Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

LAPORAN KASUS PENERAPAN INTERVENSI TEKNIK RELAKSASI GENGGAM JARI UNTUK MENGATASI NYERI AKUT PADA PASIEN POST OPERASI GIANT CELL TUMOR (GCT) Andini, Melina Rike; Nugraha, Bambang Aditya; Purba, Chandra Isabella Hostanida
Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 10 No 1 (2024): Jurnal Penelitian Keperawatan
Publisher : STIKES RS Baptis Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32660/jpk.v10i1.734

Abstract

Giant Cell Tumor adalah salah satu tumor tulang jinak yang memiliki pertumbuhan lokal yang agresif untuk bermetastasis. Penatalaksanaan tumor ini dapat dilakukan dengan tindakan operasi untuk mengangkat masa dan mencegah tumor menyebar. Keluhan yang dirasakan setelah tindakan pembedahan adalah nyeri post operasi karena adanya kerusakan jaringan. Manajemen nyeri dapat dilakukan dengan farmakologi dan non farmakologi. Intervensi non farmakologi yang diberikan adalah teknik distraksi dengan relaksasi genggam jari. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pemberian terapi relaksasi genggam jari pada pasien dengan nyeri akut post operasi Giant Cell Tumor. Metode pada penelitian ini adalah studi kasus dengan memberikan asuhan keperawatan pada pasien. Pengumpulan data yaitu dengan wawancara dan observasi. Subjek pada penelitian ini adalah satu orang pasien post operasi Giant Cell Tumor yang mempunyai masalah keperawatan nyeri akut. Pada studi kasus ini hasil menunjukkan sebelum diberikan intervensi teknik genggam jari skala nyeri yang dirasakan klien 6 (0-10) dan setelah diberikan intervensi terdapat penurunan skala nyeri menjadi 2 (0-10). Teknik distraksi dengan cara relaksasi genggam jari yang diberikan selama 20 menit perhari selama 3 hari pada pasien post operasi Giant Cell Tumor mampu menurunkan intensitas skala nyeri yang dirasakan klien dan memberikan efek rileks, tenang dan nyaman. Teknik relaksasi genggam jari ini dapat dijadikan sebagai intervensi pendamping selain pemberian obat analgetik pada pasien dengan keluhan nyeri akut post operasi Giant Cell Tumor di Rumah Sakit.
Gambaran Self-Management dan Kualitas Hidup Pada Orang Dengan HIV/AIDS Dwinaputri, Adinda Zahira; Witdiawati, Witdiawati; Purba, Chandra Isabella Hostanida
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i8.15101

