Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

KAJIAN PRODUKSI UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DENGAN PADAT TEBAR BERBEDA PADA TAMBAK PLASTIK DI TEACHING FACTORY BUDIDAYA POLITEKNIK KELAUTAN DAN PERIKANAN KUPANG Hariyadi, Dimas Rizky
Jurnal Bahari Papadak Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak -Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan padat tebar terhadap produksi udang vaname (Litopenaeus vannamei) di tambak plastik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksploratif dengan memfokuskan pada studi kasus. Kepadatan tebar berbeda yang digunakan pada penelitian ini adalah 96 dan 114 ekor/m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar 96 ekor/m2 memberikan produksi terbaik. Average Body Weight (ABW) dan Average Daily Growth (ADG) terbaik diperoleh padat tebar 96 ekor/m2 dengan nilai masing masing 8,9 gram/ekor dan 0,28 gram/hari. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada padat tebar 96 ekor/m2 sekitar 93,3 %. Nilai konversi pakan terkecil diperoleh padat tebar 96 ekor/m2 sebesar 1,55. Parameter kualitas air untuk penelitian masih berada pada kisaran optimum seperti suhu 28 – 32 °C, oksigen terlarut 4,0 – 6,7 ppm, pH 7,4 - 8,7, salinitas 25 – 35 ppt serta kecerahan 35 – 55 cm. Kata Kunci: Padat Tebar, Produksi, Tambak Plastik, Udang Vaname. Abstract -This research aims to determine the effect of different stock density for the production of vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) in plastic ponds. The method used in this research is explorative by focusing on case studies. Different stock density in this research were 96 and 114 shrimps/m2. Result showed that stock density 96 shrimps/m2 gives the best production. The best Average Body Weight (ABW) and Average Daily Growth (ADG) were obtained with a stocking density of 96 fish/m2 with values ​​of 8.9 gram/head and 0.28 gram/day respectively. The highest Survival Rate (SR) was obtained in stocking solids of 96 shrimp /m2 around 93,3 %. The smallest Feed Convertion Ratio (FCR) occurs in stocking stock 96 shrimps/m2 of 1.55. Water quality parameters for research is still in the range of optimum such as temperature about 28 to 32 °C, Dissolved Oxygen (DO) 4,0 to 6,7 ppm, pH 7,4 to 8,7, salinity 25 to 359 ppt and brightness from 35 to 55 cm. Keywords: Density, Plastic Ponds, Production, Vaname Shrimp.
Aplikasi Bioball Dalam Menurunkan Kadar Nitrit Pada Limbah Tambak Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Tangguda, Sartika; Serihollo, Lukas Giovani Gonzales; Usman, Zainal; Amalo, Pieter; Sinaga, Riris Yuli Valentine; Pratiwi, Rifqah; Kusuma, Ni Putu Dian; Hariyadi, Dimas Rizky; Timuneno, Melkias
JURNAL MEGAPTERA Vol 4, No 1 (2025): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v4i1.15731

