Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Ketahanan Budaya Tradisi Methik Pari: Makna, Tantangan, dan Pelestarian Kearifan Lokal di Dukuh Kebon Pulung Annisa Putri Belvalina; Silviana Dian Agustin; Eka Elvera Subiyantoro; Rianda Usmi
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Januari 2026 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v6i1.1020

Abstract

Penelitian ini membahas ketahanan budaya (cultural resilience) tradisi methik pari di Dukuh Kebon, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, dalam menghadapi arus modernisasi. Tradisi ini merupakan warisan budaya agraris masyarakat Jawa yang sarat dengan nilai spiritual, simbolik, dan sosial. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji makna serta pelaksanaan tradisi methik pari, menganalisis tantangan yang dihadapi dalam mempertahankannya, serta mengidentifikasi upaya pelestarian di tengah perubahan zaman. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, petani, dan masyarakat, serta dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi methik pari masih dipraktikkan sebagai bentuk rasa syukur, sedekah, dan permohonan keselamatan dengan prosesi yang sarat makna simbolik. Namun, modernisasi, perubahan pola tanam dan teknologi, pergeseran pola pikir generasi muda, serta minimnya regenerasi pelaku adat menyebabkan terjadinya pergeseran makna dan pelaksanaan tradisi yang kini cenderung bersifat individual. Meskipun demikian, tradisi ini tetap bertahan berkat peran aktif sesepuh dan petani tradisional. Upaya pelestarian melalui sinergi masyarakat, pemerintah desa, lembaga pendidikan, dan dinas terkait menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini sebagai identitas budaya lokal masyarakat agraris Jawa di tengah dinamika modernisasi.
Pengembangan Game MONARSA Sebagai Media Pembelajaran Pendidikan Pancasila dalam Meningkatkan Karakter Gotong Royong Faizah Nur Ivana; Listyaningsih Listyaningsih; Oksiana Jatiningsih; Rianda Usmi
CIVICS: Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 11 No. 01 (2026): CIVICS
Publisher : Program Studi PPKn, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/civics.v11i01.13778

Abstract

Penelitian ini dimotivasi oleh penggunaan media pendidikan yang kurang optimal dalam pengajaran Pancasila sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Situasi ini menyoroti kebutuhan untuk mengembangkan media pendidikan yang dapat mendukung proses pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Permainan Monarsa sebagai media pembelajaran untuk mendukung pengembangan karakter kooperatif siswa. Metode yang digunakan adalah Penelitian dan Pengembangan (R&D) dengan menggunakan model ADDIE, yang terdiri dari lima tahapan: Analisis, Desain, Pengembangan, Implementasi, dan Evaluasi. Penilaian kelayakan dilakukan oleh pakar media dan pakar bidang studi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Permainan Monarsa yang dikembangkan mendapat peringkat kelayakan 100% dari pakar media dan 86,11% dari pakar bidang studi, sehingga termasuk dalam kategori “Sangat Layak”. Penggunaan Permainan Monarsa juga menunjukkan perkembangan positif dalam semangat kerja sama siswa, sebagaimana dibuktikan oleh hasil tes efektivitas dalam kuesioner pra dan pasca pembelajaran, dengan skor N-Gain sebesar 88,65, yang diinterpretasikan sebagai termasuk dalam kategori “Efektif”. Hal ini diperkuat oleh hasil observasi guru terhadap siswa setelah penggunaan media tersebut, dengan skor rata-rata 3,44 dalam kategori “Sangat Baik”, yang menunjukkan bahwa penggunaan media tersebut secara efektif mendukung keterlibatan dan kolaborasi siswa selama proses pembelajaran.
Strategi SMAN 2 Lamongan Dalam Menginternalisasikan Nilai Gotong Royong Pada Peserta Didik Untuk Menghadapi Tantangan Society 5.0 : Penelitian Eka Fitria Putri Harianti; Rianda Usmi; Warsono; Walib Abdullah
Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, Mei - Agustus 2026
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/jpcp.v4i1.576

