Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : JURNAL WALENNAE

The Osteoarkeologi Rangka Manusia Situs Leang Kado’4, Maros, Sulawesi Selatan Fakhri Fakhri; Delta Bayu Murti Murti; Budianto Hakim Hakim; Muhammad Nur Nur; Akin Duli Duli; Khadijah Tahir Muda Muda
WalennaE Vol 19 No 2 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v19i2.520

Abstract

Pembahasan utama dalam penelitian ini adalah uraian osteoarkeologis terkait temuan rangka manusia situs prasejarah Leang Kado‘ 4 di kawasan karst Simbang, Maros, Sulawesi Selatan. Sebagai bagian dari kajian bioarkeologi, uraian ini meliputi penentuan jenis kelamin, usia kematian, rata-rata tinggi badan, afinitas ras, dan jumlah individu minimal yang ada di Situs Leang Kado‘ 4 sebagai bagian aktivitas penguburan. Metode penelitian menerapkan langkah kerja analisis dalam kajian bioarkeologi yang juga diterapkan dalam disiplin antropologi ragawi. Langkah kerja analisis tersebut, meliputi: identifikasi, pengukuran, komparasi, dan penghitungan estimasi jumlah individu minimal dalam sebuah himpunan data.  Penelitian ini berkesimpulan bahwa sisa rangka manusia di situs Leang Kado‘ 4 memiliki kesamaan dengan dua jenis ras manusia, yaitu ras populasi Sahul-Pacific dikenal pula sebagai Australo-Papuan atau Australomelanesoid dan ras populasi Asia atau Mongoloid. Hadirnya data ini diharapkan menjadi salah satu bahan pertimbangan rekomendasi kebijakan berwawasan pembangunan karakter budaya bangsa yang mengedepankan kebhinekaan asal usul dengan data temuan rangka manusia.    This research aims to provide an osteoarchaeological analysis of the human skeletons found at the prehistoric site of Leang Kado‘ 4 in Simbang karst area, Maros, South Sulawesi. As a part of bioarchaeological studies, the analysis included the determination of sex, age at death, average height, racial affinity, and the minimum number of individuals at the site as part of the burial activities. The research employed the analytical process that is commonly carried out in bioarchaeological and physical anthropological studies. The analytical process consists of identification, measurement, comparison, and estimation of the minimum number of individuals in a data set.  It is concluded that the human skeletal remains at Leang Kado‘ 4 site share several similarities with two human races, i.e. Sahul-Pacific race also known as Australo-Papuan or Australomelanesoid and Asian or Mongoloid race. It is expected that all this data can be used as a base for developing policies oriented to the development of the national character and culture by emphisizing the diversity of the people’s origins, which is supported by data on human skeletal remains.
IDENTIFIKASI TEMUAN FOSIL FAUNA DARI DESA TANJUNGAN, KECAMATAN KEMLAGI, KABUPATEN MOJOKERTO Firdaus Dimitra Arsyrahman; Delta Bayu Murti; Toetik Koesbardiati
WalennaE Vol 20 No 2 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i2.710

