Claim Missing Document
Check
Articles

Aplikasi Kalsium dan NAA untuk Mengendalikan Getah Kuning Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Yulinda Tanari; Darda Efendi; Roedhy Poerwanto; Didy Sopandie; Ketty Suketi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.793 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.10-18

Abstract

ABSTRACTThe yellow sap is produced naturally in mangosteen organ except in the root. The yellow sap contaminated the aryl and rind if the epithelial cell walls rupture due to deficiency of calcium (Ca). Calcium is one of structural component of cell walls, whereas naphthaleneacetic acid (NAA) has its role in improving cell division and cell elongation. Interaction of Ca and NAA can improve sink strength and capacity because the newly formed cells need Ca to construct wall structure. This experiment aimed at finding out the effect of Ca and NAA applications in reducing the contamination of yellow sap in mangosteen. The experiment was conducted by using factorial random block design consisting of 2 factors and 3 replications. The first factor was Ca dosage (0 and 4.8 kg/tree), and the second factor was NAA concentration (0, 200, 400 and 600 ppm). The results showed that application of 4.8 Ca/tree and 200 ppm NAA as much as 5 ml / fruit effectively improve the content of Ca pectate in pericarp, reduced the percentage of yellow sap contamination on the fruit segment, aryl and rind to 0% and 12.3% respectively compared to control (17.8% on fruit segment, 36.8% on aryl and 56.1% on rind).Key words: aryl, Ca pectate, cell wall, middle lamela.ABSTRAKGetah kuning adalah getah yang dihasilkan secara alami pada setiap organ manggis, kecuali pada akar. Getah kuning akan keluar dan mencemari aril serta kulit jika dinding sel epitel pecah karena kekurangan kalsium (Ca). Kalsium adalah komponen dinding sel, berperan dalam struktur dan permeabilitas membran sedangkan asam naftalenasetat (NAA) berperan penting dalam meningkatkan pembelahan dan pembesaran sel. Interaksi keduanya dapat meningkatkan kapasitas sink buah karena sel yang baru terbentuk membutuhkan Ca dalam menyusun struktur dinding sel. Percobaan bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi Ca dan NAA dalam menurunkan cemaran getah kuning manggis. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor ke-1 yaitu dosis Ca (0 dan 4.8 kg Ca/pohon) dan faktor ke-2 yaitu konsentrasi NAA (0, 200, 400 dan 600 ppm) dengan volume semprot 5 ml perbuah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi 4.8 kg Ca/pohon dengan NAA 200 ppm sebanyak 5 ml/buah efektif meningkatkan kandungan Ca pektat perikarp dan menurunkan persentase buah tercemar getah kuning menjadi 0% pada juring dan aril serta 12.3% pada kulit dibandingkan dengan perlakuan kontrol (17.8% pada juring, 36.8% pada aril dan 56.1% pada kulit buah).Kata kunci: aril, Ca pektat, dinding sel, lamela tengah
Cekaman Severe Drought Stress Influences the Success of Madura Tangerine Flower InductionKekeringan Berat Mempengaruhi Keberhasilan Induksi Bunga Jeruk Keprok Madura Resa Sri Rahayu; Roedhy Poerwanto; Darda Efendi; Winarso Drajad Widodo
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.11.1.13-23

