Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) SISWA JURUSAN TEKNIK MESIN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI SURAKARTA Sholikhah, Ummi; Porusia, Mitoriana; Purnamasari, Salsabila
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.44938

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) penting untuk melindungi siswa di bengkel pemesinan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), termasuk melalui penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk mengurangi kecelakaan. Namun, banyak siswa yang kurang mematuhi penggunaan APD karena kurangnya pengetahuan dan sikap yang kurang mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) siswa jurusan Teknik Mesin Sekolah Menengah Kejuruan di Surakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pemilihan sampel penelitian menggunakan proportional random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 338 siswa jurusan Teknik Mesin di Surakarta. Analisis data yang digunakan adalah Uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) siswa jurusan Teknik Mesin Sekolah Menengah Kejuruan di Surakarta (p-value 0,005). Sementara itu, tidak ada hubungan antara sikap dengan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) siswa jurusan Teknik Mesin Sekolah Menengah Kejuruan di Surakarta (p-value 0,058). Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin baik pengetahuan yang dimiliki siswa, semakin tinggi pula kemungkinan mereka untuk mematuhi penggunaan APD. Sementara itu, sikap siswa yang baik dan kurang baik tidak memiliki pengaruh terhadap kepatuhan penggunaan APD.
IDENTIFIKASI BAHAYA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) DI INDUSTRI TAHU DESA WIRAGUNAN Salsabila Purnamasari; Nugrahani, Nur 'Aini Azhari; Jenita Berliana
JURNAL SMART ANKes Vol. 7 No. 2 (2023): JURNAL SMART ANKes
Publisher : Biro Akademik, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/jsa.v7i2.125

Abstract

Sukoharjo is a fairly large MSME industrial center in Indonesia, one of which is the tofu industry which dominates Wirogunan Village. In tofu industry, there are many hazards that can cause various diseases, accidents and injuries such as tripping, slipping, skin irritation (contact dermatitis), musculoskeletal disorders or complaints, etc. Therefore, it is important to know what sources of danger are known in the industry so that risk assessments can then be carried out and recommendations for hazard control can be made. The aim of this research is to identify the dangers that exist in the tofu industry. Hazard identification uses the JSA technique, which is carried out with a Walk Through Survey through observations and interviews with workers, business owners and head of business community. The data obtained will later be entered into the JSA table, so that the hazards that have the highest risk value will be found. These high-risk hazards will later become a priority for providing hazard control or risk management, which will be continued in the next research.
Identifikasi Bahaya Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) Di Industri Rotan Desa Trangsan Menggunakan Job Safety Analysis (JSA) Susanti Alfitri Anissa; Salsabila Purnamasari
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i1.1459

Abstract

Industri rotan di Desa Trangsan, Sukoharjo, yang sebagian besar berada di sektor informal, memiliki potensi tinggi terhadap kecelakaan kerja dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) akibat paparan debu, bahan kimia berbahaya, serta postur kerja yang tidak ergonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya dan menilai tingkat risiko menggunakan metode Job Safety Analysis (JSA) sesuai standar AS/NZS 4360:2004. Pendekatan deskriptif semi-kuantitatif dengan rancangan cross-sectional diterapkan pada 13 unit usaha rotan dengan melibatkan 170 pekerja. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi pada tujuh tahapan produksi, yaitu penerimaan bahan, pembongkaran, pemberian obat rayap, penggerindaan dan penganyaman, pengamplasan, finishing, serta packing. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 23 jenis bahaya dengan distribusi risiko rendah (21,74%), sedang (52,17%), dan tinggi (26,09%). Risiko tertinggi ditemukan pada proses penggerindaan, pengamplasan, dan packing, yang berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan, luka serius, serta cedera muskuloskeletal. Upaya pengendalian dilakukan melalui hierarki pengendalian, meliputi eliminasi, substitusi, rekayasa teknis, pengendalian administratif, dan penggunaan alat pelindung diri (APD). Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara konsisten untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesadaran pekerja terhadap budaya K3 di sektor informal.
PROGRAM PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN KADER AISYIYAH SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI WONOSOBO Indriyani, Yeni; Purnamasari, Salsabila; Werdani, Kusuma Estu; Kusumawati, Maharani Ayu; Fajrin, Rahmawati; Ichsan, Burhannudin; Umaroh, Ayu Khoirotul
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 2 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i2.29276

