Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Komodifikasi Jilbab dalam Budaya Digital: Eksploitasi Muslimah Berjilbab dalam Perspektif Asma Barlas Marwa; Akhmad Dasuki
Jurnal Studi Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 1 No. 3 (2025): April
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jsiat.v1i3.180

Abstract

Di era digital, jilbab tidak lagi sekadar simbol religiusitas dan kesalehan, tetapi telah menjadi komoditas visual dan komersial yang dibentuk oleh kapitalisme digital dan algoritma media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana jilbab dikomodifikasi dalam budaya digital dan bagaimana perempuan Muslim dieksploitasi secara simbolis melalui standar visual yang didorong oleh tren pasar. Ini adalah penelitian kualitatif yang dilakukan dari Januari hingga Maret 2024, dengan memanfaatkan tinjauan pustaka dan analisis tafsir kritis. Penelitian ini mengacu pada hermeneutika feminis, terutama dari perspektif Asma Barlas, dan menganalisis interpretasi Al-Qur'an serta konten media digital. Penelitian ini mengungkap pergeseran signifikan dalam makna jilbab dari bentuk perlindungan spiritual menjadi pernyataan mode yang tunduk pada tekanan performatif dan estetika. Ini menekankan urgensi mengembangkan literasi digital yang berakar pada nilai-nilai Al-Qur'an dan keadilan gender untuk memberdayakan perempuan Muslim dalam merebut kembali jilbab sebagai simbol iman, identitas, dan perlawanan terhadap patriarki digital.
ANALISIS KOMPREHENSIF AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH DALAM AL-QUR’AN: KAJIAN KONSEPTUAL, LINGUISTIK, DAN IMPLIKASI PENAFSIRAN Mauizah; Noor Eliyen; Azkia; Edy Surianto; Akhmad Dasuki
AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin Vol. 2 No. 11 (2025): At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin (Edisi November)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/at-taklim.v2i11.1181

Abstract

This study examines the concepts of muhkam and mutashabih verses in the Qur’an as essential components of Ulumul Qur’an (Qur’anic sciences). The background of this study arises from the need to understand the characteristics of Qur’anic verses accurately, given the diversity of linguistic styles and the depth of meanings contained within them. The study aims to explain the definitions, characteristics, examples, and functions of muhkam and mutashabih verses, as well as the wisdom behind their existence. The research employs a literature review method by analyzing classical and contemporary works on Qur’anic studies, scientific journals, and primary material from ULUMUL QUR’AN Kelompok 7. The findings indicate that muhkam verses have clear meanings and serve as the foundation of Islamic law, while mutashabih verses contain ambiguous, symbolic, or metaphysical meanings that require interpretation. Both categories complement each other within the structure of the Qur’an and reflect its miraculous nature. This study highlights the importance of methodological accuracy in interpreting Qur’anic verses to prevent misinterpretation and doctrinal deviation.
Unravelling the Linguistic Veil: Leadership and the Position of Women from Al-Sya'rawi's Perspective Rian, Rian Hidayat; Taufik Warman Mahfuzh; Akhmad Dasuki; Hanief Monady; Mahda
Medina-te : Jurnal Studi Islam Vol 21 No 1 (2025): Medina-Te: Jurnal Studi Islam
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/medinate.v21i1.26186