Abstract

Induksi bunga jeruk keprok di luar musim melalui cekaman kekeringan merupakan salah satu upaya memenuhi ketersediaan buah jeruk keprok sepanjang tahun. Tingkat cekaman kekeringan yang dapat menginduksi bunga memiliki ambang batas tertentu sehingga cekaman yang terlalu berat dapat mempengaruhi keberhasilan induksi bunga. Penelitian ini bertujuan membuktikan bahwa cekaman kekeringan yang terlalu berat dapat mempengaruhi keberhasilan induksi bunga jeruk keprok dataran rendah varietas Madura. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tajur PKHT-IPB dengan ketinggian ± 300 mdpl dari bulan Maret-Oktober dan dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor yaitu tingkat cekaman kekeringan dengan tiga taraf: tanpa cekaman kekeringan sebagai kontrol (pengairan rutin dengan 100% kadar air kapasitas lapang), cekaman kekeringan 50% kadar air kapasitas lapang (tanpa pengairan sampai 50% kadar air kapasitas lapang) dan cekaman kekeringan 40% kadar air kapasitas lapang (tanpa pengairan sampai 40% kadar air kapasitas lapang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air 50% dan 40% dari kapasitas lapang tidak menginduksi bunga jeruk keprok Madura yang dibuktikan dengan kadar giberelin yang sangat tinggi. Kadar air 50% dan 40% dari kapasitas lapang terlalu rendah sehingga tanaman mengalami cekaman kekeringan berat dan mengganggu proses induksi bunga. Cekaman kekeringan berat tersebut ditandai dengan potensial air daun dan tanah yang tinggi, kadar prolin daun tinggi, kerapatan stomata menurun, dan daun menggulung. Kata kunci: jeruk keprok dataran rendah, kadar air kapasitas lapang, luar musim, Rancangan Acak Kelompok (RAK), rewatering
DETEKSI VARIASI SOMAKLONAL PLANLET Jatropha curcas Linn. HASIL REGENERASI EMBRIO SOMATIK DENGAN MARKA MOLEKULAR ISSR . Rudiyanto; Darda Efendi; Erwin Al-Hafiizh; Tri Muji Ermayanti
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 8 No. 1 (2021): June 2021
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.871 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v8i1.4092

Abstract

Physic nut (Jatropha curcas Linn.) has the potential as a source of sustainable biofuels. Somatic embryo proliferation of J. curcas may cause somaclonal variations. This research aimed to investigate somaclonal variations of J. curcas somatic embryo derived-plantlet using ISSR markers. Somatic embryos of J. curcas at the globular phase were cultured on liquid MS medium supplemented with 0, 0.5, 1.0, 1.5, and 2.0 mg L-1 of 2,4-D. Parameter observed were embryos weight, embryos volume, colour, and size of embryos. After proliferation, the embryos were cultured on a germination medium until the cotyledonary phase. The results showed that proliferation of J. curcas somatic embryos was optimal, with the highest weight and volume,  at MS medium added with 1 mg L-1 2,4-D.
Analisis Keragaman Genetik Manggis dalam Satu Pohon S Noorrohmah; Sobir Sobir; Darda Effendi
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p106-112

Abstract

Manggis (Garcinia mangostana) termasuk dalam kelompok Garcinia, merupakan tanaman asli dari Asia Tenggara. Manggis memiliki sistem reproduksi melalui mekanisme apomiksis yang bijinya terbentuk tanpa fertilisasi. Manggis termasuk tanaman apomiksis obligat, progeni yang dihasilkan akan memiliki kesamaan genotip dengan tanaman induk. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan adanya keragaman genetik antaraksesi manggis. Penelitian bertujuan mengetahui keragaman morfologi dan genetik dalam satu pohon. Sampel tanaman yang digunakan berasal dari empat generasi manggis (P1, P2, P3, dan P4) Wanayasa, Purwakarta. Pengambilan sampel berdasarkan ketinggian tanaman dan masing-masing ketinggian dibagi menjadi empat sektor (utara, timur, selatan, dan barat). Penelitian meliputi tiga analisis, yaitu morfologi, molekuler dengan ISSR, dan data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman morfologi dan genetik dalam satu pohon. Keragaman morfologi lebih besar dari pada genetik. Tingkat keragaman morfologi sebesar 18–43%, sedangkan keragaman genetik adalah 2–17%.
Induksi Tunas pada Kotiledon dan Hipokotil Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) melalui Organogenesis Tak Langsung Iswari S Dewi; Anggi Nindita; Bambang S. Purwoko; Darda Efendi
Jurnal AgroBiogen Vol 8, No 3 (2012): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v8n3.2012.p89-96

