Luluk Eka Meylawati
Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Efektivitas Aromaterapi Lemon dalam Mengurangi Nyeri Dismenorea pada Remaja Ajeng Putri Salsabil; Luluk Eka Meylawati; Wahyuni Dwi Rahayu
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/cyvena72

Abstract

Dismenorea adalah keluhan nyeri saat menstruasi yang umum terjadi pada remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas, kualitas tidur, serta konsentrasi. Salah satu terapi non-farmakologis yang dapat digunakan adalah aromaterapi lemon. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas aromaterapi lemon dalam menurunkan tingkat nyeri dismenorea pada remaja. Metode penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan dua subjek yang mengalami dismenorea ringan hingga sedang, dipilih melalui kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma pada bulan April hingga Mei 2025. Intervensi dilakukan dengan pemberian aromaterapi lemon melalui diffuser berisi 3 tetes minyak esensial lemon, 2×/hari selama 2 hari. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil menunjukkan skala nyeri subjek I menurun dari 6 menjadi 0, dan subjek II dari 5 menjadi 2 setelah intervensi. Penurunan nyeri menunjukkan bahwa aromaterapi lemon dapat digunakan sebagai terapi komplementer untuk mengurangi nyeri menstruasi. Karena jumlah subjek sangat terbatas, penelitian ini memiliki keterbatasan dan tidak dapat digeneralisasi. Namun demikian, hasil ini memberikan gambaran awal mengenai potensi aromaterapi lemon dalam penanganan dismenorea.   Dysmenorrhea is a common menstrual pain complaint among adolescent girls and can disrupt activities, sleep quality, and concentration. One non-pharmacological therapy that can be used is lemon aromatherapy. This study aims to determine the effectiveness of lemon aromatherapy in reducing dysmenorrhea pain levels in adolescents. This research method used a descriptive case study design with two subjects experiencing mild to moderate dysmenorrhea, selected through inclusion and exclusion criteria. The study was conducted at the Faculty of Health Sciences, Marshal Suryadarma Air Force University from April to May 2025. The intervention was carried out by administering lemon aromatherapy through a diffuser containing 3 drops of lemon essential oil, 2x/day for 2 days. Pain levels were measured using the Numeric Rating Scale (NRS). The results showed that subject I's pain scale decreased from 6 to 0, and subject II's from 5 to 2 after the intervention. The decrease in pain indicates that lemon aromatherapy can be used as a complementary therapy to reduce menstrual pain. Due to the very limited number of subjects, this study has limitations and cannot be generalized. However, these results provide an initial overview of the potential of lemon aromatherapy in the treatment of dysmenorrhea.
Efektivitas Pemberian Jus Buah Alpukat Terhadap Penurunan Nyeri Menstruasi Pada Remaja Di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Bulan Artameivia Putri; Luluk Eka Meylawati; Wahyuni Dwi Rahayu
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/pwv3xb15

Abstract

Nyeri menstruasi merupakan keluhan umum pada remaja perempuan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi nyeri menstruasi adalah pemberian jus buah alpukat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perubahan intensitas nyeri menstruasi setelah pemberian jus buah alpukat pada remaja di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada dua remaja yang mengalami nyeri menstruasi dan memenuhi kriteria penelitian. Instrumen yang digunakan meliputi standar prosedur operasional pemberian jus buah alpukat, lembar observasi, dan skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Intervensi diberikan berupa jus buah alpukat dua kali sehari, yaitu pagi dan sore, selama lima hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada subjek 1 skala nyeri menurun dari 5 menjadi 1, sedangkan pada subjek 2 menurun dari 6 menjadi 2 setelah intervensi. Temuan ini menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri menstruasi pada kedua subjek selama periode pemberian jus buah alpukat. Dengan demikian, jus buah alpukat berpotensi menjadi intervensi nonfarmakologis pendamping untuk membantu mengurangi nyeri menstruasi pada remaja. Namun, temuan ini masih terbatas pada dua kasus sehingga diperlukan penelitian dengan sampel yang lebih besar dan desain yang lebih kuat.   Menstrual pain is a common complaint among adolescent girls and may interfere with daily activities. One non-pharmacological approach that may help reduce menstrual pain is the administration of avocado juice. This study aimed to describe changes in menstrual pain intensity after the administration of avocado juice among adolescents at Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. A descriptive case study design was used involving two adolescents experiencing menstrual pain who met the study criteria. The instruments included a standard operating procedure for avocado juice administration, observation sheets, and the Numeric Rating Scale (NRS) for pain assessment. The intervention consisted of administering avocado juice twice daily, in the morning and afternoon, for five consecutive days. The results showed that the pain score in subject 1 decreased from 5 to 1, while in subject 2 it decreased from 6 to 2 after the intervention. These findings indicate a reduction in menstrual pain intensity in both subjects during the period of avocado juice administration. Therefore, avocado juice may be considered a potential complementary non-pharmacological intervention to help reduce menstrual pain in adolescents. However, these findings are limited to two cases; thus, further studies with larger samples and stronger research designs are needed.
Implementasi Teknik Relaksasi Benson dalam Menurunkan Nyeri pada Ibu Post Sectio Caesarea: Studi Kasus di RSAU dr. Esnawan Antariksa Lulu Shiefa Aisya Aprilia; Wahyuni Dwi Rahayu; Luluk Eka Meylawati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/39vp0s04