Abstract

The Position of Women in Leadership in Indonesia still faces various social and cultural challenges. Although the constitution guarantees women's right to lead, traditional social norms and gender stereotypes often become obstacles. This study aims to analyze Muhammad Mutawalli Al-Sya'rawi's views on leadership and the status of women in Islam through a linguistic approach. Al-Sya'rawi, an Egyptian exegete, is renowned for his linguistic-semantic method of interpretation, which offers a new perspective in understanding Qur'anic verses. This study uses a qualitative method to explore Al-Sya'rawi's perspectives on leadership and the role of women by analyzing his writings and understanding the cultural and social backgrounds that influenced his thought. An interpretative, descriptive, and content analysis approach is employed to examine Al-Sya'rawi’s interpretation of verses related to leadership and the status of women, particularly in Surah al-Nisā’ [4]: 34. The analysis shows that Islam provides equal opportunities for both men and women in the public sphere, while also emphasizing women's roles in the domestic sphere as wives and mothers, with rights and responsibilities equal to those of men. According to Al-Sya‘rawi, although women can participate in the public domain, leadership in general is still considered more suitable for men, given the significant responsibilities that leadership entails.
KAJIAN KOMPREHENSIF TENTANG KONSEP MAKKIYAH DAN MADANIYAH DALAM ULUMUL QUR’AN Afifatul Aspia; Najwa Khoiriyah; Nur Elma; Nur Fathia Sari; Akhmad Dasuki
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 2 No. 11 (2025): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Edisi November 2025)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v2i11.1223

Abstract

This article discusses the concepts of Makkiy and Madaniy within the discipline of Ulumul Qur’an, focusing on differences in timing, location, characteristics, and the methods used to classify the Qur’anic verses revealed during the two phases of the Prophet Muhammad’s mission. The study employs a descriptive approach supported by classical and contemporary literature that explains the meanings, features, and significance of understanding Makkiy and Madaniy classifications. The findings reveal that this knowledge is not only related to the historical revelation of the Qur’an but also crucial for understanding the socio-historical context, da'wah strategies, and the gradual development of Islamic law. A comprehensive understanding of these categories helps prevent misinterpretation and strengthens insight into the dynamics of the Prophet’s mission. Thus, the concepts of Makkiy and Madaniy hold an essential role in the study of Qur’anic sciences and serve as a foundation for deeper analysis of the Qur’anic message.
MEMBEDAH TEORI NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN sibawaihi; Rahmawati, Aulia; Syaripah; Abdurrahman; Dedi Siswanto; Akhmad Dasuki
AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin Vol. 2 No. 11 (2025): At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin (Edisi November)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/at-taklim.v2i11.1219

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif teori nasikh dan mansukh dalam Al-Qur’an, mulai dari definisi, rukun dan syarat, jenis-jenis nasikh, hingga perbedaan pandangan ulama klasik dan kontemporer mengenai keberadaannya. Penelitian menggunakan metode studi pustaka dengan menelaah literatur klasik dan modern yang relevan dalam bidang Ulumul Qur’an, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan historis-deskriptif untuk melihat perkembangan pemahaman konsep ini sepanjang sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskh merupakan konsep yang diakui oleh mayoritas ulama sebagai mekanisme penyempurnaan hukum agar tetap selaras dengan perubahan kondisi sosial. Tiga bentuk utama naskh yang sering dibahas meliputi penghapusan bacaan dan hukum sekaligus, penghapusan hukum namun bacaan tetap ada, serta penghapusan bacaan tetapi hukumnya tetap berlaku. Perdebatan muncul di kalangan ulama; sebagian menerima keberadaan naskh sebagai bagian dari dinamika wahyu, sementara sebagian lainnya, seperti al-Isfahani, menolaknya dan memilih pendekatan takhsis. Kajian terhadap pemikiran Syah Wali Allah, Abdullah An-Na’im, dan Abdullah Saeed menunjukkan bahwa gagasan kontemporer cenderung menafsirkan naskh sebagai proses historis yang memungkinkan kontekstualisasi hukum di masa kini. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pemahaman perkembangan teori nasikh-mansukh serta implikasinya dalam pendidikan Islam, khususnya dalam penguatan metode interpretasi Al-Qur’an yang lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan zaman.
ILMU AMTSAL AL-QUR’AN Abdul Khair; M. Rifky Juliansyah; Nurul Hidayah; Sri Juwita; Akhmad Dasuki
AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin Vol. 2 No. 11 (2025): At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin (Edisi November)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/at-taklim.v2i11.1248