Abstract

Propagation through tissue culture of plantspecies with rich secondary metabolites such as Jatrophacurcas L. is difficult to obtain. However, once established, itcan be used as one of the alternatives to supply uniformpropagules. The effects of auxin and cytokinin on theregulation of de novo woody plants shoot development havebeen studied through shoot induction, differentiation anddevelopment. The objective of this research was to identifyexplant and suitable culture media for in vitro shoot inductionthrough indirect organogenesis. Factorial experimentwas arranged in a completely randomized design, replicated20 times. The first factor was explants, i.e. cotyledons andhypocotyls. The second factor was MS media containingcombination of plant growth regulator IAA (0, 0.05, and 0.1mg/l) and BAP (0, 1.0, 2.0, 3.0 mg/l). The results of theexperiment showed that the fastest callus initiation wasachieved by MS + IAA 0.1 mg/l, i.e. 9.5 days after explantswere cultured. Shoots with leaves can be induced from bothcotyledons and hypocotyls. However, hypocotyls gave moreshoots and leaves than cotyledons when cultured in MS +IAA 0.1 mg/l + BAP 3.0 mg/l. Shoots obtain from hypocotylsand cotyledons were successfully rooted in MS mediumwithout any growth regulator.
Embriogenesis Somatik Tidak Langsung pada Tanaman Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) Menggunakan Sistem Kultur Suspensi, Perendaman Sesaat, dan Media Padat Imron Riyadi; Darda Efendi; Bambang S. Purwoko; Djoko Santoso
Jurnal AgroBiogen Vol 12, No 1 (2016): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v12n1.2016.p37-44

Abstract

Metode kultur in vitro yang tepat akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pada proses penggandaan kalus dan induksiembriogenesis somatik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas tiga metode kultur jaringan, yaitu sistem kultursuspensi, sistem perendaman sesaat (SPS) atau temporary immersion system (TIS), dan media padat, untuk proliferasi kalusdan pembentukan embrio somatik secara tidak langsung pada tanaman sagu “Alitir” yang berasal dari Merauke, Papua. Bahantanaman atau eksplan awal yang digunakan adalah kalus remah hasil induksi dari kultur meristem pucuk tunas anakan sagu.Kalus tersebut dikulturkan pada media Murashige dan Skoog (MS) modifikasi dengan penambahan 2,4-D 5,0–15,0 mg/l dikombinasikandengan kinetin 0,1 mg/l menggunakan ketiga metode kultur sehingga terdapat dua belas kombinasi perlakuan.Hasil penelitian menunjukkan bobot segar kalus tertinggi sebesar 12,0 g/bejana dicapai pada metode kultur suspensi denganpenambahan 2,4-D 15,0 mg/l dikombinasikan dengan kinetin 0,1 g/l. Perolehan jumlah embrio somatik tertinggi dicapai padametode kultur suspensi dengan penambahan 2,4-D 5,0 mg/l dikombinasikan dengan kinetin 0,1 g/l sebesar 384,7 buah/bejana.Daya hidup kultur sagu terbaik dan tertinggi (100%) diperoleh pada metode kultur suspensi pada semua perlakuankonsentrasi 2,4-D. Selama proses induksi embrio somatik, terjadi perubahan warna kalus dari sebagian besar kekuninganmenjadi krem dan putih-kekuningan.
Pengaruh Retardan Paklobutrazol terhadap Pertumbuhan dan Pemulihan Dua Aksesi Ubi Kayu Surya Diantina; Darda Efendi; Ika Mariska
Jurnal AgroBiogen Vol 11, No 3 (2015): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v11n3.2015.p95-102

Abstract

Normal growth medium is not effective for in vitro conservation due to the risk of somaclonal variation that may increase dueto short interval between subculture. Two experiments involving growth retardant paclobutrazol (PBZ) were conducted toreduce explants growth and extend subculture interval. In order to develop medium-term conservation of cassava, therecovery of plantlets after in vitro storage was also observed. Accession 433 and 450 were used in two independentexperiments. Completely Randomized Design was used with three replications. PBZ at 0, 3.4, 6.8, and 10.2 μM weresupplemented onto MS medium + arginin 100 ppm. Observation was done on shoot length, number of nodes and leaves, andnumber of white and senescence leaves. The results showed that after nine months without subculture, both cassavaaccessions showed different results in in vitro growth and their recovery. PBZ 3.4 μM performed as the best treatment inaccession 433 and 450 to reduce in vitro growth and their recovery after storage.
ANALYSIS OF GENETIC STABILITY OF MICROPROPAGATED SUGARCANE IN DIFFERENT SUBCULTURE FREQUENCIES USING SSR MARKER Alfia Annur Aini Azizi; Ika Roostika; Reflinur Reflinur; Darda Efendi
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 26, No 1 (2020): June, 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v26n1.2020.49-57

