Claim Missing Document
Check
Articles

Implementation of Local Wisdom in Folklore Toraja Landorundun Dina Gasong
Teaching English as a Foreign Language Overseas Journal Vol. 2 No. 1 (2016): EDUCATION, TOURISM ANDLOCAL WISDOM ISSUES JANUARY - APRIL
Publisher : UKI TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.418 KB) | DOI: 10.47178/teflo.v2i1.226

Abstract

This article describes the implementation of didactic values, social values, and psychological values in folklore Toraja Landorundun encountered in everyday life. The research methodology used is descriptive qualitative research. Respondents of this study consists of cultural, educational practitioners, and religious leaders (Pastor). Criterion validity of the data that will be used by researchers, among others: the degree of trust, (credibility), transferability, dependability, and confirmability. Implementation folklore values Landorundun Toraja in everyday life, namely the value of education: (1) To promote cooperation and good relations between other tribes, (2) advising and admonishing when malice, (3) the nature of mutual cooperation Embedding (good cooperation within the community, school and family ). (4) Always help the weak. (5) Respect the customs that have been agreed upon. (6) For the younger generation to learn to work hard to achieve the highest ideals . Social values, namely the implementation of the terms proposed by Landorundun is very hard. Based on this type of Toraja people are hard workers who are fighting in the capital to other areas. People are still looking for a matching pair (family equivalent) . Imlementasi Psychological values in public life thanks to Toraja eg parents of children be respected, otherwise handicapped child in the family considered parents fault. Selfesteem, women have self-esteem, which is worthy of respect, because it is men who woo women .
ANALISIS PENDAPATAN MASYARAKAT DI LOKASI WISATA KE’TE’ KESU’ KABUPATEN TORAJA UTARA Dina Gasong
Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 1 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pertama Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Tekno
Publisher : Yayasan Pendidikan dan Research Indonesia (YAPRI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.652 KB)

