Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

IDENTIFIKASI POTENSI TINGGALAN ARKEOLOGI KLASIK DI KECAMATAN SAROLANGUN, JAMBI: PENDEKATAN PREDICTIVE MODELLING Nainunis Aulia Izza; Ari Mukti Wardoyo Adi; Nugrahadi Mahanani
Naditira Widya Vol. 15 No. 1 (2021): Naditira Widya Volume 15 Nomor 1 April Tahun 2021
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan atas dasar hipotesis tentang keberadaan tinggalan-tinggalan masa klasik yang berada di Daerah Aliran Sungai Batanghari. Kecamatan Sarolangun dipilih karena hingga kini belum pernah diteliti potensinya tentang tinggalan pemukiman arkeologi klasik. Tinggalan arkeologi klasik yang pernah dilaporkan hanyalah arca Ganesha yang saat ini disimpan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Penelitian ini dilakukan dengan metode predictive modelling dengan menggunakan perangkat Sistem Informasi Geografis untuk dapat membantu memperkirakan titik-titik yang mengandung potensi tinggalan arkeologi. Variabel prediksi yang digunakan adalah laporan temuan, model lokasi situs, informasi masyarakat, serta potensi temuan permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa lokasi di Kecamatan Sarolangun yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap tinggalan arkeologi klasik. Sensitivitas tinggalan arkeologi ini kemudian diturunkan dalam bentuk peta potensi. Tujuan utama dari pembuatan peta tersebut adalah agar dapat menentukan strategi riset lanjutan.This research was conducted on the basis of a hypothesis about the existence of the remains of the classical period in the Batanghari River Basin. Sarolangun District was chosen because until today there has not been any investigation on classical archaeological settlements. The only classical archeological remains that have been reported are the Ganesha statue which is currently stored in the Sultan Mahmud Badaruddin II Museum, in Palembang. This research was conducted using a predictive modelling method by employing a Geographic Information System to be able to help estimate points containing potential archaeological remains. Predictive variables used are report findings, site location models, community information, and potential surface findings. The results showed that there are several locations in Sarolangun District that have high sensitivity to classical archeological remains. The sensitivity of the archaeological remains is then derived in the form of a potential map. The main purpose of making the map is to be able to determine further research strategies.
ASPEK GEOARKEOLOGI TERHADAP STRATEGI SUBSISTENSI MASYARAKAT DI PESISIR SELATAN BELITUNG DARI ABAD KE-19 SAMPAI AWAL ABAD KE-20 MASEHI Aryandini Novita; Ari Mukti Wardoyo Adi
Naditira Widya Vol. 14 No. 2 (2020): Naditira Widya Volume 14 Nomor 2 Oktober Tahun 2022
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia dapat melakukan berbagai aktivitas untuk bertahan hidup sesuai dengan lingkungan fisik di sekitarnya, dan pada akhirnya menyisakan bentanglahan yang sedemikian rupa saat ini. Dalam upaya bertahan hidup, strategi subsistensi merupakan faktor paling mendasar dalam aktivitas kehidupan manusia. Rekonstruksi aktivitas manusia dalam menjalankan strategi subsistensinya pada masa lalu dapat dilakukan dengan mengkaji lingkungan fisik dan tinggalan arkeologi yang tersisa. Pulau Belitung memiliki peranan penting pada masa kolonial karena kondisi geografisnya. Potensi tambang timahnya mampu menarik perhatian pemerintah Hindia-Belanda untuk mulai melakukan eksploitasi pada abad ke-19 Masehi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pola aktivitas masyarakat di pesisir selatan Pulau Belitung dalam menjalankan strategi subsistensinya dari abad ke-19 hingga awal abad ke-20 Masehi, dengan menggunakan pendekatan geoarkeologi. Variabel yang digunakan sebagai dasar analisis adalah topografi, morfologi, bentuklahan, serta distribusi situs arkeologi dan jenis temuan arkeologi yang ditinggalkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola aktivitas masyarakat di pesisir selatan Pulau Belitung melibatkan dua ekosistem, yakni perairan dan kelekak. Dua ekosistem tersebut memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di pesisir selatan Pulau Belitung, di mana tambang timah merupakan produk yang mayoritas dieksploitasi. Humans can carry out various activities to survive following the physical environment around them, and eventually, leaving such landscapes as it is today. To survive, the subsistence strategy is the most fundamental factor in human life activities. The reconstruction of human activities in carrying out their subsistence strategy in the past can be done by examining the physical environment and the remaining archaeological remnants. Pulau Belitung played an important role during the colonial period due to its geographical conditions. The potential for tin mining was able to attract the attention of the Dutch East Indies government to start exploiting it in the 19th century. This study aims to comprehend the pattern of community activity on the southern coast of Pulau Belitung in carrying out its subsistence strategy from the 19th to the early 20th century, using a geoarcheological approach. The variables used as the basis for the analysis are topography, morphology, landform, and distribution of archaeological sites and the types of archaeological items left behind. The results of this study indicate that the pattern of community activity on the southern coast of Pulau Belitung Island involves two ecosystems, which are aquatic and kelekak. The two ecosystems have an important position in the daily life of the people on the southern coast of Pulau Belitung, where tin mining is the product that is mostly exploited.