Abstract

Limbah pada budidaya Udang vaname (L. vannamei) mengandung sejumlah senyawa yang bersifat toksik, salah satunya adalah Nitrit (NO2 - ) yang bersifat tidak stabil dalam air. Penyaringan limbah sangat diperlukan sebelum dibuang ke perairan umum untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan, salah satu cara yang dilakukan yaitu aplikasi bioball sebagai media tumbuh mikroorganisme atau bakteri yang berperan sebagai bioremediasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis jumlah bioball yang efektif untuk menurunkan kadar nitrit pada limbah budidaya udang vaname serta mengetahui parameter kualitas air yang berperan dalam penguraian limbah tambak udang tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif untuk melihat pengaruh bioball dalam menurunkan kadar nitrit pada limbah tambak udang vaname. Penelitian ini diawali dengan menyalurkan air limbah hasil buangan kegiatan budidaya udang vaname ke dalam tandon penampungan. Kemudian pada masing-masing tandon penampungan dimasukkan filter biologis sesuai dengan rancangan, yaitu P1 (bioball sebanyak 2.000 buah), P2 (bioball sebanyak 3.000 buah), dan P3 (bioball sebanyak 4.000 buah). Parameter utama yang diamati adalah kadar nitrit, sedangkan parameter penunjang yang diamati terdiri dari kadar nitrat, fosfat, suhu, pH, salinitas, dan intensitas cahaya. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan P2 (penggunaan bioball sebanyak 3.000 buah) menghasilkan kadar nitrit yang lebih rendah dibandingkan perlakuan P1 dan P3, yaitu 0.020 mg/L. Parameter kualitas air yang berpengaruh terhadap penguraian limbah tambak udang vaname dengan menggunakan bioball adalah suhu, pH, salinitas, intensitas cahaya, nitrat, dan fosfat. Pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan penambahan naungan atau shelter pada tandon penampungan limbah sehingga suhu dan intensitas cahaya tidak terlalu tinggi dan dapat memaksimalkan kinerja filter biologis.Waste from Vaname Shrimp (L. vannamei) cultivation contains a number of toxic compounds, one of which is Nitrite (NO2 - ) which is unstable in water. Waste filtration is essential before being discharged into public waters to prevent environmental pollution, one way is to apply bioballs as a growing medium for microorganisms or bacteria that act as bioremediation. This study aims to analyze the number of bioballs that are effective in reducing nitrite levels in vaname shrimp cultivation waste and to determine the water quality parameters that play a role in the decomposition of shrimp pond waste. The method used in this study is a descriptive method to see the effect of bioballs in reducing nitrite levels in vaname shrimp pond waste. This study began by channeling wastewater from vaname shrimp cultivation activities into a storage tank. Then, a biological filter was inserted into each storage tank according to the design, namely P1 (2,000 bioballs), P2 (3,000 bioballs), and P3 (4,000 bioballs). The main parameters observed were nitrite levels, while the supporting parameters observed consisted of nitrate, phosphate, temperature, pH, salinity, and light intensity levels. The results showed that treatment P2 (using 3,000 bioballs) produced lower nitrite levels compared to treatments P1 and P3, which was 0.020 mg/L. Water quality parameters that affect the decomposition of vaname shrimp pond waste using bioballs are temperature, pH, salinity, light intensity, nitrate, and phosphate. In further research, it is necessary to add shade or shelter to the waste storage tank so that the temperature and light intensity are not too high and can maximize the performance of the biological filter.
GROWTH PERFORMANCE OF WHITELEG SHRIMP (Litopenaeus vannamei) AT DIFFERENT STOCKING DENSITIES IN A POLYCULTURE SYSTEM WITH SEA GRAPE (Caulerpa sp.) Valentine, Riris Yuli; Hariyadi, Dimas Rizky; Tangguda, Sartika
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.1.2025.49-62

Abstract

This study evaluated the growth performance, survival rate, and water quality improvement in a polyculture system integrating whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) and sea grapes (Caulerpa sp.) with different shrimp stocking densities. This study employed a completely randomized design with three treatments, each at three levels of shrimp densities (15, 30, and 45 individuals per tank with a capacity of 0.06 m³), integrated with sea grape (50 g) for 60 days. During maintenance, shrimp were fed commercial feed, and no water changes were performed. The results showed that the highest shrimp growth and survival were obtained at a density of 15 individuals per tank, with growth rates of 6.54% day-1 and survival rates of 98% for the shrimp, resulting in optimal growth in Caulerpa sp. In contrast, a higher stocking density (45 individuals per tank) was associated with lower observed growth and survival rate of whiteleg shrimp throughout the culture period. Water quality showed favourable conditions for both, with pH levels (6.5–9.4), dissolved oxygen concentrations (5.0–8.2 mg L-1), and temperatures (26–38°C) within the optimal range. The polyculture system facilitated nutrient recycling, where shrimp waste was utilized by Caulerpa sp., effectively reducing nitrate and phosphate concentrations and preventing eutrophication in all treatments with increased stocking density. The conclusion of this study highlighted the potential of the polyculture system to improve ecological balance and productivity in aquaculture. Lower shrimp stocking densities resulted in high growth and survival, while integrating Caulerpa sp. contributed to environmental sustainability. Penelitian ini mengevaluasi performa pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, dan perbaikan kualitas air dalam sistem polikultur yang mengintegrasikan udang vaname (Litopenaeus vannamei) dan anggur laut (Caulerpa sp.) dengan kepadatan tebar udang yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan, yaitu tiga tingkat kepadatan udang (15, 30, dan 45 ekor per wadah berkapasitas 0,06 m³), masing-masing diintegrasikan dengan anggur laut (50 g) selama 60 hari. Selama pemeliharaan, udang diberi pakan komersial dan tidak dilakukan pergantian air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang tertinggi diperoleh pada kepadatan 15 ekor per wadah, masing-masing sebesar 6,54% per hari dan 98%, serta menghasilkan pertumbuhan Caulerpa sp. yang optimal. Sebaliknya, kepadatan tebar yang lebih tinggi (45 ekor per wadah) menghasilkan pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang vaname yang lebih rendah selama masa pemeliharaan. Kualitas air menunjukkan kondisi yang mendukung untuk keduanya, dengan pH (6,5–9,4), oksigen terlarut (5,0–8,2 mg L-1), dan suhu (26–38°C) berada dalam kisaran optimal. Sistem polikultur ini memfasilitasi daur ulang nutrien, di mana limbah udang dimanfaatkan oleh Caulerpa sp., secara efektif mengurangi konsentrasi nitrat dan fosfat serta mencegah eutrofikasi pada semua perlakuan, bahkan dengan peningkatan kepadatan tebar. Kesimpulan dari penelitian ini menyoroti potensi sistem polikultur dalam meningkatkan keseimbangan ekologis dan produktivitas di bidang akuakultur. Kepadatan tebar udang yang rendah menghasilkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang tinggi, sementara integrasi dengan Caulerpa sp. berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan.
Studi Pemeliharaan Larva Udang Vanname (Litopenaeus vannamei) Serihollo, Lukas Giovani Gonzales; Hariyadi, Dimas Rizky; Fanggidae, Yrna Queen
JURNAL MEGAPTERA Vol 1, No 1 (2022): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v1i1.11555

