Claim Missing Document
Check
Articles

PUSAT PENELITIAN BIOTEKNOLOGI-LIPI, JL. RAYA BOGOR KM. 46, CIBINONG, 16911, JAWA BARAT, INDONESIA Susetio, Muhammad; Efendi, Darda; Sari, Laela
JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 15, No 1 (2019): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jbi.v15i1.3761

Abstract

ABSTRACTBentul taro (Colocasia esculenta) is one of taro cultivar which has high productivity. Genetic improvement has been done by obtaining tetraploid taro. Drought tolerant cultivars can be achieved by addition of poly ethylene glycol (PEG) in vitro. The purpose of this study was to determine the effect of the treatment of PEG concentrations on in vitro growth of tetraploid shoots and to propagate shoots after PEG treatment. The explants used were diploid taro shoots, tetraploid clones 2.1.2 and 2.4.2. Shoots were planted in MS media without PEG and with PEG of 5, 10 and 15%. The growth parameters observed were petiole length, number of leaves, and number of roots every week for 6 weeks. Proline content and LC50 values were analyzed at 6 weeks after planting. Propagation of shoots after PEG treatment was carried out on MS media containing 2 mg / L BAP, 1 mg / L thiamine, and 2 mg / L adenine. Each treatment consisted of 15 shoots as replicates. The growth parameters observed were petiole length, number of leaves, and number of shoots every week for 6 weeks. The results showed that Bentul taro clones significantly affected the concentration of PEG on growth parameters. LC50 value of diploid clone was 12.16%, clone 2.1.2 was 13.54%, and clone 2.4.2 was 12.74%. The highest proline content was found at Bentul tetraploid clone 2.1.2. After PEG treatment, growth was significantly affected by PEG concentrations. All Bentul taro clones after PEG treatment produced multiple shoots.  Keywords: Taro (Colocasia esculenta), in vitro selection, diploid, tetraploid, proline, LC50, propagation  
Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana) dengan Aplikasi Kalsium dan Teknologi Lubang Resapan Biopori Kurniadinata, Odit Ferry; Poerwanto, Roedhy; Efendi, Darda; Wachjar, Ade
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p59-66

Abstract

[The Effect of Calcium and Bio-Pores Absorption Holes Technology to Reduce Yellow Sap Contamination in Mangosteen (Garcinia mangostana)]Cemaran getah kuning pada buah manggis akan menurunkan kualitas buah. Cemaran getah kuning terjadi pada saat getah mencemari permukaan kulit buah atau aril akibat pecahnya saluran getah kuning. Pecahnya saluran getah kuning berkaitan dengan keberadaan kalsium dalam pericarp buah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendapatkan dosis dan sumber kalsium terbaik dan efisien dalam menurunkan cemaran getah kuning pada buah manggis, (2) mengetahui pengaruh lubang resapan biopori di dalam usaha mengatasi cemaran getah kuning pada buah manggis, dan (3) mengetahui kombinasi terbaik dari aplikasi kalsium dan lubang resapan biopori untuk meningkatkan serapan dan translokasi kalsium ke buah dan dapat menanggulangi cemaran getah kuning pada buah manggis. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) pemberian kalsium, baik bersumber dari dolomit maupun kalsit, mampu menurunkan cemaran getah kuning pada aril maupun kulit buah manggis, (2) berdasarkan efisiensi dan efektifitas maka dosis pupuk kalsium sebesar 1,6 kg kalsium kalsit/pohon/tahun menjadi dosis terbaik dalam mengatasi cemaran getah kuning, (3) teknologi lubang resapan biopori dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan akar muda yang selanjutnya dapat meningkatkan serapan kalsium dan menurunkan cemaran getah kuning setelah 2 tahun aplikasi, (4) kombinasi 1,6 kg kalsium kalsit/pohon/tahun dengan teknologi lubang resapan biopori (LRB) merupakan teknik yang efektif dan mampu meningkatkan persentase produksi buah manggis berkualitas bebas cemaran getah kuning.KeywordsGetah kuning; Manggis; Kalsium; Xylem; Pita kaspari; Biopori; AkarAbstractThe yellow sap contamination caused poor quality of mangosteen fruit. Yellow sap will be an issue when the sap is contaminating the surface of the fruit or aryl caused by the break of yellow sap channels. The break of yellow sap channel is associated with the low concentration of calcium in the fruit pericarp. The study was aimed to: (1) obtain the optimum dose and source of calcium, (2) determine the effect of biopore on efforts to increase the abundance of calcium uptake and translocation to the optimization of calcium in the mangosteen fruit, and (3) determine the best combination of application calcium and biopore to increase the uptake and translocation of calcium to fruit and can cope with yellow sap contamination in the mangosteen fruit. The results show that calcium sources, both of dolomite and calcite, are able to reduce contamination of yellow sap on aryl or mangosteen rind. Based on efficiency and effectiveness, 1.6 kg calcium calcite/tree/year is the best dose to reduce yellow sap contamination. Biopore affects the increase in calcium uptake into fruit pericarp tissues indirectly. The application of 1.6 kg calcium calcite/tree/year and biopore is an effective and easy to apply and is able to increase the percentage of the mangosteen fruit with yellow sap contaminant free.
Organogenesis Bunga Aksis Pisang Bergenom AAB dan ABB Lisnandar, Dea Silvia; Fajarudin, A; Effendi, Darda; Tambunan, Ika Roostika
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p1-8