Abstract

Pembangunan pariwisata pada dasarnya ditujukan untuk persatuan dan kesatuan bangsa, penghapusan kemiskinan, pembangunan yang berkesinambungan, dan pelestarian budaya.Toraja sebagai destinasi pariwisata bak intan permata, surga yang dibuang ke bumi, merupakan suatu potensi yang luar biasa bagi pariwisata. Namun pembangunan pariwisata Toraja saat ini cenderung statis, apa adanya, tidak kreatif untuk memperoleh hasil pariwisata yang dapat memperbaiki taraf kehidupan yang lebih baik. Kepariwisataan di Toraja saat ini, belum didasarkan pada pelibatan masyarakat Toraja, secara khusus masyarakat Toraja sebagai pelaku industri. Selain itu, masyarakat belum kreatif memanfaatkan potensi yang dimiliki sebagai sarana peningkatan masyarakat ekonomi. Dalam upaya meningkatkan ekonomi dari sektor pariwisata yaitu adanya konsep sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki. Dalam kehidupan masyarakat Toraja ekonomi memegang peranan penting. Masyarakat yang sejahtera, akan menyadari pentingnya menjaga dan melestarikan kekayaan Toraja yang dimiliki, yang tidak dimiliki oleh suku-suku lain di Indonesia. Masyarakat disadarkan akan pentingnya kreativitas untuk meningkatkan ekonomi. Data diperoleh melalui observasi, angket, dan wawancara. Penelitian ini menggunakan deskripstif-kualitatif dengan pendekatan etnografi. Penggunaan metode ini, karena data-data yang digunakan bersumber dari informan. Metode kualitatif digunakan dalam situasi yang wajar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat yang berdagang di sekitar obyek wisata Ke’te’ Kesu’ sudah memperoleh keuntungan, dapat digunakan membiaya hidup sehari-hari, dan sedikit membantu membiaya pendidikan keluarga. Namun sebahagian pedagang belum fokus, karena melakukan pekerjaan lain seperti bertani, karena berdagang di sekitar obyek dilakukan pada saat selesai menggarap sawah mereka. Stand Istana Saleko belum mengalami keuntungan, usaha ini masih baru, dibandingkan dengan stand-stand yang lain, seperti standa cindera mata. Selain itu, mereka juga masih membutuhkan pendampingan, baik dari pemerintah, maupun dari swasta. Masyarakat belum menyadari penting menjaga keunikan produk lokal (Toraja). Perlu pelatihan untuk kelestarian produkproduk lokal.
Menemukan Nilai-nilai Kesetaraan Jender dibalik Metafora Simbolik Rumah Adat “Tongkonan”dan Lumbung “Alang” Toraja Johana R. Tangirerung; Selvi Panggua; Dina Gasong
Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 3 (2020): PProsiding Seminar Nasional Ketiga Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Tekno
Publisher : Yayasan Pendidikan dan Research Indonesia (YAPRI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesetaraan jender sesungguhnya amanah dari setiap agama dan budaya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kesetaraan jender dalam masyarakat masih sulit terwujud. Perempuan masih mengalami hambatan tersembunyi dalam masyarakat. Keberadaan tersebut dapat terlihat melalui metafora, dan simbol. Pada satu sisi metafora dan simbol dapat merefleksikan ketidaksetaraan tersebut, namun pada ada sisi lain dapat menjadi media pengungkapan nilai-nilai kesetaraan. Budaya Toraja memiliki metafora yang menyimbolkan atau mengartikan kesetaraan. Budaya Toraja memiliki beragam bentuk metafora dan simbol kesetaraan. Penelitian ini bertujuan menemukan nilai-nilai kesetaraan jender dalam simbol dan metafora budaya dan maknanya dalam kehidupan masyarakat Toraja. Rumah adat Toraja dan lumbung misalnya adalah salah satu simbol penting, karena merupakan metafora simbolik pusat kehidupan. Seluruh proses hidup dan ritus kehidupan dilaksanakan dalam sebuah tongkonan, di mana rumah adat dan lumbung dibangun. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa terdapat kesetaraan jender dalam budaya Toraja yang disimbolkan oleh rumah adat Toraja dan lumbung. Rumah adat Toraja adalah simbol perempuan, di mana setiap anak dilahirkan dan lumbung merupakan simbol kesejahteraan material yang tersimban dilumbung, yang diusahakan oleh laki-laki. Sebagai simbol kesetaraan keduanya selalu ada dalam setiap tongkonan, sekaligus mencerminkan fungsi tersebut dalam kehidupan masyarakat Toraja. Penelitian ini menggunakan metode qualitative descrptive. Peneliti menjadi key instrument dengan menggunakan teknik obervasi langsung dan open-ended interview. Pembahasan dan analisis dilakukan dengan memakai bantuan pendekatan analisis interpretatif terhadap simbol dan metafora tersebut.
Kearifan Lokal Dalam Cerita Rakyat Toraja Tulangdidi’: Tinjauan Hermeutik Dina Gasong
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol 4 No 3 (2015)
Publisher : LPPM UKI Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.475 KB)

Abstract

Kearifan lokal dijumpai dalam cerita rakyat. Cerita rakyat merupakan cerminan kebudayaan dan kehidupan suatu masyarakat. Melalui cerita rakyat persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat dapat ditafsirkan. Dari persoala-persoalan kehidupan yang dihadapai masyarakat kemudian terwujud dalam berbagai nilai yang menjadi kearifan lokal. Nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam cerita rakyat diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Toraja sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia memiliki beraneka ragam cerita rakyat yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang sudah mulai terabaikan. Hal ini perlu diupayakan untuk melestarikan nilai-nilai tersebut melalui pengkajian terhadap cerita rakyat Toraja. Salah satu cerita rakyat Toraja yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan yaitu Tulangdidi’. Untuk mengenal dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Tulangdidi’ digunakan metode kualitatif, yang menggunakan cerita Tulangdidi’ sebagai data primernya. Sedangkan data sekundernya diperoleh dari responden yang representatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Hermeneutik, yaitu suatu ilmu yang mengarahkan kepada penafsiran teks secara ilmiah. Hasil penelitian ini menyatakan nilai-nilai kehidupan (kearifan okal) dalam cerita rakyat Tulangdidi’ diperlukan dalam berinteraksi dengan sesama. Adapun nilai-nilai tersebut meliputi: (1) nilai moral baik; yaitu: (a) kesetiaan, (b) ketabahan; (c) ketekunan; (d) kepedulian. (2) nilai moral buruk (a) harga diri manusia diremehkan, (b) hubungan orang tua dengan anak ternoda. Kesimpulannya nilai-nilai moral yang baik yaitu (a) kesetiaan, (b) ketabahan; (c) ketekunan; (d) kepedulian, dalam kehidupan masyarakat Toraja sudah terkikis dengan perkembangan teknologi dan arus globalisasi.
Implementasi Kearifan Lokal Singgi’ dan Retteng Dalam Sastra Lisan Toraja: Kajian Hermeneutik Dina Gasong
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol 3 No 3 (2014)
Publisher : LPPM UKI Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.442 KB)