Abstract

Perkembangan teknologi pada era Society 5.0 memberikan berbagai kemudahan, tetapi juga memunculkan tantangan terhadap pembentukan karakter peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi sekolah dalam menginternalisasikan nilai gotong royong pada peserta didik melalui kegiatan intrakurikuler untuk menghadapi tantangan Society 5.0, serta menganalisis faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Informan penelitian meliputi kepala sekolah, kurikulum, guru pendidikan pancasila, dan peserta didik yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman meliputi pengumpulan data, pengelompokkan data, penyajian data dan verifikasi. Diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan internalisasi nilai gotong royong dalam kegiatan intrakurikuler diintegrasikan melalui pembelajaran berbasis Project Based Learning (PjBL) yang berpedoman pada modul ajar, motivasi yang diberikan oleh pendidik, serta melalui Program Jumat Bersejarah yang membiasakan peserta didik mempraktikkan nilai gotong royong. Strategi tersebut mencerminkan komponen pendidikan karakter Thomas Lickona, yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action, sehingga mampu memperkuat karakter gotong royong peserta didik sebagai bekal menghadapi tantangan era Society 5.0.
Peran Guru Pendidikan Pancasila dalam Menguatkan Moralitas dan Tanggung Jawab Akademik Siswa Atlet Nur Azizah Rahayu Ningsih; Raden Roro Nanik Setyowati; Harmanto Harmanto; Rianda Usmi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10048

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru Pendidikan Pancasila dalam menguatkan moralitas dan tanggung jawab akademik pada siswa atlet sepak bola regional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang dilaksanakan di SMA Negeri 18 Surabaya. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan melibatkan guru Pendidikan Pancasila, guru Bimbingan dan Konseling, serta siswa atlet sepak bola sebagai subjek penelitian. Analisis penelitian didasarkan pada Teori Peran Biddle dan Thomas yang mencakup aspek norma, harapan, wujud perilaku, serta penilaian dan sanksi. Selain itu, penelitian juga menggunakan Teori Pendidikan Karakter Thomas Lickona yang menekankan tiga komponen utama, yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Pancasila berperan dalam menguatkan moralitas dan tanggung jawab akademik siswa atlet melalui pembelajaran yang terintegrasi dengan nilai-nilai Pancasila, pembimbingan personal yang responsif terhadap kebutuhan siswa, serta penerapan kontrak belajar sebagai sarana penguatan disiplin dan tanggung jawab akademik. Upaya tersebut mampu meningkatkan kesadaran siswa atlet dalam menyeimbangkan tuntutan akademik dan aktivitas olahraga, sekaligus mendorong terbentuknya sikap disiplin, tanggung jawab, dan komitmen terhadap kewajiban belajar. Meskipun demikian, pelaksanaan peran tersebut masih menghadapi beberapa hambatan, seperti kelelahan fisik siswa akibat jadwal latihan yang padat, keterbatasan perhatian guru terhadap siswa atlet karena banyaknya peserta didik yang harus dibimbing, serta kesulitan siswa dalam mengatur waktu antara kegiatan akademik dan olahraga. Dengan demikian, guru Pendidikan Pancasila memiliki kontribusi penting dalam pembentukan karakter siswa atlet yang seimbang antara prestasi akademik, prestasi olahraga, dan penguatan nilai-nilai moral.
Peran Guru Pendidikan Pancasila dalam Membangun Karakter Jujur Peserta Didik di Era Artificial Intelligence Nurul Hidayah; Rianda Usmi; Raden Roro Nanik Setyowati; Rahmanu Wijaya
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10601