Abstract

Penyimpanan in vitro merupakan teknik yang cocok diterapkan  pada tanaman pisang yang berkembang biak secara vegetatif. Namun demikian, perlu adanya optimasi regenerasi tanaman pisang terlebih dahulu. Regenerasi tanaman pisang melalui bunga aksis masih belum banyak dikembangkan. Tingginya tingkat kontaminasi pada eksplan yang berasal dari anakan (sucker) dan tingkat pencokelatan pada biakan pisang yang mengandung genom B menjadi kendala dalam perbanyakan tanaman pisang secara masal melalui kultur jaringan. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan formulasi media yang efektif untuk morfogenesis bunga aksis pisang yang begenom AAB (Kosta dan Raja Bulu) dan ABB (Kepok, Siem, dan Ayam) yang diregenerasikan secara organogenesis. Percobaan dirancang secara faktorial menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Eksplan yang digunakan dalam penelitian ini adalah potongan bunga aksis dari bunga jantan. Perlakuan pada percobaan ini adalah konsentrasi 6-benzil adenin (BA) (0, 1, 3, dan 5 mg/l), thidiazuron (TDZ) (0 dan 0.1 mg/l) serta kombinasi BA dan TDZ. Hasil sidik ragam menunjukkan tidak terdapat interaksi yang nyata antara BA dan TDZ terhadap pertumbuhan nodul dan tunas pada semua pisang. Benzil adenin secara nyata memengaruhi induksi organogenesis dari bunga aksis dengan taraf terbaik 3 mg/l (varietas Kepok dan Kosta) serta 5 mg/l (Varietas Raja Bulu). Eksplan yang mengalami pencokelatan paling parah adalah Siem dan Ayam, sehingga regenerasinya terhambat atau nodul tidak terbentuk pada formulasi media yang diujikan. Pencokelatan dapat diatasi dengan menambahkan asam askorbat pada media.
MULTIPLIKASI TUNAS IN VITRO BERDASARKAN JENIS EKSPLAN PADA ENAM GENOTIPE TEBU (Saccharum officinarum L.) / The In Vitro Shoots Multiplication Based on Explants Type on Six Sugarcane (Saccharum officinarum L.) Genotypes Azizi, Alfia Annur Aini; Tambunan, Ika Roostika; Efendi, Darda
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v23n2.2017.90-97

