Perkembangan teknologi industri telah mendorong penggunaan material komposit sebagai alternatif material logam karena memiliki massa yang lebih ringan dan sifat mekanik yang dapat direkayasa sesuai kebutuhan aplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh panjang serat Agave sisalana terhadap kekuatan tarik dan karakteristik patahan komposit bermatriks poliester. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan variasi panjang serat 10, 20, 30, 40, dan 50 mm. Komposit dibuat menggunakan metode hand layup dengan komposisi 10% serat dan 90% resin poliester. Setiap variasi terdiri atas lima spesimen yang diuji tarik berdasarkan standar ASTM D638-02 menggunakan Universal Testing Machine (UTM). Karakteristik patahan diamati melalui pengamatan visual pada permukaan patahan spesimen setelah pengujian tarik. Hasil pengujian menunjukkan nilai rata-rata kekuatan tarik sebesar 19,93; 19,25; 18,19; 15,60; dan 24,08 N/mm² untuk panjang serat berturut-turut 10, 20, 30, 40, dan 50 mm. Pengamatan patahan menunjukkan adanya rongga pada spesimen dengan panjang serat 10 mm, sedangkan pada panjang serat 20 mm dan 30 mm ditemukan retak matriks (matrix cracking) dan pelepasan ikatan serat-matriks (fiber–matrix debonding). Pada panjang serat 40 mm teramati patah serat (fiber fracture) yang berkontribusi terhadap penurunan kekuatan tarik. Sementara itu, spesimen dengan panjang serat 50 mm menunjukkan distribusi serat yang lebih merata dan transfer beban yang lebih efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi panjang serat memengaruhi kekuatan tarik dan karakteristik patahan komposit poliester. Namun, peningkatan panjang serat tidak selalu meningkatkan kekuatan tarik secara linier. Pada kondisi penelitian ini, panjang serat 50 mm menghasilkan kekuatan tarik tertinggi sebesar 24,08 N/mm².