Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Program Senam Lansia sebagai Upaya Promotif dan Preventif dalam Menjaga Kesehatan Lansia Sri Ariyanti; Rezqiqah Aulia Rahmat; Adisty Dwi Treasa
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Juni)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The elderly are an age group vulnerable to various health problems due to the aging process. Decreased physical function, reduced muscle strength, and an increased risk of non-communicable diseases such as hypertension and diabetes mellitus are common among the elderly. One way to maintain the health of the elderly is through regular physical activity, such as elderly exercise. This community service activity aims to increase awareness and participation of the elderly in physical activity through an elderly exercise program as a promotive and preventive measure for maintaining health. Implementation methods include health education on the importance of physical activity for the elderly, regular implementation of elderly exercise, and evaluation of the elderly's health condition before and after the activity. The results of the activity indicate an increase in elderly participation in physical activity and an increase in elderly awareness of the importance of maintaining health. The elderly exercise program has been proven effective in improving physical fitness and quality of life for the elderly. Keywords: Elderly, Elderly Exercise, Health Promotion, Physical Activity ABSTRAK Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami berbagai masalah kesehatan akibat proses penuaan. Penurunan fungsi fisik, berkurangnya kekuatan otot, serta meningkatnya risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes mellitus sering terjadi pada kelompok lansia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan lansia adalah melalui aktivitas fisik secara teratur, seperti senam lansia. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi lansia dalam melakukan aktivitas fisik melalui program senam lansia sebagai upaya promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan kesehatan mengenai pentingnya aktivitas fisik bagi lansia, pelaksanaan senam lansia secara rutin, serta evaluasi kondisi kesehatan lansia sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan partisipasi lansia dalam melakukan aktivitas fisik serta peningkatan kesadaran lansia mengenai pentingnya menjaga kesehatan. Program senam lansia terbukti efektif dalam meningkatkan kebugaran fisik dan kualitas hidup lansia. Kata Kunci: Lansia, Senam Lansia, Promosi Kesehatan, Aktivitas Fisik
Pengaruh Diaphragmatic Breathing Exercise Terhadap Fungsi Pernapasan (RR DAN APE) Pada Lansia di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat Tri Wahyuni; Cau Kim Jiu; Sri Ariyanti; Parliani Parliani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59183

Abstract

Latar Belakang: Penurunan fungsi paru merupakan konsekuensi alami proses penuaan pada lansia yang sering ditandai dengan perubahan frekuensi napas (Respiratory Rate/RR) dan penurunan Arus Puncak Ekspirasi (APE). Diaphragmatic Breathing Exercise (DBE) merupakan intervensi non-farmakologis yang berpotensi memperbaiki mekanika ventilasi paru. Tujuan: Mengetahui pengaruh Diaphragmatic Breathing Exercise terhadap fungsi pernapasan (RR dan APE) pada lansia di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain Quasi-Experiment dengan rancangan Pretest-Posttest with Control Group. Sampel berjumlah 46 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dibagi menjadi kelompok intervensi (n=23) dan kelompok kontrol (n=23). Kelompok intervensi diberikan DBE selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu. Instrumen pengukuran menggunakan peak flow meter untuk APE dan observasi visual untuk RR. Analisis data menggunakan uji Paired T-Test dan Independent T-Test.Hasil: Setelah 4 minggu intervensi, kelompok intervensi menunjukkan penurunan rerata RR yang signifikan (p < 0,001) dan peningkatan rerata APE yang signifikan (p < 0,001). Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna. Uji antar kelompok menunjukkan perbedaan signifikan pada nilai akhir RR (p = 0,002) dan APE (p < 0,001) antara kedua kelompok. Kesimpulan: Diaphragmatic Breathing Exercise berpengaruh signifikan dalam menurunkan frekuensi pernapasan (RR) dan meningkatkan Arus Puncak Ekspirasi (APE) pada lansia. Intervensi ini direkomendasikan sebagai program rehabilitasi rutin di panti sosial.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan ASI Eksklusif pada Anak Down Syndrome: Studi Cross-Sectional Siti Masdah; Lidia Hastuti; Cau Kim Jiu; Sri Ariyanti; Usman Usman; Muhammad Alfarizi; Ravi Aulia Febriyanti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59846