Abstract

Sugarcane (Saccharum officinarum L.) is propagated vegetatively using stem cuttings. Plant propagation can utilize tissue culture techniques because it offers a faster propagation time than conventional methods, need less mother plants and labor, planting is not influenced by the season, and produce pathogen-free guaranteed seedlings. This study aims to determine the optimal type of explant for shoot multiplication of six sugarcane genotypes. The study was conducted at the Tissue Culture Laboratory, Plant Cell Tissue Biology Group, Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development, Bogor from May 2015 to June 2016. Explants from six genotypes of sugarcane (PS 881, PS 865, GMP 3, TK 386, PSJK 922, and PS 862) were grown on regeneration media based on explant type treatments (one shoot, two shoots, and three shoots per explant) that were subcultured every three weeks. Subcultures were conducted up to nine times, then observations of survival rate, shoot regeneration rate, number of new shoots, shoot height were made on the third, sixth, and ninth subcultures. The results showed interaction between genotypes and explant type were not significantly different except to the shoot regeneration in the sixth subculture. Each genotype had different multiplication rate, and PSJK 922 produced the lowest survival explant, shoot regeneration, and number of new shoot in the ninth subculture. Two shoots explant were the optimal type of explant for in vitro shoots multiplication with 4 new shoots per explant in the ninth subculture.Keywords: frequent subculture, micropropagation, one shoot explant, two shoots explant, three shoots explant AbstrakTebu (Saccharum officinarum L.) umumnya diperbanyak secara vegetatif menggunakan stek batang. Perbanyakan tanaman dapat memanfaatkan teknik kultur jaringan karena memiliki keunggulan di antaranya, waktu perbanyakan lebih cepat dari metode konvensional, tidak memerlukan tanaman induk dan tenaga kerja dalam jumlah banyak, penanaman tidak dipengaruhi musim, serta bibit yang dihasilkan lebih terjamin bebas patogen. Penelitian ini bertujuan menentukan jenis eksplan yang optimal untuk multiplikasi tunas in vitro enam genotipe tebu. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Kelompok Peneliti Biologi Sel dan Jaringan, Balai Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor pada Mei 2015 hingga Juni 2016. Eksplan dari enam genotipe tebu (PS 881, PS 865, GMP 3, TK 386, PSJK 922, dan PS 862) ditanam pada media regenerasi berdasarkan perlakuan jenis eksplan (satu tunas, dua tunas, dan tiga tunas per eksplan) yang disubkultur setiap tiga minggu. Subkultur dilakukan hingga sembilan kali, dan pengamatan daya hidup eksplan, daya regenerasi tunas, pertambahan tunas per eksplan serta tinggi tunas dilakukan pada subkultur ke tiga, ke enam, dan ke sembilan. Hasil penelitian menunjukkan interaksi genotipe dan jenis eksplan tidak berpengaruh nyata kecuali terhadap daya regenerasi tunas pada subkultur ke enam. Keenam genotipe memiliki tingkat multiplikasi tunas yang berbeda, dan PSJK 922 menghasilkan daya hidup eksplan, daya regenerasi tunas, dan pertambahan tunas terendah pada subkultur ke sembilan. Eksplan dua tunas merupakan jenis eksplan yang optimal untuk multiplikasi tunas in vitro dengan pertambahan 4 tunas per eksplan pada subkultur ke sembilan.Kata kunci: Subkultur berulang, mikropropagasi, eksplan satu tunas, eksplan dua tunas, eksplan tiga tunas
Pendugaan Parameter Genetik Populasi F3 dan F4 Tanaman Gandum Persilangan Oasis x HP1744 Yamin, Mayasari; Efendi, Darda; Trikoesoemaningtyas, Trikoesoemaningtyas
Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol 34, No 3 (2015): Desember 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.888 KB) | DOI: 10.21082/jpptp.v34n3.2015.p237-245