Abstract

Abstrak: Stunting merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia, termasuk di Kabupaten Wonosobo khususnya di Desa Butuh Lor, yang memiliki prevalensi kasus stunting tinggi sebesar 56,52% pada tahun 2023. Berbagai faktor penyebab, meliputi kondisi ekonomi, pola asuh, asupan gizi, dan sanitasi yang kurang memadai. Upaya pemerintah desa dan kader kesehatan dalam pencegahan stunting masih belum optimal, sehingga diperlukan adanya suatu intervensi program berbasis pelatihan dan pendampingan kader. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas softskill (komunikasi, advokasi, dan edukasi) dan hardskill (pemeriksaan antropometri, pemantauan tumbuh kembang, dan intervensi gizi) dalam pencegahan stunting melalui pelatihan dan pendampingan, sekaligus mendukung perumusan kebijakan berbasis desa untuk pencegahan stunting di Desa Butuh Lor, Wonosobo. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Kegiatan melibatkan pelatihan, Focus Group Discussion (FGD), dan penyusunan policy brief sederhana untuk meningkatkan kapasitas kader kesehatan. Hasil program menunjukkan bahwa pelatihan efektif dalam meningkatkan pengetahuan kader sebesar 40% dan keterampilan kader sebesar 40% serta menghasilkan rancangan sederhana kebijakan untuk pencegahan stunting. Program ini berkontribusi pada penguatan peran kadder dan komitmen pemerintah desa dalam upaya pencegahan stunting.Abstract: Stunting is a major health problem in Indonesia, including in Wonosobo Regency, especially in Butuh Lor Village, which has a high prevalence of stunting cases of 56.52% in 2023. Various causal factors include economic conditions, parenting patterns, nutritional intake, and inadequate sanitation. The efforts of the village government and health cadres in preventing stunting are still not optimal, so a program intervention based on training and mentoring for cadres is needed. This community service aims to increase the capacity of soft skills (communication, advocacy, and education) and hard skills (anthropometric examinations, growth and development monitoring, and nutritional interventions) in preventing stunting through training and mentoring, while supporting the formulation of village-based policies for preventing stunting in Butuh Lor Village, Wonosobo. The implementation method includes the preparation, implementation, and monitoring and evaluation stages. Activities involve training, Focus Group Discussions (FGDs), and the preparation of simple policy briefs to increase the capacity of health cadres. The results of the program show that the training is effective in increasing cadre knowledge by 40% and cadre skills by 40% and produce a simple policy design for stunting prevention. This program contributes to strengthening the role of cadres and the commitment of village governments in stunting prevention efforts.
PEMBELAJARAN PANCASILA SEBAGAI INSTRUMEN PENGUATAN MODERASI BERBANGSA Rizqi, Naila; Purnamasari, Salsabila
Sharia Law and Justice Journal Vol. 1 No. 2 (2025)
Publisher : Yayasan Nurul Yaqin Annaba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas peran pembelajaran Pancasila sebagai instrumen strategis dalam memperkuat moderasi berbangsa di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pembelajaran Pancasila berkontribusi dalam membentuk sikap moderat, inklusif, dan toleran, khususnya di kalangan peserta didik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan peraturan perundang-undangan, yang didukung oleh studi kepustakaan terhadap buku, jurnal ilmiah, serta dokumen kebijakan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ideologi, tetapi juga sebagai proses internalisasi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Melalui model pembelajaran yang kontekstual, dialogis, dan reflektif, pembelajaran Pancasila mampu menumbuhkan sikap moderasi berbangsa dengan mendorong penghormatan terhadap keberagaman, penolakan terhadap ekstremisme, serta penguatan komitmen kebangsaan. Kesimpulannya, penguatan pembelajaran Pancasila menjadi langkah penting dalam membangun karakter bangsa yang moderat dan menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara.
MEWUJUDKAN GENDHIS DI DESA GENENG (GERAKAN EDUKASI DAN DIET HIPERTENSI GIAT SENAM) Moh Zamroji; Muhammad Fajar Afnizar; Cindy Ratna Adella; Diah Ayu Kusuma Wulandari; Intan Prasetyaningrum; Wahida Fitria Fatmasari; Alreda Fitriana; Arum Cahyaningsih; Asti Damaningtyas; Khoirunissa Nadiva Nareswari; Devanda Amelia Prihantika; Shuffah Arsya Azzahra; Farida Nur Isnaeni; Salsabila Purnamasari
Jurnal Berkawan: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2, No. 2, Mei 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/berkawan.v2i2.6071