Abstract

Latar Belakang: Anak dengan Down Syndrome (DS) memiliki berbagai kondisi klinis yang dapat menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Kondisi seperti hipotonia, kelainan jantung bawaan (Congenital Heart Disease/CHD), dan penyakit penyerta berpotensi mengganggu kemampuan menyusu dan mempertahankan laktasi. Tujuan: Menganalisis determinan keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 70 ibu yang memiliki anak Down Syndrome. Sampel dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta regresi logistik biner dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil: Proporsi keberhasilan ASI eksklusif sebesar 47,1%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa penyakit penyerta, CHD, hipotonia, mudah lelah saat menyusu, kesulitan mengisap, dan kebutuhan bantuan posisi berhubungan signifikan dengan keberhasilan ASI eksklusif (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa CHD (AOR=0,24; 95%CI=0,07–0,83), hipotonia (AOR=0,25; 95%CI=0,07–0,88), dan penyakit penyerta (AOR=0,29; 95%CI=0,09–0,93) merupakan faktor dominan yang menurunkan peluang keberhasilan ASI eksklusif. Kesimpulan: Keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome dipengaruhi terutama oleh kondisi klinis anak. CHD merupakan faktor paling dominan yang menurunkan keberhasilan ASI eksklusif. Diperlukan dukungan laktasi dan pendampingan multidisiplin untuk meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome.
Effect of a Mental Health Mobile App on Depression Symptom Reduction Sri Ariyanti; Lie Jie; Cai Jixiong
Research Psychologie, Orientation et Conseil Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/rpoc.v1i4.1386

Abstract

Mobile health applications are increasingly being used as a tool to manage mental health conditions, particularly depression. These apps provide accessible and scalable interventions, such as cognitive behavioral therapy (CBT) exercises and mood tracking, allowing users to engage in self-guided treatment. However, the effectiveness of such apps in reducing depression symptoms, particularly over extended periods, remains under-researched. This study aimed to evaluate the effectiveness of a mental health mobile app in reducing depression symptoms over a 12-week period. The primary goal was to determine if consistent use of the app leads to significant improvements in mental health compared to traditional in-person therapy. A randomized controlled trial (RCT) was conducted with 200 participants diagnosed with mild to moderate depression. Participants were randomly assigned to two groups: the intervention group used the mobile app, and the control group received standard in-person therapy. Depression symptoms were assessed at baseline, 6 weeks, and 12 weeks using the Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9). Engagement with the app, such as logins and completed CBT exercises, was also tracked for the intervention group. The intervention group showed a 35% reduction in PHQ-9 scores by the 12-week mark, while the control group exhibited a 20% reduction. Higher app engagement correlated with greater symptom reduction. The mobile app proved particularly effective in reducing depression symptoms among those who consistently used its features. The mental health mobile app was effective in significantly reducing depression symptoms, especially with regular use. These findings support the use of mobile apps as a complementary or alternative treatment to traditional therapy for managing depression.
Pelatihan Perawatan Lansia Dengan Demensia: Implementasi Asuhan Keperawatan Di Komunitas Sri Ariyanti; Rachmat Ramli; Trimaya Cahya Mulat; Rahmat Pannyiwi
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Desember)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i1.872

Abstract

The increasing elderly population in Indonesia has led to a rise in dementia cases, requiring special attention in caregiving. Families and communities play an essential role in maintaining the quality of life of older adults with dementia through community-based nursing care. This community service program aimed to improve family knowledge and skills in providing nursing care for elderly people with dementia in the working area of Puskesmas X. The methods used included interactive lectures, demonstrations, group discussions, and leaflet distribution. Participants consisted of 25 families caring for elderly individuals with mild to moderate dementia. The results showed an 82% increase in participants’ knowledge based on pre- and post-test evaluations. Participants were able to understand the basic concepts of dementia, effective communication techniques, and elderly care principles. This program strengthens the role of families in maintaining cognitive function and emotional well-being among the elderly in the community.
Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Kesehatan Mental Lansia di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas (PSRLURPD) Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat Sri Ariyanti; Cau Kim Jiu; Tri Wahyuni
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.61351

Abstract

Latar belakang: Seiring bertambahnya usia, lansia sering mengalami penurunan baik fisik maupun mental, seperti melemahnya kekuatan otot, keseimbangan, serta risiko gangguan suasana hati bahkan isolasi sosial sehingga dapat menimbulkan depresi. Kondisi tersebut dapat merusak kualitas hidup dan meningkatkan ketergantungan lansia pada orang lain. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan intensitas aktivitas fisik yang efektif dalam menganalisis pengaruh aktivitas fisik terhadap kesehatan mental lansia di panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mulia Dharma Provinsi Kalimantan Barat. Metode: penelitian ini merupakan penelitian Quasi Experimental study dengan pretest post test design with control group dengan jumlah lansia 20 orang orang lansia kelompok intervensi dan 20 lansia dengan kelompok kontrol di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas (PSRLURPD) Mulia Dharma. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami penurunan rerata skor gangguan kesehatan mental yang signifikan dari 14,50 menjadi 8,20 setelah diberikan aktivitas fisik terstruktur (p-value=0,000), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna dari 13,90 menjadi 13,10 (p-value=0,070). Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik efektif dalam meningkatkan kesehatan mental lansia di lingkungan panti sosial. Simpulan: aktivitas fisik dapat dijadikan sebagai intervensi nonfarmakologis yang efektif, murah, aman, dan mudah diterapkan dalam upaya meningkatkan kesehatan mental lansia. Oleh karena itu, pengelola panti sosial diharapkan dapat mengembangkan program aktivitas fisik yang terstruktur dan berkelanjutan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan holistik bagi lansia.