Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Sosiabilitas Pola Ruang di Kawasan Gua Maria Angelique Milleanda; Maria Immaculata Ririk Winandari; Julindiani Iskandar
Pawon: Jurnal Arsitektur Vol 6 No 1 (2022): Pawon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/pawon.v6i1.3712

Abstract

Hal terpenting dalam sosiabilitas adalah cara agar pengunjung dapat merasakan tempat dan keterikatan yang lebih kuat antar sesama manusia. Tetapi berbeda dengan kawasan gua Maria tidak hanya keterikatan antara tempat dan manusia saja, kawasan tersebut juga harus membuat pengunjung merasa terhubung secara tidak langsung dengan Pencipta-Nya. Umumnya penyusunan kawasan gua Maria selalu terdapat ruang terbuka yang menjadi penghubung antara kawasan ibadah dan ruang publik. Kemudian alam menjadi komponen untuk membentuk pola ruang sakral. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiabilitas pola ruang yang diterapkan pada kawasan gua Maria. Langkah-langkah agar mendapatkan suatu pola ruang maka dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan menganalisis elemen dari prinsip sociability pada placemaking yaitu, kehidupan jalanan (Street life), dan penggunaan pada malam hari (Evening Use), menggunakan studi kasus kawasan gua Maria antara lain kawasan gua maria Lourdes di Perancis, kawasan gua Maria Pohsarang di Kediri, dan kawasan gua Maria Sendangsono di Yogyakarta. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa jalanan sebagai tempat (Street life), perlu memperhatikan sepuluh kualitas dalam menciptakan ruang hidup pada jalanan. Prinsip kedua penggunaan pada malam hari (Evening Use), diperlukannya pencahayaan menciptakan ruang yang aman.
PERCONTOHAN RUANG KOMUNAL DI RUMAH SUSUN TAMBORA, JAKARTA BARAT Maria Immaculata Ririk Winandari; Julindiani Iskandar; Dedes Nur Gandarum; Sri Handjajanti
JUARA: Jurnal Wahana Abdimas Sejahtera Volume 1, Nomor 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1268.105 KB) | DOI: 10.25105/juara.v1i1.5909

Abstract

Communal space will be managed optimally for the development and maintenance carried out by pesertauni. In Tambora Flats (Rusunawa), spacious units of dwelling cause residents need communal space as a place for them to socialize quickly. Understanding and skills regarding the development and maintenance of independent (participatory) spaces are very much needed to improve the use of space, improve the quality of the environment, as well as improve the skills of low-cost housing residents. The target of PKM this time consists of piloting the construction of recycled concrete communal spaces and participatory communal maintenance rooms. The PKM program this time aims to increase knowledge and understanding of communal spaces and the ability to develop these spaces in a participatory manner. The purpose was made through a demonstration of communal space using concrete materials, concrete residue tests from the FTSP Concrete Laboratory as the main material for making benches and garden boundaries. The pilot participants were RW 11 management, RT 009 management, residents who work as artisans, and other residents of Tambora Rusunawa residents in Kelurahan Angke, Tambora District. Participatory agreement required by residents from the design process to completion. The communication room PKM Team Program provides an insight into the design of a good communal space with facilitators who encourage residents to get in the care of the space
KARAKTERISTIK KAWASAN PECINAN PANTAI UTARA PULAU JAWA (Studi Kasus : Kawasan Pecinan Lasem, Jawa Tengah) Julindiani Iskandar; Mohammad Ali Topan
AGORA:Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 16 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.043 KB) | DOI: 10.25105/agora.v16i1.3208

