Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Perikanan

PEMANFAATAN SILASE DAUN KELOR (Moringa oleifera) DALAM FORMULASI PAKAN TERHADAP EFISIENSI NUTRIEN DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Muhammad Akbarurrasyid; Vini Taru Febriani Prajayati; Achmad Sofian; Dinno Sudinno; Ega Aditya Prama; Wahyu Puji Astiyani; Indra Kristiana
Jurnal Perikanan Unram Vol 13 No 2 (2023): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v13i2.539

Abstract

Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan bahan baku lokal yang memiliki kandungan protein nabati sebesar 21,49% sehingga dapat dijadikan alternatif dalam penyusunan formulasi pakan buatan. Potensi penggunaan daun kelor sebagai bahan baku dalam formulasi pakan dapat dilakukan dalam bentuk silase. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan dan persentase silase daun kelor dalam formulasi pakan terhadap efisiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian dilakasana dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Penelitian dilakukan dengan mengindetifiksi potensi silase daun kelor, persiapan pakan perlakuan dan uji biologi terkait efesiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila. Hasil penelitian menunjukan pemanfaatan silase daun kelor memiliki potensi yang sama seperti pakan komersial terhadap efisiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila. Nilai efisiensi nutrient tidak menunjukan perbedaan signifikan antara pakan formulasi silase dan tanpa silase daun terhadap rasio konversi pakan dan retensi energi (P>0.05), sebaliknya mengalami perbedaan signifikan terhadap rasio efisiensi protein (P<0.05). Pertumbuhan ikan nila yang diperoleh tidak menunjukan perbedaan signifikan antara formulasi silase dan tanpa formulasi terhadap pertumbuhan bobot mutlak, Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) dan tingkat kelangsungan hidup (P>0.05), hal ini menujukan bahwa kualitas pakan formulasi silase sama dengan pakan tanpa formulasi tapi memiliki tingkat rasio efisiensi protein yang rendah.  
Perbandingan Kedalaman Berbeda Terhadap Pertumbuhan Rumput Laut (Euchema cottonii) Pada Metode Modifikasi Keramba Jaring Apung di Teluk Jepara Astiyani, Wahyu Puji; Oktavian, Ganis; Febriani P., Vini Taru; Kristiana, Indra; Akbarurrasyid, Muhammad; Prama, Ega Aditya
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 4 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i4.1650

Abstract

Seaweed farming is one of the most important aquaculture sectors in Indonesia, contributing significantly to the national economy. Among various species, Eucheuma cottonii is widely cultivated due to its high carrageenan content and industrial value. Optimizing environmental conditions, such as culturing depth, is crucial to improving growth performance and productivity. This study evaluated the effect of different culturing depths on the growth of E. cottonii using a modified floating net cage system in Jepara Bay. The experiment applied three depth treatments—25 cm (A), 45 cm (B), and 65 cm (C)—each with two replications. Seaweed growth was monitored over 49 days and assessed based on absolute weight and specific growth rate (SGR). Results showed that seaweed cultivated at 25 cm had the highest growth performance, with an absolute weight of 102.2 g and the highest SGR, whereas the lowest values were recorded at 65 cm. ANOVA analysis confirmed a significant effect of depth on growth (p < 0.05), supported by Duncan’s test indicating clear differences among treatments. Water quality parameters (temperature, salinity, pH, and dissolved oxygen) remained within optimal ranges, suggesting depth was the primary factor influencing growth. The findings highlight that shallower depths promote greater light penetration and photosynthetic efficiency, thus enhancing E. cottonii growth. A culturing depth of 25 cm is recommended for optimal productivity in similar cultivation systems.