Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

MEMBANGUN KESADARAN SOSIAL DALAM PENDIDIKAN Badruddin; Rezki Akbar Norrahman
Holistik Analisis Nexus Vol. 1 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : PT. Banjarese Pacific Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62504/ysehdn150

Abstract

Keberhasilan dan kegagalan suatu proses pendidikan Islam secara umum dapat dinilai dari out-put-nya, yakni orang-orang sebagai produk pendidikan Islam. Jika Pendidikan Islam mengalami kegagalan dalam mengantarkan manusia kearah cita-cita manusiawi yang bersandar pada nilai-nilai ke-Tuhanan, maka yang akan terjadi adalah tumbuhnya prilaku-prilaku negatif dan destruktif, seperti kekerasan, ketidakpedulian sosial, dan lain sebagainya, yang semuanya itu mengakibatkan penderitaan semesta. Berbagai prilaku-prilaku destruktif tersebut, yang sering muncul dinegara Indonesia, merupakan akibat dari belum munculnya memiliki kesadaran. Pihak-pihak yang yang paling memegang kunci dan mempunyai peran utama dalam memupuk dan membangun kesadaran generasi penerus bangsa adalah; orang tua melalui lembaga keluarga,masyarakat dengan pengawasannya, sekolah dengan seluruh elemenya dan pemerintah dengan kebijakan dan keteladannya.Pihak-pihak ini harus mempunyai kesamaan dasar pandang, koordinasi, singkronisasi serta saling bahu membahu dalam membangun kesadaran generasi penerus bangsa.
MEMBAUR DALAM KEBERAGAMAN: IMPLEMENTASI MODERASI BERAGAMA DALAM MENGENDALIKAN FANATISME Badruddin
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 1 No. 1 (2024): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Edisi Juni 2024)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v1i1.3

Abstract

Moderasi Beragama merupakan sikap toleransi antar sesama umat beragama dalam rangka menciptakan keamanan, kedamaian, dan ketentraman dalam kehidupan. Maka dari itu sudah sepantasnya antara satu umat Islam dengan umat Islam lainnya untuk menjadi contoh bagi umat lainnya dalam hal toleransi. Namun demikian yang terjadi pada masa sekarang adalah sebaliknya dimana satu golongan Islam merasa mereka yang paling benar diantara golongan lainnya sehingga menyebabkan timbulnya fanatisme dalam beragama. Fanatisme sangat berbahaya dalam kehidupan karena dapat merusak berbagai keanekaragaman yang ada di Indonesia. Penelitian ini menggunakan library reaserch yang kemudian data sekunder yang digunakan dianalisa menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fanatisme dapat terjadi karena disebabkan beberapa faktor seperti kondisi sosial yang fanatik, berdebat demi popularitas, cinta berlebihan kepada ulama, kekuasaan otoriter yang mengintervensi kehidupan beragama,, tidak mengoreksi pendapat yang salah, dan sebagainya. Maka dari itulah moderasi beragama adalah solusi yang sangat tepat untuk mengendalikan fanatisme dengan cara menimplementasikan nilai-nilai dasar moderasi beragama.
SPRITUAL RECOVERY DAN REINTEGRATION PECANDU NARKOBA Muhammad Syuhrawardi; Badruddin
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 1 No. 1 (2024): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Edisi Juni 2024)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v1i1.8

Abstract

Penyalahgunaan narkoba merupakan masalah yang semakin meluas di Indonesia, dengan dampak yang merusak baik secara individu maupun sosial. Dalam pandangan Islam, narkoba dikategorikan sebagai khamar, yang secara tegas dilarang karena sifatnya yang merusak akal dan moral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendekatan spiritual dan reintegrasi dalam rehabilitasi pecandu narkoba dari perspektif Islam. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis, yang melibatkan kajian literatur dan analisis terhadap konsep pemulihan spiritual dalam Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan spiritual dalam bentuk taubat, sholat, dzikir, dan puasa dapat efektif dalam membantu pecandu narkoba untuk pulih dan mengintegrasikan diri kembali ke masyarakat. Proses reintegrasi juga penting untuk memastikan bahwa mantan pecandu dapat kembali hidup normal dan produktif, dengan dukungan dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Pendekatan ini tidak hanya memperbaiki kesehatan fisik dan mental pecandu, tetapi juga memperkuat iman dan moralitas mereka, yang merupakan kunci untuk pemulihan jangka panjang.
PENTINGNYA MODERASI BERAGAMA DI INDONESIA Badruddin
AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2024): At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin (Edisi November)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/at-taklim.v1i2.23

