Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Intervensi Nonfarmakologis sebagai Solusi Kelelahan pada Pasien Kanker Payudara: Sebuah Tinjauan Sistematik Ribka Sabarina Panjaitan; Khalida Ziah Sibualamu; Sarah Geltri Harahap; Shinta Prawitasari; Tri Setyaningsih; Ludovikus Ludovikus
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.22320

Abstract

ABSTRACT Fatigue is one of the most common and debilitating symptoms experienced by breast cancer patients, particularly during chemotherapy. Pharmacological management often remains insufficient, highlighting the need for safe and effective non-pharmacological interventions. To systematically identify and analyze various non-pharmacological interventions used to manage fatigue in breast cancer patients undergoing chemotherapy. This study employed a systematic review method following the PRISMA and Joanna Briggs Institute guidelines. Literature was searched from databases including PubMed, ScienceDirect, and Sagejournal using PICOT-based keywords. Included articles were Randomized Controlled Trials (RCTs) studies, published in English between 2015 and 2025.Results: Out of 585 articles identified, 6 met the inclusion criteria. The reviewed studies demonstrated the effectiveness of several non-pharmacological interventions in reducing cancer-related fatigue, including ATAS acupuncture, structured physical exercise programs (aerobic and strength training), yoga, and traditional Chinese herbal medicine (XBYRT). These interventions also showed additional benefits on sleep quality, anxiety, depression, and overall quality of life. Non-pharmacological interventions show significant potential in alleviating fatigue among breast cancer patients undergoing chemotherapy. A holistic approach that integrates physical, psychological, and spiritual strategies is recommended to improve patient well-being. Further large-scale and long-term studies are warranted to strengthen these findings. Keywords: Breast Cancer, Chemotherapy, Fatigue Non-Pharmacological Interventions ABSTRAK Kelelahan merupakan salah satu gejala paling umum dan melemahkan yang dialami pasien kanker payudara, terutama selama menjalani kemoterapi. Penanganan kelelahan dengan pendekatan farmakologis seringkali belum optimal, sehingga diperlukan strategi tambahan berupa intervensi nonfarmakologis yang aman dan efektif. Mengidentifikasi dan menganalisis secara sistematik berbagai intervensi nonfarmakologis yang digunakan untuk mengatasi kelelahan pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Penelitian ini menggunakan metode systematic review dengan mengacu pada panduan PRISMA dan Joanna Briggs Institute Guideline. Pencarian literatur dilakukan melalui database PubMed, ScienceDirect, dan Sagejournal dengan  kata kunci sesuai format PICOT. Artikel yang dianalisis berjenis Randomized Controlled Trial (RCT), berbahasa Inggris, dan dipublikasikan dalam rentang 2015–2025. Dari 585 artikel yang ditemukan, sebanyak 6 artikel memenuhi kriteria inklusi. Intervensi nonfarmakologis yang terbukti efektif dalam menurunkan kelelahan meliputi akupunktur ATAS, program latihan fisik (aerobik dan kekuatan), yoga, dan ramuan herbal TCM (XBYRT). Efek positif juga terlihat pada aspek tambahan seperti kualitas tidur, kecemasan, depresi, dan kualitas hidup pasien. Intervensi nonfarmakologis terbukti memberikan manfaat signifikan dalam mengurangi kelelahan pada pasien kanker payudara selama kemoterapi. Penggabungan pendekatan fisik, psikologis, dan spiritual melalui intervensi yang terencana dapat menjadi strategi holistik dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar dan durasi yang lebih panjang untuk memperkuat temuan ini. Kata Kunci: Intervensi Nonfarmakologis, Kanker Payudara, Kelelahan, Kemoterapi.
Health Belief Model Pada Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) Terhadap Wanita : Systematic Review Ribka Sabarina Panjaitan; Yurita Mailintina; Nia Rosliany; Ludovikus Ludovikus
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.17784