Abstract

Desa Geneng sendiri memiliki penduduk lansia sebanyak 89 jiwa dan dari screening awal pengecekan tekanan darah di dukuh Kaworan Sari dan Geneng Sari didapatkan 74,16% lansia mengalami tekanan darah tinggi atau Hipertensi. Hipertensi pada lansia di Desa Geneng banyak disebabkan karena kurangnya pengetahuan terkait penyakit hipertensi, pola makan dan gaya hidup yang kurang baik, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan terkait penyakit hipertensi, manajemen pola makan dan kebiasaan hidup agar lebih baik terutama pada lansia. Metode yang diterapkan dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat meliputi screening hipertensi, penyuluhan kesehatan, dan diskusi interaktif dengan media poster dan leaflet di Posyandu Kaworan Sari pada 4 Juli 2024 dan Posyandu Geneng Sari pada 5 Juli 2024. Sasaran pengabdian adalah masyarakat lansia dengan hipertensi di Desa Geneng. Pre-test dan post-test juga dilakukan untuk mengukur peningkatan tingkat pengetahuan masyarakat lansia terkait hipertensi. Hasil penyuluhan diketahui terdapat peningkatan pengetahuan dengan hasil pengetahuan cukup 85,3% menjadi pengetahuan baik 100%. Berdasarkan hasil analisis data kadar tekanan darah lansia di Posyandu Kaworan Sari dan Geneng Sari, terdapat 23 (25,8%) lansia yang memiliki tensi dengan kadar yang normal dan 66 (74,2%) lansia dengan kadar tensi tinggi. Program kerja GENDHIS (Gerakan Edukasi dan Diet Hipertensi Giat Senam) adalah program kerja mahasiswa KKN mengenai penjelasan hipertensi, diet hipertensi dan senam hipertensi yang dilakukan oleh mahasiswa KKN dalam rangka untuk mengukur pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi. Agar pihak puskesmas dapat melaksanakan penyuluhan, kolaborasi gizi, promosi kesehatan dan kunjungan rumah ke rumah agar masyarakat memiliki kemampuan untuk mencegah hipertensi.
Persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana banjir Lina Dwi Cahyowardhani; Salsabila Purnamasari; Sri Indra Kurnia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2322

Abstract

Background: Floods frequently occur in Kadipiro Village, Banjarsari District, Surakarta City, necessitating a strong level of community preparedness supported by the effective performance of the regional disaster management agency. Public perception of the performance of the regional disaster management agency is a critical factor in determining the extent to which the community is prepared to face flood risks. Purpose: To analyze public perceptions of the performance of the regional disaster management agency in improving community preparedness for flooding. Method: This quantitative cross-sectional study was conducted. Data were collected through questionnaires and analyzed using simple linear regression. The selected population was 536 neighborhood units affected by flooding in Kadipiro Village. The data were then calculated using the Lemeshow formula, resulting in a sample size of 110 respondents. Results: There was a positive and significant influence between the performance of the Regional Disaster Management Agency and community preparedness. The regression test yielded an F-value of 78.043 with a p-value of 0.000, indicating a statistically significant effect. The coefficient of determination (R²) value of 0.419 indicates that the performance of the regional disaster management agency explains 41.9% of the variation in community preparedness, while the remaining 58.1% is influenced by other factors. Conclusion: Public perception of the performance of the regional disaster management agency plays a crucial role in improving flood preparedness. Efforts to improve service quality, strengthen outreach activities, and expand cross-sector coordination are necessary to build a more resilient and prepared community in a sustainable manner.   Keywords: Disaster Mitigation; Flood; Preparedness; Public Perception; Regional Disaster Management Agency.   Pendahuluan: Banjir sering terjadi di Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, sehingga diperlukan tingkat kesiapsiagaan masyarakat yang kuat dan didukung oleh kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang efektif. Persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD menjadi faktor penting yang menentukan sejauh mana masyarakat siap menghadapi risiko banjir. Tujuan: Untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana banjir. Metode: Penelitian kuantitatif pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Populasi yang dipilih adalah RT yang terdampak banjir di Kelurahan Kadipiro, dengan jumlah total populasi sebanyak 536 orang, selanjutnya dihitung dengan rumus Lemeshow, sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 110 responden. Hasil: Terdapat pengaruh positif dan signifikan kinerja BPBD dan kesiapsiagaan masyarakat. Uji regresi menghasilkan nilai F sebesar 78.043 dengan nilai p sebesar 0.000, menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan secara statistik. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0.419, menunjukkan bahwa kinerja BPBD menjelaskan 41.9% variasi kesiapsiagaan masyarakat, sedangkan 58.1% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Simpulan: Persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD memiliki peran penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir. Upaya peningkatan kualitas layanan, memperkuat kegiatan sosialisasi, dan memperluas koordinasi lintas sektor diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh dan siap secara berkelanjutan.   Kata Kunci: Banjir; Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD); Kesiapsiagaan; Mitigasi Bencana; Persepsi Masyarakat.
Hubungan Usia, Masa Kerja, dan Intensitas Pencahayaan dengan Kelelahan Mata pada Pekerja Bagian Menjahit Putri, Isniasta Eka; Purnamasari, Salsabila
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 15 No. 03 (2026): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v15i03.4532