Abstract

ABSTRAK Kawasan Pecinan hadir di banyak kota di pulau Jawa terutama didaerah sepanjang pantai Utara. Seiring berjalannya waktu kawasan-kawasan ini sudah mulai menghilang, tetapi ‘bekas’ kehadirannya masih terasa kental sekali. Suasana yang khas, diperkuat dengan adanya klenteng sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial menjadi simbol akan eksistensi kawasan pecinan.Kawasan Pecinan Lasem merupakan suatu kawasan hunian sekaligus tempat kegiatan sosial untuk mendukung kehidupan penghuninya memiliki karakteristik arsitektur berbeda dengan kawasan lainnya di kota Lasem. Kawasan pecinan di Lasem saat ini berkembang menjadi pusat perdagangan dan industri batik. Permasalahan yang terjadi di kawasan Pecinan Lasem saat ini adalah mulai pudarnya bangunan-bangunan bergaya Cina yang ada karena ditinggalkan penghuninya, atau telah beralih menjadi fungsi baru. Untuk mengetahui karakteristik Pecinan Lasem saat ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi elemen-elemen fisik pembentuk kota dengan menggunakan teori dari Hamid Shirvani, yang terdiri dari :1. Guna lahan (land use)2. Bentuk dan massa bangunan (building form & massing)3. Sirkulasi dan perparkiran (circulation & parking)4. Ruang terbuka (open space)5. Pedestrian (pedestrian ways)6. Fasilitas pendukung aktifitas (activity support)7. Penanda (signage) 8. Preservasi (preservation)Secara keseluruhan kawasan pecinan Lasem, dilihat dari 8 elemen pembentuk kota tersebut di atas, unsur budaya cina masih terlihat  cukup kental pada bangunan-bangunan yang tersisa di kawasan pecinan Lasem ini. Kata kunci: Pecinan, Karakter, Elemen fisik, Lasem  ABSTRACTChinatown region is present in many cities on the island of Java, especially in areas along the North coast. As time passes these areas have started to disappear, but the 'former' presence still feels very strong. Typical atmosphere, reinforced by the pagoda as the center of religious and social activities become a symbol of the existence of Chinatown. Lasem Pecinan Region is a residential area as well as a place of social activities to support the life of its inhabitants have different architectural characteristics with other areas in the city of Lasem. Chinatown area in Lasem is currently developing into a center of trade and batik industry. The problems that occur in the Lasem Chinatown area today are beginning to fade Chinese-style buildings that existed due to the abandonment of its inhabitants, or have turned into a new function. To know the current characteristics of Lasem Chinatown is done by identifying the physical elements of city-building by using the theory of Hamid Shirvani, which consists of:1. Land use2. Building form & massing3. Circulation & parking 4. Open space )5. Pedestrian ways 6. Activity support7. Signage8. Preservation Overall Lasem Chinatown area, seen from the 8 elements forming the city mentioned above, the Chinese cultural element still looks pretty thick on the remaining buildings in this Lasem Chinatown area. Keywords: Chinatown, character, physical elements, Lasem 
KONSEP PENCAHAYAAN ALAMI PADA DESAIN RUANG GALERI MENGGUNAKAN DIALUX EVO 9.2 (Studi Kasus: Desain Perancangan Gedung Pusat Pertunjukan Seni Dan Budaya di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur) Fenny Kartika Pratiwi; Etty R. Kridarso; Julindiani Iskandar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i3.767

Abstract

Abstract: The Gallery in the design of the Center for the Performing Arts and Culture has a function as an art exhibition using natural or artificial lighting by having standard of light intensity based on the Indonesian National Standard 03-6575-2001  Light Strength in the Gallery is 500 Lux and Greenship Rating Tools from Green Building Council Indonesia (GBCI), the minimum standard for natural lighting areas is 30% of the total area. The purpose of this research was to determine the design of the gallery according to the standards based on the simulation results using these standards as a reference for assessment identification. Writing with quantitative methods using DIALux Evo 9.2 software for building simulation by adjusting the coordinates of the building location, 3D building, and the effective hours from the sun source in the morning (06.00 WIB & 08.00 WIB), afternoon (12.00 WIB & 14.00 WIB), and evening (16.00 WIB). The simulation results contains lux calculations, lighting contours, and lighting distribution. Based on the analysis, the gallery has complied the standard of natural lighting needs around 08.00 WIB to 16.00 WIB and the distribution of lighting is 42-76% based on factors in the form of size, shape, dimensions of light openings, and building orientation. The results are used as the basis for the layout of the exhibition and artificial lighting points.Keyword: Gallery, Natural Lighting, DIALux Evo 9.2  Abstrak: Ruang Galeri pada desain Gedung Pusat Pertunjukan Seni dan Budaya memiliki fungsi sebagai ruang pameran karya seni dengan memanfaatkan pencahayaan alami ataupun buatan dengan standar kuat intensitas cahaya berdasarkan Standar Nasional Indonesia 03-6575-2001 Kuat Cahaya dalam Ruang Galeri yaitu 500 Lux dan Greenship Rating Tools dari Green Building Council Indonesia (GBCI) yaitu standar minimal untuk area pencahayaan alami adalah 30% dari total area. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui desain ruang galeri sesuai standar berdasarkan hasil simulasi menggunakan standar tersebut sebagai acuan identifikasi penilaian. Penulisan dengan metode kuantitatif menggunakan perangkat lunak untuk simulasi bangunan yaitu DIALux Evo 9.2 dengan mengatur koordinat lokasi bangunan, 3D bangunan, dan jam efektif pencahayaan dari sumber matahari yaitu pagi hari (06.00 WIB & 08.00 WIB), siang hari (12.00 WIB & 14.00 WIB), dan sore hari (16.00 WIB). Data hasil simulasi berupa perhitungan lux, kontur penerangan, dan distribusi pencahayaan. Berdasarkan hasil analisis perangkat lunak, ruang galeri sudah memenuhi standar yaitu sekitar pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB dan pesebaran pencahayaan 42-76% berdasarkan faktor ukuran, bentuk, dimensi bukaan cahaya pada ruangan, dan orientasi bangunan. Hasil analisis digunakan sebagai dasar tata letak pameran dan titik pencahayaan buatan.Kata Kunci: Ruang Galeri, Pencahayaan Alami, DIALux Evo 9.2
Implementation of Equitable Use and Flexibility of Use in the Design of Public Housings in Jakarta, Indonesia Satwiko Aryesti Maulana; Maria Immaculata Ririk Winandari; Julindiani Iskandar
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 5, No 1 (2022): Vol 5 No 1, 2022
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v5i1.15618