Abstract

The study was aimed to obtain the information on the genetic diversity on agronomic traits of wheat among the F3 and F4 generations, derived from crosses of Oasis x HP1744, planted at the highland and medium elevation. The second objective was to acquire the character for selection and to acquire the adaptable genotypes on the highland and on the plain medium elevation. Selection was carried out using Shuttle Breeding, where F3 generation was selected at the Experimental Station of Cipanas (1100 m asl) and F4 generation was selected at the plain medium elevation of Cisarua (600 m asl). The experiment used Augmented Designs. Genetic material consisted of 57 F3 pedigree families selected from the F2 generation of Oasis x HP1744 cross plus six check varieties. The F4 generation cinsisted 320 selected genotypes from the F3 generation plus six check varieties. Plant height, flag leaf area, percentage of empty florets per panicle, number of grains/panicle and grain weight/panicle of the F3 generation showed larger mid value than the two parents. In the F4 generation, flag leaf greenness, total number of tillers, number of productive tillers, main panicle seed weight, number of seeds/panicle, seed weight/panicle, number of seeds/plant and seed weight/plant indicated the mean value larger than that of the Oasis. Plant height, number of productive tillers, days to flowering, maturity, spikelet number, and the total number of florets of the F4 generation showed higher heritability than that of F3 generation. Character suitable for indirect selection in the F3 was plant height, which indicated the best indirect differential selection. Potential families for further selection included: O/HP 21, O/HP 82, O/HP 12, O/HP 100 and O/HP 28. Characters most suitable for indirect selection in the F4 generation were: main panicle seed weight which indicated the best indirect differential selection. Genotypes potential for further selection in the medium elevation were O/HP82-19; O/HP82-15, O/HP78-5, O/HP49-30 and O/HP78-2.
MULTIPLIKASI TUNAS IN VITRO BERDASARKAN JENIS EKSPLAN PADA ENAM GENOTIPE TEBU (Saccharum officinarum L.) / The In Vitro Shoots Multiplication Based on Explants Type on Six Sugarcane (Saccharum officinarum L.) Genotypes Azizi, Alfia Annur Aini; Tambunan, Ika Roostika; Efendi, Darda
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v23n2.2017.90-97

Abstract

Sugarcane (Saccharum officinarum L.) is propagated vegetatively using stem cuttings. Plant propagation can utilize tissue culture techniques because it offers a faster propagation time than conventional methods, need less mother plants and labor, planting is not influenced by the season, and produce pathogen-free guaranteed seedlings. This study aims to determine the optimal type of explant for shoot multiplication of six sugarcane genotypes. The study was conducted at the Tissue Culture Laboratory, Plant Cell Tissue Biology Group, Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development, Bogor from May 2015 to June 2016. Explants from six genotypes of sugarcane (PS 881, PS 865, GMP 3, TK 386, PSJK 922, and PS 862) were grown on regeneration media based on explant type treatments (one shoot, two shoots, and three shoots per explant) that were subcultured every three weeks. Subcultures were conducted up to nine times, then observations of survival rate, shoot regeneration rate, number of new shoots, shoot height were made on the third, sixth, and ninth subcultures. The results showed interaction between genotypes and explant type were not significantly different except to the shoot regeneration in the sixth subculture. Each genotype had different multiplication rate, and PSJK 922 produced the lowest survival explant, shoot regeneration, and number of new shoot in the ninth subculture. Two shoots explant were the optimal type of explant for in vitro shoots multiplication with 4 new shoots per explant in the ninth subculture.Keywords: frequent subculture, micropropagation, one shoot explant, two shoots explant, three shoots explant AbstrakTebu (Saccharum officinarum L.) umumnya diperbanyak secara vegetatif menggunakan stek batang. Perbanyakan tanaman dapat memanfaatkan teknik kultur jaringan karena memiliki keunggulan di antaranya, waktu perbanyakan lebih cepat dari metode konvensional, tidak memerlukan tanaman induk dan tenaga kerja dalam jumlah banyak, penanaman tidak dipengaruhi musim, serta bibit yang dihasilkan lebih terjamin bebas patogen. Penelitian ini bertujuan menentukan jenis eksplan yang optimal untuk multiplikasi tunas in vitro enam genotipe tebu. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Kelompok Peneliti Biologi Sel dan Jaringan, Balai Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor pada Mei 2015 hingga Juni 2016. Eksplan dari enam genotipe tebu (PS 881, PS 865, GMP 3, TK 386, PSJK 922, dan PS 862) ditanam pada media regenerasi berdasarkan perlakuan jenis eksplan (satu tunas, dua tunas, dan tiga tunas per eksplan) yang disubkultur setiap tiga minggu. Subkultur dilakukan hingga sembilan kali, dan pengamatan daya hidup eksplan, daya regenerasi tunas, pertambahan tunas per eksplan serta tinggi tunas dilakukan pada subkultur ke tiga, ke enam, dan ke sembilan. Hasil penelitian menunjukkan interaksi genotipe dan jenis eksplan tidak berpengaruh nyata kecuali terhadap daya regenerasi tunas pada subkultur ke enam. Keenam genotipe memiliki tingkat multiplikasi tunas yang berbeda, dan PSJK 922 menghasilkan daya hidup eksplan, daya regenerasi tunas, dan pertambahan tunas terendah pada subkultur ke sembilan. Eksplan dua tunas merupakan jenis eksplan yang optimal untuk multiplikasi tunas in vitro dengan pertambahan 4 tunas per eksplan pada subkultur ke sembilan.Kata kunci: Subkultur berulang, mikropropagasi, eksplan satu tunas, eksplan dua tunas, eksplan tiga tunas
Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Kakao (Theobroma Cacao L.) Di Cilacap, Jawa Tengah . Angela; Darda Efendi
Buletin Agrohorti Vol. 3 No. 3 (2015): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.46 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v3i3.15800