Abstract

Kelelahan mata merupakan masalah kesehatan kerja yang umum dialami pekerja garmen. Usia, masa kerja, dan intensitas pencahayaan merupakan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kelelahan mata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia, masa kerja, dan intensitas pencahayaan dengan kelelahan mata pada pekerja bagian menjahit di CV. RKM Garment, Karanganyar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah 90 pekerja bagian menjahit, dengan 83 pekerja yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Visual Fatigue Index (VFI) dan pengukuran intensitas pencahayaan dengan lux meter. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan Continuity Correction (a= 0,05). Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 83,1% penjahit mengalami kelelahan mata. Terdapat hubungan signifikan antara usia (nilai p = 0,036), masa kerja (nilai p = 0,017), dan intensitas pencahayaan (nilai p = 0,028) dengan kelelahan mata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara usia, masa kerja, dan intensitas pencahayaan dengan kelelahan mata pada pekerja bagian menjahit di CV. RKM Garment, Karanganyar. Program pencegahan perlu mempertimbangkan ketiga faktor tersebut melalui perbaikan pencahayaan, pemeriksaan kesehatan berkala, dan edukasi metode 20-20-20.
The Relationship Between Mental Workload and Burnout Incidences in Special School Teachers (SLB) in Surakarta City Natasyafira, Amalia; Purnamasari, Salsabila
JURNAL KESMAS DAN GIZI (JKG) Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Kesmas dan Gizi (JKG)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/71zec316

Abstract

Special school (SLB) teachers not only have the responsibility to teach skills and knowledge according to the characteristics and potential of their students, but they are also required to take on roles as paramedics, social workers, counselors, administrators, and therapists. The demands faced by teachers who work in special schools are far greater than those faced by teachers in regular schools. A high mental workload can reduce performance and has a significant positive effect on worker burnout. The purpose of this study was to determine the relationship between mental workload and the occurrence oof burnout among special school (SLB) teachers in Surakarta City. This study used a quantitative method with a cross-sectional research design. The study population was 176 teachers, and the sample size was calculated using the Lemeshow formula with a 95% confidence level, resulting in 121 respondents selected through proportional random sampling. Based on the results of the study, most teacher respondents have a moderate level of mental workload (47,9%) and experience moderate burnout (49,6%). The Chi-Square test shows that there is a relationship between mental workload and burnout among SLB teachers, with a p-value 0,000 (p<0.05). burnout among teachers is an issue that requires attention because they have a responsibility to create a classroom environment that supports learning. Therefore, providing support, recognition, and adequate resource is necessary to reduce the mental workload of SLB teachers and prevent burnout in order to improve occupational health
Relationship Between Desk Chair Workstations and the Incidence of Low Back Pain Among Elementary School Teacher In Paron district, Ngawi Regency Nugroho, Farizky Aji; Purnamasari, Salsabila
JURNAL KESMAS DAN GIZI (JKG) Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Kesmas dan Gizi (JKG)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/9jp09g07

Abstract

Low back pain (LBP) is one of the most common musculoskeletal disorders affecting the lumbar region of the spine and may reduce comfort and work productivity. Elementary school teachers are considered at risk of developing LBP due to prolonged static postures and workstations that may not comply with ergonomic principles. This study aimed to analyze the relationship between workstation suitability—specifically desk and chair dimensions based on anthropometric measurements—and LBP complaints among elementary school teachers in Paron District, Ngawi Regency. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design conducted from February to March 2025. A total of 140 elementary school teachers were included using a total sampling technique. Data were collected through anthropometric measurements to assess workstation suitability and the Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire (ODI) to determine the severity of LBP. The collected data were analyzed using the Chi-Square test with a 95% confidence level. The findings showed that the majority of respondents were female (71.4%) and aged 45–59 years (42.1%). Based on workstation assessment, 81.4% of respondents had ergonomically suitable workstations, while 18.6% used non-ergonomic facilities. Most respondents (83.6%) experienced minimal to mild LBP, 12.1% moderate LBP, and 4.3% severe LBP. Statistical analysis revealed a significant relationship between workstation suitability and LBP complaints (p=0.000). Non-ergonomic workstations were associated with a higher incidence and greater severity of LBP. Therefore, the implementation of ergonomic principles and proper posture education is essential to prevent LBP and to maintain teachers’ spinal health and productivity.