Abstract

The process of delivering information in teaching and learning becomes more engaging, effective, and efficient when expressed through beautiful and meaningful language. One of the strategies to achieve this is by using amtsal (parables). Amtsal in the Qur’an function as abstract visualizations conveyed through various forms of expression by analogizing one thing to another that is similar or comparable. An amtsal is an expression intended to resemble a situation described in a statement with the condition in which the statement is presented. It is used to demonstrate the quality of an outcome, clarify fundamental and abstract matters, and provide beneficial lessons for its audience. Its purpose is to convey truth and highlight the significance of the message it contains. In educational practice, the use of amtsal as a medium aims to build certain premises so that learners can formulate logical inferences (istinbāṭ) based on them.
Social Alienation in the Digital Age: Roland Barthes' Semiotic Analysis of The Meaning of 'Ghaflah' in Qs. Al-A'raf Verse 205 Akhmad Dasuki; Rian Hidayat; Marwa; Shafa; Siti Mudthiya Arpijayanti; Cecep Zakarias El Bilad
Medina-te : Jurnal Studi Islam Vol 22 No 1 (2026): Medina-Te: Jurnal Studi Islam
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/medinate.v21i3.29796

Abstract

This study explores the concept of ghaflah in Surah Al-A'raf verse 205 as an entry point to examine the phenomenon of social alienation in the digital age through Roland Barthes' semiotic approach. The term ghaflah, which literally means negligence or forgetfulness, is analysed on two levels: denotative (literal meaning) and connotative (symbolic/ideological meaning). The main research questions focus on how ghaflah is interpreted semiotically and whether its meaning is relevant to current social phenomena such as doomscrolling, digital alienation, and collective awareness crises. The objective of this study is to uncover the hidden meanings of ghaflah and explain how the concept reflects the socio-psychological conditions of modern society. This research employs a qualitative-descriptive method based on literature review, using Barthes' semiotic theory as the primary analytical framework. Core references include Tafsir al-Misbah, Lisan al-‘Arab, semiotic literature, and contemporary studies on digital media. The analysis is conducted in two stages: (1) interpreting the literal meaning of ghaflah using exegetical and linguistic sources, and (2) extracting the connotative meaning through Barthes' framework to uncover its ideological and mythological dimensions. The findings show that ghaflah is not merely spiritual negligence but also a metaphor for modern human alienation caused by the domination of technology and digital media. In this context, ghaflah functions as a sign of existential, spiritual, and social crises deeply rooted in contemporary life patterns. In conclusion, Surah Al-A’raf: 205 is not only theologically significant but also offers a critical reflection on the destructive impacts of the digital era on human consciousness, meaning, and spiritual values.
HADIS DAN KEADILAN SOSIAL: MEMAHAMI NILAI KEADILAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI Rizal; Risko Ari Saputra; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Religious Vol. 2 No. 2 (2026): In Progress 2026: Journal of Golden Generation Religious
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggr.v2i2.631

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hadis tentang larangan berbuat zalim dalam kerangka keadilan sosial melalui pendekatan interdisiplin yang meliputi perspektif sosiologi, filsafat, dan maqāṣid al-syarī‘ah. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), di mana sumber data utama berupa hadis dalam Shahih Muslim beserta syarahnya, serta didukung oleh literatur ilmiah dari bidang sosiologi, filsafat, dan ushul fikih. Mekanisme pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran, seleksi, dan analisis kritis terhadap sumber-sumber yang relevan, kemudian diolah dengan teknik analisis deskriptif-analitis untuk menemukan keterkaitan makna hadis dengan konsep keadilan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larangan berbuat zalim dalam hadis memiliki dimensi luas, mencakup aspek moral, sosial, dan normatif, yang berfungsi menjaga keseimbangan kehidupan manusia. Pembahasan mengungkap bahwa keadilan sosial tidak hanya dipahami sebagai prinsip etis, tetapi juga sebagai sistem yang menopang keteraturan masyarakat, menjamin distribusi hak secara proporsional, serta mewujudkan kemaslahatan melalui perlindungan jiwa dan harta. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi tiga perspektif keilmuan dalam membaca hadis secara tematik sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif dan kontekstual. Implikasi penelitian ini bagi dunia pendidikan adalah memberikan kerangka analisis yang lebih luas dalam studi hadis, khususnya dalam mengaitkan teks keagamaan dengan realitas sosial, sehingga dapat dijadikan referensi bagi penelitian lanjutan yang mengembangkan pendekatan interdisiplin dalam kajian keislaman.
Epistemologi Tafsir bi al-Ra'yi: Sumber, Metode, dan Karakteristik dalam Tradisi Tafsir Islam Evi Aulia; Sholihudin Amin; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Religious Vol. 2 No. 2 (2026): In Progress 2026: Journal of Golden Generation Religious
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggr.v2i2.660