Abstract

ABSTRACT The leading cause of mortality for women is breast cancer, a common illness. In the world, approximately a million new cases are found each year. The rising incidence of this disease is caused by a number of risk factors, including age, genetics, and lifestyle choices. The government-sponsored breast self-examination (BSE) program is one method of early breast cancer detection. Despite the program's effectiveness, minimal participation persists. Based on the Health Belief Model (HBM) paradigm, research has demonstrated improvements in health behaviors like BSE. Systematically identify and analyze various literature regarding the effectiveness of using interventions based on the Health Belief Model theory on BSE practice behavior for women. This research uses a systematic review method, collecting data from scientific journals, clinical reports, and other related publications, namely Pubmed, Science Direct, Sagejournal. The inclusion criteria set are original research articles, in English and published within the 2014-2024 period. The sample used in this research ranged in age from 16-80 years and was conducted on women. Based on the search results, 6 articles were found that met the inclusion criteria. The articles obtained prove that the use of HBM-based interventions is effective in increasing knowledge, perceptions, skills, and in some cases, behavior related to BSE practice. HBM-based interventions are effective in increasing BSE knowledge and skills, but behavior change requires long-term support. Mass and visual media are also effective in increasing awareness. Keywords: Breast Cancer, BSE, Health Belief Model, Women  ABSTRAK Penyebab utama kematian perempuan adalah kanker payudara, penyakit yang umum. Di dunia, sekitar satu juta kasus baru ditemukan setiap tahunnya. Meningkatnya kejadian penyakit ini disebabkan oleh sejumlah faktor risiko, antara lain usia, genetik, dan pilihan gaya hidup. Program pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) yang disponsori pemerintah merupakan salah satu metode deteksi dini kanker payudara. Meskipun program ini efektif, partisipasinya masih sangat minim. Berdasarkan paradigma Health Belief Model (HBM), penelitian telah menunjukkan perbaikan dalam perilaku kesehatan seperti SADARI. Mengidentifikasi dan menganalisis dari berbagai literatur secara sistematik terkait efektifitas penggunaan intervensi berbasis teori Health Belief Model pada perilaku praktik SADARI terhadap wanita.  Penelitian ini menggunakan metode tinjauan sistematis, mengumpulkan data dari jurnal ilmiah, laporan klinis, dan publikasi terkait lainnya yaitu Pubmed, Science Direct, Sagejournal. Adapun kriteria inklusi yang ditetapkan yaitu artikel penelitian original, berbahasa inggris dan di publikasikan dalam rentang waktu 2014-2024. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berusia berkisar 16-80 tahun dan dilakukan pada wanita. Berdasarkan hasil pencarian, ditemukan 6 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi. Dari artikel yang didapatkan membuktikan bahwa penggunaan intervensi berbasis HBM efektif untuk meningkatkan pengetahuan, persepsi, keterampilan, dan pada beberapa kasus, perilaku terkait prakek SADARI. Intervensi berbasis HBM efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan SADARI, namun perubahan perilaku memerlukan dukungan jangka panjang. Media massa dan visual juga efektif meningkatkan kesadaran.   Kata Kunci: Kanker Payudara, SADARI, Health Belief Model, Wanita
Edukasi Dampak Bullying Terhadap Minat Belajar Siswa di SMA Budi Mulia Jakarta: Pengabdian Kepada Masyarakat Kristoforus Marselinus; Tri Setyaningsih; Ribka Sabarina Panjaitan; Fariz Kahendra
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 3 No 1 (2026): SerQua : Service Quality (Jurnal Pengabdian Masyarakat)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bullying merupakan fenomena yang masih banyak terjadi di lingkungan sekolah dan berimplikasi serius terhadap kondisi psikologis serta minat belajar siswa. Korban bullying cenderung mengalami penurunan konsentrasi, kepercayaan diri, dan partisipasi dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak bullying terhadap minat belajar siswa serta mengevaluasi efektivitas intervensi edukatif sebagai upaya peningkatan pemahaman siswa. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain pre-test dan post-test. Subjek penelitian terdiri atas 175 siswa kelas X SMA Budi Mulia Jakarta Pusat yang dipilih sebagai populasi strategis dalam pembentukan perilaku belajar. Intervensi dilakukan melalui edukasi interaktif yang meliputi ceramah, diskusi kelompok, role play, dan studi kasus. Data dikumpulkan menggunakan instrumen tes pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis secara deskriptif dengan perhitungan N-Gain Score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami peningkatan pengetahuan pada kategori rendah (73,7%) dan sedang (26,3%), serta tidak ditemukan peningkatan pada kategori tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa edukasi memberikan dampak awal terhadap peningkatan pemahaman siswa mengenai dampak bullying terhadap minat belajar, namun efektivitasnya belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berkelanjutan dan terintegrasi dalam sistem pendidikan sekolah guna menghasilkan perubahan pengetahuan dan sikap siswa yang lebih mendalam dan berkelanjutan. Kata kunci: bullying, minat belajar, edukasi, siswa SMA.
Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan Stunting Menuju Generasi Emas Tahun 2045 Sarah Geltri Harahap; Ellynia Ellynia; Tania Gunawan; Ribka Sabarina Panjaitan; Catherine Hermawan Salim
Idea Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 01 (2026)
Publisher : PT.Mantaya Idea Batara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53690/ipm.v6i01.511