Abstract

Penelitian ini berlangsung di daerah Cilacap, Jawa Tengah mulai dari 14 Februari sampai 14 Juni 2011. Tujuan penelitian ini yaitu untuk pengetahuan, pembelajaran dan memahami manajemen pemangkasan kakao di kebun. Aktivitas penelitian terdiri atas teknikal dan aspek manajerial yaitu sebagai karyawan harian lepas selama satu bulan, asisten mandor selama satu bulan, dan sebagai pendamping asisten afdeling selama dua bulan. Data primer diperoleh dari semua aktivitas penelitian dan pengamatan langsung di lapang, sedangkan data sekunder diperoleh dari catatan laporan perusahaan. Pemangkasan yang dilakukan selama penelitian yaitu pemangkasan pemeliharaan. Pemangkasan mempengaruhi jumlah tunas air, bantalan yang berbunga, ketahanan cherelle (pentil buah) dan buah terhadap hama dan penyakit tanaman. Rotasi pemangkasan juga mempengaruhi kestabilan produksi biji tahunan kakao.
Konservasi In Vitro Pisang Kepok Unti Sayang (Musa balbisiana) Melalui Pertumbuhan Minimal pada Berbagai Media Ogie Satriadi; Darda Efendi; . Sulassih
Buletin Agrohorti Vol. 5 No. 1 (2017): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.488 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v5i1.15888

Abstract

Pisang kepok Unti Sayang memiliki kandungan karbohidrat 30% sehingga berpotensi sebagai bahan pangan alternatif. Pisang kepok Unti Sayang juga merupakan tanaman yang lebih tahan terhadap serangan penyakit layu darah. Ketersediaan bibit dari anakan pisang di lapang yang terbatas jumlahnya berpotensi menyebabkan punahnya pisang jenis ini. Konservasi secara in vitro merupakan solusi dalam memelihara ketersediaan bibit yang lebih aman, lebih efektif dan efesien. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi media yang optimal dalam upaya penyimpanan eksplan pisang kepok Unti Sayang dengan cara meminimumkan pertumbuhan menggunakan retardan paclobutrazol dan osmoregulator manitol serta mengevaluasi daya regenerasi pasca penyimpanan. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak satu faktor berupa komposisi media yang terdiri dari dua macam media, yang  pertama adalah  MS+ PVP (Polivinylpyrrolidone ) +  paclobutrazol ( 0, 2, 4 dan  6 ppm),  serta  MS+ PVP  + manitol (0, 20 dan 40 ppm). Eksplan disimpan selama 18 minggu pengamatan pada media pertumbuhan minimal, selanjutnya eksplan disubkultur dalam media regenerasi   MS + 2 ppmBA dan diamati selama 4 minggu. Konsentrasi media terbaik untuk meminumkan pertumbuhan eksplan adalah MS+ PVP ditambah paclobutrazol 6 ppm memberikan nilai rata-rata pertumbuhan yang paling rendah dengan  jumlah tunas sebanyak 0.33, tinggi eksplan  0.39 cm,  jumlah akar  0.22 dan  jumlah daun 0.00.  Jika dibandingkan dengan pertumbuhan tertinggi yang terdapat pada tunas 1.11 (kontrol), tinggi 1.73 cm (kontrol),  jumlah akar 1.11 (paclobutrazol 2 ppm) dan jumlah daun 0.44 (kontrol).  Jadi konservasi in vitro pada perlakuan 6 ppm adalah perlakuan yang paling optimal dalam meminimumkan pertumbuhan eksplan hingga 18 minggu.
Pengelolaan Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Pelantaran Agro Estate, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah Fajar Dianto; Darda Efendi; Ade Wachjar
Buletin Agrohorti Vol. 5 No. 3 (2017): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.906 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v5i3.19574