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence dalam dunia pendidikan membawa perubahan besar terhadap cara peserta didik belajar, mencari informasi, dan menyelesaikan tugas. Teknologi ini memberikan kemudahan yang sangat besar karena peserta didik dapat memperoleh jawaban dengan cepat, menemukan referensi secara instan, serta menyusun gagasan dengan bantuan mesin. Akan tetapi, kemudahan tersebut juga menimbulkan persoalan baru, terutama terkait kejujuran akademik, kebiasaan menyalin jawaban tanpa pemahaman, dan ketergantungan yang berlebihan pada teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru Pendidikan Pancasila di SMKN 2 Jombang dalam membangun karakter jujur peserta didik serta menjelaskan kendala yang dihadapi guru dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Pancasila menjalankan beberapa peran penting, yaitu sebagai model, fasilitator, motivator, pembimbing, korektor, dan evaluator. Guru berupaya menanamkan kejujuran melalui pembiasaan, pengarahan, pemberian aturan tugas, diskusi kelas, koreksi hasil kerja, serta pemberian penguatan positif. Namun, guru juga menghadapi kendala berupa kebiasaan plagiarisme, kecenderungan peserta didik bergantung pada AI, serta budaya belajar instan yang membuat peserta didik kurang mandiri. Meskipun demikian, AI tetap dapat dimanfaatkan secara positif apabila digunakan dengan bimbingan yang tepat. Penelitian ini menegaskan bahwa peran guru Pendidikan Pancasila tetap sangat penting dalam menjaga nilai kejujuran di tengah perubahan teknologi.
Transformasi Gaya Manajemen Kelas Guru Pendidikan Pancasila dalam Menghadapi Phubbing di Era Digital Novi Dwi Fitria; Rianda Usmi; Siti Maizul Habibah; Walib Abdullah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.12509

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi gaya manajemen kelas guru Pendidikan Pancasila sebagai classroom manager dalam membentuk kedisiplinan akademik siswa di SMKN 2 Ngawi pada era digital. Fokus penelitian diarahkan pada perubahan pendekatan guru dalam mengelola kelas yang pada awalnya cenderung permissive, yaitu memberikan kelonggaran penggunaan smartphone dalam pembelajaran, menuju pendekatan yang lebih terarah, tegas, komunikatif, dan edukatif sebagai respons terhadap gangguan penggunaan smartphone di kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas dua guru Pendidikan Pancasila dan tujuh peserta didik, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi teknik, sedangkan analisis data menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dalam artikel ini, data hasil penelitian ditafsirkan ulang menggunakan teori Diana Baumrind dengan fokus pada gaya permissive dan authoritative. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap awal, guru Pendidikan Pancasila memberikan ruang kelonggaran penggunaan smartphone untuk mendukung pembelajaran, namun kelonggaran tersebut kemudian mulai dibatasi karena berdampak pada menurunnya perhatian, keterlibatan, dan kedisiplinan akademik siswa. Selanjutnya, guru mengembangkan pendekatan yang lebih authoritative melalui penetapan aturan penggunaan smartphone secara jelas, pengawasan aktif, teguran yang tegas namun tetap menghargai siswa, serta dialog agar siswa memahami pentingnya disiplin akademik. Transformasi tersebut berkontribusi pada meningkatnya keteraturan kelas, keterlibatan siswa, dan pembiasaan tanggung jawab akademik.
Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning Berbantuan Metode Gallery Walk Pada Materi Anti Perundungan Dalam Pendidikan Pancasila : Penelitian Ananda Fatiha Nabila; Rianda Usmi; Harmanto; Budi Santosa
Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, Mei - Agustus 2026
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/jpcp.v4i1.583

Abstract

Perundungan masih menjadi salah satu bentuk kekerasan yang sering terjadi di lingkungan sekolah sehingga diperlukan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar bermakna untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai anti perundungan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Project Based Learning berbantuan metode Gallery Walk pada materi anti perundungan dalam Pendidikan Pancasila di SMK Negeri 2 Lamongan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui dokumentasi dan wawancara dengan guru Pendidikan Pancasila, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi teknik sebagai uji keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PjBL berbantuan Gallery Walk dilaksanakan melalui enam tahapan, yaitu merumuskan pertanyaan pemandu, perencanaan proyek, pelaksanaan proyek, monitoring dan umpan balik, penyusunan produk akhir, serta Gallery Walk. Pembelajaran menghasilkan proyek berupa infografis anti perundungan yang mendorong siswa menganalisis kasus, mempresentasikan hasil, serta memberikan umpan balik sehingga membangun pemahaman secara aktif dan kontekstual. Penerapan model PjBL masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan waktu pembelajaran serta motivasi dan keterlibatan siswa yang belum merata. Dengan demikian, PjBL berbantuan Gallery Walk dapat menjadi alternatif pembelajaran Pendidikan Pancasila dalam mengintegrasikan materi anti perundungan.