Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Azhari, Ainul LINGKUNGAN PENDIDIKAN DAN PENGARUHNYA DALAM MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK DALAM HADIS NABI SAW Dul Jalil, Ainul Azhari
QATHRUNÂ Vol. 10 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Students who have high motivation for learning show great attention to learning activities and have satisfactory results and vice versa. In addition, the awards given to students are very effective in motivating them to carry out learning activities. In this case we can also understand that it is related to the educational environment which can have an influence in motivating students' learning from the perspective of the Hadith of the Prophet SAW. This research is qualitative research, using analytical descriptive methods. And this research is also library research, using content analysis as a technique for analyzing the data, because this research relies on text and aims to provide a description of the research results. This research explains that Rasulullah Saw explained the importance of building a good educational environment so that it can increase good learning motivation within a student, whether in the family environment, school/madrasah environment or social-community environment. The family environment (parents) plays a very significant role in the process of children's religious education. In the hadith, the Prophet SAW also explains that through a family environment that provides faith in children, they can have learning motivation that touches aspects of students' extrinsic motivation. The school environment has a very big influence on students' learning motivation, based on the hadith above, learning motivation in the school environment is influenced by a teacher who has depth of knowledge, masters the subject matter, teaching methods, and also understands the basics of education, because this is as a means to arouse and motivate students in their learning process. And the community environment plays an important role in students' learning motivation through their peers. Through a hadith, the Prophet SAW explains that students' closeness to peers can influence students' development, including students' enthusiasm or motivation to learn.
AKIBAT HUKUM PERWALIAN AL-AHLIYAH AL-KAMILAH DALAM KONSEKUENSI PERKAWINAN Dul Jalil
YUSTISI Vol 11 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v11i3.17910

Abstract

Hukum Islam mendefinisikan perkawinan sebagai suatu ibadah yang menjadi sah apabila syarat dan rukunnya terpenuhi, pada dasarnya perkawinan tidak hanya berhubungan dengan aspek hukum legal formal dan normatif administratif namun juga memiliki banyak aspek. Dalam hal ini, keberadaan wali nikah memegang peran yang sangat penting dalam rukun perkawinan, yakni sebagai pihak yang akan bertindak menikahkan calon mempelai perempuan. Tidak semua orang dapat bertindak sebagai wali dalam perkawinan, secara umum wali dalam perkawinan harus seorang laki-laki muslim, aqil dan baligh atau juga disebut dengan perwalian al-ahliyah al-kamilah. Penelitian ini akan menginterpretasikan bagaimana akibat hukum perwalian dalam perkawinan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif, data yang digunakan merupakan data primer dan data sekunder. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini menunjukkan bahwa wali dalam suatu rukun akad perkawinan harus dipenuhi, karena jika tidak tergolong dalam wali al-ahliyah al-kamilah maka perkawinan tersebut bisa menjadi batal atau tidak sah dalam pelaksanannya, dan akan berdampak terhadap kedudukan anak, harta kekayaan selama perkawinan, dan perjanjian perkawinan. Kata Kunci: Perwalian, al-Ahliyah al-Kamilah, Perkawinan
AKIBAT HUKUM PERWALIAN AL-AHLIYAH AL-KAMILAH DALAM KONSEKUENSI PERKAWINAN Dul Jalil
YUSTISI Vol 11 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v11i3.17910