Abstract

ABSTRACT Human Immunodeficiency Virus is still a major health problem in the world due to its increasing prevalence every year. One of the factors to evaluate the health of people living with HIV is to assess their quality of life; improving the quality of life of this group is an important goal for treatment. HIV is a chronic disease and requires self-management, controlled and prescribed medication, the need for self-care, stigma from the community, and psychological distress. West Java is one of the highest provinces with HIV/AIDS in Indonesia.  The purpose of this study was to identify the description of self-management and quality of life in people with HIV/AIDS at the General Hospital of the Indonesian Army Guntur, Garut. This study used a descriptive cross sectional study approach. The number of samples studied was 111 HIV located in the General Hospital of the Indonesian Army Guntur Garut. Data were collected using the HIV Self-Management Scale instrument and quality of life instruments using the WHOQOL-HIV BREF. Data were analyzed using descriptive statistics to describe the frequency distribution. This study showed that the majority of respondents were male as many as 94 people (84.7%). Most of the respondents were aged 20 - 44 years, namely as many as (83.8%), the final education at the high school education level as many as 68 people (61.3%). Based on the level of self-management, 63 respondents (56.8%) had a poor level of self-management. As for the quality of life, there were 62 respondents who had a bad quality of life category (55.9%). Based on this, nurses can also act as educators by providing regular counseling related to effective self-management which will require cooperation from various health services. As a result, ODHIV will receive support and knowledge that can change their awareness and behavior for the better.  Key words: HIV/AIDS, Quality of Life, PLHIV, Self-Management  ABSTRAK Human Immunodeficiency Virus masih menjadi permasalahan kesehatan utama di dunia karena prevalensi yang meningkat setiap tahunnya. Salah satu faktor untuk mengevaluasi kesehatan orang dengan HIV adalah dengan mengkaji kualitas hidupnya, perbaikan kualitas hidup kelompok tersebut menjadi tujuan penting untuk pengobatan. HIV termasuk kedalam penyakit kronis dan membutuhkan self-management, pengobatan yang harus dikontrol dan ditentukan, adanya kebutuhan akan perawatan diri, stigma dari masyarakat, dan tekanan psikologis. Jawa barat merupakan salah satu provinsi tertinggi penderita HIV/AIDS di Indonesia.  Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran self-management dan kualitas hidup pada orang dengan HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum TNI AD Tk.IV Guntur, Garut. Penelitian ini menggunakan deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Jumlah sampel yang diteliti adalah 111 HIV yang berlokasi di Rumah Sakit Umum TNI AD Tk.IV Guntur Garut. Data dikumpulkan menggunakan instrumen HIV Self-Management Scale dan instrumen kualitas hidup dengan menggunakan WHOQOL-HIV BREF. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan distribusi frekuensi. Penelitian ini menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 94 orang (84.7%). Sebagian besar dari responden berusia 20 – 44 tahun yaitu sebanyak (83.8%), pendidikan akhir di tingkat pendidikan sekolah menengah atas sebanyak 68 orang (61.3%). Berdasarkan tingkat self-management responden yang memiliki tingkat self-management buruk sebanyak 63 orang (56.8%). Sedangkan untuk kualitas hidup besar responden yang memiliki kualitas hidup kategori kurang baik sebanyak 62 orang (55.9%). Berdasarkan hal tersebut, maka perawat juga dapat berperan sebagai edukator dengan memberikan penyuluhan secara berkala terkait manajemen diri yang efektif yang nantinya akan membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak pelayanan kesehatan. Sehingga, ODHIV mendapatkan dukungan dan pengetahuan yang dapat mengubah kesadaran dan perilaku ODHIV menjadi lebih baik. Kata Kunci: HIV/AIDS, Kualitas Hidup, ODHIV, Self-Management
Peningkatan Pengetahuan dan Kemandirian Keluarga dalam Melakukan Perawatan Luka Harun, Hasniatisari; Purba, Chandra Isabella Hostanida; Fitri, Siti Ulfah Rifa'atul; Widayat, Ahmad
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i3.13551

Abstract

ABSTRAK Insidensi luka sering ditemukan setiap tahunnya di Indonesia baik luka bersih maupun kotor. Namun pada praktiknya, pengobatan luka di masyarakat masih belum diterapkan sesuai dengan prinsipnya. Maka solusi yang dapat diberikan adalah dengan melakukan pembelajaran mengenai perawatan luka sesuai jenis dan karakteristiknya untuk mencegah terjadinya komplikasi dan infeksi. Pendidikan kesehatan perawatan luka ini dilakukan dengan teknik pembelajaran ceramah dan demonstrasi. Tujuan dilakukannya pendidikan kesehatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kemandirian keluarga dalam merawat luka pada pasien dengan luka. Sasaran pada pendidikan kesehatan ini adalah keluarga pasien di ruang rawat inap salah satu Rumah Sakit di Sumedang. Media yang digunakan pada penyampaian pendidikan kesehatan ini adalah leaflet, power point, dan tayangan video. Berdasarkan hasil analisis seluruh peserta 100% memiliki pengetahuan yang baik karena dapat menjawab dengan benar pada akhir post-test sehingga dapat disimpulkan terjadi peningkatan pengetahuan keluarga pasien mengenai luka dan cara perawatannya. Oleh karena itu pendidikan kesehatan terkait perawatan luka diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kemandirian keluarga dalam melakukan perawatan luka setelah di rawat di Rumah Sakit. Kata Kunci: Pengetahuan, Perawatan Luka, Keluarga, Kemandirian  ABSTRACT The incidence of wounds is often found every year in Indonesia, both clean and dirty wounds. However, in practice, wound treatment in society is still not implemented according to its principles. So the solution that can be given is to learn about wound care according to its type and characteristics to prevent complications and infections. Wound care health education is carried out using lecture and demonstration learning techniques. The aim of this health education is to increase family knowledge and independence in caring for wounds in patients with wounds. The target of this health education is the patient's family in the inpatient room of one of the hospitals in Sumedang. The media used to deliver this health education are leaflets, power points and video shows. Based on the analysis results, all participants had 100% good knowledge because they were able to answer correctly at the end of the post-test so it can be concluded that there was an increase in the patient's family's knowledge regarding wounds and how to treat them. Therefore, it is hoped that health education related to wound care can be carried out on an ongoing basis to increase family independence in carrying out wound care after being treated in hospital. Keywords: Knowledge, Wound Care, Family.
Intervensi Pencegahan Merokok dan Konsumsi Alkohol pada Remaja melalui Pendidikan Kesehatan sebagai Upaya Pencegahan Stunting Nursiswati, Nursiswati; Nurrofiqoh, Malihatunnisa; Pratiwi, Sri Hartati; Kurniawan, Titis; Purba, Chandra Isabella Hostanida
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 2 (2024): Volume 7 No 2 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i2.13084