Abstract

Udang vanname merupakan jenis udang yang pembudidayaannya hampir tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia. Dalam pengembangan produksi udang vanname, diperlukan lahan yang luas dan benih dalam jumlah yang banyak serta berkualitas. Kebutuhan akan benih dalam jumlah yang banyak serta berkualitas menjadi hal penting dalam meningkatkan produksi udang vanname. Benih berkualitas dihasilkan dari proses pemeliharaan larva yang dimonitoring melalui persyaratan yang ketat. Pemenuhan atas kebutuhan benih yang berkualitas tidak terlepas dari keberhasilan pemeliharaan stadia larva dari udang vanname. Permasalahan yang sering dihadapi adalah proses pemeliharaan pada stadia selanjutnya yakni zoea hingga post larva karena pada stadia ini, larva membutuhkan suplai makanan dari luar. Berdasarkan permasalahan dan tingkat kesulitan pada stadia awal pemeliharaan larva udang vanname tersebut, diperlukan kajiankajian atau informasi mengenai teknik pemeliharaan larva stadia awal (nauplius) hingga stadia post larva yang ditinjau dari tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan dan manajemen kualitas air pada unit-unit usaha pembenihan. Tujuan kegiatan ini adalah mengetahui pertambahan panjang mutlak larva, tingkat kelangsungan hidup larva (SR), perkembangan stadia larva dan pengamatan kualitas air. Hasil pengamatan yang diperoleh, nilai panjang mutlak dari larva yang dipelihara adalah 3,5 mm dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 75,6%. Hasil pengamatan selama pemeliharaan yang dilakukan untuk perkembangan larva pada setiap stadia menunjukan larva udang vanname mengalami perubahan pada setiap stadia pengamatan. Hasil pengukuran kualitas air antara lain suhu berkisar 29-31 C, Salinitas berkisar 29-33 ppt, pH berkisar 8,1-8,4, DO 5,21-5,85 mg/l dan Amoniak berkisar 0,0-0,3 mg/l. Parameter kualitas air untuk suhu, salinitas, pH dan DO masih tergolong optimal selama pemeliharaan sedangkan untuk Amoniak, hanya pada minggu ketiga yang nilainya mengalami peningkatan.Litopenaeus vanname is variety of shrimp that has been cultured around Indonesia. Wide areal, massive and high quality larvae were compliments in order to increase the output from growing this species. The need for quality larvae in large quatities is an important thing in order to recrease the production of vanname shrimp. A quality larvae comes from strict larval rearing process. Fulfillment of quality larval cannot be separated from the sucess of maintaning larval stages. Problem that is often faced is the maintaned process at the next stage, namely zoea to post larvae because the stage, larvae need nutrition from external sources. Based on the problem and level of difficulty in early stage of maintaning vanname shrimp larval. There are come studies or information about aquaculture technique of early stage (nauplius) until post larvae stage include survival rate, total lenght of larvae, water quality that need to be gathered. The aim of this activity is to know total length of larvae, survival rate (SR), stadia growth of larvae and water quality. As the result of observation, total length of growing larvae is 3,5mm with 75.6% survival rate. The result of observation during rearing process for larval development at each stage showed that vanname shrimp larvae changed at each observation stages. The result of water quality measurments inclued temperatures ranging from 29-31 C, salinity rangging from 29-33 ppt, pH rangging from 8,1-8,4, DO rangging from 5,21-5,85 mg/l and amonia rangging from 0,0-0,3 mg/l. Water quality parameters for temperature, salinity, pH and DO were still considered optimal during maintenance, while amonia only increased in the third week.
PELATIHAN BUDIDAYA ANGGUR LAUT (Caulerpa sp.) BAGI MASYARAKAT DESA BOLOK, KECAMATAN KUPANG BARAT, NTT Sartika Tangguda; Dimas Rizky Hariyadi; I Nyoman Sudiarsa; Valentine, Riris Yuli
Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia Vol 1 No 2 (2021): Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppi.v1i2.116