Abstract

Angka persalinan dengan metode Sectio Caesarea (SC) terus meningkat dan sering disertai nyeri pascaoperasi yang dapat mengganggu kondisi fisik dan psikologis ibu, sehingga diperlukan intervensi nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi implementasi teknik relaksasi Benson dalam menurunkan intensitas nyeri pada ibu post SC. Desain penelitian menggunakan studi kasus deskriptif dengan pendekatan observasi pre–post pada dua ibu post SC di Ruang Nuri RSAU dr. Esnawan Antariksa. Subjek dipilih secara purposive sesuai kriteria inklusi. Intervensi berupa teknik relaksasi Benson diberikan selama tiga hari berturut-turut dengan frekuensi dua kali sehari selama 10–15 menit per sesi. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan penurunan intensitas nyeri pada kedua subjek, yaitu dari skala 6 menjadi 3 pada Subjek I dan dari 7 menjadi 3 pada Subjek II. Teknik relaksasi Benson berpotensi membantu menurunkan nyeri pada ibu post SC, namun hasil ini perlu ditafsirkan secara hati-hati karena jumlah subjek terbatas.   The rate of Caesarean section (CS) deliveries continues to increase and is often associated with postoperative pain that may affect the physical and psychological condition of mothers, highlighting the need for safe and applicable non-pharmacological interventions. This study aimed to identify the implementation of the Benson relaxation technique in reducing pain intensity among post-CS mothers. A descriptive case study with a pre–post observational approach was conducted on two post-CS mothers in the Nuri Room of RSAU dr. Esnawan Antariksa. Subjects were selected using purposive sampling based on inclusion criteria. The intervention consisted of the Benson relaxation technique administered twice daily for three consecutive days (10–15 minutes per session). Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention and analyzed descriptively. The results showed a reduction in pain intensity in both subjects, from a score of 6 to 3 in Subject I and from 7 to 3 in Subject II. The Benson relaxation technique has the potential to reduce post-CS pain; however, the findings should be interpreted with caution due to the limited number of subjects.
Implementasi Pemberian Terapi Akupresur Titik Hegu (LI4) Untuk Menurunkan Nyeri Dismenorea Naila Nurhalizah; Luluk Eka Meylawati; Wahyuni Dwi Rahayu
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/3yat5468