Abstract

Population growth happens quickly in Indonesia, especially in Jakarta. With reduced land due to infrastructure development, population growth does not go parallel with the need for housing, which should be a basic need for every human being. This makes the construction of residential houses arranged vertically called public housing. It can reduce land use and create urban open spaces. Public housing should be based on an inclusive design approach that considers human diversity. The design of public housing in Indonesia has not met the needs of all humans, especially in the aspect of all ages and disabilities. The design of the building is still not based on the togetherness of user activities. In the design, it is expected that the use is carried out fairly, which is fair for users and flexibility in space. Aspects of equitable use by pedestrian access and facilities, along with space flexibility based on expandability, convertibility, and versatility. The method used is a qualitative method with the exploration of three cases of public housings. The variables used are inclusive design aspects related to equitable use and flexibility in use. The results reveal that public housing is recommended according to equitable use aspects, inclusive design factors with pedestrian access that is easy to understand and accessible to elderly users and wheelchairs, and affordable facilities. Spaces can be built in the long term with space flexibility, such as multifunctional communal spaces, expansion of spaces near public spaces for unexpected uses, as well as shared use for all users.
Mosque Typology in Indonesia Based on Vernacular Architecture Fairuz Satwiko; Maria Immaculata ririk Winandari; Julindiani Iskandar
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 20, No 1: Januari 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.v20i1.19540

Abstract

The mosque which was built in various regions in Indonesia has a variety of its uniqueness. People in Indonesia in general only see that people understand architecture in a mosque only as a domed building or apply Middle Eastern elements only. However, many mosques in Indonesia have applied various Vernaculars to their architectural applications and experienced significant changes to the concept and form of the building. This study aims to find the application of Vernacular facades to 4 mosques in Indonesia, namely the Great Mosque of West Sumatra, the Sunan Ampel Mosque, the Great Mosque of Central Java, and the Grand Mosque of K.H. Hasyim Asyari. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques based on journals and articles from the Internet and processed using tables in the form of variables with variables in the form of roofs and mosque wall ornaments. The results of this study are the application of vernacular roof architecture to the mosque in the form of modifications of the local form of each mosque that originates and the application of ornaments on the walls of the mosque which is an adaptation of the local architecture of the local area.
ANALISA VIEWSHED BERDASARKAN PETA KONTUR Julindiani Iskandar; Dwi Rosnarti; Nuzuliar Rahma; Agus Budi Purnomo
METRIK SERIAL TEKNOLOGI DAN SAINS (E) ISSN: 2774-2989 Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Konsorsium Cendekiawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan singkat ini bertujuan untuk menjelaskan sebuah teknik analisa yang disebut viewshed. Bagian peta dari suatu kawasan yang dapat dilihat dari titik-titik pandang tertentu disebut peta viewshed. Paper ini menerangkan cara untuk menentukan visibilitas suatu titik pandangan dari suatu titik pandang tertentu. Selanjutnya juga diterangkan cara memetakan visibilitas titik-titik pandangan dari suatu titik pandang menjadi peta viewshed. Dalam tulisan ini hanya diterangkan viewshed yang didasarkan pada peta topografi atau kontur
Tepat Guna Lahan pada Kawasan Rumah Susun Sewa Rorotan – Jakarta Utara Kridarso, Etty R; Zayadi , Ruwaida; Winandari , MI Ririk; Iskandar, Julindiani; Magdalena, Florent M
Metrik Serial Teknologi dan Sains Vol. 4 No. 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Konsorsium Cendekiawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51616/teksi.v4i2.464

