Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Penerapan Modern Dressing Dengan Metode Moist Wound Healing Menggunakan Foam Dressing Guna Mempercepat Proses Penyembuhan Luka Ulkus Diabetikum Sherli Zeniar Adelia Sagita Putri; Didik Iman Margatot
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 8 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i8.2336

Abstract

Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronis diabetes mellitus yang dapat menyebabkan infeksi, gangren, hingga amputasi apabila tidak ditangani dengan tepat. Modern dressing, khususnya foam dressing, mampu mempertahankan kelembapan luka (moist wound healing), menyerap eksudat, serta mendukung proses granulasi dan epitelisasi sehingga dapat mempercepat penyembuhan luka. Tujuan: Mendeskripsikan hasil penerapan modern dressing menggunakan foam dressing dalam mempercepat penyembuhan luka ulkus diabetes mellitus. Metode: Penelitian ini menggunakan studi kasus deskriptif dengan dua responden penderita ulkus diabetes mellitus di Woundcare Rumah Rara, Kabupaten Wonogiri. Penerapan dilakukan selama 7 hari dengan pergantian balutan sebanyak 3 kali menggunakan foam dressing. Perkembangan luka dinilai menggunakan Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Sebelum penerapan, Tn. G memiliki skor BWAT 33 dan Ny. S sebesar 29 dengan kategori wound regeneration dan grade luka II. Setelah penerapan, skor BWAT menurun menjadi 26 pada Tn. G dan 24 pada Ny. S dengan grade luka I. Terjadi perbaikan tepi luka, goa, warna kulit sekitar luka, jaringan granulasi, dan epitelisasi. Penurunan skor masing-masing sebesar 7 dan 5 poin menunjukkan perkembangan penyembuhan luka. Kesimpulan: Penerapan modern dressing menggunakan foam dressing menunjukkan hasil baik dalam mempercepat penyembuhan ulkus diabetes mellitus melalui pengendalian eksudat, pemeliharaan kelembapan luka, serta peningkatan granulasi dan epitelisasi.
Penerapan Guided Imagery Dengan Kombinasi Terapi Murotal Terhadap Penurunan Insomnia Pada Lansia Azzahra Nur Hanifah; Didik Iman Margatot
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 8 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Insomnia sering dialami lansia akibat proses penuaan yang menyebabkan perubahan fisiologis dan psikologis sehingga menurunkan kualitas tidur dan aktivitas sehari-hari. Penanganan nonfarmakologis diperlukan karena lebih aman dan minim efek samping. Salah satu intervensinya adalah guided imagery yang dikombinasikan dengan terapi murotal untuk memberikan relaksasi psikologis dan spiritual. Tujuan: Mendeskripsikan penerapan guided imagery dengan kombinasi terapi murotal terhadap penurunan insomnia pada lansia. Metode: Desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus berbasis evidence based nursing practice pada dua lansia dengan insomnia. Pengukuran menggunakan Insomnia Rating Scale (IRS). Hasil: Terjadi penurunan skor IRS pada kedua responden, yaitu dari 29 menjadi 17 pada responden pertama dan dari 33 menjadi 19 pada responden kedua. Kesimpulan: Penerapan guided imagery dengan kombinasi terapi murotal dapat menurunkan tingkat insomnia pada lansia dan berpotensi menjadi intervensi keperawatan nonfarmakologis untuk meningkatkan kualitas tidur.
Penerapan Senam Dismenore Untuk Mengurangi Skala Nyeri Haid Pada Remaja Putri Risnanda Putri Wardani; Didik Iman Margatot
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 8 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i8.2340

Abstract

Dismenore merupakan masalah kesehatan reproduksi yang umum dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Data WHO menunjukkan sekitar 90% perempuan di dunia mengalami dismenore, sedangkan di Indonesia angka kejadiannya mencapai 64,25%. Penanganan dismenore dapat dilakukan secara farmakologis maupun non farmakologis. Salah satu terapi non farmakologis yang direkomendasikan adalah senam dismenore, yang dapat meningkatkan sirkulasi darah dan merangsang pelepasan endorfin sehingga menurunkan persepsi nyeri. Tujuan : penerapan ini adalah untuk mengetahui efektivitas senam dismenore dalam menurunkan skala nyeri haid pada remaja putri. Metode : Penerapan menggunakan desain deskriptif dengan observasi nyeri pre dan post intervensi. Subjek penerapan adalah dua remaja putri (Nn.A dan Nn.N) usia 14 tahun dengan dismenore derajat 2 di Desa Pakis Taji, Mojosongo, Boyolali. Senam dismenore dilakukan selama 3 hari berturut-turut pada hari pertama hingga ketiga menstruasi, pagi dan sore, dengan durasi kurang lebih 30 menit, terdiri atas gerakan pemanasan, inti, dan pendinginan. Pengukuran nyeri menggunakan lembar observasi Numeric Rating Scale (NRS). Hasil penerapan : menunjukkan skala nyeri Nn.A menurun dari 6 (nyeri sedang) menjadi 3 (nyeri ringan), sedangkan Nn.N menurun dari 5 (nyeri sedang) menjadi 2 (nyeri ringan). Dapat disimpulkan bahwa penerapan senam dismenore efektif menurunkan skala nyeri haid pada remaja putri, sehingga dapat direkomendasikan sebagai salah satu intervensi non farmakologis untuk mengatasi dismenore.