Abstract

Dismenorea merupakan nyeri saat menstruasi yang sering dialami remaja perempuan dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penatalaksanaan nyeri umumnya masih mengandalkan terapi farmakologis, padahal pendekatan nonfarmakologis dapat menjadi alternatif yang lebih aman dan mudah diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan terapi akupresur pada titik Hegu (LI4) dalam menurunkan nyeri dismenorea pada remaja. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada dua subjek remaja yang mengalami dismenorea. Intervensi dilakukan dengan pemberian terapi akupresur titik Hegu (LI4) 1 kali per hari selama 3 hari berturut-turut. Pengukuran nyeri dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), dengan instrumen berupa standar prosedur operasional, format pengkajian nyeri, dan lembar observasi. Hasil studi menunjukkan adanya penurunan skala nyeri pada kedua subjek. Pada subjek 1, skala nyeri menurun dari 5 menjadi 1, sedangkan pada subjek 2 menurun dari 6 menjadi 2 setelah 3 hari intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan terapi akupresur titik Hegu (LI4) berhubungan dengan penurunan nyeri dismenorea pada kedua subjek. Terapi ini berpotensi menjadi intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri, meskipun temuan ini masih bersifat deskriptif dan terbatas pada jumlah subjek yang kecil.   Dysmenorrhea is menstrual pain commonly experienced by adolescent girls and may interfere with daily activities. Pain management is still frequently reliant on pharmacological therapy, whereas non-pharmacological approaches may provide a safer and more practical alternative. This study aimed to describe the implementation of acupressure at the Hegu point (LI4) in reducing dysmenorrhea pain among adolescents. A descriptive case study design was employed involving two adolescent subjects with dysmenorrhea. The intervention consisted of Hegu point (LI4) acupressure administered once daily for three consecutive days. Pain intensity was assessed before and after the intervention using the Numeric Rating Scale (NRS). The instruments used included a standard operating procedure, a pain assessment form, and an observation sheet. The findings demonstrated a reduction in pain intensity in both subjects. In subject 1, the pain score decreased from 5 to 1, while in subject 2 it decreased from 6 to 2 after three days of intervention. These findings indicate that the implementation of Hegu point (LI4) acupressure was associated with a reduction in dysmenorrhea pain in both subjects. This therapy may serve as a potential non-pharmacological nursing intervention that can be performed independently; however, the findings remain descriptive and are limited by the small number of subjects.
The Effectiveness of Support Group Therapy on Depression and Anxiety Levels Among the Elderly in The Halim Subdistrict of East Jakarta Sri Hunun Widiastuti; Harwina Widya Astuti; Khaerul Amri; Santa Maria Pangaribuan; Luluk Eka Meylawati; Nawang Pujiastuti; Fitri Anggraeni
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol. 13 No. 2 (2025): December
Publisher : Faculty of Nursing, Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v13i2.10456

Abstract

Aging is often accompanied by physiological, psychological, and social changes that increase the risk of mental health problems, particularly depression and anxiety. Effective psychosocial interventions are needed to help older adults manage these challenges and improve their well-being. This study aimed to determine the effect of Support Group Therapy on reducing depression and anxiety levels among older adults in Halim Village, East Jakarta. This study employed a quantitative quasi-experimental design with a pre-test–post-test approach. The sample consisted of 34 older adults selected using purposive sampling based on predetermined inclusion criteria. The intervention was delivered through 10 structured sessions, each focusing on specific topics related to emotional well-being and peer support. Data normality was tested using the Kolmogorov–Smirnov test, while statistical analysis was conducted using paired t-tests and independent sample t-tests. The results showed a significant difference (p < 0.001) in depression and anxiety levels before and after the intervention, indicating that Support Group Therapy is effective in reducing depression and anxiety among the elderly. These findings contribute to nursing practice, particularly in mental health nursing, by supporting Support Group Therapy as an effective psychosocial intervention to improve the mental health of older adults. This intervention may be implemented sustainably in community settings and health care facilities that provide services for the elderly.
Optimalisasi manuver valsalva untuk mengurangi nyeri telinga akibat perubahan tekanan udara Fitri Anggraeni; Luluk Eka Meylawati; Suroso Suroso; Ridho Fidrajaya
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.3935