Abstract

Stunting merupakan masalah kesehatan yang masih menjadi rencana pembangunan jangka menengah nasional. Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis yang diterima anak pada masa kritis pertumbuhan. Oleh karena itu, tingkat pengetahuan keluarga khususnya ibu menjadi penting sebagai langkah penanganan kasus tersebut. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tingkat pengetahuan masyarakat dapat dipengaruhi oleh pendidikan kesehatan yang diberikan melalui program pengabdian kepada masyarakat. Penelitian dilakukan dengan memberikan pre-test dan post-test sebanyak 20 soal sebelum dan sesudah edukasi dengan melibatkan 30 partisipan. Hasil penelitian kemudian dianalisis secara univariat untuk mengetahui nilai dari setiap uji yang dilakukan dan bivariat untuk melihat pengaruh yang ditimbulkan. Analisis univariat menunjukkan terdapat perbedaan kategori yang dihasilkan antara pre- test dan post-test yaitu pada post-test sebanyak 100% responden termasuk dalam kategori pengetahuan tinggi. Kemudian, pada perbandingan bivariat, ditemukan adanya pengaruh yang dihasilkan oleh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan masyarakat (p = <0,001) mengenai pencegahan stunting. Dengan demikian, setelah pendidikan kesehatan dilakukan, diharapkan masyarakat mampu menerapkan langkah-langkah pencegahan stunting secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari
Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Art Painting terhadap Tingkat Sters pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2 Cengkareng Tri Setyaningsih; Ribka Sabarina Panjaitan; Dameria Br Saragih; Fitri Adella; Desti Dwi Astuti
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2026): Juni : Jurnal Sains dan Kesehatan (JUSIKA)
Publisher : Universitas Muhamadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jusika.v10i1.1164

Abstract

Stress in older adults needs attention because it can negatively affect physical, emotional, and social well-being, as well as overall quality of life. Elderly individuals living in social welfare institutions are particularly vulnerable to stress due to environmental changes, limited family involvement, loneliness, daily routines, and reduced independence. This study aimed to determine the effect of art painting group activity therapy on stress levels among older adults at Budi Mulia 2 Cengkareng Social Welfare Home. A quantitative pre-experimental study with a one-group pretest-posttest design was conducted involving 33 participants selected through total sampling. Stress levels were measured using the DASS-21 stress subscale. The intervention consisted of four art painting sessions lasting 30–45 minutes each. Data were analyzed using the Wilcoxon test. The mean stress score decreased from 22.18 before the intervention to 15.94 after the intervention. The Wilcoxon test showed a significant difference (p = 0.000), indicating that art painting group activity therapy effectively reduced stress levels among older adults.
Effects of Health Education on Knowledge and Preventive Behaviors Related to ARI and Pneumonia in Timor-Leste Yarwin Yari; Hardin La Ramba; Daud Wiberdjohn Tafuli; Nia Rosliany; Rizqa Wahdini; Ribka Sabarina Panjaitan; Khalida Ziah Sibualamu; Wagida Ahmed Nasor Abdelrahim
Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan (Abdigermas) Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat Bidang Kesehatan (Abdigermas)
Publisher : CV Media Inti Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58723/abdigermas.v4i2.710

Abstract

Background: Respiratory tract infections, particularly Acute Respiratory Infections (ARI) and pneumonia, remain important public health concerns in rural communities with limited access to health information.Aims: This community-based health education program aimed to assess changes in community knowledge and preventive behaviors related to ARI and pneumonia among adults in Vatuboro Village, Liquica District, Timor-Leste.Methods: A pre-experimental one-group pretest–posttest design was used involving 20 participants selected through purposive sampling. The intervention consisted of interactive health education sessions, including lectures, group discussions, and demonstrations on respiratory disease prevention practices. Data were collected using structured questionnaires and analyzed using descriptive statistics and paired t-tests with a significance level of p < 0.05.Conclusion: Continuous and contextually appropriate health education programs are recommended to support community health literacy and respiratory disease prevention.
Exploring Nursing Students’ Perceptions of English Learning for Palliative Care Communication Linauli Happy Christina Zega; Elyin Artha Karlina Lumban Gaol; Enni Juliani; Ribka Sabarina Panjaitan; Yarwin Yari; Resti Amalia
Indonesian Technology and Education Journal Vol 4 No 2 (2026): Agustus
Publisher : Sakura Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61255/itej.v4i2.1263

Abstract

Effective communication combining clinical competence with empathy and cultural sensitivity is central to quality palliative care. In globalized healthcare, English proficiency has become essential for nursing students, not only as a professional tool but as a medium for compassionate, ethical communication. This study aims to explore nursing students’ perceptions of learning English for palliative care communication, identify the challenges they face in developing empathetic and clinical language competence, and propose pedagogical strategies to enhance English-for-Nursing curricula. A mixed-method research design was employed with undergraduate nursing students from STIKes RS Husada, Jakarta. Data were gathered through questionnaires of all 40 students, and semi-structured interviews were conducted online with 10 selected students. The results of the study showed that students' perception of the importance of English in palliative care communication was in the agree and strongly agree categories, with an average overall score of 81.5%. The highest indicator was the importance of English for the future career of a nurse. The result also highlighted that 42% of students experienced challenges in learning English for palliative care, namely expressing empathy, understanding vocabulary, role-playing, limited opportunities to practice, and cultural differences.  Interview data confirmed that students recommend role-play, simulation, peer dialogue, and multimedia immersion for improvement, highlighting interactive and experiential learning strategies