Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

ASSOCIATION BETWEEN SELF-EFFICACY AND ACADEMIC PROCRASTINATION MIDWIFERY STUDENTS Utaminingsih, Esty Setyo; Hermasari, Bulan Kakanita
Research and Development Journal of Education Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/rdje.v10i2.20471

Abstract

Penggunaan Media E-Flashcard dalam Pembelajaran Anatomi Sistem Saraf dan Sistem Indera Satria Wijaya, Alfian; Hermasari, Bulan Kakanita; Hastami, Yunia
Plexus Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2024): April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v3i2.567

Abstract

Pendahuluan: Media pembelajaran, seperti e-flashcard, adalah salah satu faktor penting untuk menunjang hasil pembelajaran. Namun, masih terdapat perbedaan mengenai pengaruh penggunaan media flashcard terhadap hasil belajar. Pada penelitian ini, peneliti melakukan penelitian mengenai pengaruh media pembelajaran e-flashcard terhadap hasil belajar mahasiswa kedokteran UNS pada praktikum anatomi. Metode: Desain penelitian menggunakan pretest-posttest control group design. Teknik sampling dengan convenience sampling. Populasi studi adalah mahasiswa kedokteran UNS angkatan 2021. Intervensi berupa media e-flashcard anatomi sistem saraf dan sistem indera. Responden yang bersedia kemudian dirandomisasi menjadi 2 kelompok, kelompok eksperimen (menggunakan e-flashcard, n= 15) dan kelompok kontrol (n=8). Setelah mengerjakan pretest, mahasiswa diberikan e-flashcard, kemudian mengerjakan posttest setelah menggunakan e-flashcard setidaknya 10 hari. Kuesioner diberikan pada kelompok pengguna e-flashcard untuk evaluasi. Data yang didapatkan kemudian dianalisis dengan Uji Paired Sample T-test dan Uji T-test Independent. Hasil: Uji independent t-test pada nilai pretest kontrol dan eksperimen didapatkan nilai p 0.117 dan pada nilai posttest didapatkan nilai p 0.001. Uji paired sample t-test antara kelompok eksperimen nilai p 0.614. Dari hasil kuesioner, didapatkan nilai secara keseluruhan 4,23 yang menunjukkan e-flashcard diterima dengan baik oleh mahasiswa dan mahasiswa setuju bahwa e-flashcard membantu pembelajaran. Kesimpulan: Tidak ada pengaruh signifikan antara penggunaan meda e-flashcard dengan hasil pembelajaran anatomi mahasiswa, tetapi e-flashcard diterima dengan baik oleh mahasiswa dan mahasiswa setuju bahwa e-flashcard berguna untuk pembelajaran.
The Relationship Between The Perception of Professional Identity and The Professionalism Level of Medical Students Luthfianasari, Luthfianasari; Pamungkasari, Eti Poncorini; Hermasari, Bulan Kakanita
Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian Journal of Medical Education Vol 13, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpki.87930

Abstract

Background: Medical education aims to create professional doctors through standardized methods according to the needs of public health services. A doctor must have a professional attitude and ability as a form of professional responsibility. Professionalism is often associated with professional identity, where professionalism is deemed necessary to be supported by professional identity. This study aims to determine the relationship between perceptions of professional identity and medical students’ professionalism level.Methods: A cross-sectional study was conducted in a faculty of medicine in Indonesia.  The respondents were medical students from 3 cohorts: 2019, 2020, and 2021. The data analysis used the Spearman correlation test.Results: A total of 276 respondents consist of 94 (34.1%) male and 182 (65.9%) female respondents. The mean scores for the professionalism level for batches 2019, 2020, and 2021, respectively, were 160.23, 160.83, and 162.07. The mean scores for the perception of professional identity for batches 2019, 2020, and 2021, respectively, were 86.89, 89.26, and 89.18. The Spearman correlation test results showed there was a relationship between the professionalism level and perceptions of professional identity (p <0.001; r = 0,508), but there was no relationship between the professionalism level and study period (p = 0.081; r = -0.105).Conclusion: There is a relationship between perceptions of professional identity and the professionalism level of medical students.
Hubungan Persepsi Lingkungan Belajar dan Empati pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sebelas Maret Lazuardi, Firdaus; Nugroho, Dian; Hermasari, Bulan Kakanita
Health and Medical Journal Vol 5, No 2 (2023): HEME May 2023
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v5i2.1079