Abstract

In vitro technique is an effective method to produce high quality and uniform sugarcane seedlings. This study was aimed to determine genetic stability based on SSR marker analysis of six varieties of sugarcane subcultured in regeneration media. It was conducted at the ICABIOGRAD Molecular Biology Laboratory, Bogor, from May 2015 to October 2016. Six sugarcane varieties (PS 862, PS 865, PS 881, PSJK 922, TK 386, and GMP 3) derived from apical shoot explants were subcultured on MS regeneration media enriched with 0.3 mg/l BAP; 0.5 mg/l IBA; and 100 mg/l PVP, for 3, 6 and 9 times. Sugarcane DNA was extracted using the CTAB method; then, the genetic stability was analyzed using 20 pairs of SSR primers. Data were analyzed in groups using the UPGMA method in the SAHN subprogram available on NTSYS software. The results showed that five sugarcane varieties (PS 865, PS 881, PSJK 922, TK 386, and GMP 3) subcultured up to nine times on the regeneration media remained genetically stable with similarity coefficient to their mother plants value more than 0.94.  However, PS 862 variety had genetically unstable after the sixth and the ninth subcultures, the similarity coefficient value to its mother plant was only 0.64, indicated that it experienced somaclonal variations. The study concluded that the in vitro shoots of the other varieties were more genetically stable during subcultures compared to PS 862 sugarcane variety based on SSR marker analysis. Further study is needed to find out the cause of genetic changes in PS 862.Keywords: Saccharum officinarum, apical shoots, in vitro propagation.
KOMBINASI TERMOTERAPI DAN KHEMOTERAPI DENGAN KULTUR APEKS DAN MERISTEM UNTUK ELIMINASI VIRUS MOSAIK PADA TEBU / The Combined Treatment of Thermotherapy and Chemotherapy with Apex and Meristem Culture for Mosaic Virus Elimination in Sugarcane Ika Roostika; SEDYO HARTONO; DARDA EFENDI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v22n1.2016.19-28

Abstract

There are several ways to eliminate virus, suach as the application of thermoterapi and chemotherapy technique, and also the apex and meristem culture. One way to control this disease is the use of virus-free seedlings. The objective of this study was to find out the effect of combined treatment between thermotherapy or chemotherapy with apex or meristem culture to mosaic virus elimination of sugarcane. There were four steps in this research: (1) Virus detection of mother plant, (2) Application of thermotherapy at 50oC and chemotherapy by using Ribavirin 25 µg/l combined with apex culture, (3) Application of thermotherapy and chemotherapy combined with meristem culture, and (4) Evaluation of virus elimination. The plant materials used were PS862 from Cirebon (PS862-Crb), PS881 from Surabaya (PS881-Sby) and PSJK922 (PSJK922-Bgr) from Bogor. Virus detection was conducted by TEM and RT-PCR analysis. The temperature for thermotherapy was 500C and the antiviral agent was Ribavirin (0 and 25 μg/l). The result showed that thermotherapy or chemotherapy combined with apex culture could not eliminate virus infection. The combined treatment of chemotherapy and meristem culture could eliminate SCSMV in variety PS862-Crb based on RT-PCR assay, however TEM analysis still detected the viral particle. It was suggessted to udertake virus indexing of large number of samples to see the rate of virus elimination.Keywords: Saccharum officinarum L., Ribavirin, Potyvirus, TEM, RT- PCR
DEHIDRASI DAN PEMBEKUAN JARINGAN APEKS TEBU UNTUK PENYIMPANAN JANGKA PANJANG IKA ROOSTIKA; RARA PUSPITA DEWI LIMA WATI; DARDA EFENDI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n1.2015.25-32