Abstract

Kegiatan yang dilaksanakan di Pelantaran Agro Estate (PAGE), Kota Waringin Timur, Center Borneo dimulai dari 14 Februari 2011 hingga 14 Juni 2011. Tujuan kegiatan ini adalah menganalisa pengelolaan panen pada perkebunan Kelapa Sawit. Pengelolaan panen Kelapa Sawit penting dalam upaya mencapai kuantitas dan kualitas minyak kelapa sawit yang tinggi. Data primer diperoleh dengan mengikuti keseluruhan kegiatan di perkebunan ini, pengamatan di lapangan, wawancara, dan diskusi langsung atau tidak langsung dengan staf. Data sekunder diperoleh dari laporan manajemen. Berdasarkan pengamatan selama kegiatan di PAGE dapat disimpulkan bahwa sudah memiliki pemahaman yang baik tentang kriteria buah masak. Ini bisa dilihat dengan buah mentah yang dipanen 0%, 1,5% di bawah matang, lebih matang 4,9%, 1,7% abnormal dan 91,9% buah matang. Namun masih ada kesalahan dengan pemanen seperti tangkai panjang yang masih lebih dari 2,5 cm, buah yang tidak dikutip masih 77 buah / ha, dan tandan yang tidak dipanen. Proses pengangkutan buah di PAGE sudah cukup baik. Hal itu bisa dilihat dengan mempercepat proses pengangkutan TBS (Fresh Bunch) dan buah-buahan ke PKS (pabrik kelapa sawit) dengan menggunakan bantuan kontraktor pengangkutan buah sehingga tidak ada buah yang tidak ditranspor.
Induksi Akar dan Tunas Setek Batang Tanaman Pohpohan (Pilea trinervia Wight) dalam Media Air dengan Perlakuan IBA dan Aerasi Katerin Ninariyani; Darda Efendi; E. Gunawan
Buletin Agrohorti Vol. 6 No. 3 (2018): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.868 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v6i3.21103