Abstract

ABSTRAK Tahap perkembangan remaja sangat rentan akan perilaku berisiko. Kontrol emosi dan stres yang labil mengakibatkan remaja memilih mekanisme koping yang salah. Dampaknya, remaja dapat berisiko mengalami stunting. Perlu adanya penyuluhan terkait bahaya dan cara pencegahan konsumsi rokok dan alkohol guna mencegah terjadinya stunting. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini untuk melihat gambaran pengetahuan (kognitif) dari siswa kelas 7 salah satu SMP swasta di Kabupaten Bandung mengenai pencegahan penggunaan rokok dan alkohol. Pendidikan kesehatan dilaksanakan secara interaktif bertemakan menghindari rokok dan alkohol agar terhindar dari masalah kesehatan fisik dan mental guna mencegah terjadinya stunting. Pendidikan kesehatan diikuti oleh 72 siswa kelas 7 Sekolah Menengah Pertama. Evaluasi dari hasil pendidikan kesehatan dilakukan dengan memberikan soal Pre-test dan Post-test masing-masing sebanyak 5 soal. Sebanyak 55,55% remaja yang mengikuti pendidikan kesehatan dapat menjawab dengan benar ≥3 soal dari 5 soal yang tersedia dan sebanyak 33,33% mengalami peningkatan skor dari pre-test ke post-test. Pemahaman tentang bahaya merokok dan alkohol dapat diberikan sejak masa SMP dan dilakukan pemantauan berkelanjutan oleh guru di sekolah. Sekolah dapat memberikan kebijakan dan pelayanan UKS yang memadai bagi siswa. Pendidikan kesehatan berpengaruh positif dan secara signifikan meningkatkan pengetahuan remaja mengenai bahaya serta cara menghindari rokok dan alkohol. Kegiatan lanjutan berupa focus group discussion dan permainan dibutuhkan sebagai kegiatan lanjutan penguatan kognitif, afektif, dan psikomotor pencegahan merokok dan konsumsi alkohol pada siswa SMP. Kata Kunci: Alkohol, Merokok, Pendidikan Kesehatan, Remaja, Stunting  ABSTRACT The developmental stage of adolescents is very vulnerable to risky behavior and bad coping mechanisms. As a result, teenagers may be at risk of experiencing stunting. There is a need for education regarding the dangers and ways to prevent cigarette and alcohol consumption to prevent stunting. This research aims to describe the knowledge (cognitive) of grade 7 students at one of the private junior high schools in Bandung Regency regarding preventing the use of cigarettes and alcohol. Health education was carried out interactively with the theme of avoiding smoking and alcohol to avoid physical and mental health problems to prevent stunting. Health education was attended by 72 grade 7 junior high school students. Evaluation of the results of health education was carried out by providing pre-tests and post-tests. As many as 55.55% of teenagers who took part in health education were able to answer ≥3 questions correctly out of the 5 questions available and as many as 33.33% experienced an increase in scores from pre-test to post-test. Understanding of the dangers of smoking and alcohol can be given since junior high school and ongoing monitoring by teachers at school. Schools can provide adequate UKS policies and services for students. Health education has a positive effect and significantly increases teenagers' knowledge about the disadvantages and how to avoid smoking and alcohol. Further activities in the form of focus group discussions and games are needed as further activities to strengthen cognitive, affective, and psychomotor skills to prevent smoking and alcohol consumption in junior high school students. Keywords: Adolescents, Alcohol, Health Education, Smoking