Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Peran Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Digital dalam Mewujudkan Kepastian Hukum Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) di Tengah Percepatan Perizinan Berusaha di Indonesia Stevani Anekhe Dwinita Karo; Muhammad Adymas Hikal Fikri
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi informasi telah mendorong transformasi digital dalam berbagai sektor pemerintahan, termasuk dalam bidang penataan ruang. Salah satu bentuk transformasi tersebut adalah penerapan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Digital yang berfungsi sebagai instrumen pengendalian pemanfaatan ruang sekaligus dasar dalam penerbitan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran RDTR Digital dalam mewujudkan kepastian hukum KKPR di tengah percepatan perizinan berusaha di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan konseptual melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RDTR Digital berperan penting dalam memberikan kepastian hukum terhadap pemanfaatan ruang melalui penyediaan informasi zonasi yang lebih akurat, transparan, dan mudah diakses. Integrasi RDTR Digital dengan sistem Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS-RBA) juga mampu mempercepat proses verifikasi kesesuaian ruang dan mendukung efektivitas pelayanan perizinan berusaha. Namun demikian, implementasi RDTR Digital masih menghadapi berbagai tantangan, seperti belum meratanya ketersediaan RDTR di daerah, keterbatasan kualitas data spasial, serta perlunya penguatan koordinasi antarinstansi dan kapasitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, diperlukan upaya optimalisasi melalui percepatan penyusunan RDTR Digital, peningkatan kualitas data spasial, serta penguatan integrasi sistem tata ruang dan perizinan agar kepastian hukum pemanfaatan ruang dapat terwujud secara efektif.
Integrasi Hukum Agraria dan Tata Ruang dalam Pengendalian Alih Fungsi Lahan: Analisis Yuridis atas Disharmoni Regulasi di Indonesia Naylin Putri Harsa; Raisa Qolbina Ibrizzahra; Nazjwa fatharani; Agil Sabani; Muhammad Adymas Hikal Fikri
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584) Vol. 6 No. 01: Al-Mikraj, Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v6i01.10037

Abstract

This study examines the legal integration between agrarian law and spatial planning law in controlling land-use conversion in Indonesia, focusing on the regulatory disharmony between Law Number 5 of 1960 concerning Basic Agrarian Principles and Law Number 26 of 2007 concerning Spatial Planning. The research aims to identify the forms of normative disharmony, analyze their implications for land-use control, and formulate an integrative legal harmonization model. This study employs a normative juridical method using statutory, conceptual, and case approaches through the analysis of legislation, legal doctrines, and judicial decisions. The findings reveal that regulatory disharmony originates from fragmented legal norms, sectoral institutional arrangements, and the absence of an integrated normative framework linking land administration with spatial planning, resulting in horizontal and vertical conflicts of norms that undermine legal certainty in controlling land-use conversion. The study further finds that systematic and teleological legal interpretation provides the basis for reconstructing legal integration through a Model of Integrative Harmonization of Agrarian and Spatial Planning Law, which connects the social function of land, spatial conformity, and institutional coordination within a unified legal framework. This model constitutes the principal novelty of the research by offering a normative framework for strengthening legal integration and promoting sustainable land governance in Indonesia
Pertanggungjawaban Hukum Lingkungan atas Banjir Rob Semarang dalam Perspektif SDGs 13 Climate Action Farras Eknu Albin; Risqi Budi Santoso; Christian Bagas Dewantara; Rois Faisal Amin; Muhammad Adymas Hikal Fikri
JURNAL PENELITIAN SERAMBI HUKUM Vol 19 No 02 (2026): Jurnal Penelitian Serambi Hukum Vol 19 No 02 Tahun 2026 (Februari-Juli)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Batik Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59582/sh.v19i02.1537

Abstract

ABSTRACT Tidal flooding (rob) in Semarang has evolved into a persistent and complex environmental problem, reflecting the interaction between climate change impacts and weaknesses in environmental governance. This phenomenon is not only caused by natural factors such as sea level rise, but is also significantly influenced by anthropogenic activities, including land subsidence due to excessive groundwater extraction, uncontrolled coastal development, and inadequate spatial planning. As a result, tidal flooding has generated serious social, economic, and ecological consequences for coastal communities. This study aims to analyze environmental legal liability for tidal flooding in Semarang within the framework of legal protection, while also examining its relevance to the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 13 on Climate Action. This research employs a normative legal method using statutory, conceptual, and case approaches to evaluate environmental regulations, legal doctrines, and principles of liability. The findings indicate that environmental legal liability remains weak due to regulatory fragmentation, lack of institutional coordination, and ineffective law enforcement. Preventive instruments such as environmental permits and spatial planning regulations have not been optimally implemented, while repressive measures remain limited. Furthermore, the absence of a clear and integrated liability framework contributes to legal uncertainty and weak accountability among stakeholders. This study concludes that strengthening environmental legal liability through integrated regulations, adaptive governance, and consistent law enforcement is essential to support climate action and ensure effective legal protection against tidal flooding in Semarang City. Keywords: environmental law, legal liability, tidal flooding, climate action, SDGs 13, Semarang