Abstract

Indonesia, sebagai negara dengan keberagaman agama, etnis, dan budaya, menghadapi tantangan besar dalam menjaga keharmonisan sosial di tengah pluralitas tersebut. Moderasi beragama menjadi konsep yang sangat relevan dalam upaya menciptakan kehidupan berbangsa yang damai dan inklusif. Artikel ini membahas pentingnya moderasi beragama di Indonesia sebagai kunci untuk mengatasi radikalisasi, ekstremisme, dan intoleransi yang dapat mengancam stabilitas sosial dan keamanan nasional. Moderasi beragama tidak hanya berkaitan dengan pemahaman agama yang tidak ekstrim, tetapi juga dengan sikap hidup yang menghargai keragaman dan saling menghormati antar umat beragama. Dalam konteks ini, pendidikan agama yang berbasis moderasi, peran negara dalam memfasilitasi dialog antar agama, dan penguatan nilai-nilai toleransi menjadi sangat penting. Artikel ini juga mengidentifikasi tantangan dalam mewujudkan moderasi beragama di Indonesia, seperti adanya kelompok-kelompok radikal yang mengabaikan keberagaman dan pengaruh globalisasi yang memperburuk polarisasi sosial. Secara keseluruhan, moderasi beragama memiliki peranan yang strategis dalam menjaga persatuan, kesatuan, dan kedamaian di Indonesia yang multikultural.
The THE CONCEPT OF JUSTICE IN THE PERSPECTIVE OF ISLAM AND PANCASILA Manggala, Kayan; Badruddin
Al-Masail: Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 2 (2024): June: Al-Masail: Journal of Islamic Studies
Publisher : CV. Fahr Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61677/al-masail.v2i2.268

Abstract

Justice is a fundamental value recognised in various ethical and legal systems, including in Islam and Pancasila. The objectives of this study are (1) to find out the meaning of justice. (2) to know the concept of justice in Islamic Perspective. (3) to find out the concept of Justice in the Perspective of Pancasila. The method used to explore this is a literature study with qualitative descriptive analysis. The results of this study are three, namely (1) the meaning of justice from various languages including: Justice (English), al-adl' (Arabic), and Adil (Indonesian) (2) The concept of justice from an Islamic perspective is the concept of justice that comes from the Qur'an as the main foundation, this concept establishes haq and batil by verifying it through identification (taaruf), research (tabayyun), proof (shahadah), analysis and synthesis (dhikr) of Allah's verses that are plastered in every direction (including in humans and social reality), as well as the Qur'an, so that it is not mistaken in drawing conclusions. (3) justice in the perspective of Pancasila is justice that is the source of the framework of the five precepts in Pancasila, including: Deity, Humanity, National Unity, Consensus, and Social Justice.
JEWISH AND MUSLIM COMMUNICATION PATTERNS IN THE QUR'AN Rohman, Baeti; Riam, Zainal; Badruddin; Amin, Muhammad
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 9 No 2 (2024): Volume 9 No. 2 December 2024
Publisher : The Department of the Qur'anic Studies, Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Institute of Islamic Studies (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at-tibyan.v9i2.9663

Abstract

Judaism and Islam are two religions that were revealed by Allah to humans, both religions are equipped with holy books as a guide for their people, the Torah is the Jewish holy book and the Qur'an is intended as the holy book of Islam, both the Torah and the Qur'an are the same contains the word of Allah SWT. The original Torah text had reported the arrival of the Prophet Muhammad, complete with his physical characteristics, but when Rasulullah was sent as a prophet, the Jews actually denied it because he did not come from the Children of Israel as the Jews hoped. The rejection of Muhammad as the last prophet was the source of tension in communication patterns between Jews and Muslims. This communication tension is getting stronger due to the actions of Jews who are trying to commit apostasy against Muslims because they feel that their religion is the truest. The Koran explicitly states that Jews will not be happy with Muslims until Muslims follow the path of the Jewish religion. The Qur'an also reminds us that the group that is most hostile to Muslims is the Jews, so Muslims need to be careful in establishing communication with Jews.
Menelusuri Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Barus Badruddin; Zulfiqri, Muammar
IQ (Ilmu Al-qur'an): Jurnal Pendidikan Islam Vol. 7 No. 01 (2024): IQ (Ilmu Al-qur’an): Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Tarbiyah, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37542/qry54424

Abstract

This research aims to detail the Islamic journey in the city of Barus with the aim of understanding the development of Islam in the territory of Nusantara. On March 24, 2017, the Government of the Republic of Indonesia officially designated the city of Barus as the zero-point monument of the center of Nusantara Islamic civilization. The research methods used are qualitative, with historical approaches, criticism, and interpretation. The researchers used the following scheme: first, evaluate historical information sources related to Islamic history in Barus, then carry out analysis, criticism, and interpretation of such information. The results will reveal the role of Barus as the starting point for the spread of Islam in Nusantara, followed by its spread to other regions such as Peureulak and Pasai. Although Barus accepted Islam early, the territory did not form a power or Islamic empire that had political power.
Pengaruh Religious Maturity (Kedewasaan Beragama) Terhadap Sikap Toleransi Masyarakat Muslim di Kota Depok Badruddin; Zulfiqri, Muammar
SETYAKI : Jurnal Studi Keagamaan Islam Vol. 3 No. 2 (2025): MEI (on Progress)
Publisher : CV Kalimasada Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59966/setyaki.v3i2.1768

