Salah satu cara memahami budaya suatu etnis adalah melalui kajian deiksis sosial pada bahasa yang digunakan oleh masyarakat etnis tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan deiksis sosial pada ritual adat rambu solo’ etnis Toraja. Penelitian diharapkan menjadi rujukan para mahasiswa pada penelitian sejenisnya. Dapat pula digunakan sebagai tuntunan guru dalam mengajarkan kearifan lokal. Hasil penelitian ini juga merupakan dukungan terhadap pelestarian budaya Toraja pada unsur bahasa dan sastra lisan Toraja. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Data dikumpulkan melalui Teknik; (1) teknik simak, yaitu metode pengumpulan data dengan menyimak bahasa dalam situasi komunikasi tertentu, (2) observasi non-partisipan, yaitu: teknik pengumpulan data yakni peneliti tidak ikut terlibat secara langsung dalam kegiatan yang diamati dan (3) teknik catat, yakni mencatat peristiwa komunikasi. Sumber data penelitian ini yaitu video ritual rambu solo’ yang terdapat pada channel YouTube Toraja Unik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penggunaan deiksis sosial berupa penanda hubungan sosial, status sosial, dan bentuk penghormatan dalam tuturan masyarakat etnis Toraja. Pertama, hubungan sosial tercermin melalui penggunaan bentuk sapaan tertentu kepada keluarga, petuah adat, pemuka agama, pejabat, dan pemerintahan. Kedua, status sosial ditunjukkan melalui pemilihan kata yang mengacu pada keluarga (pa’rapuan), gelar kehormatan (puang), jabatan pemerintah (toma’parenta), gelar keagamaan (majelis gereja, pengantar, pandita, pastor), pemuka adat (to parengnge’), dan orang yang dituakan baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat (kupoindo'na dan "kupo'ambe'na). Hal ini menandakan adanya hierarki sosial yang harus dihormati dalam masyarakat etnis Toraja melalui bentuk-bentuk kebahasaannya. Ketiga, penghormatan terlihat jelas dari penggunaan pronomina (Indo’-Ambe’) dan sapaan yang bersifat sopan dan penuh etika (tabe’).