Abstract

Background: Rapid changes in air pressure can create a pressure imbalance between the middle ear cavity and the external environment, often resulting in ear pain, a sensation of fullness, ringing in the ears (tinnitus), temporary hearing impairment, and other forms of discomfort. This condition, known as ear barotrauma, occurs due to environmental pressure changes such as during aircraft takeoff or landing, diving activities, or while inside pressurized environments like hyperbaric chambers. The Valsalva maneuver is a method used to alleviate this issue; it involves closing the nose and mouth and attempting to exhale, thereby increasing air pressure within the nasal cavity and Eustachian tubes. Purpose: To optimize the Valsalva maneuver technique as a non-invasive intervention for reducing ear pain caused by air pressure changes in patients undergoing hyperbaric chamber therapy. Method: This activity consisted of interactive education and practical training conducted at the Hyperbaric Unit of Dr. Mintohardjo Naval Hospital (RSAL). The target audience comprised patients at high risk of developing ear pain (ear barotrauma) due to air pressure fluctuations during hyperbaric therapy. Twenty-eight patients participated in the activity. Respondents' knowledge and understanding were assessed using a "one-group pretest-posttest" design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Practical proficiency was evaluated through observation of the respondents performing the Valsalva maneuver during a simulation. Evaluation involved comparing pretest and posttest results to measure knowledge gains and observing the practical skills demonstrated during the maneuver. The data were analyzed descriptively to assess the success of the education and training regarding the Valsalva maneuver in patients prone to ear pain. Results: The study showed that the mean age of participants was 52.9 years, with the majority (11 participants or 39.3%) falling within the 45–59 age range. Most participants were male (17 participants or 60.7%). Pre-test and post-test results indicated an improvement in category distribution, rising from 8 individuals (28.6%) to 23 individuals (82.1%) an increase of 53.5%. Conclusion: Community service activities comprising education via standing banners, demonstrations, and hands-on practice were highly effective in enhancing the knowledge and understanding of patients undergoing hyperbaric therapy regarding the application of the Valsalva maneuver. Improved proficiency in performing the maneuver also reduced anxiety associated with confined spaces (claustrophobia), prevented panic caused by ear pain or ringing resulting from pressure changes, and fostered the confidence needed for the procedure to proceed smoothly and without injury. Suggestion: It is recommended that RSAL dr. Mintohardjo specifically the hyperbaric unit provide standing banners and offer ongoing education to support the dissemination of health information regarding the Valsalva maneuver to the wider community. Keywords: Air pressure changes; Ear barotrauma; Hyperbaric therapy; Valsalva maneuver Pendahuluan: Perubahan tekanan udara yang terjadi secara cepat dapat menimbulkan tekanan tidak seimbang antara rongga telinga tengah dan lingkungan luar, sehingga sering menyebabkan nyeri telinga, rasa penuh, berdengung, gangguan pendengaran sementara dan ketidaknyamanan lainnya. Kondisi ini dikenal sebagai barotrauma telinga yang terjadi karena ada perubahan lingkungan seperti saat pesawat lepas landas atau mendarat, aktivitas menyelam dan juga saat berada di dalam ruang bertekanan seperti hyperbaric chamber. Manuver valsalva merupakan salah satu metode untuk mengurangi masalah tersebut dengan menutup hidung dan mulut lalu mencoba menghembuskan napas sehingga tekanan udara di rongga hidung dan tuba eustachius meningkat. Tujuan: Mengoptimalkan teknik manuver valsalva sebagai intervensi non-invasif untuk mengurangi nyeri telinga akibat perubahan tekanan udara pada pasien yang menjalani terapi di ruang hyperbaric chamber. Metode: Kegiatan ini merupakan edukasi interaktif dengan intervensi pelatihan yang dilaksanakan di Ruang Hyperbarik RSAL dr. Mintohardjo. Sasaran kegiatan ini adalah pasien yang memiliki risiko tinggi terjadinya nyeri telinga (ear barotrauma) akibat perubahan tekanan udara selama proses terapi hiperbarik. Kegiatan ini melibatkan 28 pasien untuk menjadi partisipan. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Untuk tingkat kemampuan responden di evaluasi berdasarkan observasi dari simulasi ketika melakukan praktik manuver valsalva. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest untuk melihat peningkatan pengetahuan dan pengamatan dari keterampilan praktik menerapkan manuver valsalva. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan pelatihan manuver valsalva pada pasien dengan terjadinya nyeri telinga. Hasil:  Menunjukkan bahwa usia rata-rata partisipan adalah 52.9 tahun dan mayoritas berada direntang usia 45-59 tahun yaitu sebanyak 11 partisipan (39.3%). Sebagian besar partisipan berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 17 partisipan (60.7%). Dengan hasil pretest dan posttest menunjukkan adanya perubahan distribusi kategori menjadi lebih baik dari 8 orang (28.6%) menjadi 23 orang (82.1%), atau mengalami peningkatan sebesar 53.5%. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi menggunakan media standing banner, demonstrasi, dan praktik langsung sangat efektif meningkatkan pengetahuan serta pemahaman pasien yang sedang menjalani terapi hiperbarik dalam menerapkan manuver valsalva. Peningkatan kemampuan pasien dalam menerapkan manuver valsalva juga mengurangi rasa cemas pasien di ruang sempit (klaustrofobia), mencegah kepanikan saat telinga terasa sakit atau berdengung akibat perubahan tekanan, serta membangun rasa percaya diri agar prosedur berjalan lancar tanpa cedera.  Saran: Diharapkan kepada RSAL dr. Mintohardjo khususnya di ruang hiperbarik untuk menyediakan standing banner dan memberikan edukasi keberlanjutan sebagai upaya mendukung penyebaran informasi kesehatan tentang manuver valsalva agar dapat diterima kepada masyarakat yang lebih luas.
Implementasi Pemberian Jus Nanas dan Air Kelapa Hijau pada Remaja Putri dengan Dismenore: Studi Kasus di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Tahun 2026 Nur Afifah Lestari; Suroso Suroso; Luluk Eka Meylawati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan (Impress)
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/e0gg5496

