Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Kusa Lawa

Citra Tubuh Perempuan sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Lukis Mix Media Rosella Deby Permatasari; Mayang Anggrian
Kusa Lawa Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.02.07

Abstract

Citra Tubuh merupakan persepsi seseorang yang dipengaruhi oleh mental terhadap pengamatan dan penilaian seseorang tentang dirinya sendiri terkait penampilan, kemampuan, dan kepribadian. Persepsi terhadap bentuk tubuh, berat tubuh, tinggi, jenis rambut, warna kulit, cara bicara, cara bergaul, serta cara bagaimana seseorang ingin menjadi tipe ideal masyarakat. Penciptaan ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep dan gagasan positif citra tubuh dalam bentuk digital art dan konvensional serta, menyuarakan bagaimana pentingnya citra tubuh positif bagi seseorang tepatnya perempuan. Penciptaan ini memiliki beberapa tahap, antara lain: 1) Tahap eksplorasi (pengumpulan data dari berbagai sumber) data inilah yang kemudian menjadi inspirasi dan isi pesan dalam karya digital art dan konvensional ini. Konsep digital ini dipilih untuk menyesuaikan dengan tema citra tubuh, 2) Tahap improvisasi (merancang gambaran) menentukan bentuk visualnya memiliki gaya desain sesuai konsep yang ada seperti objek perempuan, beberapa tambahan objek pendukung dan alat pengkaryaannya. 3) Tahap visualisasi (proses pengkaryaan) pemilihan warna yang colorful sesuai dengan gaya perempuan yang ceria, serta bisa menyampaikan isi pesen yang terkandung dengan baik oleh masyarakat. Hasil dari proses  pengkaryaan seni ini mewujudkan 7 buah karya lukisan dengan media kanvas dan  perpaduan mix media  konvensional. Menyuguhkan sebuah pameran seni lukis yang dikemas dengan rapih dan apik, serta menyajikan visual konsep standar kecantikan perempuan yang sesuai dengan tujuan penulis, yaitu menyuarakan argumen-argumen pentingnya citra tubuh bagi perempuan.
Peran Serta Posisi 'Hysteria' Colaboratorium And Creative Impact HUB. di Era Disrupsi: Dampak Teknologi pada Medan Sosial Seni Rupa di Kota Semarang Muhammad Sobih Almusoffa; Mayang Anggrian
Kusa Lawa Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.02.08