Abstract

Pendahuluan: Empati merupakan sesuatu yang sangat penting dimiliki oleh seorang dokter karena dapat membantu dalam membangun komunikasi dengan pasien. Empati dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya lingkungan belajar. Beberapa penelitian telah menunjukkan terdapat hubungan antara empati dan lingkungan belajar. Akan tetapi, belum ada penelitian serupa yang dilakukan di Fakultas Kedokteran UNS.Tujuan penelitian: Untuk mengetahui adanya hubungan antara persepsi lingkungan belajar dan empati yang dimiliki mahasiswa kedokteran UNS. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dimana sampel terdiri dari mahasiswa kedokteran FK UNS angkatan 2018, 2019, dan 2020 yang diperoleh dengan cara stratified random sampling dan dihitung dengan Rumus Slovin pada bulan Agustus hingga November 2021. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner DREEM dan JSPE-S. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi lingkungan belajar dan empati pada mahasiswa kedokteran FK UNS dengan kekuatan korelasi lemah. Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman Rank didapatkan nilai korelasi (p) sebesar 0,001 (α = 0,05). Selain itu, aspek lingkungan belajar yang memiliki hubungan signifikan dengan empati mahasiswa adalah Learning, Teachers, Academic, dan Atmosphere. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi lingkungan belajar dan empati mahasiswa kedokteran FK UNS.
Writing Spectrum dan Nilai Course Basic Medical Profesionalism Mahasiswa Kedokteran: A Cross Sectional Study Saputra, Agung Ryan Bayu; Siti Munawaroh; Bulan Kakanita Hermasari
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 6 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v2i6.850

Abstract

Pendahuluan: Refleksi merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengajarkan profesionalisme kepada mahasiswa kedokteran. Kemampuan refleksi sangat penting untuk proses pembelajaran sepanjang hayat sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tulisan refleksi (writing spectrum) dan nilai course basic medical profesionalism mahasiswa kedokteran UNS dan mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa FK UNS mengenai profesionalitas tenaga medis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan studi cross sectional yang dilaksanakan di Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sampel dari penelitian ini adalah 66 mahasiswa yang termasuk kedalam kriteria inklusi. Sampel diambil dengan teknik probability sampling jenis simple random sampling. Variable terikat adalah nilai course basic medical professionalism dan variable bebas adalah kedalaman refleksi (writing spectrum). Data tulisan refleksi didapatkan dari pengisian kuisioner skala kedalaman refleksi (REFLECT) dan data nilai course basic medical professionalism diperoleh dari KBK FK UNS. Data kemudian akan dihitung menggunakan software SPSS dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Mayoritas level writing spectrum mahasiswa kedokteran berada pada tingkat 3( reflection). Hasil uji korelasi spearman didapatkan nilai p 0,039 yang bermakna terdapat hubungan antara kemampuan tulisan refleksi (writing spectrum) dengan nilai basic medical profesionalism course dengan kekuatan korelasi yang rendah dan arah positif. Kesimpulan: Terdapat hubungan tulisan refleksi (writing spectrum) dan nilai course basic medical profesionalism mahasiswa kedokteran UNS.
EXPLORING THE RESEARCH OF INTERPROFESSIONAL EDUCATION AND COLLABORATION FOR PATIENT SAFETY: A BIBLIOMETRIC ANALYSIS Hastami, Yunia; Pamungkasari, Eti Poncorini; Munawaroh, Siti; Hermasari, Bulan Kakanita; Randhita, Amandha Boy Timor; Maftuhah, Atik; Nugroho, Dian; Budiastuti, Veronika Ika
Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian Journal of Medical Education Vol 14, No 3 (2025): September
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpki.99859

