Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL EDUKASI NONFORMAL

Penerapan Layanan Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Chairun Nisa; Tri Wulandari; Nadiya Nurhasannah; Gusman Lesmana
JURNAL EDUKASI NONFORMAL Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Edukasi Nonformal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesulitan mengajar merupakan isu yang sering muncul di kalangan siswa, problem ini disebabkan oleh beragam faktor, di antaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Kesulitan dalam belajar ditandai dengan hasil belajar yang rendah, siswa tidak mampu belajar dengan semestinya, dan sulit memahami apa yang dipelajari. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar. Sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapai siswa berada pada peringkat terendah. Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak sama secara konseptual, kecerdasan, dan motivasi belajar setiap murid. Menurut Mulyono (2012), kesulitan belajar secara umum dibagi menjadi dua kategori, yaitu kesulitan belajar yang terkait dengan perkembangan (gangguan perhatian, ingatan, motorik dan persepsi, bahasa dan berpikir) dan kesulitan belajar akademik (kesulitan membaca, menulis dan berhitung atau matematika). Untuk mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa diperlukan kerjasama yang baik antara manajemen/supervisi, pembelajaran, dan bimbingan konseling yang merupakan tiga pilar pendidikan.
Gejala dan Dampak dari Fobia Sekolah Terhadap Siswa Ardiansyah Ardiansyah; Atiqa Aulia; Putri Neva Octavia; Gusman Lesmana
JURNAL EDUKASI NONFORMAL Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Edukasi Nonformal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang Gejala dan Dampak dari Fobia Sekolah terhadap Siswa. Fobia sekolah adalah gangguan kecemasan yang ditandai oleh ketakutan yang berlebihan, persisten, dan tidak proporsional terhadap situasi sekolah. Individu yang mengalami fobia sekolah merasakan ketegangan emosional yang signifikan dan mengalami kecemasan yang berlebihan ketika berada di sekolah atau dihadapkan dengan situasi yang terkait dengan proses belajar-mengajar. Gejala fobia sekolah meliputi perasaan cemas yang intens dan persisten sebelum, selama, atau setelah berada di sekolah. Individu yang mengalami fobia sekolah mungkin mengalami gejala fisik seperti detak jantung yang cepat, keringat berlebihan, gemetar, perut mual, mual, sakit kepala, pusing, napas pendek, atau bahkan serangan panik. Mereka juga dapat mengalami ketegangan emosional, kegelisahan yang berkepanjangan, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, dan perasaan terisolasi atau tidak nyaman saat berinteraksi dengan teman sebaya atau guru di sekolah. Adapun strategi – strategi intervensi yang dapat mengatasi fobia sekolah.
Kapita Selekta Pendidikan: Peran Penting guru sebagai motivator siswa Muhammad Hafiz; Muhammad Siddiq Habibullah; Muhammad Farid Aulia; Gusman Lesmana
JURNAL EDUKASI NONFORMAL Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Edukasi Nonformal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru sebagai motivator adalah sebuah aktivitas guru dalam meningkatkan semangat dan gairah yang tinggi dalam memberikan motivasi kepada siswa, baik secara internal maupun eksternal. Tujuan dari adanya artikel kapita selekta pendidikan yang berfokur terhadap peranan guru sebagai motivator siswa adalah untuk memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa guru dapat menjadi motivator dalam proses pembelajaran kepada siswa dan memahami bagaimana peranan penting yang dimiliki guru sebagai seorang motivator. Guru sebagai motivator mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar mengajar, maka dari itu seorang guru harus profesional dan sosialisasi diri. Guru harus dapat memberikan minat belajar kepada para peserta didik sehingga semangat belajar mereka tetap tinggi. Peran guru sebagai motivator untuk meningkatkan semangat yang tinggi, siswa perlu motivasi yang tinggi baik dari dalam dirinya sendiri (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik), yang utamanya berasal dari gurunya sendiri.
Peran Bimbingan Konseling Terhadap Self Managemen Peserta didik dalam Belajar Reza Hawari; Nur Ainun Damanik; Linda Linda; Gusman Lesmana
JURNAL EDUKASI NONFORMAL Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Edukasi Nonformal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Every learner wants to have the ability to manage their time, especially in learning. Self-management in learning is one type of problem that arises in students. Self-management is a technique that leads to individual thoughts and behaviors to regulate and change for the better through the process of learning new behaviors. Tutoring is one of the fields of guidance, to examine the understanding of tutoring, it will first be discussed about the nature of guidance itself. This research approach is descriptive qualitative. This study aims to determine the role of counseling guidance on self-management of students in learning. These behavioral and mental changes will have a destructive impact on the development of students, if they do not get the right assistance. Guidance and Counseling teachers are expected to play a role in anticipating the impact of changes in learning patterns experienced by students and provide appropriate assistance.
Symptoms and Impact of School Phobia on Students Ardiansyah Ardiansyah; Atiqa Aulia; Putri Neva Octavia; Gusman Lesmana
JURNAL EDUKASI NONFORMAL Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Edukasi Nonformal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang Gejala dan Dampak dari Fobia Sekolah terhadap Siswa. Fobia sekolah adalah gangguan kecemasan yang ditandai oleh ketakutan yang berlebihan, persisten, dan tidak proporsional terhadap situasi sekolah. Individu yang mengalami fobia sekolah merasakan ketegangan emosional yang signifikan dan mengalami kecemasan yang berlebihan ketika berada di sekolah atau dihadapkan dengan situasi yang terkait dengan proses belajar-mengajar. Gejala fobia sekolah meliputi perasaan cemas yang intens dan persisten sebelum, selama, atau setelah berada di sekolah. Individu yang mengalami fobia sekolah mungkin mengalami gejala fisik seperti detak jantung yang cepat, keringat berlebihan, gemetar, perut mual, mual, sakit kepala, pusing, napas pendek, atau bahkan serangan panik. Mereka juga dapat mengalami ketegangan emosional, kegelisahan yang berkepanjangan, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, dan perasaan terisolasi atau tidak nyaman saat berinteraksi dengan teman sebaya atau guru di sekolah. Adapun strategi – strategi intervensi yang dapat mengatasi fobia sekolah.
Peran Guru BK dalam Menghadapi Siswa yang Memiliki Kesulitan dalam Mengekspresikan Kompetensi Dirinya Fitri Syahramadani Danti Harahap; Apri Yunita Br Sitepu; Salbiah Salbiah; Gusman Lesmana
JURNAL EDUKASI NONFORMAL Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Edukasi Nonformal
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam proses pembelajaran di sekolah baik guru maupun siswa, pasti mengharapkan agar mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Guru mengharapkan agar siswa berhasil dalam belajarnya, dan siswa mengharapkan guru dapat mengajar dengan baik, sehingga mereka memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Dalam kenyataan, harapan itu tidak selalu terwujud, masih banyak siswa yang tidak memperoleh hasil yang memuaskan. Kesulitan dalam belajar siswa merupakan suatu gejala yang selalu dihadapi oleh guru, karena guru bertanggung jawab untuk mengatasinya, kesulitan belajar ialah suatu keadaan dimana siswa kurang mampu menghadapi tuntutan-tuntutan yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran sehingga proses dan hasilnya kurang memuaskan. Ini terjadi karena kemampuan siswa untuk melakukan tugas yang tidak seimbang dengan tuntunan pembelajaran. Ada siswa yang mendapatkan nilai tinggi dan rendah, bahkan ada pula siswa yang gagal dalam mencapai tujuan pembelajaran. Kenyataan ini, menunjukkan bahwa masih banyak guru yang menghadapi sejumlah hambatan dalam proses pembelajaran di kelas.