Abstract

Hukum Islam mendefinisikan perkawinan sebagai suatu ibadah yang menjadi sah apabila syarat dan rukunnya terpenuhi, pada dasarnya perkawinan tidak hanya berhubungan dengan aspek hukum legal formal dan normatif administratif namun juga memiliki banyak aspek. Dalam hal ini, keberadaan wali nikah memegang peran yang sangat penting dalam rukun perkawinan, yakni sebagai pihak yang akan bertindak menikahkan calon mempelai perempuan. Tidak semua orang dapat bertindak sebagai wali dalam perkawinan, secara umum wali dalam perkawinan harus seorang laki-laki muslim, aqil dan baligh atau juga disebut dengan perwalian al-ahliyah al-kamilah. Penelitian ini akan menginterpretasikan bagaimana akibat hukum perwalian dalam perkawinan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif, data yang digunakan merupakan data primer dan data sekunder. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini menunjukkan bahwa wali dalam suatu rukun akad perkawinan harus dipenuhi, karena jika tidak tergolong dalam wali al-ahliyah al-kamilah maka perkawinan tersebut bisa menjadi batal atau tidak sah dalam pelaksanannya, dan akan berdampak terhadap kedudukan anak, harta kekayaan selama perkawinan, dan perjanjian perkawinan. Kata Kunci: Perwalian, al-Ahliyah al-Kamilah, Perkawinan
DERADIKALISAI PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL MALIKI Azhari, Ainul; Jalil, Dul
FIKRAH Vol 8 No 1 (2024): JUNI
Publisher : Ibn Khaldun University, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/fikrah.v8i1.20605

Abstract

Deradikalisai itu sangat penting terutama melalui pendidikan agama Islam dengan menanamkan nilai-nilai toleransi dalam berinteraksi terhadap orang lain, sehingga tidak terjadi lagi kekerasan yang mengatasnamakan agama yang dilakukan oleh para peserta didik. Maka, gerakan deradikalisasi harus dilakukan sedini mungkin terkhusus dalam dunia pendidikan ini dengan cara menata kembali Pendidikan Islam yang lebih mengedepankan sikap toleran dan humanis. Berikutnya, untuk melaksanakan deradikalisasi melalui pendidikan Islam ini dapat merujuk kepada metode dan prinsip pendidikan Islam Rasulullah Saw berdasarkan perspektif Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Data yang dikumpulkan melalui observasi, interview dan dokumentasi. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu berupa studi pustaka (library search) dan teknik analisis datanya menggunakan content analysis, karena penelitian ini bertumpu pada teks dan bertujuan untuk memberikan deskripsi hasil penelitiannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat semangat untuk mewujudkan deradikalisai pendidikan Islam ini yang dapat dilaksanakan berdasarkan metode yang disampaikan oleh Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki yang tertulis dalam kitabnya “Ushulut Tarbiyah An Nabawiyah”, sehingga dapat menciptakan pendidikan Islam yang humanis, inklusif dan multikultural. Melalui metode pendekatan perumpamaan dan metode kisah dan cerita ini dapat memperlihatkan pendidikan Islam yang humanis. Pendidikan Islam yang inklusif dari metode pendidikan Nabi Saw ini terlihat dari metode memotivasi bertanya dan metode tes dan melempar pertanyaan serta metode gradual. Dan pendidikan multikultural ini dapat terlihat pada metode mengenali kapasitas dan dialek audiens. Adapun metode pendidikan Nabi Saw secara lengkapnya adalah metode memotivasi bertanya, metode tes dan melempar pertanyaan, metode penyegaran, metode mengenali kapasitas dan dialek audiens, metode mengalihkan realitas indrawi kepada realitas kejiwaan, metode peragaan, metode ungkapan dengan bahasa kiasan, metode gradual, metode mengapresiasi pertanyaan, metode mendekatkan realitas abstrak dalam bentuk konkret, metode memperkuat pendapat dengan argumen, metode mengarahkan kepada pemikiran yang bernilai tinggi, metode kisah dan cerita, dan metode pendekatan dan perumpamaan.
DILEMA HUKUM : DAMPAK KONTRADIKSI ANTARA DISPENSASI NIKAH DAN PERLINDUNGAN ANAK DI INDONESIA Jalil, Dul
YUSTISI Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v12i2.19845