Abstract

ABSTRAKTebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman yangdiperbanyak secara vegetatif. Kriopreservasi merupakan metode yangpaling sesuai untuk penyimpanan jangka panjang bagi tanaman yangdiperbanyak secara vegetatif. Dehidrasi dan pembekuan jaringan merupa-kan tahapan paling kritis yang menentukan keberhasilan kriopreservasi.Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh durasi dehidrasi yang optimaldan metode pembekuan jaringan apeks tebu. Penelitian dilakukan diLaboratorium Kultur Jaringan, Kelompok Peneliti Biologi Sel danJaringan, Balai Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber-daya Genetik Pertanian, Bogor pada Mei 2013 sampai Februari 2014.Untuk optimasi metode dehidrasi, apeks direndam dalam larutan PVS2(MS + gliserol 30% + etilen glikol 15% + dimetil sulfoksida 15% +sukrosa 0,4 M) selama 10, 20, 30, dan 40 menit. Untuk optimasi metodepembekuan, diujikan kombinasi perlakuan prakultur (dengan sukrosa 0;0,1; dan 0,3 M selama 5 hari) dan pemuatan dalam larutan LS (MS +gliserol 2 M + sukrosa 0,4 M) selama 0, 10, 20, dan 30 menit sebelumtahapan dehidrasi dan pembekuan jaringan di dalam nitrogen cair (-196 o C). Hasil penelitian menunjukkan durasi dehidrasi jaringan yangterbaik adalah 30 menit dalam larutan PVS2. Kombinasi perlakuanprakultur dengan sukrosa 0,3 M dan pemuatan dengan larutan LS selama10 menit merupakan metode terbaik untuk pembekuan jaringan. Persentasetumbuh sebelum dan setelah pembekuan dalam nitrogen cair berturut-turutadalah 100 dan 40%. Setelah kriopreservasi, biakan mampu tumbuhdengan tingkat multiplikasi tunas sekitar 10 tunas/eksplan. Metode yangdiperoleh pada penelitian ini berpeluang diterapkan untuk penyimpananplasma nutfah tebu dalam jangka panjang secara kriopreservasi daneliminasi patogen obligat secara krioterapi.Kata kunci: Saccharum officinarum L., apeks, dehidrasi, pembekuan,nitrogen cairABSTRACTSugarcane (Saccharum officinarum L.) is vegetatively propagatedplant. Cryopreservation is the most suitable method for long-termpreservation of vegetatively propagated plant. Dehydration and freezingare critical steps of successful cryopreservation so that it should beoptimized. The research aimed to obtain the optimal duration ofdehydration and freezing method of sugarcane apex tissues. Theexperiments were conducted at Tissue Culture Laboratory, Plant CellTissue Biology Group, Indonesian Center for Agricultural Biotechnologyand  Genetic  Resources  Research  and  Development  on  May2013−February 2014. To optimize dehydration method, the tissues wereexposured in PVS2 solution (MS + 30% glycerol + 15% ethylene glycol +15% dimethyl sulphoxide + 0.4 M sucrose) for 10, 20, 30, and 40 minutes.To optimize freezing method, the combined treatment of preculture withsucrose (0, 0.1, dan 0.3 M) for 5 days and loading in LS solution (MS + 2M glycerol + 0.4 M sucrose) for 0, 10, 20, dan 30 minutes) were testedbefore dehydration for 30 minutes and freezing in liquid nitrogen (-196 o C).The best duration of dehydration was 30 minutes. The combined treatmentof preculture on 0.3 M sucrose and loading for 