Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Bentuk Interjeksi dalam Novel Pascareformasi: Analisis Sosiopragmatik Ningsi, Surya; Safar, Muh.; Fitriana, Irna
Jurnal Idiomatik Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 8 No. 2 (2025): IDIOMATIK: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/idiomatik.v8i2.3121

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecurigaan peneliti terhadap adanya pengaruh perubahan penggunaan tindak tutur dalam novel sebagai konsekuensi dari perubahan perilaku berujar masyarakat. Perubahan tersebut berdampak pada munculnya bentuk-bentuk interjeksi dalam novel yang tidak ditemukan dalam Bahasa Indonesia baku. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik telaah pustaka, simak-catat, dan reflektif-introspektif. Validasi data menggunakan teknik triangulasi data, sedangkan analisis data dilakukan dengan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel pascareformasi menggunakan sepuluh jenis interjeksi yang berbeda dari interjeksi dalam Bahasa Indonesia. Interjeksi tersebut meliputi: (1) interjeksi kejijikan, seperti hi dan hi hi; (2) interjeksi kekesalan, seperti hus, lonte, persetan, anjing, perek, bodoh, tolol, dan anjir; (3) interjeksi kekaguman, seperti wow, wah, dan wuidiiih; (4) interjeksi kesyukuran, seperti syukurlah, oh syukurlah, alhamdulillah, dan syukur alhamdulillah; (5) interjeksi harapan, seperti ya Gusti Allah, please ya, ya Allah, semoga, good luck, dan amin; (6) interjeksi keheranan, seperti oh ya, hmmm, kok, lho kok, duh, dan waduh; (7) interjeksi kekagetan, seperti hah, wah, astagfirullah, innalillah, wualah, dan hedede wadidau; (8) interjeksi ajakan, seperti yuk, ayuk, ayolah, hayo, kemarilah, dan yok; (9) interjeksi panggilan, seperti hoooiii, oi, woooeee, hey, hei, heh, hellooow, dan wahai; serta (10) interjeksi simpulan, seperti yah, toh, yeah, nah good, dan na.
Representasi Perempuan dalam Novel Ipar Adalah Maut Karya Elizasifaa Membongkar Stereotip dan Konstruksi Gender: Analisis Wacana Kritis Saidah, St.; Idris; Fitriana, Irna
Jurnal Idiomatik Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 8 No. 2 (2025): IDIOMATIK: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/idiomatik.v8i2.3122

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk membongkar stereotip terhadap perempuan yang terdapat dalam novel yang berkaitan dengan fenomena sosial melalui pemaknaan dibalik bahasa. Isu gender sebagai salah satu realitas sosial yang menarik perhatian untuk diteliti. Hal menarik tersebut diungkap melalui perspektif wacana kritis Sara Milss. Metode penelitian menggunakan deskriptif analisis. Sumber data dalam penelitian ini berupa data tertulis yang terdapat dalam novel serta data pendukung berupa hasil studi pustaka penelitian dalam bentuk jurnal dari situs internet. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah telaah pustaka, simak-catat, dan reflektif-introspektif, Instrumen dalam penelitian ini peneliti sebagai instrumen utama. Keabsahan data menggunakan triangulasi teori. Hasil penelitian ditemukan bahwa level teks pada posisi subjek-objek dalam wacana tergambar bahwa posisi subjek ketika perempuan (tokoh Nisa dan Rani) menampilkan dirinya dan eksistensinya dalam teks menghadapi persoalan melawan ketidakadilan dari dominasi patriarki. Posisi subjek dan objek dalam cerita dipertukarkan untuk mencerminkan konflik emosional, moral, dan gender. Posisi penulis cenderung sebagai narator yang memanfaatkan narasi-narasi dari tokoh Nisa dan Rani serta posisi pembaca diarahkan untuk bersimpati pada tokoh perempuan Nisa dan memberikan sanksi sosial kepada tokoh Rani dan Aris.
ANALISIS SEMIOTIKA DALAM TEKS PERJANJIAN TELLUMPONCCOE BUDAYA BUGIS BONE Nurandi, Muhammad; Fitriana, Irna; Idris, Muhammad
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01, Maret 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.44114

Abstract

The purpose of this study is to uncover the cultural meanings in the text of the Treaty of Tellumpoccoe using Roland Barthes' semiotic theory, which includes three levels of analysis: denotation, connotation, and myth. The research method used is descriptive qualitative with a semiotic approach. Data were obtained through literature study and text analysis, then interpreted using Barthes' theoretical framework. The results of the study show that in the denotative meaning, the text of the Tellumpoccoe Agreement contains practical rules regarding solidarity, prohibition of interfering in the affairs of other kingdoms, loyalty to promises, commitment to military assistance, and prohibition of seizing property. In the connotative meaning, this text reflects Bugis cultural values, such as sipakatau (humanizing each other), siri (self-respect), assitinajang (equality), pacinna (loyalty), and paccing (honesty). Meanwhile, in the mythical meaning, the Tellumpoccoe text presents the ideology of the sacred unity of the Bugis people which is eternal, strong, and has divine legitimacy through Dewata Seuwae. The conclusion of this study confirms that the Tellumpoccoe Treaty is not merely a political document, but also a representation of Bugis cultural values ​​that shape the collective identity of its people. These values ​​remain relevant today as guidelines for maintaining brotherhood, solidarity, and honor in Bugis culture amidst changing times.