Abstract

Artikel ini mengkaji epistemologi tafsir bi al-ra'yi dalam tradisi penafsiran Al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan menjelaskan genealogi historis, sumber-sumber epistemologis, prosedur metodologis, dan karakteristik tafsir rasional dalam tradisi tafsir Islam. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka (library research) dengan metode analisis historis-intelektual dan epistemologis, penelitian ini menganalisis literatur klasik dan kontemporer bidang Ulumul Qur'an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir bi al-ra'yi bukan sekadar penafsiran berbasis pendapat pribadi, melainkan proses intelektual terstruktur yang berpijak pada tiga sumber epistemologis utama: akal ('aql), bahasa Arab (lughat al-'Arab), dan prinsip metodologi hukum Islam (usul al-fiqh). Secara metodologis, penafsiran ini mengikuti prosedur sistematis: pembacaan teks, analisis linguistik, elaborasi rasional, dan validasi normatif melalui kaidah syar'i. Tujuh karakteristik utama tafsir bi al-ra'yi berhasil dirumuskan: rasional-argumentatif, berbasis linguistik, bersifat istinbati, terbuka terhadap konteks, tidak bebas nilai, integratif antara naql dan 'aql, serta bersifat ijtihadi. Secara historis, metode ini berkembang bertahap dari era sahabat hingga periode klasik dan modern. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tafsir bi al-ra'yi terbagi menjadi dua kategori: al-ra'yi al-mahmud (terpuji) yang mengikuti kaidah ilmiah, dan al-ra'yi al-madhmum (tercela) yang didasarkan pada opini tanpa landasan keilmuan memadai.
Mazhab Tafsir Syiah, Kelahiran dan Perkembangan, Sumber, Metode dan Karakteritik Tafsir, Tokoh-Tokoh Tafsir Syi’ah dan Karyanya Muhammad Ramdani; Muhammad Jiddan Alamsyah; Agung; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Religious Vol. 2 No. 2 (2026): In Progress 2026: Journal of Golden Generation Religious
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggr.v2i2.674

Abstract

Artikel ini mengkaji mazhab tafsir Syiah dengan menyoroti kelahiran dan perkembangannya, sumber-sumber penafsiran, metode serta karakteristiknya, dan tokoh-tokoh utama beserta karya-karyanya. Kajian ini penting karena penelitian tentang tradisi tafsir Syiah di Indonesia masih relatif terbatas, padahal tradisi ini memiliki posisi penting dalam sejarah intelektual Islam dan terus berkembang hingga masa modern. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan melalui penelaahan terhadap kitab tafsir, karya ulama, dan artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir Syiah lahir dari pengakuan terhadap otoritas Ahlul Bait dan doktrin imamah, lalu berkembang dari corak riwayat yang cenderung apologetik menuju bentuk penafsiran yang lebih rasional, linguistik, filosofis, dan dialogis. Sumber tafsir Syiah mencakup Al-Qur’an, riwayat Nabi dan imam Ahlul Bait, hadis internal Syiah, akal, serta ta’wil. Tokoh-tokoh seperti al-‘Ayyasyi, al-Qummi, al-Tusi, al-Tabarsi, dan Muhammad Husayn Tabataba’i menunjukkan dinamika tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir Syiah merupakan tradisi intelektual yang dinamis, berlapis, dan terus beradaptasi dalam ruang akademik serta dialog antar mazhab.