Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Effect of Sappanwood Extract (Biancaea sappan (L.) Tod.) on the Elimination Phase of the Pharmacokinetic Profile of Glibenclamide in Wistar Rats (Rattus norvegicus) Vidiani, Anak Agung Pradnya Paramitha; Tapun, Margareta Chintami; Sa’adah, Anifatus; Adrianto, Madyo
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 7 No. 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v7i2.7607

Abstract

Type 2 diabetes mellitus is characterized by chronic hyperglycemia, and glibenclamide remains a commonly used oral antidiabetic. Concomitant consumption of sappanwood extract (Biancaea sappan (L.) Tod.) is widespread in Indonesia, raising concerns about herb–drug interactions. This study investigated whether sappanwood modifies the elimination of glibenclamide in Wistar rats. Rats were randomized into three groups: Group I received glibenclamide 10 mg/kg BW; Group II received sappanwood extract 400 mg/kg BW; Group III received the combination. Blood was collected from the retro‐orbital plexus at 20, 22, and 24 h and analyzed by UV–Vis spectrophotometry. Pharmacokinetic parameters were derived by linear regression and residual analysis. In Group I, the terminal log‐linear profile yielded an elimination rate constant (Ke) of 0.1218 h−1 and an elimination half‐life (t1⁄2) of 5.79 h. In Group III, co‐administration with sappanwood produced Ke = 0.0066 h−1 and t1⁄2 = 105 h, indicating a pronounced slowing of glibenclamide elimination relative to control. Group II did not receive glibenclamide and was excluded from pharmacokinetic calculations. Sappanwood extract markedly altered glibenclamide disposition, consistent with a pharmacokinetic herb–drug interaction. The findings suggest that bioactive flavonoids (e.g., Brazilin and quercetin derivatives) may inhibit metabolic pathways relevant to glibenclamide clearance, leading to prolonged exposure.
Edukasi tentang Pencegahan dan Penatalaksanaan Pioderma Anisa Devi Kharisma Wibowo; Anak Agung Pradnya Paramitha Vidiani; Valentina Girsang
Gudang Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): GJPM - Januari
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjpm.v4i1.1976

Abstract

Pioderma merupakan penyakit kulit akibat infeksi bakteri yang masih sering dijumpai di masyarakat, terutama pada lingkungan dengan kepadatan penduduk dan kebersihan yang kurang optimal. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan dan penatalaksanaan awal pioderma dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi kulit. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan penatalaksanaan pioderma melalui edukasi kesehatan kulit. Sebanyak 15 responden mengikuti kegiatan ini, diukur melalui pretest dan posttest untuk peningkatan pengetahuan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat setelah diberikan edukasi kesehatan kulit sebesar 36%. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi upaya promotif dan preventif dalam mencegah terjadinya infeksi kulit di masyarakat.
STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ULKUS DIABETIKUM DI INSTALASI RAWAT INAP RS X SEMARANG DENGAN PENDEKATAN ATC/DDD DAN DU 90% Anisa Devi Kharisma Wibowo; Yesi Crystiana Putri; Danik Sulistyoningsih; Fransisca Gloria; Anak Agung Pradnya Paramitha Vidiani; Anisa Nova Puspitaningrum; Muhammad Reza Mahendra
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 8 No 2 (2025): Jurnal Insan Farmasi Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/rpvhbb80

Abstract

Ulkus diabetik merupakan infeksi berat dari komplikasi diabetes melitus yang memiliki risiko amputasi. Dalam penanganannya, antibiotik memegang peranan penting. Namun, apabila penggunaannya tidak sesuai indikasi atau dosis, hal ini dapat memicu peningkatan resistensi bakteri. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai pola pemakaian antibiotik pada pasien ulkus diabetik yang dirawat di Instalasi Rawat Inap RS X Semarang. Evaluasi dilakukan menggunakan pendekatan ATC/DDD serta DU 90%. Desain penelitian yang dipakai adalah studi observasional deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif. Data diambil dari pasien rawat inap selama periode Januari sampai Desember 2024 yang memenuhi kriteria inklusi maupun eksklusi. Hasil menunjukkan ceftriaxone merupakan antibiotik dengan tingkat penggunaan tertinggi, yakni 9,81 DDD per 100 hari rawat inap. Sementara itu, berdasarkan analisis DU 90%, antibiotik yang paling dominan digunakan berada dalam kelompok ceftriaxone, metronidazole, levofloxacin, ampicillin-sulbactam, dan meropenem.