Abstract

Background: Patient safety is a critical priority in healthcare, aiming to prevent harm and ensure optimal care delivery. Despite the inherent risks in health services, the 'to err is human' paradigm suggests that errors often stem from systemic issues rather than individual failings. Effective patient safety relies heavily on improved system design and the education of healthcare professionals with a focus on safety readiness. Integrating patient safety education into interprofessional education (IPE) frameworks is essential for fostering effective communication and teamwork, which are crucial for reducing structural system errors and enhancing care quality.Aims: To map the research landscape on patient safety and IPE, examining trends, countries, and thematic relationships within the field specifically focusing on how IPE addresses structural system errors in patient safetyMethods: This study conducts a bibliometric analysis using VOS viewer software, the analysis covers publications from January 2000 to July 2024, focusing on data from SCOPUS.Results: Results reveal a growing body of research on patient safety with IPE, highlighting notable simulation-based training and interprofessional collaboration trends. The analysis demonstrates an evolution from individual-focused approaches to system-based interventions. However, there is a clear need for more systematic and culturally nuanced studies, particularly in Southeast Asia, where research is limited.Conclusion: The findings underscore the importance of incorporating patient safety principles within IPE curricula and highlight research gaps, especially in contexts such as Indonesia and other Southeast Asian countries. Future research should address these gaps, explore the impact of IPE on structural system errors across diverse settings, and foster international collaboration to standardize and enhance educational practices in healthcare.
Hubungan Tekanan Teman Sebaya pada Kesiapan Belajar Mandiri Mahasiswa Kedokteran  di Universitas Sebelas Maret Surakarta Hastami, Yunia; Munawaroh, Siti; Wiyono, Nanang; Budiastuti, Veronika Ika; Hermasari, Bulan Kakanita; Ufqi, Ana Tsalitsal Futiya Roisal
Plexus Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v5i2.2577

Abstract

Pendahuluan: Mahasiswa kedokteran dituntut untuk memiliki kemampuan belajar mandiri yang kuat sebagai bagian dari proses pembelajaran profesional yang berkesinambungan. Kesiapan dalam belajar mandiri ini dipengaruhi oleh berbagai aspek sosial, termasuk tekanan dari lingkungan sebaya atau dikenal dengan peer pressure. Tekanan teman sebaya dapat memberikan dampak positif, seperti mendorong semangat untuk mencapai prestasi, maupun dampak negatif apabila menyebabkan stres atau kebiasaan yang tidak produktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tekanan dari teman sebaya mahasiswa kedokteran dengan kesiapan mahasiswa kedokteran dalam melakukan pembelajaran secara mandiri. Metode: Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Partisipan terdiri atas mahasiswa program studi kedokteran yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Data diperoleh melalui penyebaran dua kuesioner, yaitu Peer Pressure Inventory untuk mengukur tingkat tekanan dari teman sebaya dan Self Directed Learning Readiness-NE untuk mengukur kesiapan mahasiswa dalam belajar mandiri. Data diambil dalam satu waktu secara cross sectional. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi  menggunakan SPSS untuk mengidentifikasi hubungan antara kedua variabel Hasil: Responden berjumlah 138 mahasiswa terpilih secara acak. Hasil analisis menunjukkan ada hubungan signifikan antara nilai rerata tekanan teman sebaya dengan kesiapan belajar mandiri pada mahasiswa kedokteran (p=0,001) dengan korelasi positif dan kekuatan hubungan lemah. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai korelasi Pearson sebesar 0,269. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara nilai rerata tekanan teman sebaya dengan kesiapan belajar mandiri pada mahasiswa kedokteran.
Penggunaan Video Edukasi dalam Meningkatkan Pengetahuan Remaja tentang Covid-19 Hermasari, Bulan Kakanita; Hastami, Yunita; Kartikasari, M Nur Dewi
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 10, No 2 (2021): November
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v10i2.46021

Abstract

Pandemi covid-19 telah menyebabkan dampak signifikan pada berbagai tatanan kehidupan bermasyarakat. Salah satu upaya mencegah penyebaran penularan penyakit covid-19 adalah dengan melakukan protocol kesehatan ketat. Untuk menyebarluaskan protocol kesehatan ini dibutuhkan edukasi kesehatan secara massif dari berbagai pihak kepada semua kalangan masyarakat, salah satunya adalah kepada remaja usia sekolah. Remaja memiliki potensi untuk melakukan edukasi kepada teman sebaya dan keluarga terdekatnya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan menyusun suatu video singkat tentang protocol kesehatan Covid-19 yang disampaikan kepada remaja usia sekolah, dalam hal ini siswa SMP dan SMA sederajat. Untuk mengetahui efektivitas video edukasi terhadap peningkatan pengetahuan subyek, dilakukan tes sebelum dan sesudah pemberian edukasi melalui video. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, didapatkan peningkatan secara signifikan pengetahuan subyek tentang covid-19. Hal ini menujukkan bahwa video yang disusun bermanfaat sebagai media edukasi tentang covid-19.
Hubungan Resiliensi Diri dengan Tingkat Kecemasan Pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) An'nurihza Zidhan Azhara; I Gusti Bagus Indro Nugroho; Bulan Kakanita Hermasari
Plexus Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v2i1.456