Abstract

Artikel ini membahas dilema hukum yang muncul akibat kontradiksi antara Undang-Undang No 16 Tahun 2019 tentang dispensasi nikah dan Undang-Undang No 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. Meskipun tujuan kedua undang-undang ini seharusnya sejalan, dalam praktiknya terdapat ketidaksesuaian yang berpotensi merugikan anak. Dispensasi nikah memberikan keleluasaan bagi pasangan yang ingin menikah di bawah umur, sementara undang-undang perlindungan anak menekankan pada perlindungan terhadap anak dari praktik-praktik yang berisiko, termasuk pernikahan dini. Penelitian ini menganalisis dampak sosial, psikologis, dan hukum dari konflik ini, serta implikasinya bagi kebijakan perlindungan anak di Indonesia. Melalui pendekatan kualitatif, artikel ini menyajikan wawasan tentang perlunya revisi dan harmonisasi regulasi demi memastikan perlindungan hak anak yang lebih efektif dalam konteks pernikahan. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif lapangan, Hukum positif, Psikologi dan sosiologi. Penelitian ini untuk memahami bagaimana ketimpangan dalam penerapan kebijakan ini terjadi dan bagaimana dampaknya terhadap perlindungan anak di Indonesia. Secara umum, dampak dispensasi perkawinan terhadap remaja cukup signifikan dan kompleks. Untuk menangani masalah ini, diperlukan pendekatan yang menyeluruh, meliputi peningkatan akses dan kualitas pendidikan, program pemberdayaan ekonomi, serta penegakan hukum yang lebih tegas terkait usia minimum pernikahan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan anak-anak dapat memperoleh peluang yang lebih baik untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara sosiologis maupun psikologis.
DILEMA HUKUM : DAMPAK KONTRADIKSI ANTARA DISPENSASI NIKAH DAN PERLINDUNGAN ANAK DI INDONESIA Jalil, Dul
YUSTISI Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v12i2.19845

Abstract

Artikel ini membahas dilema hukum yang muncul akibat kontradiksi antara Undang-Undang No 16 Tahun 2019 tentang dispensasi nikah dan Undang-Undang No 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. Meskipun tujuan kedua undang-undang ini seharusnya sejalan, dalam praktiknya terdapat ketidaksesuaian yang berpotensi merugikan anak. Dispensasi nikah memberikan keleluasaan bagi pasangan yang ingin menikah di bawah umur, sementara undang-undang perlindungan anak menekankan pada perlindungan terhadap anak dari praktik-praktik yang berisiko, termasuk pernikahan dini. Penelitian ini menganalisis dampak sosial, psikologis, dan hukum dari konflik ini, serta implikasinya bagi kebijakan perlindungan anak di Indonesia. Melalui pendekatan kualitatif, artikel ini menyajikan wawasan tentang perlunya revisi dan harmonisasi regulasi demi memastikan perlindungan hak anak yang lebih efektif dalam konteks pernikahan. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif lapangan, Hukum positif, Psikologi dan sosiologi. Penelitian ini untuk memahami bagaimana ketimpangan dalam penerapan kebijakan ini terjadi dan bagaimana dampaknya terhadap perlindungan anak di Indonesia. Secara umum, dampak dispensasi perkawinan terhadap remaja cukup signifikan dan kompleks. Untuk menangani masalah ini, diperlukan pendekatan yang menyeluruh, meliputi peningkatan akses dan kualitas pendidikan, program pemberdayaan ekonomi, serta penegakan hukum yang lebih tegas terkait usia minimum pernikahan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan anak-anak dapat memperoleh peluang yang lebih baik untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara sosiologis maupun psikologis.
PERNIKAHAN BEDA AGAMA: KAJIAN NORMATIF DAN PSIKOLOGIS DALAM KONTEKS MASYARAKAT URBAN Dul Jalil
USRAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 6 No. 4 (2025): Oktober
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/usrah.v6i4.2437