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan aerasi dan hormon pertumbuhan tanaman Indol -3-butiryc acid (IBA) pada induksi tunas dan akar setek Pohpohan (Pilea trinervia Wight.) dalam media air. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Kebun Percobaan Pasir Kuda, Pusat Kajian Holtikultura Tropika (PKHT) IPB pada bulan Juni-Oktober 2016. Penelitian menggunakan rancangan split-plot dua faktor dengan empat ulangan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah aerasi terdiri dari dua taraf yaitu aerasi dan tanpa aerasi. Faktor kedua sebagai anak petak adalah IBA dengan empat taraf konsentrasi yaitu 0.0, 0.5, 1.0, dan 2.0 mg L-1. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan aerasi dan IBA berpengaruh terhadap persentase setek bertunas, jumlah akar, panjang akar, jumlah tunas, dan panjang tunas, namun tidak berpengaruh pada persentase setek hidup dan setek berakar. Kombinasi perlakuan tanpa aerasi dan IBA 0.5, 1.0, dan 2.0 mgL-1 menghasilkan jumlah akar paling banyak.
Co-Authors , Dorly . Angela Ade Wachjar Ade Wachjar Alfia Annur Aini Azizi ANDRIA AGUSTA Andria Agusta Angela, . Anneke Pesik Asti Kusriyanti Azizi, Alfia Annur Aini Azizi, Alfia Annur Aini Bambang S PURWOKO Bambang S. Purwoko Bambang S. Purwoko Bhaskara, Sandhi Yoga C Hanny Wijaya Cece Suhara Dacholfany, Imanullah Dede Robiatul Adawiyah Deden Derajat Matra Deden Sukmadjaja Dewi Sukma Dianto, Fajar Didy Sopandie DINARTY, DINY Diny Dinarti Djoko Santoso Djoko Santoso Don R LaBonte Dwi Utami Nur Usmani E. Gunawan Edi Santosa Endang Gunawan Entit Hermawan Eny Widajati Erlin Vira Novianti Erwin Al-Hafiizh Evan Maulana Fajar Dianto Fajarudin, A Farida, Naimatul Fitri Fatma Wardani Fitri Fatma Wardani Furqoni, Hafith Gunawan, E. Gustaaf A Wattimena Halimah Widyaningrum Hanifah Muthmainnah Haryanti, Dyra heliyana hermawati Ika Mariska Ika Roostika IKA ROOSTIKA Ika Roostika Ika Roostika Ika Roostika Ika Roostika Tambunan Imanullah Dacholfany Imron Riyadi Inanpi Hidayati Sumiasih, Inanpi Hidayati Indah Wulandari Iswari S Dewi Joko Ridho Witono Kasutjianingati . Katerin Ninariyani Ketty Suketi Kusriyanti, Asti Laela Sari laela Sari, laela Lisnandar, Dea Silvia Lolliani Martin, Andri MASKROMO, ISMAIL Maulana, Evan Maulana, Mohamad Akhbar Maya Melati Mayasari Yamin, Mayasari Megayani Sri Rahayu Mohamad Akhbar Maulana Mutiara Utami Ni Made Wasundhari Dharma Suarka Ninariyani, Katerin Nindita, Anggi NOVARIANTO, HENGKY Nurul Khumaida Nurul Khumaida Odit Ferry Kurniadinata Ogie Satriadi Purwito, Agus Purwito Putra, Mirza R Rahayu, Resa Sri Rahmat Budiarto Rahmi Fajri RARA PUSPITA DEWI LIMA WATI RARA PUSPITA DEWI LIMA WATI, RARA PUSPITA Reflinur Reflinur Resa Sri Rahayu Riry Prihatini Roedhy Poerwanto Rofiq, Muhamad Abdul Rudiyanto Rudiyanto Rudiyanto Rudiyanto, Rudiyanto S Noorrohmah Satriadi, Ogie Sedyo Harsono SEDYO HARTONO Slamet Susanto Sobir Sobir SOEKISMAN TJITROSEMITO Solly Aryza Sony Hartono Wijaya SRI HENDRASTUTI HIDAYAT Sri Yuliani Sri Yuliani Sudarsono Sulassih, . Surya Diantina Surya Kurnia Putra, Dicky Susetio, Muhammad Tambunan, Ika Roostika Tambunan, Ika Roostika Tanari, Yulinda Taruna Shafa Arzam, Taruna Shafa TENDA, ELSJE T. Tiara, Dede TRI ASMIRA DAMAYANTI Tri Istianingsih Tri Muji Ermayanti Tri Muji Ermayanti Tri Muji Ermayanti Trikoesoemaningtyas Triokoesoemaningtyas Triokoesoemaningtyas Vandra Kurniawan Wahyu Fikrinda Wattimena, and Gustaaf Adolf Wida W. Khumaero Willy Bayuardi Suwarno Winarso D. Widodo Witono, dan Joko Ridho Yande Artha Gautama Yosi Zendra Joni Yosi Zendra Joni Yundari, Yundari