Abstract

Pendahuluan: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit inflamasi kronis yang memengaruhi banyak organ yang dapat menimbulkan masalah psikologis berupa kecemasan. Dalam mengatasi tekanan psikis seseorang memiliki kemampuan bertahan dan menguasai tekanan yang ada atau resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan resiliensi diri dengan tingkat kecemasan pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Yayasan Tittari Surakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah resiliensi diri yang dinilai dengan kuesioner CD-RISC 10 (Connor Davidson Resilience Scale) dan variabel terikat berupa tingkat kecemasan yang dinilai dengan kuesioner TMAS (Taylor Manifest Anxiety Scale). Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rank. Hasil: Sebanyak 42 orang (82.4%) mengalami cemas. Hasil terbanyak subjek memiliki tingkat resiliensi diri sedang sebanyak 31 orang (60.8%). Hasil uji korelasi mendapatkan nilai p=0,005 (p<0,05) dengan nilai r -0,389 menunjukkan kedua variabel memiliki sifat hubungan yang negatif. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara resiliensi diri dengan tingkat kecemasan pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE).
Hubungan Dukungan Sosial dengan Tingkat Depresi Pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Naziha, Aliya; Maharatih, Gusti Ayu; Bulan Kakanita Hermasari
Plexus Medical Journal Vol. 1 No. 6 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v1i6.498

Abstract

Pendahuluan: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun yang disebabkan oleh pengendapan kompleks imun dengan keterlibatan berbagai organ. Salah satu manifestasi yang paling umum SLE adalah Neuropsychiatric Systemic Lupus Erythematosus (NPSLE). Manifestasi klinis NPSLE yang paling banyak ditemukan adalah gangguan mood yaitu depresi. Kondisi pasien SLE yang mengalami berbagai perubahan secara fisik dapat mempengaruhi keadaan psikologisnya sehingga dibutuhkan dukungan sosial yang positif karena dapat menjadi penyangga efek negatif dari rasa sakit dan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan tingkat depresi pada penderita Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Yayasan Tittari Surakarta. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah penderita Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Yayasan Tittari Surakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan pengisian kuesioner sosiodemografi, The Social Provisions Scale (SPS), dan Hospital Anxiety and Depression Scale – Depression (HADS-D). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, serta uji bivariat menggunakan Spearman Rank. Hasil: Penelitian ini diikuti oleh 60 responden. Responden didominasi oleh perempuan (96,7%), dengan rentang usia terbanyak adalah 18 – 35 tahun (48,3%), sudah menikah (78,3%), serta memiliki tingkat pendidikan perguruan tinggi (71,7%). Mayoritas responden telah menderita SLE ≥2 tahun (95%) serta mengonsumsi obat steroid dan immunosupressan (41,7%). 35 responden memiliki dukungan sosial rendah (58,3%) sedangkan 25 responden memiliki dukungan sosial tinggi (41,7%). Berdasarkan tingkat depresi, 49 responden (81,7%) dalam keadaan normal (81,7%), 9 responden memiliki depresi ringan (15%), 2 responden mempunyai depresi sedang (3,3%), dan tidak ada responden yang memiliki depresi berat. Hubungan dukungan sosial dengan tingkat depresi pada pasien SLE di Yayasan Tittari Surakarta menunjukkan nilai p = 0,004 (p<0,05) dan nilai koefisien korelasi r= 0,370. Kesimpulan: Terdapat korelasi lemah antara dukungan sosial dengan tingkat depresi pada pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Yayasan Tittari Surakarta dengan arah korelasi negatif.