Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA (PENGALAMAN PRAKTIS PENDIDIKAN GURU PENGGERAK) Riswakhyuningsih, Tri; Susiati, Eva; Wulandari; Duryat; Khusnul Fatekhah, Helmi; Kumariyah
RISTEK : Jurnal Riset, Inovasi dan Teknologi Kabupaten Batang Vol 9 No 2 (2025): RISTEK :Jurnal Riset, Inovasi dan Teknologi Kabupaten Batang
Publisher : Bapelitbang Kabupaten Batang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55686/ristek.v9i2.203

Abstract

Modul "Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya" merupakan modul ke-9 dari 10 modul dalam Program Pendidikan Guru Penggerak. Penelitian ini bertujuan membagikan pengalaman pembelajaran dari modul tersebut dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data berasal dari modul, tugas mandiri, tugas kelompok, dan jurnal refleksi. Data dikumpulkan melalui telaah modul, eksplorasi Learning Management System, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik triangulasi. Pembelajaran mengikuti alur "MERDEKA" yang terdiri atas: Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi, dan Aksi Nyata. Pada tahap Mulai dari Diri, dilakukan refleksi terhadap faktor-faktor yang memengaruhi ekosistem sekolah dan peran pemimpin. Eksplorasi Konsep mencakup pendekatan berbasis aset dan kekurangan, pemetaan sumber daya dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), serta strategi pengelolaan sumber daya. Di Ruang Kolaborasi, peserta mengidentifikasi dan mempresentasikan pemanfaatan sumber daya secara efektif. Demonstrasi Kontekstual melibatkan analisis visi dan inisiatif perubahan serta refleksi peran pemimpin. Elaborasi Pemahaman dilakukan melalui diskusi dan tanya jawab. Koneksi Antar Materi menghasilkan kesimpulan, dan Aksi Nyata berupa praktik langsung identifikasi sumber daya di sekolah. Berdasarkan pengalaman pembelajaran ini, direkomendasikan agar: (1) implementasi pendekatan ABCD diperluas ke seluruh program guru penggerak untuk optimalisasi pemanfaatan sumber daya sekolah, dan (2) alur pembelajaran "MERDEKA" dapat diadaptasi dalam pengembangan modul-modul lainnya karena terbukti efektif dalam membangun pemahaman holistik
PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID (PENGALAMAN PRAKTIS PENDIDIKAN GURU PENGGERAK) Riswakhyuningsih, Tri; Susiati, Eva; i, Wulandari; Duryat; Khusnul Fatekhah, Helmi; Kumariyah
RISTEK : Jurnal Riset, Inovasi dan Teknologi Kabupaten Batang Vol 9 No 2 (2025): RISTEK :Jurnal Riset, Inovasi dan Teknologi Kabupaten Batang
Publisher : Bapelitbang Kabupaten Batang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55686/ristek.v9i2.205

Abstract

Program management that has a positive impact on students is the 10th module of 10 modules studied in the education of teacher movers. The purpose of the study is to share learning experiences of program management that has a positive impact on students. The study was conducted using a qualitative descriptive method. Data sources include program management modules that have a positive impact on students, independent assignments, group assignments, and reflection journals. Data were collected by reviewing modules, exploring the Learning Management System, and documentation. Data analysis was carried out using triangulation techniques. Learning activities use the flow: starting from oneself, concept exploration, collaboration space, contextual meaning, elaboration of understanding, connections between materials, and real action. Starting from oneself, reflecting on their past learning experiences. Concept exploration, through reading, discussion, and reflection activities, and constructing understanding. Collaboration space, creating and presenting examples of programs that promote student leadership. Contextual demonstration, creating a program plan that utilizes the BAGJA change management model. Elaboration of understanding, discussion and Q&A with instructors related to learning programs that foster student leadership. Connections between materials, creating a synthesis of understanding about school programs that have an impact on students. Real action, implementing stages B&A based on the BAGJA change initiative model. Keywords: Leading Teachers, Positive Impact, Students, Program Management
Ethnobotanical Study on the Use of Mangroves as a Food Source in Pesawaran Regency, Lampung Province Melviani; Duryat; Melya Riniarti
Journal of Sylva Indonesiana Vol. 8 No. 2 (2025): Journal of Sylva Indonesiana
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jsi.v8i2.16758