Abstract

ABSTRAK Anggur laut (Caulerpa sp.) merupakan salah satu jenis rumput laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi yaitu dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, pangan fungsional, dan obat.Sebagian kecil masyarakat wilayah Nusa Tenggara Timur telah mengenal anggur laut, namun pemanfaatannya masih sangat terbatas sebagai bahan makanan segar saja atau disebut dengan lawar. Anggur laut tersebut diperoleh dari alam sehingga ketersediaannya sangat tergantung dari alam dan kondisi musim. Budidaya merupakan cara yang dapat dilakukan untuk memastikan ketersediaan dan jumlah anggur laut sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan sosialisasi tentang budidaya serta potensi anggur laut, dan memberikan pelatihan tentang budidaya anggur laut bagi masyarakat Desa Bolok.Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bermitra dengan Kelompok Tani Rumput Laut “UT LATU” yang beralamat di Dusun III, Desa Bolok, Kupang Barat, NTT.Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan dua tahap. Tahap pertama adalah sosialisasi tentang budidaya anggur laut, manfaat anggur laut, produk olahan anggur laut dan tahap kedua adalah pelatihandengan tahapan persiapan alat dan bahan, penimbangan bibit anggur laut, penanaman dalam media tanam berupa PE, penambahan pupuk Guano, pemasukan media tanam ke dalam kontainer box, monitoring pertumbuhan, panen, dan pengawetan sederhana anggur laut.Pada saat panen diperoleh bobot anggur laut berkisar antara 680 – 1210 g dari bobot awal 400 g selama pemeliharaan 30 hari, pertumbuhan relatif diperoleh nilai 70 – 203%. Setelah kegiatan ini dilaksanakan, masyarakat mulai menyadari akanmanfaat anggur laut, dan dapat ditumbuhkan pada kontainer box yang diletakkan di pekarangan rumah sehingga dapat menjadi alternatif kegiatan budidaya oleh masyarakat.
Sosialisasi Budidaya Perikanan Dalam Ember Sebagai Solusi Alternatif Pendapatan Masyarakat Di Desa Bolok, Kupang NTT Yuli Valentine, Riris; Dian K, Ni Putu; Tangguda, Sartika; Hariyadi, Dimas Rizky
Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia Vol 2 No 2 (2022): Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppi.v2i2.1335

Abstract

Aquaculture is a food production sector that is developing quite rapidly in the world with a projection that production will double in the next 15-20 years. However, to run a cultivation system, you must have a large area of ​​land and large capital. The Covid-19 pandemic has had an impact on all aspects of people's lives. One of the aspects most affected by the pandemic is the economy, namely the occurrence of mass layoffs. Therefore, it is necessary to make alternative efforts that can help increase people's income during a pandemic, with a low risk of failure, and easy to implement as a side business during a pandemic. Budikdamber or also known as fish farming in buckets, can be an alternative business that can be done to maintain food security and increase income during a pandemic. Budikdamber is a form of fish farming that is inexpensive and easy to implement. The Budikdamber extension activity is one way to educate the community around Bolok Village, West Kupang, NTT. This PkM program was carried out with the output of the Budikdamber extension activity on November 9, 2020, attended by 56 participants from Bolok Village, West Kupang District, Kab. Kupang. The output of this program is that the people of Bolok Village are more educated about the easy and inexpensive practice of catfish farming in order to maintain independent food security in the midst of the Covid-19 pandemic and at the same time become an alternative solution for people's income, because they do not use large land and can take advantage of the yard. .