Abstract

Mojokerto is one of the important areas for paleoanthropological-archaeological studies in Indonesia. In the Mojokerto area, specifically in Perning Village, Homo erectus fossils were found, as well as vertebrate fauna fossils. In another area, namely in Sumberdadi Hamlet, Sumbersari Village, Dawar Blandong District, vertebrate fauna fossils were also found. In addition to these two areas, vertebrate fossils are also known to be found in Tanjungan Village, Kemlagi District, Mojokerto Regency. The purpose of this study is to identify the findings of fauna fossils from Tanjungan Village, Kemlagi District, Mojokerto, and then describe the habitat of the types of fauna fossils remains. The identification of the findings is based on the morphological characteristics seen in the fossil fragments. Five fauna species were obtained from the identification results, namely Bovidae, Stegodon sp., Carcharhinidae, Ostreidae, and Potamididae. These results provide an overview of the ancient environment of Tanjungan Village, in the forms of an original marine environment, a brackish-water environment, and ultimately a continental environment.   Mojokerto adalah salah satu wilayah penting untuk studi paleoantropologi-arkeologi di Indonesia. Di wilayah Mojokerto, tepatnya di Desa Perning, ditemukan fosil Homo erectus, selain juga fosil fauna vertebrata. Di area lain, yaitu di Dusun Sumberdadi, Desa Sumbersari, Kecamatan Dawar Blandong juga ditemukan fosil fauna vertebrata. Selain dua area tersebut, fosil vertebrata juga diketahui ditemukan di Desa Tanjungan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi temuan fosil fauna dari Desa Tanjungan, Kecamatan Kemlagi, Mojokerto, dan kemudian mendeskripsikan habitat dari jenis temuan fosil fauna tersebut. Identifikasi temuan didasarkan pada ciri morfologis yang tampak pada fragmen fosilnya. Hasil identifikasi memperoleh lima jenis fauna, yaitu Bovidae, Stegodon sp., Carcharhinidae, Ostreidae, dan Potamididae. Hasil tersebut tersebut memberikan gambaran lingkungan purba Desa Tanjungan berupa lingkungan laut, lingkungan air payau, dan lingkungan darat.
IDENTIFIKASI DAN INTERPRETASI LANJUTAN TEMUAN RANGKA MANUSIA SITUS LEANG JARIE (LJ-1), MAROS, SULAWESI SELATAN Fakhri; Delta Bayu Murti; David Bulbeck; Budianto Hakim; Khadijah Thahir Muda
WalennaE Vol 20 No 2 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i2.715

Abstract

This article aims to provide further interpretation of human skeleton from the Leang Jarie site (LJ-1), Maros, South Sulawesi. The context of this human skeleton comes from Neolithic period that associate with bone remains, faunal bones artefacts, lithic artefact, mollusk shells, pottery and ochre. Anatomical description, analysis and interpretation of individuals are a priority for comparisons with previous explorations. The updated biological aspects are based on sex, age at death, estimated height and the affiliation the of the individual. The method used physical anthropology and bioarchaeology to obtain more detailed observations of the osteology and biological aspects of the LJ-1 skeleton. The size of the LJ-1 mandible was compared with the average size of other modern humans in the Southeast Asian Archipelago and the Pacific region. The results show some changes to the initial distinctions that had been made. The individual’s height was between 157–166 cm, and he was a male with the estimated age at death of 30–49 years. Also relevant to the individual’s affiliation, the extant mandibular sockets reveal loss of the teeth before death (alveoloclasia). It is concluded that the LJ-1 individual belonged to a Neolithic society whose subsistence economy was characterized by the consumption of carbohydrates.     Artikel ini bertujuan memberikan interpretasi lanjutan terhadap rangka manusia dari situs Leang Jarie (LJ-1), Maros, Sulawesi Selatan. Konteks temuan rangka berasal dari masa Neolitik dengan asosiasi temuan berupa tulang sisa makanan, artefak tulang fauna, artefak batu, cangkang moluska, tembikar dan oker. Deskripsi anatomis, analisis dan interpretasi individu menjadi prioritas pembahasan dibandingkan penelitian identifikasi sebelumnya. Aspek biologis yang terbarukan antara lain peninjauan terhadap penentuan jenis kelamin, usia kematian, estimasi tinggi badan dan afiliasi individu. Metode yang digunakan yaitu pengamatan osteologi dan aspek biologis temuan rangka LJ-1 secara detail dengan pendekatan antropologi ragawi dan bioarkeologi. Untuk ukuran mandibula LJ-1, dilakukan perbandingan dengan ukuran rata-rata mandibula manusia modern di kepulauan Asia Tenggara dan Wilayah Pasifik. Hasil identifikasi menunjukkan beberapa perbedaan dibandingkan dengan identifikasi awal yang telah dilakukan. Ukuran tinggi individu yaitu antara 157– 166 cm, berjenis kelamin laki-laki dengan estimasi kematian pada usia 30 – 49 tahun. Berhubungan dengan kondisi patologis LJ-1, soket mandibula yang tersisa menunjukkan hilangnya gigi sebelum kematian (alveoloklasia). Demikian juga disimpulkan bahwa LJ-1 adalah bagian dari masyarakat Neolitik yang ekonomi subsistensinya ditandai dengan pengkonsumsian kaya karbohidrat.