Abstract

The current global food crisis requires heightened attention from various countries, including Indonesia. In addressing this issue, mangrove plants present significant potential to be developed as alternative sources of functional food. This study aimed to document ethnobotanical practices related to the use of mangrove plants as food sources in Pesawaran Regency, Lampung Province. The research was conducted from March to June 2024 in Sidodadi and Gebang Villages, Teluk Pandan District, Pesawaran Regency. A snowball sampling technique was employed to collect comprehensive data regarding the use of mangrove plants as food ingredients. The information gathered included the plant species utilized, specific plant parts used, processing methods, food products derived, and their perceived benefits. Data were obtained through interviews, observations, and documentation, and were analyzed using a descriptive-analytical approach to elucidate usage patterns and processing methods of mangroves as functional food sources. The findings revealed that coastal communities in Pesawaran Regency utilize two types of mangrove plants for food: Legundi (Vitex trifolia) and Bakau (Rhizophora mucronata). These species are processed into various food products, including kitchen spices, flour, syrup, and coffe, which serve not only as nutritional items but are also believed to possess medicinal and health-promoting properties
Harnessing the Blue Economy: Ethnobotanical Insights into Mangrove-Derived Functional Foods for Climate-Resilient Futures Simanjuntak, Syari Mela; Duryat; Riniarti, Melya
Forest and Nature Vol. 1 No. 1 (2025): January
Publisher : Green Insight Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63357/fornature.v1i1.6

Abstract

Climate change threatens food security at the local, regional, and global levels. Optimizing the potential of the blue ecosystem, especially mangrove forest products, can contribute to overcoming the food crisis. This study aims to document the ethnobotanical practices related to the utilization of mangroves as a food source in the South Lampung Regency.  This study employed the snowball sampling method, utilizing open-ended interviews with respondents. The collected data, including species types, utilized plant parts, processed products, and associated properties, were analyzed using descriptive-analytical methods to identify patterns, relationships, and factors influencing the practice of mangrove-based food utilization. The results reveal that the people of South Lampung Regency utilize four mangrove species as ethnobotanical food sources. These include the fruit (excluding the root) of Rhizophora mucronata, which is processed into coffee; the young leaves of Avicennia marina, consumed as fresh vegetables; its sap, which is processed into health beverages; and its fruit, which is used to produce flour for cake-making. Additionally, Acanthus ilicifolius is processed into tea and rempeyek, a traditional cracker made from leaf fragments. Beyond their nutritional value, mangroves possess bioactive properties, including antifertility, antioxidant, analgesic, anticholesterol, antihypertensive, antitussive, and anti-inflammatory effects, highlighting their potential for development into functional foods. Such diversification could address various social and economic challenges in South Lampung Regency. However, limitations in human resource capacity hinder the optimization of mangrove utilization, resulting in a lack of diversity and innovation in the selection of species, utilized plant parts, processed products, and processing techniques.
PENGENALAN TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT PADA SUKU BATIN SEMBILAN KABUPATEN BATANGHARI PROVINSI JAMBI Rodiani; Duryat
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 9 No. 1 (2024): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v9i1.3317

Abstract

Indonesia merupakan negara mega biodiversity dengan keanekaragaman hayati lebih dari 30.000 jenis tumbuhan dengan 12.000 diantaranya memiliki khasiat obat. Namun demikian, sampai saat ini pemanfaatan tanaman sebagai obat herbal oleh Masyarakat Batin Sembilan (MBS) masih sangat rendah. Hal ini disebabkan karena pengetahuan, pola fikir dan keterampilan masyarakat terkait jenis tanaman, khasiat serta cara penyiapannya sebagai obat masih rendah. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan MBS terkait tanaman obat yang ada di sekitar mereka; mendorong masyarakat pedalaman untuk memanfaatkan sumber daya alam lokal secara berkelanjutan untuk keperluan kesehatan; meningkatkan pemahaman MBS terkait pentingnya menjaga kesehatan dan penggunaan tanaman obat sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut; pemberdayakan MBS agar lebih mandiri dalam mengatasi masalah kesehatan. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan metode ceramah dan diskusi serta demonstrasi praktek. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan ini telah meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait jenis tanaman di sekitar lingkungan hidup, khasiat tanaman sebagai obat, dan jenis tanaman, bagian tanaman dan cara pengolahannya sebagai obat. Kegiatan ini juga merubah pola fikir dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan tanaman di sekitar lingkungan hidup, serta kemauan dan keinginan untuk menjaga tanaman di sekitar lingkungan hidup. Hal yang tidak kalah penting adalah peningkatan keterampilan masyarakat dalam mengolah dan mempersiapkan tanaman sebagai obat herbal secara benar untuk mendapatkan khasiat manfaat optimal dari tanaman obat. Kata kunci: Suku anak dalam, obat herbal, masyarakat Batin Sembilan, keanekaragaman hayati, hutan harapan.
Peningkatan Kualitas Dan Produk Tanaman Agroforestry Berbasis Masyarakat Winarno, Gunardi Djoko; Harianto, Sugeng Prayitno; Yuwono, Slamet Budi; Safe'i, Rahmat; Darmawan, Arief; Bakri, Samsul; Wulandari, Christine; Dewi, Bainah Sari; Kaskoyo, Hari; Febryano, Indra Gumay; Asmarahman, Ceng; Hilmanto, Rudi; Duryat; Hidayat, Wahyu; Salsabila, Sahda
Repong Damar: Jurnal Pengabdian Kehutanan dan Lingkungan Vol. 4 No. 2 (2025): November
Publisher : Magister of Forestry, Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/rdj.v4i2.11975