Abstract

Sandang, pangan dan papan merupakan kebutuhan dasar manusia. Pemenuhan kebutuhan papan diartikan sebagai rumah, bisa dalam bentuk rumah tapak ataupun rumah susun. Rumah susun menjadi pilihan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam memenuhi kebutuhan hunian dengan pertimbangan bahwa pada lahan yang terbatas dapat menampung lebih banyak hunian. Di DKI Jakarta, rumah susun tersebar di 5 (lima) wilayah dengan status kepemilikan 2 (dua) macam yaitu rumah susun sederhana milik (Rusunami) dan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa). Rumah Susun Sederhana Sewa Rorotan di Cilincing, Jakarta Utara menjadi obyek pengamatan karena lokasi ini terletak di Kawasan Pergudangan serta dekat dengan jalur strategis (jalan utama dan jalan bebas hambatan dalam kota). Sesuai dengan persyaratan pada Konsil Bangunan Hijau Indonesia/GBCI, yaitu Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development), maka kelayakan lokasi menjadi perhatian pemangku kepentingan. Metode yang digunakan untuk mengamati dan menilai Tepat Guna Lahan adalah secara kualitatif, data primer diperoleh dengan survei ke lokasi sedangkan data sekunder diperoleh dari beberapa sumber. Analisis dengan cara menilai kondisi eksisting secara kualitatif dengan kriteria sesuai standar tepat guna lahan yang ditentukan. Kesimpulan menunjukkan bahwa beberapa kriteria tepat guna lahan terpenuhi pada Rumah Susun Sederhana Sewa Rorotan dengan prosentase 65 % dari persyaratan.
PENERAPAN KARATERISTIK BANGUNAN DI KAWASAN SUMBU FILOSOFI YOGYAKARTA TERHADAP PERANCANGAN DESAIN JOGJA PLANNING GALLERY Habibah, Annisa Nur; Ischak, Mohammad; Iskandar, Julindiani
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Volume 9, Nomor 1, Januari 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v9i1.17661

Abstract

Sumbu filosofi merupakan garis lurus yang ditarik dari Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, dan Tugu Pal. Sumbu filosofi juga merupakan simbol dari keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Bangunan yang berada di Kawasan sumbu filosofi harus mewujudkan citra karakter kawasan Sumbu Filosofi yang merupakan bagian dari Sumbu Imajiner, yang berupa garis lurus yang sudah diatur dalam peraturan. Permasalahan yang ditimbulkan dari penelitian ini adalah apakah bangunan yang terdapat pada kawasan sumbu filosofi ini sudah dapat merespon terhadap peraturan-peraturan yang berlaku pada kawasan sumbu filososfi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi karateristik bangunan pada kawasan tersebut yang sesuai dengan peraturan setempat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif yang dilakukan dengan studi literatur dan studi preseden. Dari hasil penelitian ini menggambarkan tentang peraturan bangunan dan seperti apa karateristik bangunan-bangunan yang terdapat pada kawasan Sumbu Filosofi yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam perancangan desain Jogja Planning Gallery. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini yaitu beberapa bangunan pada kawasan sumbu Filosofi menggunakan gaya arsitektur indis dan cina, oleh karena itu gaya arsitektur tersebut dapat diterapkan pada desain Jogja Planning Gallery.
Rancangan Hemat Energi terhadap Desain Hotel Resort di Pantai Kuta Winandari, Maria Immaculata Ririk; Rachmansyah, Muhammad Raihan; Iskandar, Julindiani
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 25 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v25i1.10880

Abstract

Hotel resort merupakan salah satu tipe bangunan dengan tingkat penggunaan energi yang cukup besar. Energi tersebut diperlukan untuk memenuhi kenyamanan pengunjung. Penggunaan energi yang besar akan berpengaruh pada biaya operasional lahan. Salah satu cara yang digunakan untuk menghemat penggunaan energi tersebut adalah dengan rancangan bangunan hotel resort yang hemat energi melalui penerapan konsep arsitektur berkelanjutan. Salah satu penerapan konsep berkelanjutan adalah melalui penghematan penggunaan listrik dan air. Paper ini menjelaskan penerapan hemat energi di hotel resort yang paling optimal. Metode kuantitatif digunakan untuk mendapatkan rancangan hemat energi melalui penggunaan simulasi dari aplikasi EDGE. Variabel yang digunakan meliputi panel surya, dimensi bayangan (shading), resapan air, dan sistem daur ulang air. Hasil menunjukan bahwa penerapan konsep hemat energi yang optimal untuk hotel resort adalah melalui persentase luas panel surya dari area atap, persentase shading dari lahan, penggunaan resapan air berdasarkan KDB, dan penggunaan proses daur ulang air.