is a problem that occurred in Natuna Regency where a ship experienced engine damage, causing the ship to come to a halt in the middle of the sea and leaving passengers stranded at sea for an extended period. This situation can be hazardous and poses a risk to maritime safety. During disasters such as ship sinking, grounding, or fires, the risk to passenger safety increases. The high demand for facilities and infrastructure in passenger transportation should be a top priority. This research was conducted with the aim of determining the captain's responsibility for passenger safety to prevent any negligence on the part of the skipper. Methodology/approach: The Normative-Empirical Law research method involves understanding law in terms of norms (rules) and the application of legal rules in actual behavior resulting from the enforcement of legal norms. The captain is required to adhere to all applicable rules and regu lations to ensure the ship's navigability, safety of the vessel, passenger safety, and cargo. The skipper is not permitted to embark on a journey unless the ship is adequately equipped and prepared, as referred to in Article 343 of the Criminal Code. Results/findings: Regarding the implementation of the captain's responsibility for ship damage during passenger transportation within the Natuna Regency area, the captain pays more attention to the operational conditions of the ship to avoid issues related to ship damage. Additionally, the sub-district head of Midai is advised to be more selective in transferring responsibility to the skipper of the KM Fisabilillah 1 ship.  
URGENSI PENGATURAN PENYALAHGUNAAN KEADAAN SEBAGAI CACAT KEHENDAK Muhammad Fajar Hidayat; Suryadi; Lia Nuraini; Marnia Rani; Hanrizal; Elvira Clarista Faiqah
JURNAL HUKUM DAS SOLLEN Vol 11 No 2 (2025): Jurnal Hukum Das Sollen
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/das-sollen.v11i2.4836

Abstract

Salah satu syarat untuk sahnya suatu perjanjian yaitu sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. Walaupun terjadi kesepakatan para pihak yang membuat perjanjian, terdapat kemungkinan bahwa kesepakatan yang telah dicapai tersebut mengalami kecacatan atau yang biasa disebut cacat kehendak (wilsgebreke). Cacat kehendak yang dikenal dalam Pasal 1321 KUHPerdata hanya terbatas pada kekhilafan, paksaan, & penipuan. Dalam prakteknya, terdapat cacat kehendak lainnya berupa penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden) yang bersumber dari doktrin (ajaran) & eksistensinya baru sebatas pada Yurisprudensi sehingga isu hukum dalam penelitian ini yaitu terjadi ketidaklengkapan norma (incomplete of norm). Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apa urgensi pengaturan penyalahgunaan keadaan sebagai cacat kehendak. Penulis menggunakan metode penelitian hukum (legal research), analisis dilakukan dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach), & pendekatan komparatif (comparative approach). Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu.urgensi pengaturan penyalahgunaan keadaan sebagai cacat kehendak untuk melindungi pihak yang lemah dalam suatu perjanjian agar tidak ada lagi pihak yang menyalahgunakan keunggulan ekonomi dan psikologis dalam pembuatan perjanjian.
Edukasi Hukum Dan Literasi Keuangan Digital Untuk Perlindungan Konsumen Pinjaman Online Legal Di Kelurahan Sungai Pelunggut Kecamatan Sagulung Kota Batam Hidayat, M Fajar; Suryadi, Suryadi; Nuraini, Lia; Rani, Marnia; Handrisal, Handrisal; Nainggolan, Ario Ardanis
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 3 (2026): Bulan Februari
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i3.921

Abstract

Perkembangan teknologi informasi telah mendorong hadirnya layanan pinjaman online sebagai bagian dari inovasi financial technology (fintech) yang menawarkan kemudahan akses pembiayaan. Namun, kemudahan tersebut sering kali diikuti dengan berbagai permasalahan, terutama maraknya praktik pinjaman online ilegal yang merugikan masyarakat. Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya literasi hukum dan keuangan digital di tingkat masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Kelurahan Sungai Pelunggut, Kecamatan Sagulung, Kota Batam, terhadap aspek hukum dan perlindungan konsumen dalam penggunaan layanan pinjaman online legal. Metode yang digunakan meliputi edukasi hukum melalui ceramah interaktif, pelatihan literasi keuangan digital, serta simulasi mekanisme pengaduan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bagi konsumen yang dirugikan. Kegiatan diikuti oleh 40 orang peserta yang terdiri atas masyarakat umum, pelaku UMKM, dan ibu rumah tangga. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta terkait perbedaan pinjaman online legal dan ilegal, hak serta kewajiban konsumen, serta prosedur pengaduan hukum yang benar. Peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti simulasi pelaporan kasus ke OJK dan pembentukan komunitas literasi keuangan digital tingkat kelurahan. Dengan demikian, kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran hukum masyarakat sekaligus mendorong terciptanya perilaku finansial yang lebih bijak dan aman di era digital.
From Sacred to Marketed: How Economic Value Has Diminished the Meaning of Traditional Cultural Expressions Rani, Marnia; Sibarani, Hos Arie Rhamadhan; Swastiwi, Anastasia Wiwik; Nuraini, Lia; Hidayat, Muhammad Fajar
JURNAL AKTA Vol 13, No 1 (2026): March 2026
Publisher : Program Magister (S2) Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/akta.v13i1.47367

Abstract

This study examines the challenges in the process of recording Traditional Cultural Expressions (TCEs). TCE recording requires economic value to obtain protection as communal intellectual property. The rejection of the recording of Talam Sehidang (Makan Sehidang Berlima) as a TCE from the Kepulauan Riau Province. This study uses a normative legal research method that analyzes data qualitatively. The study finds that policymakers frequently exclude SWES traditions rich in moral and spiritual significance from legal protection because they perceive such traditions as lacking direct economic value. However, communities and local governments can generate economic value through active cultural preservation after recording. The requirement of economic value hampers the recording of TCEs. This paper proposes an inclusive TCE recording procedure for communal intellectual property. So that TCEs can be legally recognized and then developed by the host community to be economically valuable. It also provides procedural guidance for local communities to protect culturally meaningful expressions through preservation-based approaches. Economic formalism in cultural recording risks disempowering Indigenous communities and reducing heritage to market logic. By restoring philosophical and moral dimensions to legal recognition, cultural policy can promote equity and protect identity. The lack of documentation for ancient TCE and the economic value requirement for TCE recording led to the failure of the recording process. Thus, this research proposes changes to the requirements in the traditional cultural expression recording policy to prioritize philosophical values alongside economic values. The novelty of this study lies in its critique of the TCE recording process, which requires economic value, making it difficult for cultural actors to obtain protection for TCE as communal intellectual property. However, recording can potentially create income for cultural actors by creating activities such as tourism based on traditional cultural expressions.