Abstract

This study aims to examine the influence of religious maturity on the tolerance attitudes of the Muslim community in Depok City. Employing a mixed methods approach with a sequential explanatory design, quantitative data were collected through a survey of 384 respondents, while qualitative data were obtained through interviews and focus group discussions (FGDs). Statistical analysis revealed a significant positive correlation between religious maturity and tolerance attitudes (r = 0.573, p < 0.001). Simple linear regression showed that 32.9% of the variance in tolerance attitudes was explained by religious maturity (R² = 0.329), while multiple regression analysis identified the intellectual, consequential, and experiential dimensions as significant predictors. Moderation analysis indicated that education level, age, and religious affiliation strengthened the relationship, whereas gender had no significant effect. Qualitative findings identified four patterns of the relationship between religious maturity and tolerance, as well as various influencing factors, including education, socio-cultural context, media, and family. This study underscores the importance of fostering a comprehensive and transformative religious maturity to cultivate tolerant attitudes in a multicultural society. The findings are expected to serve as a foundation for developing inclusive policies based on universal religious values.
JEWISH AND MUSLIM COMMUNICATION PATTERNS IN THE QUR'AN Rohman, Baeti; Riam, Zainal; Badruddin; Amin, Muhammad
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 9 No 2 (2024): Volume 9 No. 2 December 2024
Publisher : The Department of the Qur'anic Studies, Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Institute of Islamic Studies (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at-tibyan.v9i2.9663

Abstract

Judaism and Islam are two religions that were revealed by Allah to humans, both religions are equipped with holy books as a guide for their people, the Torah is the Jewish holy book and the Qur'an is intended as the holy book of Islam, both the Torah and the Qur'an are the same contains the word of Allah SWT. The original Torah text had reported the arrival of the Prophet Muhammad, complete with his physical characteristics, but when Rasulullah was sent as a prophet, the Jews actually denied it because he did not come from the Children of Israel as the Jews hoped. The rejection of Muhammad as the last prophet was the source of tension in communication patterns between Jews and Muslims. This communication tension is getting stronger due to the actions of Jews who are trying to commit apostasy against Muslims because they feel that their religion is the truest. The Koran explicitly states that Jews will not be happy with Muslims until Muslims follow the path of the Jewish religion. The Qur'an also reminds us that the group that is most hostile to Muslims is the Jews, so Muslims need to be careful in establishing communication with Jews.
Partnership Dalam Transaksi Ekonomi Syariah Badruddin; Rezki Akbar Norrahman
Journal of International Multidisciplinary Research Vol. 1 No. 1 (2023): November 2023
Publisher : PT. Banjarese Pacific Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62504/2bg3sm61

Abstract

Manusia tidak mungkin hidup sendiri tanpa berafiliasi dengan manusia lainnya karena fitrah yang ditetapkan Allah swt kepada manusia adalah untuk berinteraksi satu sama lain agar mencukupi kebutuhan mereka. Dalam hal mempertahankan hidup, manusia melakukan aktivitas atau kegiatan yang berhubungan dengan muamalah, seperti jual beli, sewa menyewa, pinjam-meminjam utang piutang, gadai, dan kegiatan lainnya yang mencakup ekonomi. Agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan dari segala kegiatan tersebut, kegiatan-kegiatan tersebut diatur oleh hukum ekonomi syariah, yaitu serangkaian aturan yang mengikat mengenai kegiatan ekonomi yang dibuat oleh badan-badan resmi, dengan prinsip syariah berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah. Salah satu aktivitas ekonomi yang banyak dilakukan pada masa sekarang ini adalah kemitraan atau yang disebut dengan sharikat. Kemitraan adalah bentuk kerjasama dimana dua atau lebih pihak bergabung untuk mengelola dan menjalankan usaha bersama dengan tujuan membagi keuntungan dan kerugian. Dalam konteks hukum Islam, kemitraan dikenal sebagai “Sharikat,” yang mencakup berbagai jenis perjanjian kemitraan dengan aturan dan syarat yang berbeda. Sharikat sangat penting dalam kehidupan berekonomi pada saat ini dan sangat penting untuk mempelajari dan memahami konsep dari pada kemitraan atau sharikat. Meliputi definisi sharikat, jenis-jenis sharikat, syarat-syarat, manajemen kemitraan, dan aplikasi dalam pembiayaan rumah. Selain itu, kami juga menggambarkan konsep musharakah mutanaqisah, di mana bank Islam dan nasabah dapat menggunakan jenis kemitraan ini untuk membiayai investasi atau proyek tertentu. Kami menjelaskan bagaimana kemitraan ini dapat digunakan untuk pembiayaan rumah, di mana bank dan nasabah bersama-sama membeli rumah dan kemudian menyewakannya kepada pelanggan. Nasabah memiliki opsi untuk membeli saham dalam rumah tersebut dari bank.