Abstract

This article describes the manifestation of various forms of local wisdom in retteng and Singgi as oral literature through everyday people Toraja. The research methodology used is descriptive qualitative research . The respondents of this study consists of three cultural Toraja, the competent in the field Singgi' And retteng And five respondents Of Elements Academics. Criterion validity of the data used by researchers include : credibility, transferabilitas, dependabilitas, confirmability. The results of this study indicate that local knowledge Singgi ' and retteng in Toraja oral literature include: ethics, social, responsibility, sincerity, justice, truth. Implementation Singgi’ value, and retteng in everyday life, namely : Listen carefully to the speech of others, Ask permission if it will speak, Mutual cooperation, in rambu tuka' and rambu solo', Working tasks according to its function and role, Declare sympathy in the form of soothing words, doing rights and obligations in each activity, not lying, always telling the truth, always looked orang other than the positive side.
INTERFERENSI BAHASA TORAJA KE PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA PADA KHOTBAH DI GEREJA KATOLIK MAKALE Dina Gasong; Rita Tanduk
Bahtera Indonesia Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/bi.v7i2.214

Abstract

Dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat secara lisan, sering terjadi interferensi Bahasa Indonesia oleh Bahasa ibu dan kondisi sosial penutur. Penelitian ini bertujuan untuk mengenali jenis dan bentuk interferensi Bahasa Toraja ke dalam penggunaan Bahasa Indonesia pada Khotbah di Gereja Katolik di stasi “Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria” di Makale. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, maka digunakan teori Sosiolinguistik yang relevan dengan penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah data kebahasaan berupa kata, frasa, kalimat, leksikon, dan paragraf yang memiliki interferensi Bahasa. Data kebahasaan dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode Simak dengan teknik rekam dan catat. Setelah data terkumpul, selanjutnya dianalisis menggunakan metode Analisis Kesalahan Berbahasa yang meliputi empat langkah yaitu: (1) identifikasi Kesalahan, (2) deskripsi kesalahan, (3) penjelasan kesalahan, (4)kuantifikasi kesalahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 4 Jenis interferensi Leksikal Bahasa dalam khotbah ‘Pengantar’ di Gereja Katolik di Makale, yaitu: (1) Interferensi kelas kata pronominal (kata ganti), (2) Interferensi kelas kata verba (kata kerja), (3) Bentuk interferensi leksikal pada kelas kata adjektiva (kata sifat), (4) Interferensi leksikal pada kelas kata adverbia (kata keterangan). Berdasarkan hasil penelitian ini, ada berbagai bentuk interferensi Bahasa Toraja ke dalam Bahasa Indonesia.
Karakter Tokoh Dalam Novel Luka Cinta Karya Risna Utami Dina Gasong; Melda Palulun
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v1i2.486

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan karakter tokoh utama dalam novel Luka Cinta karya Risna Utami. (2) mendeskripsikan karakter tokoh bawahan dalam novel Luka Cinta karya Risna Utami. Jenis penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu prosedur penelitian menghasilkan data secara deskriptif berupa kata-kata tertulis. Sumber data dalam penelitian bersumber dari Novel Luka Cinta karya Risna Utami. Pengumpulan data menggunakan 1) teknik baca, digunakan untuk membaca novel Luka Cinta karya Risna Utami 2) teknik catat, digunakan untuk mencatat data yang diperoleh dari novel Luka Cinta karya Risna Utami. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa tokoh utama dalam novel Luka Cinta karya Risna Utami. Watak tokoh utama Gisha adalah peduli,tegas, penuh semangat,pintar, pantang menyerah, berani, egois( berdasarkan teori Sigmund Freud kepribadian lebih menonjol adalah superego). Tokoh Tama memiliki karakter pemberani,perhatian, peduli sesama, bertanggungjawab. Berdasarkan teori Sigmund Freud kepribadian Tama kebanyakan lebih dikuasai oleh Superego. Tokoh Jordy memiliki karakter suka membantu, peduli sesama. Berdasarkan toeri Sigmund Freud kepribadian Jordy kebanyakan lebih dikuasai oleh Ego.Tokoh Yumna memiliki karakter tidak peduli, malas berpikir. Berdasarkan teori Sigmund Freud kepribadian Yumna kebanyakan lebih dikuasai oleh Id.
Makna Tuturan Massali Padang Dalam Upacara Adat Rambu Solo’ Dina Gasong; Yulianus Minanga Tappi’
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 2 No. 4 (2022)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v2i4.501