Abstract

Marriage is a fundamental aspect of human life, governed by religion, custom, and state law. In Indonesia, where five religions are officially recognized, interfaith social interactions are common, including in marriage. Although most religions in Indonesia prohibit interfaith marriages, such unions still occur, particularly in urban communities. This study aims to examine the dynamics of interfaith marriage and the reasons behind couples choosing to marry despite religious and legal prohibitions. Using a case study method with normative and psychological approaches, data were collected through interviews with interfaith couples. The findings show that these couples often proceed with marriage based on emotional and spiritual compatibility. They consider interfaith marriage a khilafiyah issue—open to interpretation (ijtihad)—and believe such unions are morally and spiritually valid. This perspective contrasts with the dominant views of religious scholars and Indonesia’s legal framework, which generally do not recognize interfaith marriages.
Strengthening the Understanding of Religious Moderation among Students at Pondok Pesantren Daarul Falahiyyah, Cisoka District, Tangerang Regency Ahmad Khunaepi; Dul Jalil
IRDH International Journal of Social Sciences & Humanities Vol. 2 No. 3 (2025): October
Publisher : International Research and Development for Human Beings (IRDH)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research activity aims to strengthen the understanding of religious moderation among students at the Daarul Falahiyyah Islamic Boarding School in Cisoka District, Tangerang Regency. Religious moderation is crucial in the context of Indonesia's diverse religious life, so that the values of tolerance, justice, and balance can be maintained and practiced. Islamic boarding schools, as traditional religious educational institutions, have a strategic role in instilling these values in students. This activity was carried out in the form of a seminar and interactive discussion involving 60 students as active participants. The seminar was held in August 2025 and focused on strengthening the concepts of religious moderation, such as tawassuth (middle-mannerism), tasamuh (tolerance), i'tidal (justice), and shura (deliberation). The implementation method prioritized a participatory approach so that students could engage in dialogue and think critically about the socio-religious realities they face. The results of the activity showed an increase in students' understanding of the importance of being moderate in religious and social life. This community service is expected to make a tangible contribution to developing an inclusive, tolerant, and patriotic young generation of Muslims. By actively involving Islamic boarding schools (pesantren), this activity also serves as an initial step toward mainstreaming religious moderation in grassroots Islamic educational institutions.
Parenting: Educational Parenting Patterns in Muslim Families at Ponpes Modern Gatra, Kohod Village, Pakuhaji District, Tangerang Regency Muhamad Wira Syaprudin; Dul Jalil
IRDH International Journal of Social Sciences & Humanities Vol. 2 No. 3 (2025): October
Publisher : International Research and Development for Human Beings (IRDH)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This activity aims to enhance the understanding of the parents of students regarding the importance of family education as the main foundation for character development in children. The methods used include interactive seminars, group discussions, and Q&A sessions to provide both theoretical and practical knowledge. The results of the seminar show that participants gained new insights into the role of parents in educating children with an Islamic approach, the importance of healthy communication, and the synergy between home and pesantren. The impact of this activity includes increased awareness among parents, the formation of a commitment to improve parenting patterns, and readiness to cooperate with the pesantren. However, there are obstacles such as limited time for parents, low levels of Islamic parenting literacy, inconsistency in practices at home, and a less supportive social environment. Therefore, follow-up actions in the form of forming parenting communities, periodic training, collaboration with Islamic boarding schools, and practical assistance at home are proposed as follow-up strategies. With consistency and support from all parties, it is hoped that Muslim families can raise a generation of faithful, ethical individuals ready to face the challenges of the times
Actualization of Understanding Children's Education at the Aqil Baligh Stage Based on the Prophet's Hadith for Millennial Muslim Generation in Karang Taruna RW 007, Sukamantri Village Azhari, Ainul; Jalil, Dul; Zakiah, Risalatu
Dimas: Jurnal Pemikiran Agama untuk Pemberdayaan Vol. 24 No. 2 (2024)
Publisher : LP2M of Institute for Research and Community Services - UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/dms.v24i2.25321

Abstract

Understanding the education of aqil baligh children is one of the important aspects in shaping the character of a good young generation, especially in the context of Islamic teachings. In the fast-paced digital era and globalisation, the challenges in educating the Muslim millennial generation are increasingly complex, especially in understanding and applying the concept of education in accordance with religious teachings. This study aims to actualise an understanding of the education of aqil baligh children based on the hadith of the Prophet Muhammad SAW in the Muslim millennial generation. The approach used is an understanding of hadith literacy relevant to the age of puberty, as well as how to implement these principles in the context of the daily life of the millennial generation today. Through counseling, discussions, and training, this community service programme educates parents, educators, and the general public about the importance of hadith-based education in preparing children to enter adulthood with solid moral, ethical, and faith. The expected results birutoto of this activity are increased public awareness and understanding of the importance of teaching in accordance with Islamic principles in the education of aqil baligh children, as well as the creation of a millennial generation of Muslims who are more qualified, noble, and ready to face the challenges of the times.