Abstract

Dysmenorrhea is one of the most common complaints experienced by adolescent girls during menstruation and may interfere with their daily activities. Various non-pharmacological approaches have been used to help reduce menstrual pain, including pineapple juice and green coconut water. This study aimed to describe changes in menstrual pain intensity following the administration of pineapple juice and green coconut water among adolescent girls with dysmenorrhea at the Faculty of Health Sciences, Dirgantara Marsekal Suryadarma University, in 2026. This study employed a descriptive case study design involving four participants with dysmenorrhea. Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention. Two participants received pineapple juice, while the other two received 250 mL of green coconut water twice daily for three consecutive days during menstruation.  The observational findings showed that all participants experienced a reduction in pain intensity during the three-day observation period. Among participants who received pineapple juice, pain scores changed from 6 to 2 and from 5 to 1. Among participants who received green coconut water, pain scores changed from 6 to 3 and from 5 to 1. These findings describe the changes in pain intensity observed in each participant during the observation period. Because this study used a case series design with a limited number of participants, the findings should not be interpreted as evidence of comparative effectiveness or causality.
Studi Kasus Implementasi Rendam Kaki Air Hangat Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Ibu Hamil Trimester III Dengan Hipertensi Nabila Shinta Maharani; Luluk Eka Meylawati; Suroso Suroso
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan (Impress)
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/v2wqnp02

Abstract

Hypertension in pregnancy is a major maternal health issue risking complications for both mother and fetus. Warm water foot soak therapy can be applied as a complementary non-pharmacological intervention in maternal nursing care. Objective: To describe blood pressure changes in third-trimester pregnant women with hypertension through the implementation of warm water foot soak therapy. This descriptive case study involved two third-trimester pregnant women with hypertension in South Jakarta. Data collection was conducted over 7 days (March–April 2026) via interviews, observation, and blood pressure monitoring. The self-administered intervention used warm water (37–40°C) for 15–20 minutes, twice daily (morning and evening). Both subjects remained compliant with prescribed medical antihypertensive treatments during the study. After 7 days, a decreasing in blood pressure and subjective symptoms was observed. Subject 1's initial blood pressure (150/95 mmHg) changed to 125/80 mmHg (morning) and 120/80 mmHg (evening) on the final day. Subject 2's initial blood pressure (160/100 mmHg) changed to 130/80 mmHg (morning) and 125/80 mmHg (evening). The warm water foot soak therapy indicates a gradual in lowering blood pressure for both subjects. This complementary therapy can be considered a safe, supportive intervention in maternity nursing care.
Implementasi Pemberian Jus Wortel dan Madu Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Dismenorea Pada Remaja Di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Tahun 2026 Viola Nazzahra; Suroso Suroso; Luluk Eka Meylawati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan (Impress)
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/wetsz794

Abstract

Primary dysmenorrhea is menstrual pain occurring without underlying gynecological abnormalities and may interfere with students’ activities and comfort. This case study aimed to evaluate the implementation of carrot juice and honey as non-pharmacological interventions for reducing primary dysmenorrhea pain among students at Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. A descriptive case study design was employed using the nursing care process, including assessment, nursing diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. The subjects were four students with primary dysmenorrhea. Two subjects received carrot juice twice daily for two days during menstruation, while the other two received honey for five days, comprising three days before and two days during menstruation. Pain intensity was assessed before and after the interventions using the Numeric Rating Scale. Following carrot juice administration, pain scores decreased from 6 to 3 and 2. Following honey administration, pain scores decreased from 4 to 1 and from 5 to 2. Pain reduction was also accompanied by decreased weakness and facial grimacing. The findings indicate that carrot juice and honey may have potential as complementary interventions in nursing care for primary dysmenorrhea. However, controlled studies with larger samples are required to confirm their effectiveness.