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dari tuturan massali padang dalam upacara adat rambu solo’. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan teori Ferdinand de Saussure yang membahasa tentang penanda dan petanda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna tuturan massali padang dalam upacara adat rambu solo’ adalah penghargaan dan penghormatan atas jasa-jasa leluhur baik itu dalam menyebarkan tatanan adat maupun yang mempertaruhkan harga dirinya dalam mempertahankan wilayah lepongan bulan atau yang bisa disebut Toraja. Selain itu sekaligus mengungkap kisah atau sejarah secara singkat dari para leluhur. Tuturan massali padang dalam upacara adat rambu solo’ tidak bisa dimaknai dari setiap kata yang yang ada akan tetapi dimaknai secara keseluruhan
DAYA JUANG MASYARAKAT DALAM BERJUALAN CENDERA MATA Dina Gasong; Daud Rodi Palimbong
Mataallo : Masyarakat Peneliti Pendidikan Bahasa Indonesia Vol 1 No 1 (2019): Mataallo Mayarakat Peneliti Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/mataallo.v1i1.1252

Abstract

Toraja sebagai destinasi pariwisata telah meningkatkan ekonomi masyarakat Toraja. Tulisan ini mengangkat topik kemampuan daya juang masyarakat di lokasi wisata Ke’te’ Kesu’ mempertahankan kehidupan keluarga melalui berjualan cindera mata. Pariwisata ditujukan untuk penghapusan kemiskinan, pembangunan berkesinambungan, dan pelestarian budaya. Hal ini, ditindaklanjuti oleh masyarakat di sekitar objek wisata Ke’te’ Kesu’ untuk menyejahterakan keluarga melalui berjualan cindera mata, yang harus mengalami pasang surut keuntungan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif–kualitatif, karena berkaitan dengan daya juang yang menggunakan data-data dari informan. Hasil penelitian ini adalah para pedagang di lokasi Wisata Ke’te’ Kesu’ memiliki daya juang yang tinggi untuk meningkatkan ekonomi yang dapat dikategorikan tipe climbers.
PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA 3-4 TAHUN DI KELURAHAN LION TONDOK IRING KECAMATAN MAKALE UTARA KABUPATEN TANA TORAJA Sunarti Paseru; Dina Gasong; Elisabet Mangera
Mataallo : Masyarakat Peneliti Pendidikan Bahasa Indonesia Vol 2 No 2 (2020): Mataallo Mayarakat Peneliti Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/mataallo.v2i2.1869

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Perkembangan Bahasa Anak Usia 3-4 tahun yang terdapat di kalangan Lion Tondok Iring. Manfaat dalam penelitian ini (1) Memberikan pengetahuan bagi orang tua tentang penyebab pada anak yang belum lancar berbicara. (2) Dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis megenai perkembangan bahasa anak usia 3-4 tahun. (3) Untuk dijadikan bahan bacaan atau referensi bagi mahasiswa yang berkecimpung di bidang tata bahasa khususnya mengkaji tentang perkembangan bahasa anak usia 3-4 tahun.  Penelitian ini berjenis kualitatif. Data dikumpulkan dengan (1) teknik observasi, metode yang digunakan dalam penyediaan data dengan cara penelitian melakukan penyimak atau observasi penggunaan bahasa; (2) teknik rekam, yaitu yaitu tujuan peneliti menggunakan alat perekam untuk merekam kesimpulan tuturan dialog guru dan siswa saat melakukan interaksi belajar mengajar dan teknik bersifata kegiatan penyediaan data dengan teknik catat; (3) Teknik catat adalah teknik lanjutan yang dilakukan ketika melakukan metode simak dengan teknik lanjutan yaitu mencatat data yang dapat diperoleh dari informan pada kartu data.Hasil peneliti menunjukkan bahwa Perkembangan Bahasa Anak Usia 3-4 tahun yang terdapat di kalangan Lion Tondok Iring yaitu Bahasa anak usia 3-4 tahun di Lion Tondok Iring dalam memproduksi kata belum sempurna, dan menghilangkan huruf h, j, k, l, m, n, r, s, t.