Abstract

Penelitian ini menggali bagaimana eksistensi dari sebuah komunitas seni dapat berpengaruh terhadap laju perkembangan ekosistem seni pada satu kota. Hysteria merupakan ruang yang diinisiasi guna menciptakan sebuah ekosistem seni yang sehat di Kota Semarang. Regenerasi seniman yang ada di Kota Semarang cenderung mengalami hambatan dari segi ketersediaan ruang untuk berkarya. Ruang publik yang seharusnya dialokasikan guna kegiatan kesenian dan kebudayaan belum bisa dimaksimalkan penggunaannya. Peran dan posisi Hysteria akan dilihat dalam konstruk medan sosial seni rupa pada era disrupsi dengan kemajuan teknologi sebagai hal yang berdampak pada ekosistem seni di Kota Semarang. Dalam penelitian ini penulis akan melakukan riset dengan metode pengumpulan data yang berupa observasi langsung pada lokasi Hysteria, melakukan wawancara terkait studi program yang telah dicapai Hysteria dalam beberapa tahun terakhir, serta turut ikut serta dalam program Hysteria selama penelitian berlangsung. Dengan demikian data yang akan dihasilkan nantinya dapat benar-benar menjawab semua permasalahan terkait dengan peran dan posisi Hysteria dalam upaya membangun ekosistem seni di Kota Semarang di era disrupsi. Bahasan profil Hysteria dalam membangun ekosistem seni dengan program kolaborasi serta bagaimana Hysteria berjejaring dengan media digital.
TRAUMA ANTARGENERASI SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN SENI LUKIS DIGITAL Masserungke, Yuri; Anggrian, Mayang
Kusa Lawa Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trauma antargenerasi terjadi disaat pengalaman dan perasaan negative yang dilalui salah satu generasi terus diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya. Istilah trauma antargenerasi ini pertama kali ditemukan setelah keadaan psikologi anak-anak dari korban Holocaust dicatat. Keadaan psikologis ini belum terlalu dikenal dan dihiraukan oleh Masyarakat, walaupun dampaknya sama besarnya dengan keadaan mental lainnya. Maka dari itu, topik ini penting untuk diangkat untuk menyebarkan kesadaran dan juga memberikan contoh-contoh trauma antargenerasi di dalam suatu keluarga. Hal ini diinspirasi dari film animasi El Canto tahun 2021 yang mengisahkan tentang trauma antargenerasi. Penciptaan karya ini dilakukan untuk mevisualisasikan tema Trauma Antargenerasi dalam karya seni Lukis digital serta mendeskripsikan gagasan dari karya-karya tersebut. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya seni lukis digital ini di adaptasi dari tahapan-tahapan berdasarkan teori Hawkins, yaitu upaya menemukan gagasan, menyempurnakan gagasan awal, dan juga visualisasi dalam media. Dengan menggunakan metode terserbut, Penulis berhasil menghasilkan tujuh karya digital painting on canvas yang betemakan Trauma Antargenerasi dengan penambahan visual bunga Petunia di tiap karyanya. Dari tujuh karya tersebut digambarkan bahwa tidak semua hal yang dibiasakan oleh generasi-generasi terdahulu adalah hal yang tidak baik. Segala sesuatu memiliki sisi baik dan sisi buruknya, kebijaksanaan menyikapi kondisi dapat memutuskan rantai trauma antargenerasi.
DINAMIKA CINTA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS Anandaputri, Siti Zahra Andriyani; Anggrian , Mayang
Kusa Lawa Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinamika cinta menjadi landasan penciptaan untuk merefleksikan bagaimana cinta tidak hanya sekadar perasaan kasih sayang, namun menjadi sesuatu yang mengartikan berbagai pemahaman dalam kehidupan sebagai seorang individu dan makhluk sosial. Bagaimana cinta dalam berbagai bentuk dan dinamikanya adalah kekuatan dalam menghubungkan diri, masyarakat, dan membentuk pengalaman manusia secara mendalam. Mewujudkan kompleksitas dinamika cinta menjadi berbagai ide narasi guna mendeskripsikan terkait dinamika yang terjadi dari pengalaman dan pengamatan pribadi, yang kemudian divisualisasikan ke dalam karya seni lukis dengan perupaannya terinspirasi oleh gaya abstrak ekspresionisme. Menggunakan metode Alma Hawkins, yang mencerminkan ekspresi pribadi, memanfaatkan berbagai teknik dan media, serta merayakan kreativitas dalam suasana yang mendukung. Penciptaan ini menghasilkan 12 karya lukis, yaitu Lihatlah Lebih Dekat, Semua Aku Dirayakan, Meramu Tanpa Henti, Cintanya Manusia, aku ke dalammu; tenggelam, Gigitan Rindu, Dari Sebuah Mimpi Buruk, Renjana, Rumpang, Cintanya Setengah Hampa, Setia Selamanya, Sirna Dalam Cinta. Kompleksitas dari dinamika cinta yang terjadi pada kehidupan dapat menyentuh aspek-aspek fundamental kita sebagai manusia, bagaimana dinamika cinta menjadi peristiwa-peristiwa yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Cinta dan dinamikanya memiliki peran penting yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya atau dihilangkan dalam kehidupan manusia, karena dengan adanya cinta maka akan banyak dimensi-dimensi atas pengalaman manusia yang akan terus berulang menghadirkan makna dan atau pembelajaran.
MEMBANGUN APRESIASI BUDAYA LOKAL: STUDI EDUKASI VISUAL MELALUI FESTIVAL KAMPUNG BUDOYO #2 Herliana, Siti Nur; Anggrian, Mayang
Kusa Lawa Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Kusa Lawa
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.05.01.06

Abstract

Festival Kampung Budoyo #2 bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal kepada generasi muda melalui pendekatan edukasi kreatif dan interaktif. Festival ini hair sebagai respon terhadap tantangan globalisasi yang mengancam identitas budya lokal, khususnya di kalangan generasi muda. Festival ini mengintegrasikan apresiasi terhadap budaya lokal. Festival ini berfokus pada penguatan apresiasi budaya malalui pengalaman langsung, yang tidak hanya mendalami seni tradisional, tetapi juga mengintegrasi teknologi untuk relevansi modern. Melalui berbagai bentuk interaksi, peserta di ajak untuk memahami dan mengeksplorasi nilai-nilai budaya dengan cara yang segar dan inovatif. Melalui festival ini, Kampung Budoyo #2 diharapkan mampu mengingkatkan rasa cinta generasi muda terhadap budaya lokal serta mendorong partisipasi aktif dalam pelestariannya. Dengan memadukan tradisi dan modernitas, festival kampung Budoyo #2 berperan sebagai jemabatan penting dalam memperkuat identitas lokal di era globalisasi.