Abstract

Peningkatan kualitas dan produk tanaman agroforestry sangat penting dilakukan untuk meningkatkan harga jual dan pemanfaatan ruang yang lebih efisien. Umumnya produk agroforestry tidak disematkan nama produknya sehingga pembeli tidak mendapat kepuasan dan harapan. Kondisi ini terjadi seperti halnya buah MPTS yang tidak ada namanya dari suatu varitas MPTS, sehingga harga jualnya sangat rendah. Para petani perlu dibina dalam pemberian nama suatu produk sehingga konsumen akan percaya dan yakin kualitas dari buah MPTS. Disisi lain pemanfaatan lahan masih kurang efisien terutama pada lahan permukaan tanah. Beberapa lahan garapan tumbuh gulma yang dapat menyebabkan menurunnya produksi kebun. Pengabdian ini dilaksanakan di area kelola Sistem Hutan Kemasyarakatan (SHK) Lestari terhadap kepala keluarga yang menggarap lahan di dalam kawasan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman (Tahura WAR). Petani setuju bahwa kualitas bibit dan pemberian nama atau merk sebagai jaminan kualias produk adalah penting untuk peningkatan nilai penjualan produk agroforestry. Secara teknis mereka setuju jika pembatasan jumlah pohon dan pemupukan itu penting dilakukan untuk meningkatkan produksi agroforestry. Mereka menganggap bahwa tidak semua satwa liar mengganggu tanaman. Adapun organisasi dan keamanan adalah penting dilakukan untuk memberikan jaminan keberhasilan panen dan ketenangan dalam bekerja di lahan garapan mereka hingga masa depan. Kata kunci : Kualitas, produk, tanaman agroforestry
Mangrove Cover and Shoreline Changes Detection using Multi-Temporal Landsat Imagery and Digital Shoreline Analysis System (DSAS) in Labuhanbatu Regency, Indonesia Samsuri; Zaitunah, Anita; Amaliah, Nailatul; Sulistioadi, Yohanes Budi; Duryat
Jurnal Sylva Lestari Vol. 14 No. 1 (2026): January
Publisher : Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jsl.v14i1.1259

Abstract

Understanding the dynamics of the relationship between shoreline change and mangrove forest cover change is important for a foundation in mangrove and coastal forest management. The study aimed to analyze multitemporal changes in mangrove cover and shoreline in coastal areas and to investigate the correlation between these changes from 2011 to 2024. The research used remote sensing data to derive mangrove cover changes and detect shoreline changes from Landsat images acquired in 2011, 2015, 2019, and 2024. Land cover changes were examined using the operational land imager sensor, bands 3 and 6 of Landsat 8 images and bands 2 and 5 of Landsat 5 images, and shoreline changes were measured using the digital shoreline analyses system (DSAS). The result showed a reduction of 580.07 ha (26.48%) in mangrove cover area over eight years (2011-2019), followed by an increase of about 1,931.59 ha (54.54%) in 2024. Low abrasion (0.01-108.41 m) and low accretion (0-106.78 m) per four-year interval dominate in shoreline change. However, the Pearson correlation showed a moderate but non-significant association between changes in mangrove cover and shoreline changes (r = 0.307, p = 0.266). These results demonstrate that the correlation between mangrove cover change and shoreline change is non-linear, suggesting that shoreline change is affected not only by mangrove change but also by various other factors, including sedimentation events. It indicates that additional factors, including geomorphological dynamics, significantly influence mangrove forest dynamics. Keywords: abrasion, change detection, land cover, mangrove, shoreline