10 minutes was the bestmethod for tissues freezing. Percentage of regrowth before and afterfreezing in liquid nitrogen was 100 and 40% respectively. Aftercryopreservation, the cultures could grow with high shoot multiplicationrate about 10 shoots/explant. The method resulted in this study can beapplied for long-term storage of sugarcane germplasms by cryopreser-vation and (elimination of obligate pathogens by cryotherapy.Keywords: Saccharum officinarum L., apex, dehydration, freezing, liquidnitrogen.
Co-Authors , Dorly . Angela Ade Wachjar Ade Wachjar Alfia Annur Aini Azizi ANDRIA AGUSTA Andria Agusta Angela, . Anneke Pesik Asti Kusriyanti Azizi, Alfia Annur Aini Azizi, Alfia Annur Aini Bambang S PURWOKO Bambang S. Purwoko Bambang S. Purwoko Bambang Sapta Purwoko Bhaskara, Sandhi Yoga C Hanny Wijaya Cece Suhara Dacholfany, Imanullah Dede Robiatul Adawiyah Deden Derajat Matra Deden Sukmadjaja Dewi Sukma DIAN LATIFAH, DIAN Dianto, Fajar Didy Sopandie DINARTY, DINY Diny Dinarti Djoko Santoso Djoko Santoso Don R LaBonte Dwi Utami Nur Usmani E. Gunawan Edi Santosa Endang Gunawan Entit Hermawan Eny Widajati Erlin Vira Novianti Erwin Al-Hafiizh Evan Maulana Fajar Dianto Fajarudin, A Farida, Naimatul Fitri Fatma Wardani Fitri Fatma Wardani Furqoni, Hafith Gunawan, E. Gustaaf A Wattimena Halimah Widyaningrum Hanifah Muthmainnah Haryanti, Dyra heliyana hermawati Ika Mariska Ika Roostika IKA ROOSTIKA Ika Roostika Ika Roostika Ika Roostika Ika Roostika Tambunan Imanullah Dacholfany Imron Riyadi Inanpi Hidayati Sumiasih, Inanpi Hidayati Indah Wulandari Iswari S Dewi Joko Ridho Witono Kasutjianingati . Katerin Ninariyani Ketty Suketi Kusriyanti, Asti Laela Sari laela Sari, laela Lisnandar, Dea Silvia Lolliani Martin, Andri MASKROMO, ISMAIL Maulana, Evan Maulana, Mohamad Akhbar Maya Melati Mayasari Yamin, Mayasari Megayani Sri Rahayu Mohamad Akhbar Maulana Mohamad Rahmad Suhartanto Mutiara Utami Ni Made Wasundhari Dharma Suarka Ninariyani, Katerin Nindita, Anggi NOVARIANTO, HENGKY Nurul Khumaida Nurul Khumaida Odit Ferry Kurniadinata Ogie Satriadi Purwito, Agus Purwito Putra, Mirza R Rahayu, Resa Sri Rahmat Budiarto Rahmi Fajri RARA PUSPITA DEWI LIMA WATI RARA PUSPITA DEWI LIMA WATI, RARA PUSPITA Reflinur Reflinur Resa Sri Rahayu Riry Prihatini Roedhy Poerwanto Rofiq, Muhamad Abdul Rudiyanto Rudiyanto Rudiyanto Rudiyanto, Rudiyanto S Noorrohmah Satriadi, Ogie Sedyo Harsono SEDYO HARTONO Slamet Susanto Sobir Sobir SOEKISMAN TJITROSEMITO Solly Aryza Sony Hartono Wijaya SRI HENDRASTUTI HIDAYAT Sri Yuliani Sri Yuliani Sudarsono Sulassih, . Surya Diantina Surya Kurnia Putra, Dicky Susetio, Muhammad Tambunan, Ika Roostika Tambunan, Ika Roostika Tanari, Yulinda Taruna Shafa Arzam, Taruna Shafa TENDA, ELSJE T. Tiara, Dede TRI ASMIRA DAMAYANTI Tri Istianingsih Tri Muji Ermayanti Tri Muji Ermayanti Tri Muji Ermayanti Trikoesoemaningtyas Triokoesoemaningtyas Triokoesoemaningtyas Vandra Kurniawan Wahyu Fikrinda Wattimena, and Gustaaf Adolf Wida W. Khumaero Willy Bayuardi Suwarno Winarso D. Widodo Witono, dan Joko Ridho Yande Artha Gautama Yosi Zendra Joni Yosi Zendra Joni Yundari, Yundari